SPS Jilid 1 Bab 11

On Selasa, 08 November 2016 0 komentar

=========================================================
Ketemu lagi... Maksudnya, proyek kerja sama lagi... Kali ini dengan sebuah fantranslation baru, tapi ane lihat potensinya cukup besar, Hanami Translation...
Silakan berkunjung ke sana... Banyak seri-seri bagus bertemakan romansa disajikan di sana...
Seperti biasa, seri yang dikerjakan bareng ini, bisa agan sekalian nikmati lebih awal satu hari di Hanami Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 11 - Padang Pasir, Jantung, Kashmir


Tiga hari kemudian, di malam hari, Chiaki membawa partitur ke rumahku. 

"Kenapa belakangan ini kamu tidak ke atap? Hari ini pun kamu langsung ke rumah sepulang sekolah! Senpai jadi cemas, tahu?!" 

Seperti biasa, Chiaki yang masih memakai seragam sekolah memanjat pohon di pekarangan lalu masuk lewat jendela kamarku. Ia mengatakan itu sambil mengayunkan setumpuk partitur di tangannya. 

"Hmm ...." 

Aku memutar-mutar kabel headphone-ku dan lirih menjawab, 

"Entah kenapa, rasanya aku tidak begitu bersemangat akhir-akhir ini." 

"Untuk seseorang yang tidak punya motivasi seperti dirimu, kamu tidak pantas mengatakan itu." 

Aku jadi lebih tertekan. Aku naik ke kasurku lalu menarik selimut sampai ke kepalaku. 

"Iya, aku yang salah." 

Chiaki duduk di dekat bantal dan menarik selimut dari wajahku. Ia kemudian bertanya, 

"Apa Ebisawa-san mengatakan sesuatu lagi padamu?" 

Aku tidak menjawab, dan justru menutupi wajahku dengan bantal. Sejak hari di mana aku pergi untuk meminta maaf kepada Mafuyu, aku belum pernah menyentuh basku lagi. Pikiranku benar-benar kacau. 

"Hei, apa jangan-jangan kamu mau berhenti?" 

"... bisa jadi." 

Aku sudah mempersiapkan diri untuk menahan pukulan ataupun pitingan segitiga dari Chiaki, namun ternyata, ia menatap langit-langit dan tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama.

"... padahal kupikir kalau kita akhirnya bisa membentuk sebuah band." 

Kudengar ia menggumamkan sesuatu. Untuk sesaat, aku merasa sudah terlalu banyak memikirkan hal ini. Saat kuangkat kepalaku untuk melihat wajah Chiaki, ia menyodorkan lembaran partitur padaku. 

"Senpai menghabiskan begitu banyak usaha untuk menggubah komposisi Beethoven agar menjadi partitur untuk bas, semuanya itu demi dirimu!" 

Dengan malas kutatap rangkaian not balok yang menari di dalam lima baris paranada. 

"Tidak, tidak bisa. Aku tidak mungkin bisa memainkan komposisi ini." 

"Itu karena kamu belum mencobanya, 'kan?" 

Chiaki benar, jadi aku membaringkan tubuhku ke kasur lalu menyembunyikan diriku dari balik selimut. Tiba-tiba, Chiaki menekan seluruh berat tubuhnya ke bagian sekitar pinggangku dan mulai berlatih drum di punggungku. Seperempat ketuk, seperdelapan ketuk, sepertiga ketuk, seperenam belas ketuk .... Ia menggunakan stik drumnya dengan akurat untuk memukul punggungku sesuai irama ketukan. 

"Chiaki, sakit tahu?!" 

"Aku tahu." 

Apa maksudnya, Aku tahu, itu?! Jawaban macam apa itu! Ia terus memukul-mukul punggungku sambil tetap mempertahankan tempo. Tidak lama kemudian, pikiranku menjadi lemah. 

"Semua orang merasa sakit jika mereka terpukul tepat di hati mereka." 

Aku tidak tahu apa yang ia bicarakan. Namun, aku mulai membayangkan rasa sakit di hatiku ketika dipukul seperti drum. Ini mungkin cukup menyakitkan untuk membuat mayat melompat keluar dari kuburan mereka. 

Aku tidak tahu apakah Chiaki semakin menjiwai permainan drumnya, tapi ia perlahan-lahan mulai memainkan tempo seperdelapan. Entah bagaimana, rasanya seperti kepalaku adalah simbal dan tangan kananku adalah floor tom. Tunggu, berhenti — Chiaki-sama, rasanya sakit! Tidak lama kemudian, komposisi tiba-tiba memasuki bagian refrein. Dengan ringannya ia mulai masuk ke irama seperenam belas pada bahu kiriku yang dianggapnya sebagai pengganti snare

"Chiaki, tunggu, itu sakit! Aku bilang sakit!" 

Aku terus menggeliat di bawah selimut, tapi lawanku adalah mantan sabuk hitam Judo — ia tahu persis di mana ia harus menerapkan kekuatan untuk membuatku tidak mampu bergerak. Pada akhirnya, aku harus menunggu sampai ia selesai bermain untuk satu komposisi penuh sebelum diriku dibebaskan dari tindihan bokongnya. 

"Apa kamu tahu lagu yang kumainkan barusan?" 

Chiaki bertanya padaku setelah aku berhasil melarikan diri dari balik selimut. Senyum nakal muncul di wajahnya. 

"<Jenggot dan Boyne> dari Unicorn, 'kan?" 

"Oh, kamu cukup jeli." 

Meskipun kasus seperti ini jarang terjadi, sama halnya dengan <Stand by Me> yang bisa langsung dikenali hanya dengan barisan melodi bas, beberapa lagu dapat dikenali langsung hanya dengan mendengarkan suara drumnya saja. Sebenarnya, keajaiban ini mungkin dapat terjadi murni karena Chiaki dan aku tumbuh dengan mendengarkan musik yang sama sejak TK, sebelum band Unicorn dibubarkan. 

"Sayang sekali, jawabannya adalah <Kepolosan Asia>." 

"Jadi kamu hanya bermain-main denganku?!" Mengira bahwa hal itu sebagai sebuah keajaiban — bukankah itu membuatku terasa seperti orang bodoh? 

"Tidak, kok. Kita masih harus melakukan yang terbaik, bahkan jika hidup itu membosankan! Aku akan mendukungmu, meskipun hanya sedikit." 

Sambil mengatakan itu, ia meraih sepatu yang diletakkannya di atas mejaku lalu melompat keluar dari jendela .... Kenapa tidak keluar lewat pintu utama saja? 

Aku sendirian lagi. Aku duduk di tempat tidur dan mengambil partitur yang ditinggalkan Chiaki. Temanya begitu sederhana dan temponya juga cukup lambat — kupikir, mungkin aku bisa langsung memainkannya. Sampai titik di mana suara-suara kedua, ketiga dan keempat perlahan berkejaran, tidak ada perubahan dalam kesulitan untuk bagian yang harus kumainkan. Meski begitu, variasi sebelumnya jauh lebih rumit, dan untuk fugue, aku benar-benar harus memainkan melodi yang sama sulitnya seperti melodi yang dimainkan Mafuyu hingga akhir lagu. Biar bagaimanapun, itu benar-benar mustahil! Kulempar partitur itu ke samping lalu berbaring dan menatap langit-langit sejenak. Punggungku masih sedikit sakit karena permainan drum Chiaki tadi. 

