SPS Jilid 1 Bab 9

On Rabu, 05 Oktober 2016 0 komentar

=========================================================
Postingan persiapan sebelum bangkit (memangnya dari kubur?)...
Untuk Bab 9 dan 10, yang menjadi penerjemahnya adalah agan Cievielsan...
Untuk 'International' Keenam, pada teks aslinya tertulis "第六インターナショナル" (Dairoku International), di mana インターナショナル (International) merujuk pada sebuah organisasi, partai politik atau gerakan aktivis lintas negara...
Oiya, kalau ada yang suka dengan seri Chuunibyou dan ingin menjadi kontributor penerjemah dalam proyek ane di seri tersebut, silakan PM ke e-mail ane atau PM ke FP blog ini di FB...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 9 - Paus, Paganini, Pejuang


"Kalau Ebisawa-san tidak suka bermain gitar, kenapa ia masih memainkannya?"

Chiaki menyambungkan pemutar musik miliknya dengan pengeras suara mini, terdengar alunan komposisi <Rangkaian Inggris> untuk iringan sarabande. Ia bertanya padaku sambil mengetuk lututnya dengan jari mengikuti irama komposisi itu.

"Dia mahir sekali bermain piano. Bahkan sewaktu ia bermain gitar, semua bagian yang dimainkannya itu komposisi untuk piano, 'kan?"

"Mungkin dia belum tahu banyak soal gitar."

Kagurazaka-senpai menyebar banyak partitur ke lantai, dan dengan serius mengamatinya sambil menjawab pertanyaan Chiaki.

Karena Klub Riset Musik Rakyat masih belum resmi diakui, aktivitas klub ini sering dilakukan di atas atap. Meski aku bukan salah satu anggotanya, senpai selalu saja mengajakku ke atas atap sepulang sekolah — Aku curiga kalau secara perlahan ia berencana menjeratku untuk bergabung dalam klub. Karena ada rapat anggota klub, makanya Chiaki juga di sini.

"Jadi, apa pendapatmu setelah mendengarkan CD mafuyu?"

Kemarin, sekitar lima hari yang lalu sejak aku berlatih sesuai intruksi senpai, ia pernah bilang padaku.

"Besok tolong bawakan semua CD dan partitur yang Mafuyu mainkan. Karena kamu tinggal dengan seorang kritikus musik, pasti di rumahmu menyimpan seluruh koleksi karyanya, 'kan?"

Partitur dan CD itu sudah pasti ada di rumahku, tapi yang jadi masalahnya adalah untuk mencari kesemuanya. Kuhabiskan waktu semalaman untuk mencari partiturnya di perpustakaan Tetsurou yang berantakan itu, dan alhasil, aku hampir telat datang ke sekolah. Senpai tampak senang sewaktu melihat partitur-partitur yang kubawa. Yang kutahu, senpai kini sedang mencocokkan partitur sambil mendengarkan permainan Mafuyu.

"Rupanya permainan Ebisawa Mafuyu berkutat pada gubahan Bach; tapi tidak mungkin ia memainkan fugue dengan gitar — secara logika itu mustahil, 'kan?"

"Bisa jadi," aku mengangkat bahu.

Fugue merupakan istilah dalam bahasa Italia yang berarti melarikan diri. Gaya komposisi ini berkembang di awal era musik modern — tepatnya era Baroque — yang kemudian disempurnakan oleh Bach. Gaya ini memanfaatkan berbagai suara yang masuk pada waktu yang berbeda dan saling berkejaran dengan melodi awal — karena itu, biasanya istilah itu juga disebut nada yang berlarian.

Artinya, karena gitar biasanya hanya memainkan satu melodi saja, maka sangat sulit bagi Mafuyu jika ingin memainkan fugue.

"Nah, kalau kamu ingin menantangnya, kamu harus bisa memainkan pada bagian 'fugue'-nya ...."

"Begitu .... Eh? Apa Senpai bilang?"

Seketika tanganku berhenti memetik bas.

"Jadi yang katanya ada rapat angota itu ternyata untuk ini?"

"Memangnya kamu kira untuk apa?" ucap senpai kaget. "Shounen, Kupikir sekarang waktunya kamu untuk sadar, perbedaan kemampuanmu dengan Ebisawa Mafuyu diibaratkan seperti semut putih dengan paus biru. Mustahil menang bagimu jika tidak memikirkan strategi."

"Aku tahu, tapi apa tidak bisa kasih perumpamaan yang sedikit halus?"

"Bagaimana kalau apel dengan bumi?" sambung Chiaki.

Itu lebih buruk!

"Biar bagaimanapun, kamu tidak punya kesempatan jika melawannya dengan komposisi Bach," tandas senpai.

"Eh, tunggu, jadi aku harus memainkan musik klasik?"

Senpai menengadahkan pandangannya dari partitur dan tampak lebih terkejut.

"Memangnya apa lagi? Apa kamu punya rencana lain untuk memberi pelajaran padanya?"

"... eng, ya ...." sejujurnya aku tidak pernah memikirkan hal ini. "Aku memang masih belum yakin, tapi kurasa jika sesuatu seperti aku memainkan semacam musik rock padanya, mungkin saja ia bisa sedikit kagum padaku?"

"Kamu pikir, orang yang punya teknik tinggi dalam bermain gitar seperti dirinya bakal terguncang karena permainan yang mau kamu tampikan itu, hah? Ingat — aku yang susah kalau kamu sampai melupakan ini — aku ingin Ebisawa Mafuyu masuk ke Klub Riset Musik Rakyat. Yang berarti, aku menginginkan dirinya sebagai salah satu anggota band."

"Eh?"

Lalu?

"Jadi, nantinya kita harus bisa memainkan sebuah komposisi bersama dengan Ebisawa-san, 'kan" sambil membalikkan partitur yang di lantai, Chiaki lanjut berkata, "Itu berarti, kita harus memainkan komposisi yang Ebisawa-san tahu."

Kagurazaka-senpai lalu mengelus kepala Chiaki dengan lembut. Begitu, jadi karena itu kita akan memakai fugue. Bagian yang Mafuyu sukai, tapi tidak bisa ia mainkan sendiri.

Basku sudah dimodifikasi agar sesuai dengan timbre gitar Mafuyu, yang berarti .... Untuk inikah tujuannya? Tapi ..., eh? Jadi aku yang bergabung ke klub juga termasuk dalam rencananya? Jadi semua itu sudah dipikirkan oleh senpai? Padahal sudah jelas kukatakan kalau aku hanya menginginkan ruangan itu, dan bukan untuk bergabung ke dalam klub.

"Bagaimanapun juga, ia tidak akan langsung suka dengan permainan kita, bahkan jika kita sudah hati-hati memilih salah satu fugue dari Bach .... Selain itu, meski kita berhasil menyeretnya ke dalam pertarungan ini, keahlian Shounen tidak bisa mengimbangi gadis itu hingga saat-saat terakhir, bahkan mungkin bisa langsung selesai begitu saja," senpai mengigit bibir bagian bawahnya sambil melempar partitur yang ia pegang. "Meski begitu, kita masih punya kesempatan jika Shounen di pihakku dan menjalani latihan bertahun-tahun, tapi hal semacam itu butuh banyak waktu."

Aku juga tidak ingin latihan yang semacam itu! Rasanya hidupku sudah tidak akan sama lagi jika menjalani latihan semacam itu.

"... hei, Nao. Bukankah Ebisawa-san pernah bilang kalau ia akan menghilang di bulan Juni?"

Setelah mendengar perkataan Chiaki tadi, aku lalu menatap ke atas langit dan perlahan mulai mengingat kata-kata itu. Seingatku, Mafuyu mengatakan itu di hadapan seluruh penghuni kelas di hari ia baru pindah ke sekolah kami. Karena berbagai hal tidak menyenangkan yang ia lakukan setelahnya, aku jadi benar-benar lupa soal ucapannya tersebut.

