Tampilkan postingan dengan label Chuunibyou demo Koi ga Shitai!. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chuunibyou demo Koi ga Shitai!. Tampilkan semua postingan

Chuunibyou Bab 1 Bagian 2

On Selasa, 15 April 2014 0 komentar

==========================================================
Kronologis cerita dengan anime-nya memang beda sekali, soalnya, yah, namanya juga adaptasi...
Nah, karena itulah, kalau ingin tahu sensasi yang berbeda, baca saja LN-nya...
Biarpun begitu, inti cerita tetap sama kok...
Di samping itu, ini adalah bagian penutup dari sebuah bab, yang seperti biasanya, pasti meninggalkan kesan setelah dibaca... (biasanya lagi, ada kutipan yang bagus di akhir bab...)
Betewe, kalau ada yang suka banget baca novel, khususnya yang bertema seputar keseharian dan kehidupan sekolah, serta ingin bantu menerjemahkan, sampaikan saja di fanspage atau di kolom komentar... (yah, tapi ada tesnya dulu...)
Sebelum tl;dr...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Rikka Takanashi

Bagian 2


Keesokan harinya sekitar sepuluh menit sebelum jam pelajaran pertama, bel telah berbunyi dan tinggal sebentar lagi saja sebelum guru kami datang. Seperti yang bisa ditebak, situasi ruang kelas sudah cukup ramai. Di dalam keramaian itu, ada diriku yang sedang cemas mengenai perbincangan yang kulakukan tempo hari.

Rikka Takanashi. Gadis mirip boneka yang duduk di depanku. Rambutnya hitam kelam dan dipotong pendek. Dilihat dari belakang, rambutnya hampir tampak seperti kaca.

Gadis itu masih mengenakan blazer meskipun cuaca mulai menghangat. Ia lalu melepasnya dan menaruh blazer itu di kursinya, dan memperlihatkan blus yang menonjolkan lengannya. Meski aku bukan ahli soal busana, sabuk berwarna hitamnya tampak semakin menonjolkan rok merah menyala bermotif kotak-kotak yang dikenakannya. Penampilan seperti itu tampak seperti gaya khas gotik, tapi kuingatkan sekali lagi, kalau aku bukanlah ahli soal busana. Siapa pula yang menjual barang semacam itu? Itu terlihat begitu berlebihan! Hanya dengan melihat bermacam aksesoris salib yang dipakainya, kita pasti akan langsung berpikir ke arah gotik. Dan dari kursi di depanku, aku bisa melihat kaos kaki panjang berwarna hitam yang membungkus kaki rampingnya. Yak, itu memang gotik. Aku tak tahu kalau ia sedang terluka, tapi tangannya dibalut perban mulai dari pergelangan kiri hingga sikunya. Di antara balutan perban itu, kita bisa melihat kulit putihnya. Terlihat menggoda.

Namun pandanganku lebih terfokus pada orang-orang genit yang melihatnya. Jika dilihat baik-baik, kita bisa sepintas melihat bra berwarna hitam di balik blusnya. Aku takut kalau hal itu bisa membuat orang-orang tersebut terangsang.

Musim panas memang paling top...

Tapi cukup sampai di situ dulu, kurasa kita semua bisa melihat bahwa penghuni kursi di depanku ini masih belum berubah, ya 'kan?

Dua bulan belakangan ini, aku telah mengamati dirinya dari belakang. Selama kami belajar bersama-sama (hanya sewaktu di kelas!) , tak pernah kulihat ada perubahan di dirinya. Tak ada suara-suara aneh ataupun cara berjalan yang aneh, sama sekali tak ada. Namun aku memang tak pernah sekalipun mencoba bicara dengannya. Mungkin saja ia sebenarnya suka mengobrol, yah, walau aku sendiri meragukannya.

Dan aku pun lanjut meragukan diriku sendiri. Tak akan... terjadi apa-apa andai aku membicarakan hal ini padanya... 'kan? Ya Tuhan, memikirkannya saja mulai membuat kepalaku sakit.

"Aduh!" Seolah Tuhan sediri yang menghukumku akibat semua pikiran mesum tadi, sebuah tas menghantam langsung wajahku.