Hal-hal seperti betapa sulitnya komposisi itu, atau diriku yang tidak punya motivasi sama sekali — itu semua hanya alasan. Aku tahu sekali soal itu. Itu sebabnya, Chiaki mungkin juga sudah tahu tentang hal tersebut. Aku hanya malu akan diriku sendiri. Aku sama sekali tidak mengerti tentang keadaan di sekitar Mafuyu, tapi aku malah dengan antusias menantangnya bertanding. Untuk mendapatkan kembali ruang kelas sehingga aku bisa menghabiskan waktu sepulang sekolah — hanya untuk sesuatu yang bodoh itu? Bodoh sekali aku ini. Tapi itu justru menjadi alasan bahwa aku tidak bisa menyerah di titik ini, kalau tidak, aku akan menjadi orang yang lebih bodoh lagi. 

Bergegas kuraih partitur dan pergi ke ruang tamu untuk mengambil basku dari sarungnya. 

Sewaktu aku sedang menyetem basku, sebuah senar tiba-tiba putus. Seakan ingin memberitahuku bahwa aku tidak mungkin bisa melakukannya. 

Aku lalu berbaring di sofa dan berencana untuk tidur, tapi bagian punggungku yang Chiaki pukul dengan stik drum mulai sakit kembali. Karena itu, kujejalkan partitur tadi ke dalam sarung bas, menentengnya ke punggungku lalu berjalan keluar melalui pintu utama.


Langit sudah mulai gelap ketika aku sampai di Toko Musik Nagashima. Melalui sebuah celah selebar pensil, bisa kulihat segala macam gitar yang dipajang di toko; gitar-gitar itu bersinar di bawah lampu sorot. Entah bagaimana, adegan itu terasa begitu nostalgia hingga hampir membuat mataku berkaca-kaca. Aku hanya sekali mengunjungi toko ini, lalu kenapa aku sampai merasa seperti itu? 

Karena tidak ada pengunjung yang datang, Kagurazaka-senpai terlihat sedang menjaga toko seorang diri. Ia berada di seberang meja kasir. Dengan menggunakan sepotong kain kuning, dengan hati-hati dan lembut ia membersihkan setang gitar yang semua senarnya telah dilepas. 

"Shounen, dari tadi aku membayangkan kalau ini sudah waktunya bagimu untuk datang! Aku benar-benar bahagia, kamu tahu?" 

Setelah melihatku, ia pun meletakkan gitar dan berdiri. 

"Kamu kemari untuk membeli senar basmu, 'kan?" 

Aku melompat kaget dan menganggukkan kepala dengan linglung. Bagaimana senpai bisa tahu? 

"Ada satu hal yang ingin kumintakan maaf padamu."

Ketika senpai mengatakan itu, ia mengambil senar bas dari rak dan membawanya ke sisi meja kasir yang terdiri dari banyak kompartemen. 

"... maksudnya?" 

"Sebenarnya aku sudah melakukan sesuatu pada senar ketiga, itu sebabnya senar tersebut jadi lebih mudah putus." 

"Haa?" aku berteriak aneh. "Kenapa Senpai melakukan itu?" 

"Kamu gampang menyerah, 'kan? Aku pikir mungkin kamu akan mengurung diri di rumah jika mulai bosan ketika sudah setengah jalan. Jika senarmu putus saat itu maka .... Lihat, bukankah itu alasan yang sempurna bagimu untuk datang menemuiku?" 

Senpai lalu tersenyum sembari mengambil tiga lembar uang seribu yen dari dompetnya dan menaruhnya di kasir.

"Itu sebabnya, biar aku saja yang membayar senarmu!"

Dibandingkan senar gitar, senar untuk bas harganya sangat mahal, tapi pemilik toko akan siap membantu ketika ingin mengganti senar. Aku terkejut, dan untuk sesaat, aku tidak bisa berbicara. Aku selalu berpikir penyeteman akan membuat senar jadi lebih gampang dipakai, tetapi dalam kenyataannya, apa senar bisa jadi lebih cepat putus? 

"Apa yang akan Senpai lakukan jika aku memutuskan untuk menyerah bermain bas karena senarnya putus?" 

"Berarti tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku sudah memikirkan hal itu sebelumnya — aku akan menyerah jika itu memang bukan takdirnya. Biarpun begitu, kamu masih bergegas mendatangiku, 'kan?" 

Ucap senpai dengan wajah tersenyum, hingga membuatku tidak berkata-kata lagi. 

"Kamu bawa partiturnya?" 

Aku mengangguk dan mengambil partitur — yang telah dinotasikan sendiri oleh senpai — dari dalam sarung bassku. 

"Jadi, kamu datang kemari bukan untuk mengeluh soal sulitnya partitur ini bagimu, 'kan?" 

"Tidak, itu .... Bukan apa-apa." aku mengalihkan mataku dan berbohong. 

"Sampai mana kamu bisa memainkannya?" 

"... sampai sekitar variasi keempat, tapi aku terhenti di bagian itu. Aku tidak bisa memainkan fugue-nya, bahkan aku berpikir kalau tidak mungkin bagiku untuk bisa melakukannya." 

Senpai dengan cepat selesai menyetem senar bas baru dan mulai memainkan bagian fugue-nya sembari duduk di meja. Aku mendengarkannya dengan perasaan yang campur aduk. 

Musik yang keluar dari gitar Mafuyu terasa bagaikan diiris langsung dari pilar es raksasa. Sebaliknya, permainan Kagurazaka-senpai terasa seperti sinar yang membekukan di musim dingin — musik yang dimainkannya muncul tiba-tiba, dan menembus awan. Terasa benar-benar luar biasa bisa mendengar suara sejelas itu mengalir dengan lancar tanpa kesalahan. 

Setelah selesai dengan pertunjukkannya, senpai mengembalikan bas itu padaku. Untuk sesaat, aku tidak bisa memberanikan diriku menghadap senpai. 

"Ini tidak sesulit itu! Aku juga tidak menggunakan teknik-teknik khusus. Kurangi sampai setengah tempo, dan mainkan setiap nadanya dengan hati-hati." 

"Senpai ...." 

Diam-diam kugumamkan itu selagi kepalaku masih tertunduk. 

"Hmm?" 

"Mengapa tidak Senpai sendiri yang merekrut Mafuyu? Lagi pula, permainan Senpai lebih baik dariku." 

"Bukankah aku sudah memberitahumu? Orang itu harus dirimu." 

Dengan lemah aku menggelengkan kepala. 

"Meski itu aku, aku juga tidak bisa berbicara banyak pada Mafuyu. Dia tidak mau mengatakan apa-apa, dan semua yang kulakukan hanya membuatnya marah saja ...." 

Senpai mengambil dua kursi bundar dari balik meja kasir lalu menempatkannya di lorong yang memajang gitar. Dia kemudian menekan bahuku untuk menyuruhku duduk. 

"Ini bukan sekadar soal itu." 

"... eh?" kutengadahkan kepalaku. Senpai sedikit mengalihkan pandangannya dari wajahku, membiarkan tatapannya perlahan melayang ke atas. 

"Bukan hanya itu. Kamu tahu? Sebelum aku tahu tentang keberadaan Ebisawa Mafuyu, aku sudah lebih dulu tahu tentangmu." 

Berangsur-angsur, aku mulai merasa sulit untuk bernapas. Apa yang sedang dibicarakan senpai ini? 

"Shounen, kamu tidak asing dengan majalah musik Sahabat Musisi, 'kan? Pada edisi bulan Juli, dua tahun lalu, aku membaca sebuah kritik yang dimuat di dalamnya yang bertajuk, Handel dan ayat-ayat di Alkitab. Artikel ini secara kasar menjelaskan tentang komposisi Handel, termasuk hal-hal yang tidak bersangkutan dengan musik, semua bisa ditafsirkan sebagai ayat. Meskipun logika itu agak terlalu mengada-ada, rasanya masih cukup luar biasa. Itu artikel yang cukup menyentuh." 

Aku masih merasa bingung selagi memeluk erat basku dengan tangan. 