Kata-katanya itu — apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan?

Senpai lalu bertanya pada Chiaki, "Menghilang di bulan Juni? Apa setelah itu ada lagi yang dikatakannya?"

Chiaki menekan bibir bagian bawahnya dengan jari sambil berpikir sejenak sebelum menggelengkan kepala.

"Aku akan menghilang di bulan Juni, jadi kumohon, lupakan saja aku, itu saja yang dikatakannya. Apa maksudnya? Apa ia akan pindah sekolah lagi? Atau ia akan belajar di SMA yang berafiliasi dengan sekolah musik?"

"Kalau begitu, gawat," senpai melipat kedua tangannya lalu lanjut berkata, "Kalau kita bisa mengajaknya bergabung ke klub, aku bisa memakai pesonaku untuk mengikatnya. Biarpun begitu, semua akan berantakan kalau ia keburu menghilang sebelum itu terjadi."

"Senpai, Undang-Undang Kesusilaan itu ada. Senpai tahu sendiri, 'kan? Senpai tidak bisa seenaknya bertindak di luar batas kewajaran."

"Jangan khawatir. Aku bisa membuatnya terpesona padaku tanpa melanggar tindakan asusila."

Lalu apa maksud dari perilaku penuh hasratnya tadi?

"Jadi ..., Shounen, kalau kamu tidak punya ketetapan hati untuk mati demi cinta dan revolusiku .... Oh!"

Tiba-tiba Senpai mematikan dicsman-nya.

"... ada apa?"

"Ebisawa Mafuyu datang."

Aku melirik ke bawah melalui pagar dan melihat punggungnya. Dengan rambut panjangnya yang berwarna merah tua itu, seketika ia langsung lenyap ke dalam gedung musik lama. Aku yakin senpai tidak melihatnya, tapi dari mana ia tau kalau Mafuyu datang? Apa ia seekor hewan buas?

Perlahan bersama-sama kami merebahkan tubuh ke lantai dan dengan sabar menunggu. Beberapa detik kemudian, terdengar suara gitar. Eh? Komposisi apa ini? Rasanya aku pernah mendengar ini sebelumnya, tapi aku tidak bisa mengingatnya. Petunjuk yang kudapat adalah kalau ia memainkan gubahan Liszt.

"—Ini Paganini."

Ucap senpai di telingaku. Aku jadi ingat.

Niccolò Paganini, seorang violinis yang dijuluki sang Iblis dikarenakan teknik permainannya yang begitu mumpuni. Ia juga cukup berbakat sebagai komposer, tapi karena tidak percaya diri, ia tidak pernah merilis komposisinya itu. Karenanya, semua karya-karyanya itu sudah hilang entah ke mana.

konserto dan capriccio'violinnya — bersama dengan 'etude' piano yang digubah Franz Liszt berdasarkan capriccio-nya — mungkin satu-satunya karya yang ditinggalkannya pada era musik modern.

Yang Mafuyu mainkan sekarang adalah etude gubahan Liszt.

Serasa seperti tulang di dalam tubuhku akan retak oleh getaran seintens itu jika aku mendengarnya lebih lama. Chiaki pun merasa ngeri mendengarnya. Permainan yang penuh amarah.

"... begitu ..., Paganini, ya."

Lagi-lagi senpai bergumam. Aku berbalik arah, dan melihat ia sedang mencari-cari dalam tumpukan CD Mafuyu dengan tampang serius; tangan kirinya pun ikut dipakai memeriksa partitur. Ada apa ini?

Akhirnya, senpai menemukan CD dan partitur yang ia cari.

"Ketemu."

"Semua itu mau dibuat apa?"

"Shounen, apa aku boleh meminjam ini?"

"Ya, boleh saja ...."

"Kalau begitu, aku pulang duluan, ya. Ada lagu yang ingin kugubah."

"Maksudnya, lagu yang tadi?"

"Yak, Shounen — Paganini. Kita akan lakukan persis seperti yang Paganini lakukan dulu. Kita bisa menang dengan ini."

Wajah senpai dipenuhi oleh semacam energi, walau aku sendiri masih bingung. Maksudnya itu apa? Semua yang dibawanya tadi bukanlah gubahan Paganini—

"Itu sudah pasti. Orang yang bisa mengajari Beethoven hanyalah Beethoven seorang, 'kan?"

Sekejap Senpai mengedipkan matanya dengan manis sebelum turun ke bawah sambil membawa partitur dan CD. Seperti biasanya, ia selalu mengatakan yang orang lain tidak mengerti. Yang Paganini lakukan dulu?

Meski sekeras apa pun memikirkannya, aku masih saja tidak mengerti. Jadi kurebahkan basku ini di paha.

"Senpai tampak senang sekali—"

Chiaki bergumam sendiri sambil menatap Senpai yang meninggalkan kami berdua. Yah, perempuan itu memang selalu terlihat senang, 'kan?

"Aku tidak menyangka kalau senpai begitu menyukai Nao."

"Yang diinginkannya itu Mafuyu, bukan aku. Aku ini hanya jembatan penghubung antara kedua orang itu."

Chiaki menyipitkan matanya lalu menatapku, sepertinya ia merasa tidak puas terhadap sesuatu.

"... apa?"

"Hmm— tidak apa-apa."

Tiba-tiba Chiaki berdiri lalu duduk tepat di belakangku, punggungnya bersandar di punggungku. Karena terkejut, aku sedikit memajukan posisi dudukku, tapi karena ia menyandarkan punggungnya kembali, aku jadi tidak bisa bergerak.



"Senpai bilang kalau kita ini seorang pejuang."

Tiba-tiba terdengar suara Chiaki.

"... pejuang?"

"Iya. Kamu belum pernah dengar? Klub Riset Musik Rakyat ini hanyalah sebuah garda untuk menipu Dunia. Sebenarnya, kita ini adalah pasukan revolusi."

"Tidak, sama sekali tidak," sebuah garda untuk menipu dunia? Senpai bilang begitu? Ayolah!

"... apalagi, ya? Senpai juga pernah bilang, International Keenam atau Partai Garda Depan atau apalah itu."

Bukankah hal semacam itu bisa menyesatkan murid-murid mengenai pergerakan yang terjadi pada sebuah era? Lagi pula, apa maksudnya yang keenam? Memangnya yang kelima sudah ada?

"Aku tidak tahu mana di antara kata-katanya yang memang sebuah kebenaran dan mana yang hanya sebuah candaan."

"Bisa jadi semua perkataanya tadi itu ternyata benar, 'kan?" Chiaki tertawa, "Tapi bagaimana kalau memang hanya sebuah candaan? Tidak mungkin juga kamu bisa memahami kebenaran dari kata-kata candaan yang senpai buat. Ya, 'kan?"

"Oh— kurasa bisa juga seperti itu."

"Saat kompetisi musim panas lalu, ingat tidak, sewaktu aku cedera karena kesalahanku sendiri? Saat itu, dokter bilang kalau aku selamanya tidak bisa lagi untuk berlatih judo."

"Lo, bukannya dokter bilang kalau itu hanya sebulan saja?"

"Hmm— aku bohong padamu. Waktu itu Nao sangat khawatir, karena itu aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya."

Jadi semua perkataan dokter waktu itu juga bohong?! Aku merasa bersyukur sewaktu melihat dirinya yang baik-baik saja setelah mengalami cedera, tapi setelah kuingat lagi, rupanya saat itu aku memang bodoh sekali.

"Aku benar-benar merasa depresi, tahu? Dari ekspresimu saja sudah bisa terbaca — kamu pasti berpikir kalau cederaku ini sangat serius. Aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya karena hal tersebut sudah lama berlalu."