"Oh, maaf! Kena, ya?"

Kutengadahkan kepalaku pada orang yang berjalan lewat. Rupanya itu ketua kelas kami, Nibutani. Shinka Nibutani. Aku baru mengetahui nama depannya sewaktu perbincangan mengenai kontes popularitas kemarin. Sebuah nama lain yang meninggalkan kesan begitu mendalam.

Secara spontan, kuarahkan pandanganku dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Tinggi sekali! Pasti itu yang jadi ciri khasnya. Bisa dibilang bahwa dirinyalah gadis paling tinggi di kelas, walau hal itu sulit dipastikan bila semua anak di kelas sedang duduk. Tingginya pun sejajar atau mungkin sedikit lebih tinggi dariku. Aku merasa seolah kehilangan sedikit kepercayaan diri.

Tak seperti Takanashi, gadis yang sedang di hadapanku ini mengenakan seragam rapi tanpa satu pun aksesoris. Tak ada yang mencolok, meski roknya terlihat sedikit pendek untuk kakinya yang panjang. Dengan kaos kaki berwarna biru tua, ia adalah gambaran sempurna seorang ketua kelas yang elegan. Meski kaos kakinya tampak tak serasi.

Jika aku boleh berkomentar, ada sedikit yang kurang dari dirinya sebagai gambaran utuh seorang ketua kelas, yaitu kacamata. Kacamata merupakan simbol kecerdasan dari diri seorang ketua kelas, namun yang satu ini tidak memakainya. Untuk tingkat kepandaian... aku tak bisa menilai hanya dari penampilannya saja. Namun tak diragukan lagi; ketua kelas kami sudah memberi gambaran seorang ketua kelas di dirinya.

"Ah, aku tak apa-apa, kok."

"Aku sungguh minta maaf. Aku yang ceroboh sewaktu melepaskan tasku."

"Tidak apa-apa. Aku juga sempat melamun tadi, jadi tidak menyadarinya."

"Begitu, ya?" Lalu senyum pun mengembang di wajahnya. Sebuah senyum sadis. Ia mendadak berubah jadi kejam di hadapanku. Ah, paling-paling itu cuma khayalanku saja. Yah, begitulah.

"Kenapa kau sampai melamun?"

Eh? Kami masih berbicara? Mengejutkan sekali. Kupikir ia akan pergi ke tempat duduknya setelah bilang, Begitu, ya?

"Eh... ah... yah... bukankah jam pelajaran pertama hari ini Matematika? Karena ada pembagian hasil ujian, makanya aku jadi cemas kalau nanti dapat nilai buruk."

"Oh... tapi kau tampak seperti orang yang tak terlalu mencemaskan hal itu, deh. Benar-benar tak kusangka."

"Bukan begitu juga, sih. Yang kucemaskan adalah kalau ini nanti tak ada bedanya dengan yang kualami waktu SMP."

"Jadi kau khawatir kalau tak bisa melakukan yang lebih baik, begitu? Yah, ujiannya memang sedikit lebih sulit dibanding waktu kita SMP. Apa kau sudah sungguh-sungguh belajar hingga kemampuan terbaikmu?"

"Eh? Kemampuan? Meskipun aku ingin memiliki semacam kemampuan mencontek, aku tidak menggunakannya."

Nibutani terdiam sejenak, namun segera tersenyum kembali. "Eh... hahaha. Pasti menyenangkan kalau punya kemampuan semacam itu, ya 'kan? Tak kusangka kalau kau akan berkata begitu. Wah, pelajarannya sudah mau dimulai, nih. Dadah!"

Nibutani pun segera beranjak ke kursinya. Yah... bagaimana menjelaskannya, ya? Meski ini pertama kalinya kami saling berbicara, aku akhirnya paham yang dimaksud Isshiki tentang sosok gadis itu. Komentarnya tentang suasana menenangkan dan senyum sadisnya itu ternyata benar. Ditambah komentarnya tentang diriku yang terlalu cemas itu juga luar biasa. Aku sedniri tidak yakin aku bisa mengangkat topik seperti itu dalam sebuah percakapan.