Tentu saja aku tahu artikel itu. Soalnya, kritik itu—

"Aku melihat nama penulis artikel tersebut, yakni Hikawa Tetsurou, seorang kritikus yang sangat kukenal. Namun, ada sesuatu yang terasa cukup aneh. Artikel itu ditulis dalam bahasa yang cukup sederhana untuk dibaca bagi seorang murid SMP, dan contoh-contoh di dalamnya harusnya tidak terdapat dalam kurikulum sewaktu Hikawa Tetsurou masih SMP, karena saat ini ia sudah berusia empat puluh tahunan." 

"Ah ...." 

Ternyata .... Ternyata ada seseorang yang memerhatikan sesuatu dengan sedetail itu? 

"Perasaan aneh itu membuatku menaruh kecurigaan pada seluruh artikel. Kukeluarkan majalah-majalah lama dan menelitinya, membaca ulang setiap kritik yang ditulis Hikawa Tetsurou. Entah bagaimana, beberapa artikel terasa menonjol dibanding yang lain, dan semua artikel tersebut membawa perasaan aneh yang sama. Aku juga mencari tahu lewat beberapa ulasan CD dan berhasil menemukan <Finlandia> yang dimainkan oleh Berlin Philharmonic Orchestra di bawah arahan konduktor Karajan pada tahun 1959." 

Aku menelan ludah. Tenggorokanku yang kering terasa sakit. 

"Namun, aku tidak bisa menemukan bukti yang lebih nyata setelah itu, dan aku sama sekali tidak ada mengenal orang-orang dari pihak penerbit. Yang aku tahu adalah bahwa Hikawa Tetsurou memiliki seorang anak. Itu karena, untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, ia telah menulis tentang anaknya di beberapa artikelnya, bahkan ia sampai menuliskan nama anaknya. Oleh karena itu, ketika aku melihat namamu pada brosur pengumuman nama-nama murid baru — rasanya kamu pun bisa mengerti betapa terkejutnya aku, 'kan?" 

Dengan senyum ringan di wajahnya, senpai mendorong hidungku dengan jarinya. 

"Kamulah pelakunya." 

"... eng, apa maksudnya dengan pelaku?" 

"Semua dugaanku benar, 'kan?" 

Senpai tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku, dan aku hanya bisa mengangguk. 

Di dunia ini ternyata ada seseorang yang hanya dengan membaca artikel saja, bisa menyimpulkan kalau artikel yang kutulis itu atas nama Tetsurou. 

"Itu sebabnya, sudah sejak lama aku memerhatikanmu, Shounen. Aku butuh seorang sekretaris dalam pasukan revolusiku, dan aku tidak bisa memikirkan orang yang lebih cocok untuk posisi itu selain dirimu. Jadi, aku tidak begitu saja memintamu bergabung sembari aku berusaha merekrut Ebisawa Mafuyu." 

Senpai meletakkan tangannya di bahuku. 

"—aku menginginkanmu." 

Jangan berkata seperti itu padaku saat berada di jarak sedekat ini, apalagi saat hanya berduaan begini. Pikiranku jadi kacau, dan aku tidak bisa berkata apa-apa. Untuk menghindari tatapan senpai, aku memalingkan kepalaku lalu membereskan basku. 

"Biar begitu, orang sepertiku ini ...." 

Aku meyakinkan lagi mengenai masalahku.

"Band ini juga tidak akan mendapatkan apa-apa meski aku bergabung. Aku tidak bisa bermain sebaik Mafuyu, dan mungkin aku tidak akan pernah bisa mengejarnya. Selama ini, aku ... selalu mendengarkan musik sendirian." 

Senpai menyipitkan matanya dan menatapku sejenak. Kemudian ia tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan meneriaki belakangku. 

"Rekan Aihara, sudah waktunya menunjukkan diri. Mau bergabung?" 

Dengan terkejut, aku langsung menoleh ke belakang. Chiaki berdiri dalam bayang-bayang beberapa gitar di dekat pintu. Dengan diam-diam, ia memperlihatkan dirinya. Ada ekspresi lembut pada wajahnya. 

"Kamu pasti sudah mengikuti shounen sepanjang perjalanan ke sini, 'kan? Pasukan revolusiku memang bisa diandalkan. Rupanya kamu cukup mahir dalam misi mengendap-endap."

"Aku tidak mengikuti dia," bantah Chiaki dengan amarah sambil menghentakkan kakinya. 

"Senpai, jangan mengatakan hal-hal yang bisa membuat Nao takut!" 

"Wajah cemburumu itu benar-benar menggemaskan!" 

Senpai membelai kepala Chiaki dengan penuh kasih. Aku memandang Chiaki dengan ekspresi tercengang. 

Apa dia benar-benar mengikutiku sepanjang perjalanan kemari? Apakah itu sungguhan? 

Chiaki memelototiku sambil berkata, "Aku hanya kebetulan mampir ke sini untuk melihat-lihat, dan  kebetulan saja Nao sudah ada di dalam, jadi rasanya sungkan kalau aku ikut masuk."

Senpai lalu menghiburnya dengan mengatakan, "Iya, iya. Aku paham," kemudian lanjut bertanya, "Rekan Aihara, apa kamu membawa stik drummu?" 

"... stik drum?" Chiaki memiringkan kepalanya, lalu mengangguk. 

"Hmm. Aku akan membangunkan manajer toko yang tidur di dalam dan meminjam kunci studionya." 

Senpai mengalihkan pandangannya kepadaku, kemudian membentuk pistol dengan tangannya dan berpura-pura melepaskan tembakan ke dadaku. 

"Shounen, biarkan aku membakar gairahmu."


Lantai tiga Toko Musik Nagashima diubah menjadi studio untuk disewakan. Terdapat dua pintu yang tertutup erat sepanjang lorong panjang dan sempit. Setelah membuka pintu di depanku, aku disambut oleh ruang seukuran empat setengah tatami. Sekitar setengah ruangan dipenuhi oleh set drum, dengan dua amplifier gitar yang besar berdiri di setiap sisi. Ada juga mikrofon dan peralatan rekaman, serta bau asap karbon. 

"Secara khusus, aku memperbolehkan kalian masuk, semua berkat keuntungan yang kuterima sebagai karyawan di sini," sambil mengatakan itu, Kagurazaka-senpai mendorongku masuk ke studio. Chiaki juga mengikuti. 

"Wah — sudah lama aku tidak bermain drum sungguhan." 

Chiaki duduk di tengah-tengah set drum dan terlihat cukup senan saat sedang menyetel snare

Kagurazaka-senpai kemudian menghubungkan basku dan gitarnya ke amplifier. Gitar senpai adalah Gibson Les Paul, yang dikabarkan harganya sekitar satu juta yen — meski aku tidak tahu kebenaran kabar itu. Jika memang benar, itu mungkin bagian dari seri lawas Koleksi Bersejarah. Dari warna gitar, seharusnya itu replika dari seri keluaran tahun 60-an? 

Kusandangkan tali selempang bas ke bahuku, kemudian dengan agak ragu memetik senarnya. Kebisingan yang tidak tertahankan itu pun memenuhi studio kecil dan sempit ini. 

Untuk beberapa alasan aneh, aku dituntun ke studio ini oleh senpai, dengan begitu saja .... 

"Tidak perlu memainkan yang sulit-sulit, Shounen. Kamu hanya perlu mengikuti drum dan bermain dalam rentang nada D di irama seperdelapan ketuk, itu saja."

"Haa." 

Chiaki mengangkat tinggi stik drumnya ke udara dan berkata, "Senpai sudah siap?" 

Mereka berdua saling memandang untuk beberapa saat. Seketika suara simbal menghilang, aku dikelilingi oleh musik yang bergerak maju pada alur yang cepat. Chiaki mulai menabuh irama seperdelapan yang bertenaga dengan hi-hat, dan pada drum, dia memadukan irama seperdelapan dengan irama sepertiga. Suara petikan konstan gitar yang semakin tinggi dan melengking terdengar seperti jejak goyah para musafir yang menuju ke laut dengan tongkat di tangannya.