"Aku ... tidak pernah menyangka kalau sampai seserius itu."

"Ya, sebenarnya memang seserius itu."

Chiaki lalu membenturkan belakang kepalanya ke kepalaku.

"Seandainya aku tidak pernah bertemu Kagurazaka-senpai, mungkin selamanya aku akan merahasiakan ini darimu."

Ia mampu berhenti dari judo karena sekarang ia bermain drum — apa itu yang sebenarnya mau ia katakan? Tapi apa Chiaki memang sepeka itu?

"Dulu aku sering kabur dari rumah saat larut malam, berkeliling sendirian di sekitar stasiun. Banyak orang yang datang mau mencari gara-gara denganku. Karena aku sering dikira laki-laki — ditambah, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku karena cedera — aku jadi sering melalui masa-masa sulit. Biarpun begitu, aku masih bisa meladeninya asal tidak lebih dari tiga orang."

Justru yang benar itu jangan diladeni!

"Saat itu aku pernah dikejar, dan aku berlari hingga ke lantai dasar sebuah gedung. Setelah itu aku tersadar kalau aku sedang berada di kelab pertunjukan musik, dan tiba-tiba senpai menghadang mereka yang sedang mengejarku. Senpai sungguh keren — senpai pun membelikanku minuman dan menyuruh mereka untuk membayar tiket masuk.

... itu dibilang keren?

"Ah, tapi senpai juga menyuruhku untuk membayar tiket masuk."

"Sudah kuduga."

"Karena saat itu aku tidak bawa uang, aku hanya bisa membayarnya dengan tubuhku ini."

Rasanya saat ini juga aku ingin memukul kepalanya dengan kipas kertas seperti acara lawak di TV, tapi kuurungkan.

"Jadi, maksudnya pejuang tadi itu apa?"

Sebutan itu terdengar seperti istilah yang menggambarkan suara dengkuran dalam film-film.

"Yak, senpai pernah menjelaskan soal itu, untuk melakukan sebuah revolusi, setidaknya senpai membutuhkan tiga orang lagi. Ketua, bendahara dan semacam komandan pasukan. Dengan bergabungnya Nao, berarti tinggal Ebisawa-san saja."

"Tunggu, aku belum bilang setuju untuk bergabung, 'kan?"

Tiba-tiba sandaran punggung Chiaki tidak kurasakan lagi. Aku jatuh mengenai lantai dan kepalaku membentur dengan cukup keras — rasa sakitnya menyebar sampai ke rahang.

"Uh ...."

Setelah aku membuka mata, kulihat wajah Chiaki dalam pandangan terbalik, menatapku dari dekat. Aku menelan ludah karena terkejut.

"Tidak ada lagi alasan bagimu untuk menolak, tahu? Lagi pula kamu juga sudah membeli bas."

"Soalnya itu—"

Chiaki memegang kepalaku di kedua sisi dengan kedua tangannya. Aku tidak bisa lagi bergerak.

"... apa karena Ebisawa-san?"

Karena Ebisawa-san — itu sedikit berbeda dari yang hendak kukatakan, meski begitu, aku menganggukkan kepalaku tanpa sadar.

“Kenapa? Kenapa semua ini karena dirinya? Kamu tidak harus sampai memaksa diri demi dirinya, 'kan? Dan lagi, belakangan ini kamu sudah sering berlatih tanpa henti, teknik permainanmu juga semakin berkembang. Kamu tahu? Aku sendiri terkejut dengan dirimu yang sekarang."

Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya jika ia menanyakan hal itu lagi padaku.

"Semua itu kulakukan demi mendapatkan kembali ruanganku," jawaban itu mungkin terdengar seperti alasan yang dibuat-buat.

Soalnya, jika aku memakai alasan karena ingin mendengarkan CD-CD-ku dengan tenang sepulang sekolah, pasti akan muncul saran yang berupa cara -cara alternatif dalam mendengarkan CD-CD tersebut.

Kalau begitu, apa ini demi reputasi musik rock? Atau demi harga diriku sendiri? Sehebat apa pun aku menjelaskan, semuanya tidak akan terasa benar. Biar bagaimanapun, aku tetap harus menantang dirinya.

Untuk beberapa saat, aku memikirkan hal tersebut di otakku. Chiaki lalu melepaskan pegangannya dan membantuku mengangkat tubuh bagian atasku.

"Bagaimana caranya kalian berdua bisa saling kenal?"

Chiaki kembali duduk dan bersandar di punggungku lalu menanyakan hal tersebut.

"Kenapa kita malah membahas soal itu?"

Sulit untuk menjelaskan soal yang terjadi saat itu, itu sebabnya aku tidak punya keinginan membicarakan hal tersebut.

"Tadi aku sudah bercerita tentang perkenalanku dengan senpai. Sekarang giliranmu."

Aku tidak mampu memikirkan alasan yang bagus untuk menolaknya — Chiaki pun kembali membenturkan kepalanya ke belakang kepalaku — membuatku mulai mengingat kejadian waktu itu. Aku pun bercerita tentang toko yang penuh dengan sampah layaknya akhir dunia, begitu pula tentang Mafuyu yang memainkan sonata piano.

Ada satu bagian yang tidak kuceritakan, yaitu bagian di mana rongsokan-rongsokan di sana mengeluarkan suara seperti orkestra.

Kemungkinan ia tidak akan percaya — dan untuk beberapa alasan, lebih baik hal tersebut tetap kurahasiakan, bahkan untuk orang seperti Chiaki.

"Tempat itu sepertinya menarik. Kapan-kapan aku mau ke sana, ah."

"Jangan, tempat itu tidak menarik sama sekali."

Tumpukan sampah yang sangat besar layaknya sisa-sisa tulang-belulang korban hasil perang itu dibiarkan membusuk dari waktu ke waktu — di antara tumpukan tersebut, berdiri sebuah piano. Semua terasa sunyi seolah gambaran akhir dunia terpapar di tempat itu — Mafuyu mungkin satu-satunya orang yang masih bisa hidup di tempat tersebut.

Aku mencoba untuk mengingatnya lagi, mengingat alunan melodi dari sonata piano yang dimainkan Mafuyu saat itu. Melodi yang terbentuk dari rangkaian arpeggio, seperti gelombang di permukaan laut yang bergerak secara perlahan. Apa itu gubahan Debussy ..., eh, tunggu, apa mungkin Prokofiev, ya? Aku masih tidak bisa mengingat komposisi yang dimainkannya kala itu.

Ditambah, itu rasanya seperti sesuatu yang tidak bisa disentuh. Waktu itu Mafuyu bilang padaku kalau ia ingin agar aku melupakan komposisi yang dimainkannya itu.

Kalau begitu, komposisi tersebut pasti menyimpan sebuah cerita. Bagi Mafuyu, komposisi tersebut bisa mengarah pada suatu rahasia yang dipendamnya.

Dan aku pun tersadar kalau aku benar-benar tidak mengerti tentang Mafuyu.

"Intinya ...."

Suara Chiaki tiba-tiba terdengar dan membuyarkan lamunanku.

Tanpa kusadari, Chiaki sudah berjongkok di depanku sambil menatap mataku.

"Kamu begitu peduli terhadap Ebisawa-san, 'kan?"

"Hmm ..., hmm?" samar-samar kujawab, "Eh ..., apa? Kamu ini bicara apa?"

"Tidak usah pura-pura bodoh."

Chiaki menyunggingkan senyum yang tampak dibuat-buat sambil menepuk dahiku. Setelahnya, ia pun berdiri.

"Baiklah, aku mau pulang dulu. Panggil saja aku jika kamu butuh teman latihan. Yah, tapi sepertinya itu tidak perlu."

Chiaki lalu berjalan masuk ke dalam gedung tanpa menoleh ke arahku. Kini tinggal aku sendiri di atas atap yang luas ini dengan ditemani oleh alunan melodi kesepian yang Mafuyu mainkan di gedung bawah.