Hampir tepat setelah selesainya pembicaraan tadi, bel tanda dimulainya pelajaran berbunyi. Di saat bersamaan, guru kami pun masuk dan mulai bicara di depan podium dengan suara keras.

"Oke, oke! Anak-anak, kita mulai hari ini dengan pembagian hasil UTS kalian. Wah, wah! Apa ujian pertama kalian di SMA terlalu sulit? Apa tingkat kesulitan ujian matematika ini melebihi kemampuan kalian?"

Semua anak di kelas mulai gemetar. Padahal ruang kelas ini sebelumnya begitu bersemangat, namun kini, semua anak sudah jatuh dalam keheningan. Sekuat itulah guru kami. Beliau mengucapkan segala hal dengan wajah yang tersenyum senang. Saat aku mengira kalau sekolahku punya keunikan tersendiri sewaktu upacara pembukaan, ternyata sesi perkenalan beliau juga tak kalah uniknya. Beliau berkata dengan lantang, "Moto Ibu adalah membuat seluruh waktu menjadi waktu yang penuh tekanan!" Dan itu memang dilakukannya.

Beliau biasanya mengenakan setelan jas dan postur beliau lebih kecil dibanding murid lelaki. Aku tak bisa menebak siapa yang lebih dewasa andai mereka dipersandingkan bersama. Bu Nanase Tsukumo tak hanya menjabat sebagai wali kelas kami, beliau pun begitu antusias layaknya guru Matematika kami hari ini. Karena terlihat sangat muda dan masih baru, beliau pun menjadi begitu populer. Terkadang, para murid lebih sering memanggil beliau dengan panggilan, "Nana-chan". Mungkin pernah sekali atau dua kali aku juga memanggil beliau dengan sebutan itu.

"Eh! Jangan dong, Nana-chan! Saya tak sanggup melihat hasil buruk ujiannya!"

"Jangan buat kami mengikuti pelajaran tambahan!"

Anak-anak di belakangku sudah mengeluh.

"Iya, iya, tidak perlu berisik seperti ini! Ingat, jika kalian rajin belajar, pasti takkan jadi masalah! Hasil ujian kali ini mungkin memang tak begitu bagus, tapi kalau kalian mengikuti apa yang sudah Ibu ajarkan, semuanya akan baik-baik saja! Tak jadi masalah kalau kalian harus ikut pelajaran tambahan, yang penting berusahalah semampu kalian!"

Langsung membahas intinya tanpa tanggung-tanggung rupanya. Yah, pelajaran Matematika beliau memang lebih sulit dibanding sewaktu SMP dulu, tapi gaya mengajar beliau sangatlah bagus, sebenarnya aku merasa kalau itu cukup mudah dicerna.

Aku memang sempat berkata lain pada Nibutani, namun sebenarnya aku merasa kalau aku akan mendapat nilai bagus di ujian kali ini. Yah, aku cukup tak memberitahukan padanya andaikata nilaiku memang sebagus itu.

"Ibu mulai, ya! Majulah ke depan waktu Ibu panggil nama kalian! Ootsu !"

Dan kami pun bergiliran maju ke podium saat beliau memanggil nama kami. Bermacam reaksi mulai dari sedih hingga senang tampak pada wajah seluruh murid sewaktu mereka kembali ke tempat duduk.

Tentunya giliranku setelah nama Takanashi disebut. Aku berpapasan dengannya saat menuju ke arah Nana-chan, dan rasa tertekan yang kualami kian meningkat. Kehidupan SMA-ku takkan pernah lagi sama setelah aku menerima hasil ujian ini.

"!"

Coba kulihat baik-baik. Serius, nih? Apa aku pernah melihat nilai seperti ini sebelumnya? Sama sekali belum pernah. Biar kuingat dulu, seumur-umur, nilai terbaik yang pernah kudapat adalah 88, itu pun sewaktu aku masih SD. Namun angka yang tertera di sebelah namaku pada lembar ujian ini adalah 95. Nilai yang fantastis! Aku jadi merasa kalau rajin belajar bisa membuatku keren!

Karena lembar ujian ini adalah sebuah barang yang sangat berharga,
jadi sewaktu berjalan kembali ke tempat dudukku, aku merasa ingin menjaganya seolah itu merupakan warisan dari leluhur. Kemudian aku pun berbalik dan...