Aku mencoba mengetuk-ngetukkan jariku dengan irama yang dimainkan Chiaki, lalu perlahan mulai memetik bas. Awalnya, aku tidak percaya bahwa nada rendah yang menekan perutku benar-benar datang dari basku. Dengan kakunya, tiga melodi yang berbeda mulai berbaur bersama dan saling mengikat—

Kemudian terdengar suara nyanyian— 

Itu adalah suara Kagurazaka-senpai. 

Suara itu seperti bisikan malam di padang pasir — meski suaranya agak serak, suaranya terdengar sampai ke cakrawala di seberang sana. 

Itu adalah lagu Led Zeppelin yang berjudul <Kashmir>. 

Itu adalah lagu yang sudah berkali-kali kudengar. Lagu ini kudengarkan sewaktu di tempat tidur — di pekatnya tengah malam — berulang kali hingga tak terhitung jumlahnya. Dan sekarang, jari-jariku ini memainkan nada-nada dari lagu tersebut. 

Di bagian lagu tanpa lirik, gitar menjawab dengan frasa musik yang sama. Chiaki mempertahankan irama dan menabuh terus tanpa henti. Kuhapus semua yang sudah senpai katakan padaku dalam benakku. Ketika petikan gitar mulai meliuk dengan gaya musik Arab, aku mulai mencari nada rendah yang tersembunyi di dalam lagu, dan memainkan nada-nada itu dengan ujung jariku.


Aku benar-benar merasa lagu tersebut bisa berlanjut selamanya. 

Itu sebabnya, ketika lagu itu akhirnya berakhir, aku merasa seolah-olah ditinggalkan sendiri di padang pasir yang terasing. Ruangan itu baru saja dipenuhi suara gemuruh, tapi aku tidak mampu lagi menerka apakah itu hanya suara riuh, gema, atau kenangan lagu <Kashmir> yang telah meresap dalam pendengaranku. 

Wajah Chiaki memerah, dan dia menatapku, dahinya penuh akan keringat. Senyum penuh kemenangan muncul di wajahnya. Aku kemudian mengalihkan pandanganku, dan kali ini, sosok anggun Kagurazaka-senpai muncul di depan mataku. 

Aku tidak tahu kenapa — tapi aku tidak sanggup memandang langsung wajahnya. 

"... Shounen, jadi apa pendapatmu soal bas?" 

Perlahan-lahan kutengadahkan kepalaku. Tidak ada senyum di wajah senpai, tapi tatapannya terasa lembut. 

"Jika kita menganggap band sebagai sebuah individu, maka vokalis akan menjadi kepala, dan gitar adalah tangan ...." 

Senpai mengalihkan pandangan dari tangannya dan menatap ke arah Chiaki. 

"Jika drum adalah kaki, maka bagian apa menurutmu yang diwakilkan oleh bas?" 

Aku tidak bisa menjawab teka-teki senpai. Sejak lahir hingga sekarang, aku selalu mengambil peran sebagai seseorang yang hanya menerima sesuatu. 

Senpai akhirnya menunjukkan senyum lembutnya dan dengan cepat berjalan ke arahku. Ia menempelkan telapak tangannya ke dadaku hingga membuatku terhenyak. Tubuhku membeku. 

"Ini, Shounen." 

Saat kami saling berhadapan, senpai menatap langsung ke arah mataku lalu melanjutkan, 

"Jantung. Kamu paham sekarang? Tanpa dirimu, kami tidak akan bisa bergerak." 

Aku tertegun tanpa bisa berkata-kata. Aku menjawab pertanyaannya bukan melalui kata-kata, tetapi melalui detak jantungku sendiri. 

Jika aku menganggap band sebagai sebuah individu

Aku tidak bergerak maju dengan mengikuti jejak mereka. Sebagai seseorang yang pertama kalinya bermain musik bersama orang lain, itu adalah sesuatu yang kuyakini sekarang. Jika aku hanya mendengarkan CD di kamarku seorang diri, mungkin aku tidak akan pernah mengerti hal tersebut. 

Saat itu, aku mungkin memikirkan hal yang sama seperti senpai pikirkan. Kalau saja Mafuyu ada di sini—

Suara gitar itu. Kalau saja suara itu ada di sini—

Kucengkeram setang basku erat-erat. Akhirnya aku pun mengerti — alasanku untuk bermain bas. Bukan sekadar sebuah pembenaran, tapi sebuah alasan yang sebenarnya — sehingga aku bisa menyampaikan gelora membara ini pada Mafuyu.


Read more ...»

Bokushinu Jilid 1 Bab 1

On Rabu, 02 November 2016 0 komentar

=========================================================
Mungkin ada yang mengira kalau seri ini kok rada komedi ceritanya... Ane akui, waktu awal baca juga mengira seperti itu... Di mana supranaturalnya...?
Eh ternyata, kejutannya ada di akhir bab...
Proyek kerja sama dengan Sekki & Kyou Translation...
Hasil terjemahan seri ini di-posting di masing-masing fantranslation... Rilisan seri ini bisa terlebih dahulu dinikmati sehari lebih awal di Sekki & Kyou Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 1 - Hari Ini, Aku di Kebun Semangka. Aku Lupa Ingatan


"Aku lupa ingatan."

"Gara-gara menghabiskan malam yang penuh gairah dengan pacarmu, kamu sampai lupa ingatan? Ini sebabnya kamu dianggap berandal."

"Makanya, dengarkan yang betul! Aku benar-benar lupa ingatan!"

"Lagi pula, kenapa kamu tidak berbicara dengan sopan padaku? Ini sebabnya kamu dianggap berandal."

"Bu, tolong jangan bercanda. Aku serius. Aku benar-benar lupa ingatan."

"Ya ampun, kenapa kamu harus lahir dengan wajah semenyeramkan itu? Jadi ini—"

"Kuhajar kamu."

Ini hari Senin.

Tidak, tunggu. Ini hari Selasa.

... sepertinya begitu. Ingatanku menunjukkan kalau ini adalah hari pertama aku ke sekolah dalam pekan ini.

Jelasnya, kami sedang berada di UKS, dan aku sedang mengobrol dengan perawat sekolah. Hanya ini fakta yang bisa kupastikan, dan bagian lainnya masih tidak jelas bagiku.

"Lalu? Kapan kamu mulai lupa ingatan, Akitsuki?"

Perawat sekolah yang bernama Higumo ini berbicara dengan jelas padaku, dan dia memanggilku dengan nama depan.

Sekarang sudah musim semi, tapi guru yang satu ini memakai selendang biru muda yang menutupi jas putihnya. Pasti dia tidak paham dengan pergantian musim.



Dia adalah subyek kecantikan di kalangan murid lelaki dengan lekuk tubuh sensual disertai wajah yang cantik, dan di saat ini, dia melonggarkan kerahnya sambil menyilangkan kaki layaknya seorang ekshibisionis, berusaha untuk menggodaku. Meski begitu, tidak ada artinya bagiku karena aku tidak suka segala yang menyimpang. Itu sebabnya, tidak perlu dia mencondongkan dadanya ke hadapanku sejak tadi, dan tidak usah sampai mengangkat kakinya lagi. Aku ini lelaki, tahu?

Angin sejuk musim semi berembus melewati jendela, mengibarkan rambut panjangku seraya memenuhi ruang UKS dengan aroma menyegarkan. Tidak, tunggu, ini bukan waktunya membicarakan itu. Tidak perlu sampai seperti itu.

"Aku tidak bisa mengingat apa pun sejak hari Senin. Aku tidak bisa mengingat apa pun dari waktu aku tidur di Minggu malam sampai saat aku terbangun."