Kenapa semua perempuan di sekitarku ini punya pribadi yang rumit? Kugelengkan kepala sembari tanganku kembali mengambil bas.

Tiba-tiba aku teringat kejadian saat Mafuyu naik ke atap sini tempo hari.

Setelah semua yang kulalui hari ini, aku mulai kembali berlatih seusai menyetem basku.


Keesokan harinya, setelah ia datang ke kelas, Mafuyu menyerahkan sebuah benda persegi berwarna abu-abu yang dikeluarkan dari tasnya padaku. Benda itu dibungkus dengan rapi — apa ini?

"Nih ...."

"Eh? Apa?"

Dia menyodorkan benda itu ke tanganku. Kuperhatikan benda tersebut dari segala sisi.

"Itu, itu untuk menebus ... kesalahanku. Aku membelikannya untukmu."

Sekarang aku jadi bingung. Mafuyu membelikanku sesuatu? Apa ini cuma gurauan?

"Tapi awas saja kalau kamu membukanya di sini!"

Aku mengangguk walau pikiranku sendiri masih kebingungan. Meski begitu, teman-teman sekelasku yang tidak mau mendengar penjelasan orang lain ini mulai mengerumuniku — heboh seperti biasanya. Dan salah seorang anak lelaki merebut benda itu dari tanganku.

"Apa ini? Hadiah dari hime-sama? Oi, oi, yang benar, nih?"

"CD, ya? Nao, apa boleh kubuka?"

"Eh, ah, tunggu ...."

Bungkusan yang menutupi benda itu pun dirobek sebelum aku dan Mafuyu sempat menghentikannya. Ternyata itu sebuah CD. Dan di bagian sampul CD itu terlihat zombie membawa kapak berlumuran darah di tangannya sambil berseringai. CD itu bertuliskan IRON MAIDEN - Killers.

"Bukannya sudah kubilang kalau jangan dibuka?! Jangan perlihatkan benda itu padaku, menjijikan!"

Mafuyu berbalik dan terdengar seperti hampir menangis.

"Mafuyu lagi-lagi bilang kalau aku menjijikan. Satu-satunya alasanku untuk hidup telah sirna."

"Jangan khawatir, dia bukan mengataimu." "Tapi zombie ini sedikit mirip denganmu, tahu?"

Teman-teman sekelasku kembali mengatakan hal-hal bodoh. Kurebut kembali CD itu dari mereka.

"Eng ..., kamu membelikanku CD ini hanya karena sampulnya?"

Aku sudah membuang sampul CD yang kutemukan di belakang kabinet kemarin gara-gara Mafuyu yang sudah menyemprotkan pembasmi serangga di benda itu. Mafuyu mengangguk sambil membelakangiku kemudian bergumam, "Buruan, singkirkan!"

Itu hanya sebuah sampul, kenapa ia sampai sebegitunya? Aku membayangkan tentang Mafuyu yang merasa jijik harena karena gambar zombie, kemudian membayangkan ia ke toko musik lalu masuk ke bagian heavy metal dan membolak-balik CD-CD di sana — sampul CD-CD tersebut semuanya mengandung gambar yang ekstrim — dan dengan susah payah mencari CD Iron Maiden. Entah apa lagi yang harus kukatakan padanya.

Terlebih—

"Ada apa?"

Mafuyu melirik ke arahku seakan tahu jika ada yang mau kukatakan.

"Eng, tidak .... Bukan apa-apa."

"Katakan!"

"Hmm .... Mungkin aku kurang pantas mengatakan ini, apalagi setelah kamu membelikan ini untukku. Tapi yang kamu beli ini adalah album kedua. Sampul yang rusak di ruangan itu sebenarnya dari album pertama."

Aku tidak bisa menyalahkannya karena kedua album itu memiliki sampul yang hampir sama. Setelah mendengarnya, wajah Mafuyu langsung memerah. Ah, sial.

*Brak* — Mafuyu membanting tangannya ke meja lalu berdiri.

"Biar kubeli sekarang."

"Jangan, pelajaran akan dimulai."

"Biarkan saja!"

"Kebetulan sampul album kedua milikku juga sudah jelek, jadi aku sungguh berterima kasih karena kamu sudah membelikanku CD ini."

Sewaktu aku mencoba membesarkan hati Mafuyu, bel sekolah pun berbunyi. Dan karena guru sudah datang ke kelas lebih awal dari biasanya, Mafuyu pun tidak jadi merealisasikan idenya tadi. Aku memang benar-benar tidak paham soal perempuan!


Read more ...»

SPS Jilid 1 Bab 8

On Selasa, 30 Agustus 2016 0 komentar

=========================================================
Anggaplah kalau ane sedang mencoba menebus dua dosa dalam satu proyek... Yak ini bisa dianggap upaya ane untuk menebus Shigatsu kemarin yang belum kelar 1 cour... Ntuh proyek mungkin sudah gak bisa diapa-apakan lagi, jadi anggap saja ini bentuk penebusan dosa ane...
Seperti yang tertulis di fanpage, marilah kita move on dari Oregairu... Yak benar, karena masih banyak seri yang bagus-bagus selain seri itu... Contohnya ya seri ini... Dan ini akan ane fokuskan sampai Jilid 1 kelar...
Sebagai catatan, tanda ** itu berarti, 'ucapan Kagurazaka-senpai dan monolog Nao yang bersahutan ini adalah bagian dari lirik <Stand By Me>'...
Seperti biasa, akhir kata...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 8 - Tuan Putri, Revolusionis


Kubawa basku kemudian berlari dari ruang kelas segera setelah sekolah berakhir untuk menuju ke atap. Begitu sampai di sana, kulihat seorang gadis berseragam sedang duduk di atas tepi pagar ram sambil menatap ke langit. Rambutnya tertiup angin, dan ia sepertinya sedang dalam suasana hati yang baik. Rupanya itu Kagurazaka-senpai.

"Bukankah kamu terlalu lamban, Shounen? Bel pulang sekolah saja sudah berhenti berbunyi."

"Tidak, Senpai yang datang terlalu cepat ...."

Bagaimana caranya ia bisa sampai ke sini sebelum bel berhenti berbunyi? Padahal saat itu pelajaran masih berlangsung.

"Melodi penanda waktu yang berasal dari pabrik seberang ini saling bersahutan dengan suara bel sekolah kita, yang secara kebetulan dan terdengar menarik, menghasilkan sebuah komposisi nada. Kuharap kamu bisa mendengarnya, Shounen."

"Hah?!" Omong-omong, bukankah agak berbahaya duduk di tempat setinggi itu?

Senpai lalu melompat turun dari pagar dan mendarat tepat di depanku.

"Apa kamu sudah putuskan untuk bergabung dengan klub kami?"

"Yah ...," kuturunkan bas yang bergantung pada pundakku lalu menyandarkannya di pagar. Aku sedikit bimbang dengan kata-kataku, "Aku memang membutuhkan bantuan Senpai untuk mempelajari bas, tapi kalau bergabung dalam band ...."

"Kenapa?" senpai mengangkat alisnya yang tampak indah itu.

"Tidak, aku hanya ingin mendapatkan kembali ruang kelas itu supaya bisa mendengarkan CD-CD-ku. Aku tidak memainkan bas ini demi Senpai."

"Tapi tadi kamu cepat-cepat kemari seperti yang kuperintahkan."

"Itu hanya karena aku butuh bantuan Senpai supaya bisa memberi pelajaran pada Mafuyu."

"Jadi yang kamu maksud bantuan itu, kamu memanfaatkanku supaya bisa mengajarimu bermain bas? Jadi kamu memanfaatkanku seperti aku memanfaatkanmu, begitu?"