Berdirilah sebuah penghalang besar di depan tempat dudukku. Apa... apa ini? Ada semacam aura aneh ini yang mencegahku untuk melangkah maju. Ini... ini...

Kucoba untuk melewati penghalang ini dengan memalingkan tubuhku lalu melangkah maju, tapi justru berakhir dengan sebuah kesalahan. Mungkin akibat dari aura ini, hingga aku pun terjatuh dengan wajah terlebih dahulu. Aku bisa mendengar gema yang keras dari seisi ruang kelas.

Aku jadi membuat suara yang sangat gaduh. Sial! Itu bukan kemauanku!

Kudengar suara Nana-chan yang bertanya dengan lembut di belakangku, "Hei! Kau tak apa-apa?" Karena malu yang kurasakan, aku jadi tak bisa menjawab beliau. Tubuhku tak begitu saja bisa langsung berdiri setelah jatuh tadi. Perlu sekuat tenaga hanya untuk menengadahkan kepalaku.

Dan aku pun tak sengaja menjadi orang mesum yang beruntung.

Di hadapanku, tembok besar yang kusebut sebelumnya itu ternyata Takanashi beserta rok pendeknya. Saat kumenengadah, aku sudah berada di lokasi pemandangan perdana dari potongan kain berbentuk segitiga yang menjadi impian seluruh lelaki.


"Ah..."

Sewaktu pandanganku teralihkan tadi, diriku menabrak Takanashi dan jatuh ke lantai. Jadi sudah pasti, celana dalam yang kulihat itu kepunyaan Takanashi. Tunggu, ini gawat!

Dan selagi aku meminta maaf padanya di dalam hati, Takanashi masih tak menunjukkan emosi sembari duduk di kursinya. Hanya sebentar aku menatap ke arah Takanashi tadi. Hmm... kurasa ia benar-benar suka warna hitam, ya 'kan?

Tunggu! Ada yang tak beres di sini. Apa tak ada seorang pun yang merasakan sebuah kejanggalan? Biasanya kalau kejadian ini menimpa seorang gadis, yang ada, mereka akan bilang, Kau... kau melihatnya, ya?! Mati sana! Atau, Jangan harap aku mau memperlihatkan celana dalamku! Atau, Aku tak malu, kok, kalau kau melihat celana dalamku! Ini sebuah penyimpangan besar dari naskah.

Dan Takanashi pun masih belum menunjukkan reaksi apapun. Ia tak menunjukkan emosinya.

Itu sungguh respon yang dewasa dari dirinya. Jika hal ini terjadi saat aku masih SMP, kuyakin aku bakal terheran-heran dan tak bisa berkata apa-apa.

Namun penghalang besar itu; apa mungkin ia mengasingkan dirinya sendiri? Tampaknya ia bisa tiba-tiba menangis sewaktu-waktu. Mungkin ia tak mendapat nilai bagus saat UTS. Meski aku tak bisa menggunakan persahabatan sebagai alasan, tapi ada baiknya jika aku berhenti merayakan nilaiku ini.

Mau tak mau aku jadi begitu mencemaskan hal demikian. Di samping itu, aku juga terasingkan beberapa saat lalu. Siapa tahu, kalau aku mendekatinya dan bertanya, Kau dapat nilai berapa? Kita mungkin bisa berteman. Aku juga harus meminta maaf karena sempat melihat celana dalamnya tadi. Kata orang, adalah hal yang cukup memalukan bagi para gadis ketika ada anak lelaki yang melihat celana dalam mereka. Yah, setidaknya itulah yang ada di dalam game.

Dengan segala hal yang ingin diperbincangkan, aku bisa memilih waktu yang tepat untuk berbicara dengannya. Aku hanya berharap rumor buruk itu tidak semakin tersebar karena kesialanku hari ini.

"Ah... ooh... oh... mataku..."

Dengan tiba-tiba, Takanashi mulai menekan mata kanannya seolah kesakitan. Ia lalu terkapar di mejanya.

"Ah... ooo... ooo... itu... itu..."