"Apa yang terjadi saat kamu terbangun?"

"Aku berada di kebun semangka."

"... baiklah ...."

Meski kurasa kalau yang kukatakan tadi cukup aneh. Tapi itulah kenyataannya. Mau bagaimana lagi?

Ditambah, ini bukanlah bagian yang teranehnya.

"Aku berencana pulang ke rumah untuk mandi, tapi saat aku sadar kalau itu sudah sangat terlambat, aku berubah pikiran dan langsung berangkat ke sekolah dengan membawa diriku yang tidak sadar bahwa hari ini sebenarnya Selasa."

"Biar kupikir dulu, apa itu artinya kalau kamu berencana mandi di antara semangka-semangka?"

"Bukan itu maksudku!"

Setelah tertidur di hari Minggu, aku terbangun di kebun semangka. Setelah sampai di sekolah, aku sadar bahwa hari ini ternyata hari Selasa. Aku tidak tahu apa yang sedang kukatakan ini, dan aku juga sulit untuk mengekspresikannya.

"Hei, itu namanya ketiduran, tahu? Berandal nomor satu di sekolah ini memang sesuai dengan reputasinya."

"Itu sangat mustahil!"

"Berarti kamu mabuk. Ya, 'kan? Berandal nomor satu di sekolah ini memang sesuai dengan reputasinya."

"Aku tidak mabuk."

"Berarti itu gara-gara wajahmu yang menakutkan. Berandal nomor satu di sekolah ini memang—"

"Cukup! Atau kuhajar kamu!"

Aku melotot ke arah perawat sekolah yang selalu mengocehkan omong kosong itu.

Kebodohannya ini tampaknya juga populer di kalangan para murid, dan aku tidak tahu alasannya. Sejujurnya, aku sebenarnya tidak begitu ingin berkonsultasi pada guru yang acuh tak acuh ini, tapi aku juga tidak punya keberanian untuk pergi ke rumah sakit dan memberi tahu dokter, "Yah, begini, aku sepertinya lupa ingatan. Hehehe," kalau memang bisa, kuharap ini hanya sebuah salah paham yang besar.

"Hmm, biar bagaimanapun, jika dilihat lebih serius, ide paling masuk akal adalah kamu sedang kebingungan membedakan antara hari Minggu atau hari Senin? Yah, walau itu tidak akan begitu realistis."

"Memang."

Aku mengerti yang dimaksudkannya, tapi yang pasti bukan itu.

Itulah alasan yang membuatku harus berkonsultasi dengan perawat sekolah yang sembrono ini.

"Tolong dengar baik-baik. Pagi ini, aku dengar dari ibuku bahwa kemarin setelah aku bangun lalu bercermin, tiba-tiba aku berteriak aneh dan berlari keluar, dan sejak saat itulah keberadaanku tidak diketahui. Rupanya aku masih memakai piama. Meski begitu, aku tidak mampu mengingat apa pun, itu artinya ...."

"...."

"...."

Suasana hening menghinggapi kami.

"Itu gara-gara wajahmu yang menakutkan, makanya ...."

"Sudah, cukup! Apa kamu sangat suka menyinggung hal itu?"

Higumo tertawa kecil, dan akhirnya memutuskan untuk serius menanggapiku.

"Yah, kurasa yang kamu katakan itu benar."

Dia menyilangkan kakinya sekali lagi sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya lalu berkata,

"Ini kasus hilang ingatan."

"Ah."

Hilang ingatan.

Aku tidak ingin mengakuinya, tapi tidak ada kemungkinan lain.

"Hilang ingatan, ya?"

Higumo bergumam sambil memilin ujung rambutnya yang panjang. Dia terlihat sedang memikirkan hal ini.

“Meski bisa dipastikan kalau itu kasus hilang ingatan, tapi jenisnya ada banyak, bervariasi mulai dari, Di mana ini? Siapa aku? bermacam kasus amnesia retrograde yang paling banyak ditemukan, hingga, Aku ingat semuanya sampai di saat aku mendorong Bu Higumo ...., dalam kasus ini, kamu tidak mampu mengingat episode spesifik dari ingatanmu. Rentang ingatanmu yang hilang itu bisa sangat besar. Aku menduga kalau keadaanmu saat ini ada di poin yang terakhir. Ya, 'kan?"

"Iya, aku cukup yakin seperti itu.”

"Jadi kamu mengakui fakta kalau kamu tadi mendorongku?"

"Ayo kembali ke topik ...."

Aku belum kehilangan semua ingatanku, buktinya adalah fakta kalau aku bisa dengan mudah memperkenalkan diri.

Namaku Akitsuki Sakamoto.

Aku sekolah di SMA Sakurahime, sekarang aku kelas dua SMA.

Aku anak sulung dari empat orang anggota keluarga, dan aku punya seorang adik perempuan.

Tinggiku 1,85 meter dan berat 70 kg.

Ulang tahunku bertepatan dengan ulang tahun pesepakbola favoritku.

Hobiku mengunjungi kuil saat musim panas dan musim dingin.

Aku lahir dengan wajah menakutkan, karenanya, aku jadi punya reputasi sebagai berandal.

Lalu, aku tidak punya satu pun teman. Ditambah, semua orang di kelas berusaha menjauh dariku. Setiap kali kami bertukar kursi, bisa kulihat para gadis yang bersebelahan denganku langsung menunjukkan ekspresi sedih. Ini terjadi berkali-kali hingga aku sudah terbiasa dengan itu.

Mengalami diskriminasi semacam ini yang bahkan sejak aku SD, membuatku tersesat, hingga aku menjadi berandal sungguhan. Teman sekelasku, tetangga, para guru, pokoknya orang-orang di dunia ini mulai memandang hina diriku. Bahkan adik perempuanku sendiri mulai mengataiku, "Jangan bicara padaku, dasar sampah," semua orang menghakimiku karena penampilanku. Ya sudah, Aku mampu untuk mengabaikan apa yang orang lain pikirkan tentangku.

"Ha-hah? Akitsuki, kamu menangis."

"Aku tidak menangis! Katakan itu lagi, kuhabisi kamu!"

"Oh, begitu."

Higumo berhenti menanyakan hal tidak penting itu lalu menguap.

Kurasa masih ada orang yang mengerti bahwa sebuah hal yang sulit untuk menguap sespontan itu.

"Berarti kamu memang lupa ingatan. Tapi meski kamu mengatakannya, tidak ada yang bisa kami lakukan. Mungkin ada masalah dengan otakmu, jadi apa kamu mau kami beri rujukan ke rumah sakit?"

"Tidak, lupakan rumah sakit."

Aku tidak mau menimbulkan kehebohan.

"Kamu ini memang keras kepala, ya?. Apa boleh buat. Tapi ayo periksa dulu keadaanmu yang sekarang."

"Keadaanku yang sekarang ...."

Kami tidak memecahkan masalah, tapi itu benar bahwa tidak ada lagi yang bisa kami lakukan.

Cih, jadi tidak ada jalan keluar?

Karena putus asa, aku berdiri dari kursi.

"Dah, mungkin aku akan kembali lagi."

"Ah, omong-omong, Akitsuki ...."

Hmm? Karena mendengar suara lelah Higumo, aku lalu berbalik menghadapnya.

"Rambutmu sudah sangat gondrong, 'kan? Itu melanggar aturan sekolah. Jika kamu memotongnya lebih pendek, Kamu akan terlihat lebih keren."

"Aku ini berandal, jadi tidak masalah."

"Berandal nomor satu di sekolah ini memang sesuai dengan reputasinya. Kamu boleh datang kapan saja kemari."

Sial, untuk apa aku mau kemari lagi?

Guru yang seksi itu kemudian melipat tangannya. Dan aku pun mendecakkan lidah lalu membanting pintu dengan amarah.