Cara ia mengatakan hal itu sedikit blakblakan, tapi aku tetap mengangguk dengan jujur. Untuk bisa menang melawan Mafuyu, aku tidak perlu menjaga citra diriku.

Sebuah senyuman muncul di wajah senpai.

"Hmm, jadi begitu. Rupanya kamu tidak lagi memiliki ekpresi seorang pecundang."

Senyumnya itu tidak sedramatis biasanya — justru, itu senyuman yang sangat alami. Aku terkejut.

"Bukankah ini bagus? Aku sudah memprediksi kalau kamu pada akhirnya pun akan tetap bergabung. Jadi, ayo kita mulai!"

Senpai berjongkok dan mengeluarkan berbagai macam barang dari tas punggungnya ke lantai. Sebuah amplifier mini dengan baterai di dalamnya, kabel untuk amplifier, dan juga senar pengganti untuk bas.

"... tapi, kenapa kita harus berlatih di atap?"

"Shounen, apa menurutmu langkah pertama dalam berlatih bas?"

Ia menanyakan itu padaku sambil mengeluarkan senar-senar dari tasnya lalu merentangkannya.

"Hmm ..., bukankah berlatih fingering langkah kepiting?"

Itu adalah jenis latihan berulang untuk melatih kemampuan dasar. Pemain menentukan tempo tetap, dan mulai menekan fret secara berurutan dari telunjuk sampai kelingking, lalu memainkan setiap skala secara berurutan. Karena tangan kiri sedikit demi sedikit bergerak mendekat secara horizontal, beberapa orang menyebutnya fingering langkah kepiting. Kedengarannya seperti latihan pemula, tapi itu adalah dasar dari bermain gitar. Biarpun begitu, senpai menggelengkan kepalanya.

"Ada hal lain yang perlu kamu lakukan sebelum itu. Itulah alasan kenapa aku memanggilmu ke atap."

Senpai menarik senar itu kuat-kuat di kedua ujungnya.

"Aku sudah membuat tali rentang dari atap ini sampai ke asrama seberang dengan sebuah senar. Kamu harus ke gedung seberang dengan berjalan di atasnya."

Aku terkejut. Hampir saja kujatuhkan basku ini sewaktu mengeluarkannya dari sarungnya.

"... eh?"

"Kamu tidak akan bisa menjadi pemain bas kalau tidak bisa menggantungkan hidupmu pada senar-senarnya. Akan kudoakan keselamatanmu. Mungkin kamu akan mati jika terjatuh, jadi sebaiknya siapkan terlebih dahulu mentalmu."

"Tidak, tidak, tidak, tidak, Senpai ini bicara apa?"

"Ya ampun," senpai mengangkat bahunya, "Untuk menjadi seorang pemain bas, kamu perlu melewati latihan khusus yang membahayakan hidupmu. Memangnya kamu tidak tahu? Bahkan para pemain bas terkenal di Jepang sudah melewati berbagai macam latihan yang membahayakan hidup mereka. Contohnya, memukul kepala berulang kali dengan kaleng timah, atau membiarkan diri terkena kobaran api atau ledakan gas ..., dan lain sebagainya."

"Pemain bas Jepang terkenal yang Senpai maksud itu ... siapa?"

"Mendiang Ikariya Chousuke."

"The Drifters itu grup lawak, 'kan?!" kubanting sarung bas yang kupegang ini ke lantai.

"The Drifters itu juga nama sebuah band! Mereka pernah jadi band pembuka sebelum konser The Beatles. Kamu memang tidak sopan, Shounen."

"Aku tahu itu, dan jangan mengalihkan pembahasan!"

"Soal tali rentang itu cuma bercanda. Hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah mengganti senar basmu. Karena alat musik itu sudah disimpan di toko dalam waktu yang cukup lama, kelenturan senar-senarnya perlahan-lahan berkurang."

O-orang ini memang ....

Kurasa tidak ada gunanya mengatakan sesuatu, jadi aku mengganti ke-empat senarnya tanpa berkomentar.

"Alasan sebenarnya aku memanggilmu ke atap adalah itu!"

Kagurazaka-senpai menempelkan dirinya ke pagar dan menunjuk ke bawah. Tanpa perlu melihat ke arah yang ditunjuknya, bisa kupahami yang Senpai maksud adalah suara gitar yang kini sedang kudengar. Ruang kelas yang digunakan Mafuyu berlatih gitar berada tepat di bawah kami.

Padahal aku sudah mengajarinya cara membuat agar ruangan itu kedap suara dengan handuk, lantas kenapa aku masih bisa mendengar suara gitarnya? Suara riang melodi itu adalah <Pavane bagi Tuan Putri yang Mati> gubahan Ravel. Apa itu akibat dari keterkejutannya karena dipanggil hime-sama oleh teman-teman sekelas?

"Bermula dari tujuh hari yang lalu."

Kagurazaka lalu menyandarkan punggungnya di pagar dan menatap ke langit.

"Aku bolos mulai dari jam pelajaran pertama dan tinggal di sini sampai sekolah usai sambil mendengarkan suara jalanan."

Untuk apa sebenarnya ia pergi sekolah?

"Lalu matahari pun mulai terbenam, dan saat seolah akan turun hujan, terdengarlah suara gitar. Itu merupakan <Clavier Bertemperamen Sama> gubahan Bach dari Buku II. Akan tetapi, ia melewatkan fugue-nya dan memainkan preludenya saja. Aku begitu kesal hingga tidak menyadari kalau hujan sudah mulai turun — aku duduk dan terus mendengarkannya."

"Senpai bisa kena flu kalau seperti itu ...."

"Yang dimainkannya hanyalah prelude. Berlanjut terus hingga sampai di No. 24 dalam B minor — itu sebuah siksaan yang manis. Kemudian kudengar suara pintu terbuka, jadi kuintip ruang tersebut dan kulihat seorang gadis cantik berjalan keluar. Rambutnya berwarna merah tua yang tampak cerah — seperti sirup maple beku. Hal itu cukup untuk membuatku jatuh hati padanya.”

Basku terselip dari lututku lalu jatuh ke lantai.

"Anu ..., Senpai?"

"Hmm?"

"Tapi Mafuyu itu perempuan?"

"Memangnya kenapa? Aku suka dengan hal-hal yang cantik. Di mataku, jenis kelamin bukanlah masalah. Menurutmu kenapa aku membiarkan Aihara Chiaki bergabung sebagai rekan band kita? Alasannya adalah karena ia imut."

"Tolong jangan mengucapkan hal yang di luar dugaan tadi dengan santai begitu."

"Biar bagaimanapun, tidak pernah kusangka ia bisa memainkan drum sebaik itu dalam waktu kurang dari setahun."

"Chiaki bisa menangis jika tahu Senpai berkata begitu."

"Tidak masalah. Aku akan terus terang memberitahukan soal seleraku ini pada Rekan Chiaki."

"Jadi semua orang sungguh berpikir kalau Senpai adalah orang yang bisa mendapatkan apa pun yang diinginkan?"

Aku terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa. Tidak kusangka jika ia orang yang seperti itu. Seharusnya aku belajar bas sendiri — masih belum terlambat buatku untuk melarikan diri. Aku mulai menyetel basku sambil memikirkan hal itu.

"Akan tetapi, Ebisawa Mafuyu tidak mendengarkan sepatah kata pun ucapanku. Ditambah, saat aku melakukan pengamatan mendetail, untuk suatu alasan yang tidak diketahui, kamulah satu-satunya orang di sekolah ini yang dapat berbincang dengannya."

Aku terkejut dan mengangkat kepalaku.

Yang terlihat di depanku kini adalah senyum menggemaskan nan berbahaya milik senpai, yang pernah sekali ia gunakan di pekan itu.

"Karenanya, Shounen, aku butuh bantuanmu."