XXX


Aku menuruni lorong yang diliputi sinar matahari ini.

Cuaca yang bagus, seolah badai kemarin memang tidak pernah datang.

Ralat, maksudku kemarin lusa. Aku tidak tahu apa kemarin langitnya cerah atau tidak.

Hawanya sangat panas, aku bisa banjir keringat kalau memaksakan berlari, dan lorong ini sudah dipenuhi murid-murid yang dengan cerianya saling mengobrol selama istirahat.

Sudah beberapa hari berlalu sejak aku naik ke kelas dua SMA.

Ada kelompok biasa yang suka berkumpul di lorong sejak tahun kemarin, dan beberapa kelompok yang baru terbentuk.

Tentu saja itu tidak ada hubungannya denganku. Jika aku harus mengatakan sesuatu, paling-paling jangan menguap sewaktu berjalan di lorong.

Dengan murung aku mendesah, dan perlahan membuka pintu kelas.

Tiba-tiba, hampir seluruh teman sekelasku memusatkan pandangannya padaku.

Meski begitu, sebelum mata kami bertemu, mereka akan mengalihkannya.

"Haaa ...."

Tempat dudukku berada di tengah barisan belakang.

Aku menyenderkan belakang kepalaku di kedua telapak tangan sembari menunggu waktu berlalu. Siapa pula yang mau menegurku?

"Hei, apa benar yang dikatakan Mariko itu?"

"Iya, sepertinya begitu. Rupanya dia diganggu sama anak-anak berandal di kelas tiga."

Biarpun begitu, aku tahu bahwa tidak ada orang yang akan datang dan bicara padaku, itu sebabnya aku jadi menguping pembicaraan orang-orang.

"Itu cukup menakutkan. Andai saja para guru mau lebih memperhatikan."

"Percuma. Para guru di sekolah ini hanya bisa gemetar ketakutan. Lagi pula, kelas kita—"

Tepat di saat itu, dia mulai memelankan suaranya dengan tidak wajar.

Aku? Apa dia sedang membicarakanku?

Biar kuperjelas dulu. Aku tidak sedikit pun berbuat onar hanya karena aku dianggap berandal.

Mungkinkah keberadaanku itu sendiri merupakan sebuah masalah? Atau aku menjadi sebuah beban dikarenakan aku hidup?

Jika memang begitu, aku tidak bisa membantumu. Hahaha, mati sana!

"Cih."

Tanpa sengaja aku langsung mendecakkan lidah, aku tersadar kalau telah melakukan sesuatu yang buruk.

Sudah kuduga, para gadis mulai gemetar dan mendadak berdiri lalu berlari ke pojok kelas.

Karena syok, gadis-gadis ini saling mendekat satu sama lain sambil melihat ke arahku dengan ketakutan, seolah mereka hendak ingin meminta maaf.

Mataku kemudian tertuju pada gadis mungil yang rambutnya dikepang, tapi gadis tersebut segera mengalihkan pandangannya, dan itu hampir membuatku menangis.

"Sial ...."

Aku berdesah, merebahkan tubuh ke atas meja dan menutup mataku. Semoga saja sekolah segera berakhir.

Sambil mendongkol sejak kelas dimulai, aku terus merebahkan tubuhku ke meja, meski begitu, tidak ada satu pun, termasuk guru, menegurku. Aku tidak bisa begitu saja langsung bangun, jadi aku terus menahan sakit di bahuku ini sampai kelas usai. Ah, aku capek.



XXX


Sesampainya di rumah, Ibuku bertanya, "Dari mana saja kamu kemarin?" lalu aku pun menjawab, "Berisik, bukan urusan Ibu!" seperti yang biasa dikatakan oleh remaja di masa memberontaknya. Ibu, ini hanya salah paham, aku juga ingin menjadi anak yang lebih baik, tapi aku tidak bisa menemukan waktu yang tepat.

"Oh."

"Wuah."

Saat hendak masuk ke kamarku di lantai dua, aku menabrak adikku yang masih memakai seragam sekolahnya yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Yo, kamu sudah pulang."

"Kamu ini sedang apa? Jangan bicara padaku, dasar sampah."

Ucap adikku dengan dinginnya seperti ingin melampiaskan kemarahannya padaku. Rambutnya dipotong bergaya bob, mata di bawah poninya itu menatap ke ujung lorong, sama sekali tidak memperhatikanku.

Ini adik perempuanku, Yukiko Sakamoto. Dia akan lulus SMP di musim semi tahun depan.

Tubuh mungilnya mirip dengan ibuku; kami tidak terlihat seperti saudara kandung karena wajah cantiknya yang jauh berbeda denganku. Dia akan lebih populer andai dia lebih bersemangat. Sayangnya, dia mengikuti cara bicaraku yang kasar.

"Sebaiknya kamu tidak ceroboh lagi hari ini, dasar sampah."

"Hmm? Hari ini?"

"Jangan berlagak bodoh setelah masalah yang kamu buat kemarin."

"Eh ...."

Kemarin ...? Tunggu.

"Yukiko! Kemarin kamu melihatku?!"

"Hah? Memangnya—"

"Apa yang sudah kulakukan kemarin?! Menurutmu seperti apa aku kemarin?"

Kugoyangkan bahu adikku yang terlihat curiga itu.

Tampaknya dia bertemu denganku kemarin.

"Kamu menanyakanku soal yang kamu lakukan kemarin?! Harusnya itu kamu tanyakan ke dirimu sendiri!"

"Sudah, beri tahu saja! Aku mau tahu soal pendapatmu tentang diriku!"

"Hah? Pen-pendapatku tentang dirimu .... Ini—"

"Kumohon! Katakan yang sejujurnya! Apa pendapatmu tentang diriku?!"

"...!"

Aku memaksanya dengan wajah serius yang belum pernah kuperlihatkan sebelumnya. Entah kenapa, wajah Yukiko memerah, bibirnya sedikit terbuka.

"Pen-pendapatku, i-itu, yah, kurasa kamu ke—"

"Hmm?"

Bicaralah yang jelas.

"Sudah kubilang, ku-kurasa ka-kamu ke—"

"Hei, kamu kenapa? Tidak enak badan?"

Yukiko terus tergagap, karena itu aku menggeser poninya ke samping dan menempelkan tanganku ke dahinya.

Mungkin karena sudah membuatnya gelisah, mata adikku jadi tampak berkaca-kaca saat dia menyingkirkan tanganku.

"Hei, ja-jangan sentuh aku, bajingan!"

Adikku berteriak sewaktu dia kembali ke kamarnya lalu mengunci diri di dalamnya.

Ibuku yang sedang memeriksa keadaan dari anak tangga, berteriak, "Kalian ini kenapa?"

"Berisik, perempuan tua!" aku berteriak balik lalu ikut mengunci diri ke kamarku juga.

Ada apa dengan Yukiko? Kenapa dia tidak cerita saja soal yang kulakukan kemarin?

"Huh, ya ampun ...."

Kulempar tasku ke pojokan lalu berbaring di atas ranjang.



XXX


Ditelan oleh keheningan di dalam kamarku, sebuah rasa kantuk menyambarku.

Namun mendadak aku teringat insiden itu lalu mengambil tas yang kulempar tadi.

"Biar kulihat. Ah, aku ingat yang satu ini."

Kuambil koran yang kubawa saat pulang ke rumah dan membalik halaman demi halamannya.

Ah, ketemu.

[SEORANG MURID SMA TAKIOU DITEMUKAN TEWAS DALAM SEBUAH KECELAKAAN!]

Judulnya dibuat besar dengan memakai model aksara gotik. Aku mengecek ulang judulnya.

Berita kelam ini terletak di pojok berita lokal. Biasanya aku tidak membaca berita ataupun menonton tayangan di TV, tapi kali ini pengecualian.

"Jadi namanya Hikari Yumesaki, toh."

Kugumamkan nama gadis yang telah tiada itu.

Kutarik laci meja belajarku dan mengambil sebuah buku saku murid yang compang-camping dari dalamnya. Pelan-pelan kubuka buku itu supaya tidak merusaknya, dan aku menemukan nama pada sebuah foto yang sobek lalu mencocokkannya.

Aku ingat yang terjadi kemarin. Tidak, maksudku kemarin lusa.

Gadis yang mati selagi hujan turun. Sejujurnya, aku tidak mau mengingat insiden semacam itu. Syukurlah, aku tidak sempat melihat wajahnya. Aku tidak mau melihat wajah yang ditunjukkan seseorang setelah kematiannya, terutama wajah seorang gadis.

—gunakan separuh masa hidupmu.

Suara yang dingin itu terlintas di benakku seperti hujan. Sinar matahari yang terbenam menembus tirai dan menyengat wajahku.

Siapa sebenarnya orang itu.

Sosok hening yang berjubah hitam itu.

keberadaannya mirip dengan fatamorgana yang tercipta dari hujan.

Ingatanku terasa begitu samar seolah mimpi-mimpi yang kualami saat kecil dulu tiba-tiba menjadi kenyataan.

Ayo, itu yang kukatakan padanya. Secara logika ini adalah hal yang mustahil. Kabar kematiannya telah disiarkan tanpa kepiluan.

Gadis itu sudah mati.

Sosok hening itu hanya fatamorgana yang disebabkan oleh hujan.

Aku menjadi sangat trauma oleh kematian gadis itu hingga aku kehilangan ingatanku di hari Minggu.

Tapi, apa hanya itu ...?

"Apa memang aku yang aneh?"

Kata-kata yang kuucapkan tanpa sadar itu telah menghancurkan hatiku. Bukan itu.

Aku berdesah setelah memfokuskan perhatianku ke buku saku murid ini.

"Aku ... harus mengembalikan ini ...?"

Jika berita itu benar, buku saku ini harus dikembalikan ke keluarganya. Lagi pula, aku juga tidak punya urusan dengan buku ini.

Akan tetapi, aku tidak punya keberanian untuk mengembalikannya.

Soalnya, buku saku murid ini—

"... cih."

Aku tidak tahu sudah berapa kali aku mendecakkan lidah di waktu senja ini. Kuatur tirai jendelaku agar tidak ada sinar matahari yang tembus dan mengenai ranjang.

Aku tidak tahu, dan aku juga tidak mau tahu.

Dikelilingi oleh kesunyian, napas dan detak jantungku terdengar kencang di telingaku.

"Tewas dalam sebuah kecelakaan, ya."

Aku kembali bergumam sembari menutup mata.

Jika aku tidur sekarang, sepertinya ... aku tidak akan bisa bangun lagi.

Mungkin saja aku akan lupa ingatan lagi.

"Seharusnya tidak apa-apa, 'kan?"

Aku mengatakannya dengan sangat santai, seakan menghibur diriku sendiri. Kesadaranku perlahan memudar bersama tipisnya tabir kegelapan.

Seolah aku melarikan diri dari hari ini.

Tidak apa-apa. Aku pasti akan baik-baik saja.



XXX


"Ini gawat."

"Tunggu, aku sangat bersemangat sekarang, game cewek ini cukup menarik."

Ini hari Rabu.

Tidak, tunggu, itu tidak benar. Ini hari Kamis.

Tidak, ini hari Jumat .... Eh, bukannya ini hari Kamis? Argh, aku tidak peduli lagi!

Ini sekitar jam sembilan pagi, di tengah jam pelajaran pertama, dan kini aku berada di UKS.

Tentu saja alasannya bisa ditebak.

"Bu, sekarang jadi semakin parah. Aku kehilangan satu hari lagi dari ingatanku .... Matikan dulu TV-nya!"

"Tung-tunggu! Tokoh ini mirip seperti dirimu, Akitsuki. Dia kelihatan—"

"Lakukan kewajibanmu, bodoh!"

Kurebut remote control TV itu lalu mematikannya. Kemudian kuberi tatapan wajah seram pada Higumo sebagai tanggapan untuk wajah cemberutnya. Dia pun langsung duduk ke kursinya.

"Ayolah. Omong-omong, dilihat dari bekas tanah yang ada padamu, kamu tertidur di kebun semangka lagi, ya?"

"Ya, aku tertidur di sana lagi."

Kali ini, aku kembali terbangun di kebun semangka, dan kalender menunjukkan ....

"Ini hari Kamis."

"Ya, ini hari Kamis."

Aku kehilangan satu hari lagi dari ingatanku.

"Hohoho. Kamu menjadi terlalu intens, bukan? Kukira gara-gara itu kamu telah kehilangan semua ingatanmu. Berandal nomor satu di sekolah ini memang sesuai dengan reputasinya."

"Aku harus apa? Ini tidak terlihat baik ...."

"Ah, eng, mana kalimat andalanmu ...?"

Hal menakutkan ini terjadi lagi. Aku lupa ingatan, dan kutemukan diriku terbangun di kebun semangka lagi.

"Bu, bicaralah yang serius, menurutmu ini apa? Ini hal yang buruk, 'kan ...?"

"Ya. Belum pernah kudengar ada orang yang lupa ingatan setiap selang hari. Apa ada yang kamu tahu? Misal, sebenarnya kamu adalah manusia buatan! Atau sesuatu yang mirip seperti itu."

"Manusia buatan, ya. Begitu rupanya. Sekarang semuanya jadi masuk akal ...."

"Eh, hah? Apa kamu baru saja memperlihatkan sisi pikunmu ...?"

"Hahaha, jadi begitu. Ternyata aku bukan manusia."

"Maaf, aku akan lebih serius lagi. Tolong kembali seperti kamu yang biasanya, Akitsuki."

Higumo mengencangkan selendangnya lalu mengambil sebuah buku dari rak besi.

"Setelah kamu pergi, aku mulai mencari informasi tentang amnesia. Tapi di sana tidak ada kasus orang yang lupa ingatan setiap selang hari."

"Aku tahu. Itu artinya kalau aku ini manusia buatan."

"Eng, aku benar-benar minta maaf soal itu .... Omong-omong, aku menemukan sebuah kemungkinan lain."

"Kemungkinan lain?"

Higumo mengangguk saat dia membuka halaman pada buku tebal itu.

Istilah yang tertulis di sana ....

"Gangguan identitas disosiatif?”

“Betul, dan itu juga dikenal sebagai gangguan kepribadian ganda."

Kepribadian ganda?

Istilah ini menggema di kepalaku bagaikan bunyi gong.

"Inilah yang tertulis pada kasus gangguan kepribadian disosiatif. Untuk melindungi kondisi mental mereka, manusia memilih untuk menyegel ingatan menyedihkan mereka. Kasus seperti ini jarang terjadi. Selama itu, ingatan yang tersegel akan menjadi kepribadian lainnya setelah dipicu oleh sesuatu, dan gejala ini disebut ...."

"Gangguan kepribadian disosiatif."

"Betul."

Higumo kembali mengangguk sembari mengambil cangkir dari atas meja. Aku menaruh perhatianku pada kata-kata yang tercetak di buku itu, Sutera, ya? Nama yang manis. Aku baru saja mengingat hal yang tidak perlu ....

"Apa kamu tahu sesuatu?"

"Tidak."

Andaikan aku punya, aku akan dengan senang hati menyegel ingatan minggu terakhir ini beserta berbagai hal yang tidak perlu kupelajari.

"Begitukah? Tapi jika keadaanmu tetap seperti ini, kamu perlu untuk terus waspada. Karena menurut buku ini, ada keadaan ketika kepribadian pengganti akan muncul lebih sering dan mengambil alih tubuh pemilik aslinya."