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak bisa menatap langsung mata senpai — yang bisa kulakukan hanya mengalihkan pandanganku kembali pada bas di tanganku. Seumur hidup, itulah pertama kalinya seseorang berkata begitu padaku. Tidak, tunggu sebentar, tenangkan diri dan pikirkan pelan-pelan. Senpai bilang kalau aku hanyalah bidak yang akan digunakannya.

"Jadi rencana Senpai sesungguhnya adalah mengumpulkan sekumpulan gadis manis, 'kan? Bukan benar-benar mengenai band."

Kukatakan keraguan itu dalam diriku, tapi yang Kagurazaka-Senpai lakukan hanyalah memiringkan kepalanya dan menatapku dengan berulang kali mengedipkan mata.

Semua percakapan yang kulakukan dengannya bukanlah sekadar halusinasiku semata, 'kan? Pemikiran seperti itu tiba-tiba terlintas di benakku.

"Shounen, apa kamu tahu alasan manusia terlahir ke dunia ini?"

Apa maksud dari pertanyaan tiba-tiba ini? Mana mungkin aku tahu!

"Jawabannya sederhana. Manusia terlahir di dunia ini untuk cinta dan revolusi."

Tiba-tiba angin berhembus melewati kami, mengibaskan rambut panjang milik Senpai. Aku hampir terjatuh meski hanya merasakan hembusan ringan pada bahuku. Kenapa ia mengatakan semua ini? Apa aku salah paham mengenai arti dari kehidupan? Sejenak, pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benakku.

"Lev Trotsky .... Kamu mungkin tidak mengenalnya, 'kan?"

Aku sudah kehabisan tenaga menggelengkan kepala.

"Ia adalah revolusionis kedua sebelum yang terakhir! Ia kabur ke Meksiko setelah kalah dari koleganya, Joseph Stalin, di kancah persaingan politik. Ia mati sebelum menyaksikan awal dari revolusi dunia. Meski begitu, ketidakberuntungannya itu bukanlah karena tidak ada Stalin di sisinya ....."

Tanpa kusadari, senpai pun mengambil bas dari tanganku dan mencolokkan kabelnya ke amplifier.

"Ketidakberuntungannya itu karena Paul McCartney tidak di sisinya. Revolusionis terakhir, John Lennon — ia sangat beruntung memiliki Paul McCartney di sisinya."

Senpai menahan emosinya yang meluap-luap dan mulai memetik senar-senar bassku dengan kukunya. Serangkaian nada kuat dan tidak sesuai terdengar keras dari amplifier yang merangsang pendengaranku. Aku sama sekali tidak bisa mengerti — bagaimana bisa senar bas setebal itu bisa menciptakan suara bernada tinggi? ia memainkan prelude lagu The Beatles yang berjudul <Revolution>. Itu adalah lagu revolusi yang ditulis oleh John Lennon, dan itu adalah lagu yang sering disalahartikan.

"Karenanya, cinta, revolusi, dan musik adalah hal yang tidak terpisahkan dari hidupku. Kekuatan untuk mendorong ke revolusi tanpa akhir; kekuatan untuk menemukan Paul yang hanya ada untukku; dan kekuatan untuk mengubah pemikiran-pemikiran ini menjadi lagu yang aku nyanyikan — tidak ada perbedaan di antara ketiganya. Shounen, apa kamu puas dengan jawaban yang kuberikan?"

Apa jawaban tadi benar-benar ditujukkan untuk pertanyaanku ...?

"Ah, aku benar-benar tidak paham maksud perkataan Senpai."

Saat aku hampir mengutarakan pemikiranku lebih lanjut, senpai bergumam, "Ya ampun," sambil mengernyitkan alis dan menggelengkan kepalanya. Lalu ia kembali bicara, " Apa boleh buat. Untuk mudahnya agar kamu bisa paham, ini seperti, Terlepas dari soal mengumpulkan gadis-gadis manis, aku sebenarnya memang serius membentuk sebuah band."

"Kalau begitu, jelaskan saja seperti tadi dari awal!" Sarung bas itu kubanting kembali.

"Terasa lebih baik jika lebih puitis."

"Senpai selalu menganggap orang lain itu bodoh, 'kan? Dan berhentilah memasang wajah angkuh itu — aku tidak sedang memuji."

"Shounen, reaksimu cukup menarik. Sini, sini."

Senpai tersenyum malu-malu. Sini? Tidak sopan sekali!

"Baiklah, ayo kita mulai memodifikasi basmu. Aku sedikit kesusahan dengan kelihaianmu mengalihkan pembahasan."

Aku? Jadi ini salahku? Saat aku hendak akan membantah, senpai tiba-tiba mengembalikan bas itu padaku.

"Kita harus menciptakan bunyi yang sesuai sebelum kamu mulai berlatih. Lihat, aku sudah membawa berbagai macam pick up di sini. Kamu sudah menyiapkan peralatanmu, 'kan?”

Senpai mengeluarkan beberapa suku cadang gitar dari tasnya. Pick up adalah suatu alat yang menangkap getaran dari senar. Dengan mengganti bagian ini, akan terjadi perubahan besar pada nada yang dikeluarkan alat musik. Modifikasi lainnya termasuk mengganti kabel bagian dalam dan semacamnya. Kasus yang paling ekstrim adalah membuat beberapa lubang pada gitar itu sendiri.

"... jadi, kita akan memodifikasi bas ini sekarang juga?"

"Bas Aria Pro II milikmu itu termasuk murah, tapi aku memilihnya secara khusus dengan mempertimbangkan timbre dari Stratocaster milik Ebisawa Mafuyu. Akan tetapi, itu saja tidak cukup. Bas ini tidak bisa mengeluarkan nada yang menyajikan respon sempurna terhadap gitar miliknya."

Senpai menunjuk ke bawah pagar pengaman. Serangkaian petikan cepat dan mengagumkan dari gitar yang dimainkan Mafuyu terdengar dari arah itu. Aku pun mengerti, jadi itulah alasan senpai memanggilku ke atap?


Aku dan senpai berulang kali mempertimbangkan bagaimana memodifikasi bas itu. Ini terasa begitu menarik, karena kebetulan aku juga cukup ahli dalam hal ini.

"... suara dari basmu sudah bisa disetarakan dengan bas milik Greg Lake."

Setelah dua jam, sembari memuji, Kagurazaka-senpai mengambil bas yang telah selesai itu  di antara tumpukan serutan kayu, serpihan logam serta bagian-bagian dari potongan senar. Aku jadi sedikit tersipu karenanya.

"Kenapa kamu tidak mengutak-atik Les Paul milikku juga? Aku ingin membuat nadanya sedikit lebih berwarna."

"Tidak, aku tidak punya keberanian mengutak-atik gitar semahal itu."

Senpai cuma tertawa lalu mulai membereskan peralatan dan sampah-sampah yang ada.

"Usahakan sesering mungkin untuk menyambungkan basmu ke amplifier saat kamu sedang berlatih, sehingga tubuhmu bisa merasakan suaranya dan mengingatnya sewaktu bermain di pertunjukkan yang sesungguhnya nanti."

Aku menggangguk, dan sekali lagi mencolokkan bass ku ke amplifier mini. Kejernihan suara bas ini benar-benar berbeda dengan saat pertama kali aku membelinya. Ini dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat menandingi kejernihan timbre gitar Mafuyu yang dimainkan dengan ketepatan menakjubkan. Kalau pun ditanya, aku cukup percaya diri dengan hasil modifikasiku.

Sejak saat senpai yang secara tidak masuk akal memaksaku membeli bas ini, aku tidak sungguh merasa kalau alat musik ini adalah milikku. Akan tetapi, bas ini kini terasa seperti bas yang telah berlumuran keringat kerja kerasku selama sepuluh tahun — aku bisa menggunakannya dengan nyaman. Ini adalah rekan yang kuciptakan dari awal. Akhirnya aku pun bisa mulai berlatih.

"Tentu saja aku tidak akan membuatmu berlatih hal-hal dasar berulang kali. Itu tidak perlu, karena kamu bisa berlatih sendiri di rumah. Mungkin ini sedikit mendadak, tapi sekarang aku ingin kamu memainkan sebuah lagu untukku.”

Senpai meletakkan sebuah lembar partitur yang ditulis tangan tepat di depanku.

"kamu tahu lagu ini?"

Aku mengangguk. Tidak ada judul di partitur itu, tapi aku langsung tahu setelah melihatnya sekilas.

"Aku tidak akan membantah kalau melodi bas memang tidak begitu menarik perhatian. Hampir tidak ada lagu yang dapat dikenali orang-orang hanya dari suara bas saja. Tapi ada satu pengecualian, yaitu lagu ini. Karenanya, kurasa semua pemain bas harus memulai dari lagu ini, dan juga berhenti di lagu ini."

Lagu itu adalah <Stand by Me> karya Ben E. King. *Bum, bum, badabum, bum* .... Seperti itulah ritme basnya — memang benar, hanya dengan dua bait, kita bisa menyimpan nadanya dalam ingatan.

"Kalau begitu sesuaikan ritmemu dengan metronom dan mainkan lagu ini! Terus mainkan sampai malam tiba dan bintang-bintang bermunculan, mengerti?"**

Setelah selesai menyanyikan liriknya, senpai melambaikan tangannya sebelum membuka pintu dan pergi. Aku mendesah, duduk di lantai dan mengambil basku.

Meski senpai sudah sering mengejutkanku, tidak sekalipun aku berpikir kalau ia akan membuatku memainkan lagu secepat ini.

Hei! Bukankah harusnya ia ada di sini bersamaku?**


Setelah satu jam berlatih, aku merasa ada sesuatu yang janggal. Pada dasarnya, aku tidak tahu perasaan apa ini.

Hingga aku melepaskan jari-jariku dari senar dan menghentikan metronom, aku baru menyadarinya—

Aku tidak lagi mendengar suara gitar Mafuyu. Aku menengadah dan melirik sekilas ke jam di atas tembok pintu masuk — hampir pukul enam. Mafuyu biasanya akan terus bermain sampai waktunya gerbang sekolah ditutup, jadi seharusnya ia belum pulang. Mungkin ia pergi ke toilet atau semacamnya?

Kutingkatkan sedikit tempo dari metronomnya dan mulai bermain dari awal lagi. Kali ini, aku menggumamkan liriknya sambil bermain.

Akan tetapi, ritme dari liriknya berbeda dengan ritme bas, sehingga membuatku kesulitan memainkannya. Jari-jariku sekali lagi berhenti bermain karena perasaan janggal yang kurasakan sedari tadi.

Pintu atap seharusnya tertutup, namun ternyata kini sedikit terbuka. Kusandarkan basku ke pagar lalu berjalan menuju pintu. Sewaktu membukanya, aku melihat Mafuyu yang ketakutan sedang berdiri di balik pintu. ia mundur selangkah, tapi langkahnya meleset dan hampir saja jatuh dari anak tangga di belakangnya. Saat tangannya bergerak liar di udara, segera kuraih lengannya dan menariknya ke atas.

"... Kamu sedang apa di sini?"

Setelah dengan susah payah menegakkan dirinya, Mafuyu menyingkirkan tanganku dari lengannya. Ia segera memalingkan wajahnya lalu menjawab,

"Kedengarannya berisik sekali di atas sini."

Kulirik bas di belakangku dengan sedikit terkejut. Ia bisa mendengarnya? Tapi aku tadi tidak membuat suara seberisik itu.

"Kenapa kamu berlatih di tempat seperti ini?" Mafuyu menatap tajam ke arahku. Ia sepertinya agak tidak senang.

"Bukankah aku sudah mengajarimu cara membuat ruangan itu kedap suara dengan handuk?"

"Kalau aku melakukannya, aku tidak bisa cepat-cepat kabur kalau sesuatu muncul di ruangan itu.”

Sesuatu yang muncul di ruangan itu apa?

"Itu ..., saat sesuatu itu ... muncul di ruangan ... atau semacamnya."

Mafuyu menundukkan kepalanya sambil mengucapkan hal yang ambigu.

"Oh, maksudmu seperti kelabang atau kecoak?"

"Wa! Wa!" Mafuyu menutup kedua telinganya sambil menginjak kakiku beberapa kali. Aduh! Dirinya itu kenapa?!

Ia mengubah situasi ini menjadi sesuatu yang agak konyol, jadi yang bisa kulakukan hanyalah kembali ke basku. Untuk suatu alasan yang tidak kuketahui, Mafuyu mengikutiku.

"Eh ... Ada apa lagi?"

"Nadanya sumbang."

Mafuyu menggembungkan pipinya dan menunjuk basku dengan sedikit kesal.

"Eh?"

"Senar ketiga terlalu datar. Rasanya sangat tidak nyaman saat aku mendengarkannya tadi. Jadi kamu tidak menyadarinya?"

Aku pun mengecek tuner-ku, dan memang sedikit sumbang. Ia bisa mendengarnya dari tiga lantai di bawahku? Sehebat itukah dirinya?

"Pinjam."

Saat aku sedang mencoba memperbaikinya, Mafuyu tiba-tiba merampas bas itu dariku. Ia segera memutar pemutar senarnya beberapa kali untuk memperbaiki nadanya lalu mengembalikannya padaku.

"Terima kasih bantuannya! Aku akan membayarmu sepuluh yen setiap kali kamu melakukannya, jadi mohon bantuannya lagi ke depannya."

"Dasar bodoh."

Aku tiba-tiba teringat sesuatu, dan mulai memainkan <Stand By Me>.

"Apa judul lagu ini? Aku pernah mendengarnya di suatu tempat," tanya Mafuyu. Luar biasa, tepat seperti perkataan Senpai. Untuk seorang gadis yang diasuh di bawah pengaruh musik klasik, ini mungkin satu-satunya lagu yang bisa dikenali Mafuyu hanya dari suara basnya saja.

"Judulnya <Stand By Me>."

"... menceritakan tentang apa?"

"Tentang apa? Eh? Hmm ..., ceritanya tentang seseorang yang berjalan menyusuri rel kereta, kemudian tiba-tiba ia menemukan mayat di sebelah jalur rel itu."

Mafuyu mengerutkan alisnya.

"... apa ini bualanmu lagi?"

"Tidak, aku tidak bohong," walau sebenarnya itu adalah sinopsis dari film dengan judul yang sama dan bukan lirik dari lagu itu.

Tidak lama kemudian, Mafuyu duduk di samping pintu atap sambil mendengarkan teknik basku yang masih kasar. Sebenarnya sampai kapan ia mau berdiri di sana? Sulit bagiku untuk bermain kalau kau ada ia di sini, kuharap ia segera kembali ke tempatnya. Mungkin karena Mafuyu mengamati permainanku, aku jadi salah memainkan nada beberapa kali.

"Apa kamu senang?"

Tiba-tiba Mafuyu menggumamkan pertanyaan itu. Aku berhenti bermain dan menengadah ke atas.

"... apa kamu senang saat memainkan bas?"

Aku tidak paham bagaimana menjawab pertanyaan mendadak darinya itu.

"Hmm, lumayan. Cukup menyenangkan bisa sedikit demi sedikit memainkan lagu yang kusuka."

"Begitukah?"

Mafuyu tidak terlihat tertarik sedikit pun. Yang dilakukannya hanya mengamati lantai.

Kutanyakan pertanyaan yang sama padanya, "Apa kamu tidak senang saat memainkan gitar?"