"—hah?"

Aku tercengang oleh kata-kata menakutkan itu.

Tahan dulu di situ.

Ada apa sebenarnya ini? Eh, tentang apa itu?

Eh?

"Mungkin hal ini masih bisa keliru. Jadi, sebaiknya kamu segera pergi ke rumah sakit."

"...."

"Akitsuki?"

"... aku ...."

"Akitsuki ..., kamu menangis?"

"... sampah ...."

"Eh?"

"Aku masih punya banyak hal ... yang belum aku lakukan ...."

"Contohnya?"

"Aku ingin menyetuh gadis-gadis ...."

"Kamu perlu mengendalikan sisi berandalmu ...."

"Argh .... Kenapa aku bisa jadi berandal ...."

“... gejala berat, ya?"

"Sial ...."

Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi selanjutnya.

Yang kuingat adalah Higumo menasehatiku supaya pergi ke rumah sakit. Tapi aku mengabaikannya.

Aku keliru mengira jalan keluar dari UKS dan justru menarik pintu kelasku kuat-kuat. Guru beserta murid-murid di kelas terkejut, tapi aku abaikan mereka lalu menutup pintu.

Aku terlihat seperti pengecut, 'kan? Aku bahkan tidak tahu yang sedang kulakukan ini.



XXX


Aku meninggalkan sekolah secepatnya dan berkeliaran di sekitar kota selama sejam.

Pada akhirnya aku berhenti di kebun semangka, berjongkok, lalu menangis.

"Waaahhhh!"

Orang-orang yang lewat mungkin berpikir kalau aku ini orang gila.

Langit di atas tampak luar biasa cerah.



XXX


Saat itu sekitar senja.

Aku pulang ke rumah setelah air mataku kering.

"Kenapa lama sekali? Apa saja yang kamu lakukan, sampah?"

"Aku pulang. Ibu mana?"

"Ibu masih kerja. Kalau kamu sudah paham situasinya, sebaiknya mulai membuat makan malam. Aku akan membantumu untuk hari ini saja."

"Hah?"

Adikku sudah memakai celemek, dan dalam keheranan, kuamati dirinya.

Dia tiba-tiba jadi lebih feminin. Tapi dia akan terlihat lebih bagus kalau sedikit berisi.

"A-ada apa denganmu, sampai melihatku seperti itu? Menjijikkan. Jangan lihat-lihat!"

"Yukiko, syukurlah aku menjadi kakakmu."

"Eh .... Aku tidak paham maksud ucapanmu?!"

"Aku minta maaf untuk semua yang telah kulakukan sampai sekarang."

"Kamu ini bicara apa—?!"

Aku tiba-tiba mengekspresikan rasa sayangku pada adikku, dan siap untuk dibenci. Ah, ini terasa hangat dan lembut.

"Bodoh! Ka-kamu ini kenapa! Ka-Kakak?!"

"Terima kasih, ya, Yukiko."

Aku pererat pelukanku.

"Ka-Kakak ...."

Aku peluk dirinya sekitar dua puluh detik, kemudian kulepaskan dengan lembut. Liur adikku sudah menetel sembari matanya berbinar, dan dia lalu kembali ke kamarnya.

"A-aku harus menulis itu di blog-ku .... Tidak, sebaiknya aku menulis kerangkanya dulu ...."

Adikku pun kemudian menghilang di balik pintu.

Blog? Apa itu?

Yah, lupakan dulu tentang itu. Kata-kata dari adikku tadi membuatku jadi terpikir.

"Benar, sebuah catatan harian."

Aku masuk ke kamarku dan mengunci pintu.

Kututup tirai jendelaku dan mengunci semua celah yang ada. Dengan mengandalkan lampu belajar di atas meja kayuku, kuambil sebuah pulpen dalam ruang gelap ini.

Kubuka buku catatan baru di samping meja. Untuk beberapa saat, pandanganku tertuju pada halaman yang kosong.

... eh .... Ah ....

Aku tidak bisa memikirkan hal yang mau kutulis. Jika seperti ini, yang paling penting adalah menulis sesuatu dan mengikuti alirannya.

Aku menulis sesuai dengan yang kupikirkan sekarang. Pulpenku menari-nari di atas kertas seiring musik latar yang mengalun.




Kepada: diriku yang lain.


Ini mungkin akan jadi kata-kata terakhirku. 

Yo, apa kabar? Bagaimana rasanya di dalam tubuhku selama hari Senin dan Rabu? Tampaknya kamu sudah mengambil alih tubuhku. 

Yah, aku tidak peduli lagi. 

Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Ini sangat konyol. 

Aku menyerah. Tubuh ini hanya menyebabkan masalah untuk keluarga dan orang sekitarku. Kamu boleh memiliki tubuh ini. 

Tetapi, aku punya satu permintaan terakhir. 

Tolong lindungi adikku, dia lebih penting dari hidupku. 

Juga, sapa orang tuaku, dan sampaikan terima kasihku pada mereka karena sudah membesarkanku. 

Yah, itu saja. Akan aku serahkan sisanya padamu. 

Oh, iya. Ada sesuatu yang mau kuberikan padamu. Ada folder anime tersembunyi di komputerku. Terserah mau kamu apakan itu. 

Kata sandinya, [Besar Adalah Keadilan] .

Dah, diriku yang lain. 


Dari: Akitsuki Sakamoto



"Fiuh."

Setelah selesai menulis, kuletakkan buku catatanku itu di tengah meja agar menarik perhatian. Sebuah desahan kemudian keluar dengan antusias.

Aku tidak punya penyesalan.

Aku tidak menyesal sedikit pun.

Kutegaskan hal itu pada diriku sendiri sembari berbaring di ranjang.

Tidak, paling tidak harusnya aku menyantap makan malam terakhir bersama adikku dulu.

Setelah berubah pikiran, kuketuk kamar adikku dan memintanya untuk makan malam bersamaku.

Setelahnya, aku pun mandi, dan ternyata sudah waktunya untukku tidur. Pikiranku mulai tertelan dalam rasa kantuk.

Selamat tinggal semuanya.

Kuucapkan salam perpisahan dengan sesederhana mungkin sebelum saat-saat terakhirku tiba. Kesadaranku lalu hanyut dalam kegelapan.

Pada malam itu, aku tertidur dengan amat lelap.



XXX


"... Sabtu."

Aku terbangun seperti biasanya.

Kalender di ponsel-ku memberitahuku kalau aku telah melompati hari lagi.

Hanya saja, hari ini aku tidak bangun di kebun semangka lagi seperti yang sebelumnya.

Ditambah.

"Ini pasti bercanda."

Buku catatan itu memang berada di atas meja, tapi penempatannya jelas berbeda dari yang kuletakkan kemarin.

Buku catatannya kini berada di dekat lampu belajar. Seperti dengan jelas menunjukkan padaku bahwa aku harus membacanya.

Aku tidak punya waktu memikirkannya lagi.

Rasa tanggung jawab yang aneh ini membuatku resah. Aku pun membuka buku itu dengan terburu-buru.

Dan di situ tertulis—

"... bajingan berjubah hitam itu"

Akhirnya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Jati diri sebenarnya dari suara hujan yang telah berada di pikiranku sejak hari itu.

"Jadi ini yang dimaksud dengan separuh itu?"

Aku tumbang dengan lemas di ranjangku layaknya boneka yang benangnya terputus.

Aku tidak tahu apa aku harus tertawa atau menangis.

Kupegangi kepalaku, tanpa tahu harus melakukan apa saat melihat kata-kata yang tertulis dalam buku catatan itu.




Kepada: Akitsuki Sakamoto 

Apakah kamu diriku yang lain?   

Dari: Hikari Yumesaki



Read more ...»