"Tidak sama sekali."

"Kalau tidak senang, kenapa kamu tidak berhenti saja?"

"Kenapa kamu tidak mati saja?"

Aku menggenggam setang basku kuat-kuat lalu menarik napas dalam-dalam. Baiklah, tidak apa-apa, jangan marah. Tidak akan ada habisnya kalau aku terus-terusan menganggap serius kata-katanya. Aku harus bersikap lebih dewasa.

"Kalau memang tidak senang, kenapa setiap hari kamu terus menutup dirimu di ruang latihan untuk bermain gitar? Pulang dan mainkan saja pianomu itu!"

"Bukan urusanmu."

Tentu saja itu urusanku! Ia sudah mengambil paksa tempat istirahatku. Iya, 'kan?

"Kalau begitu ..., bisakah untuk tidak menggemboknya? Di hari Jumat, seusai sekolah kamu langsung pulang ke rumah, 'kan? Bisakah di hari itu saja kamu membiarkanku menggunakan ruang latihan?"

"Tahu dari mana kalau hari Jumat aku langsung pulang ke rumah? Dasar maniak!"

Ini tidak ada hubungannya dengan diriku yang maniak atau tidak. Hal tadi bisa dengan mudah kulihat dengan kedua mataku ini.

"Tidak! Jangan dekat-dekat denganku!"

Percakapan kami pun berakhir seperti itu.

Aku terus berlatih dengan tenang, tapi Mafuyu tidak terlihat berniat akan pergi. Ia berjalan mondar-mandir di sekitar pintu, ragu-ragu apakah sebaiknya kembali ke bawah atau tidak. Dirinya itu sedang apa?

"—Hime-sama?"

Mafuyu terkejut dan berbalik ke arahku.

"Apa kamu juga memangilku seperti itu?"

"Terus aku harus memanggilmu seperti apa? Ebisawa?"

Tatapannya tajam ke arahku.

"Mafuyu?"

Kali ini ia menundukkan pandangannya ke bawah lalu mengangguk sambil sedikit menggigit bibirnya. Jadi dia bisa menerimanya kalau aku memanggil dengan nama depannya? Tapi sulit bagiku memanggilnya seperti itu!

"Katakan saja kalau ada yang mau kamu katakan. Kemarin aku sudah bilang begitu, 'kan?"

"Kenapa sikapmu sok hebat begitu?"

Apa hak dirinya berkata seperti itu padaku? Akan tetapi, saat aku bermaksud menatap balik padanya, Mafuyu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Seolah ia ingin mengatakan sesuatu yang canggung — ia bergumam pelan,

"... ada sesuatu yang bergerak-gerak di belakang kabinet dan berdengung."

Eh? Oh ..., jadi itu alasannya datang kemari?

"Kamu punya pembasmi serangga, 'kan?"

"Aku sudah menyemprotkannya ke seluruh ruangan sebelum cepat-cepat kabur ke sini."

Ya ampun, bukan begitu cara menggunakan pembasmi serangga! Itu bukan jenis boron yang digunakan untuk mengasapi serangga sampai mati.

"Tidak ada gunanya kalau kamu tidak menyemprotkan langsung ke serangganya!"

"Kamu menyuruhku melakukan hal seperti itu?"

Mafuyu mengatakannya sambil menggertakkan giginya dengan air mata di sudut matanya. Tubuhnya tampak sedikit gemetaran. Apa begini caranya minta tolong pada orang lain? Meski begitu, kalau kubiarkan, Mafuyu tidak akan pernah menggunakan ruangan itu lagi, yang berarti kemenangan ada di tanganku?

"Kalau kamu tidak ingin melakukannya, bagaimana kalau kembalikan saja ruangan itu padaku layaknya seorang wanita dewasa?"

"Dasar berengsek!" ucap Mafuyu padaku sambil menahan air mata, "Baiklah, biar kulakukan sendiri."

Mafuyu lalu membanting pintu, dan dari langkah-langkah kakinya terdengar seperti menuruni tangga. Silakan dan berusahalah semampunya!

Aku pun lanjut memainkan <Stand by Me>.

Meski begitu, aku agak penasaran bagaimana hasilnya, jadi aku mengintip dari sela-sela pagar ram.

Mafuyu berdiri di luar ruang latihan dengan kaku, tangan kirinya mengepal. Setelah menatap gagang pintu selama beberapa saat, ia pun meraihnya, namun segera berhenti, seolah tenaga dalam dirinya habis tersedot. Ia berdiri di sana tanpa bergerak, dan punggungnya gemetaran tiada henti. Karena ia terlihat sangat menderita, kumatikan amplifier, meletakkan basku lalu berdiri.

Ternyata suara berdengung itu bukan disebabkan oleh serangga. Setelah melewati anak tangga yang menuju lapangan, aku pun masuk ke ruang latihan. kucoba menggoyangkan kabinetnya dan sesuatu yang tersangkut di belakangnya tiba-tiba jatuh dengan suara *pak*. Ternyata itu adalah sampul depan dari album pertama Iron Maiden. Suara berdengung itu mungkin suara gemerisik dari halaman sampul depan tersebut yang disebabkan oleh resonansi gitar Mafuyu.

Sebenarnya aku sempat berpikir akan kehilangan sampul depan itu untuk selama-lamanya. Itu sebabnya aku sangat senang saat mendapatkannya kembali. Dengan senangnya, kutunjukkan sampul itu ke Mafuyu yang di dalamnya ada gambar zombie mengerikan dan jelas saja, ia pun menyemprotkan pembasmi serangga tadi ke wajahku sambil berteriak dan menangis.


Lanjut
Read more ...»

Web Novel Magi's Grandson Bahasa Indonesia

On Rabu, 13 Juli 2016 0 komentar




Berkat sihir, umat manusia telah diselamatkan dari banyak musibah. Mempertahankan kenangan dari kehidupan sebelumnya nya, anak laki-laki ini, Shin, dijemput oleh seorang pria tua yang dikenal dunia sebagai "Magi."


Shin dibesarkan oleh seorang Magi, yang telah pensiun dan tinggal di hutan, seperti cucunya sendiri. Dengan kenangan masa lalunya, ia menyerap pelajaran dari Magi dan dibesarkan untuk dapat mengembangkan sihir sendiri.

Kemudian, sang kakek mengatakan bahwa dia harus menjadi mandiri ketika ia mencapai usia 15 tahun.

"Ah, aku lupa untuk mengajarinya akal sehat."

Cucu yang telah tumbuh melampaui tingkat orang normal, tidak memiliki akal sehat; akal sehat dunia. Jadi untuk belajar bagaimana bersosialisasi, dia pergi ke ibukota Kerajaan Earlshide dan tinggal di Akademi Sihirshide Advance,

chapter 9: pindah ke ibukota kerajaan 
chapter 10: berjalan-jalan di ibukota kerajaan
chapter 11: mengambil ujian masuk
chapter 12: memberikan pidato
Read more ...»

Web Novel Death March kara Hajimaru Isekai Kyusoukyoku Bahasa Indonesia

On Sabtu, 14 Mei 2016 0 komentar








Suzuki, seorang programmer, tiba-tiba menyadari bahwa ia dilemparkan ke dunia lain mengenakan pakaian kasual di level 1. Dia memperoleh level tinggi dan harta setelah menggunakan 3 kali sihir, Meteor Shower. Setelah itu ia berniat untuk melakukan hal lain di dunia lain itu, yaitu "tamasya wisata"?

Pertemuan dengan tiga gadis , dua bersaudara dengan rambut ungu indah dan rambut hitam, dan elf eksentrik berambut pirang, mereka bersama-sama bertualang. Meskipun kadang-kadang berjuang dengan iblis dan raja iblis, ini adalah cerita fantasi menghangatkan hati.



Read more ...»