Tiba-tiba pikiranku kembali jernih dan tubuhku mulai bergerak dengan sendirinya. Aku bergegas ke arah mejanya dan bertanya, "Kau... baik-baik saja?" Tak ada tanggapan.

Kita pasti mengira seisi kelas akan memperbincangkan tentang yang kini sedang terjadi, nyatanya, kali ini semua orang sudah dalam keadaan terkejut dan tertegun karena kejadian ini. Tak satu pun suara yang bisa terdengar. Khawatirkah mereka akan jatuhnya diriku juga erangan Takanashi tadi? Pedulikah mereka terhadap keadaan gadis itu? Apa keterkejutan itu membuat mereka sampai terdiam? Ataukah mereka itu orang-orang yang kejam? Apa Takanashi memang tak memiliki teman dekat? Aku sama sekali tak tahu.

Namun karena beberapa alasan, tak seorang pun mengucapkan sesuatu pada gadis itu. Bisa kurasakan rasa tak suka yang menyebar di sekelilingku. Bukankah ini aneh? Bukankah seharusnya kita cemas kalau ada teman sekelas yang sedang kesakitan?

Sialan.

"Bu Tsukumo, saya izin mau mengantarkan ia ke ruang UKS!"

Sambil berucap, "Maaf, ya." Aku memapah Takanashi dan merangkulkan tangannya melingkari bahuku.

"Ayo pergi."

"Oooh."

Kembali ia menekan mata kanannya itu dengan tangan kanannya, lalu kami pun beranjak pergi.

"Ah... maaf, ya. Apa kau baik-baik saja? Kau sudah membuat kami semua ketakutan tadi. Baiklah, kami serahkan semuanya padamu, ya, Togashi!" Nana-chan sendiri terdengar sangat terkejut. Beliau mengamati sosok kami berdua yang berjalan keluar. Sedangkan bagi para penghuni kelas lainnya, aku tak tak tahu dan tak mengerti apa yang mereka pikirkan.

Sepuluh menit setelah dimulainya jam pelajaran, Takanashi beserta diriku pergi meninggalkan ruang kelas.

Dalam perjalanan menuju ruang UKS, sewaktu menuruni tangga di antara lantai tiga dan empat, Takanashi tiba-tiba menjerit, "Ahhh... mataku... mataku saling beresonansi...!" Yang kemudian ambruk di bahuku.

Setelah ia jatuh, kuputar tubuhnya dengan tangan kiriku agar bisa menyangganya. Atau lebih tepatnya, tangan kiriku justru menyangga area empuk milik Takanashi. Satu kali saja sudah membuat syok, tapi ini sudah kedua kalinya dalam satu hari. Sebut saja aku beruntung atau egois, namun ia tak bereaksi apa-apa terhadap tangan kiriku ketika kugeser posisi badannya.

Sebenarnya, tidaklah normal jika aku memapah dirinya dalam situasi begini. Apa aku sedang menjalani sebuah situasi layaknya tokoh dalam serial yang ada unsur kacamatanya itu? Tidak, tidak, tidak, itu cuma sekadar khayalan.

"Apa, apa kau tak apa-apa? Bagaimana keadaan penutup matamu?"

"Ooh... kau, apa kau... sesuatu yang sama denganku...?"

Kalau ia berbicara seperti itu, maka aku pasti menyangkalnya. Sepertinya ia termasuk gadis yang dulunya tak sempat diimunisasi dan kini berbicara dalam frasa yang tak beraturan.

"Ah, eh, mungkin saja begitu."

Wah, aku pun kaget dengan tanggapanku sendiri. Aku menjawab setuju, atau bisa dikatakan, kalau aku memang sama dengannya. Entah bagaimana, rasanya Takanashi paham akan jawabanku dan dengan santainya ia memindahkan posisi tanganku.

"Ya... pastinya begitu. Kau... aku sudah dengan sabar menantimu... sudah kuhabiskan bertahun-tahun melakukan pencarian, namun kini aku menemukanmu di sini."

Yang dimaksudnya itu aku?

Eh, apa?

Menanti... menanti. Aku tahu kata itu. Aku tahu benar arti kata itu. Biasanya aku berusaha menggabungkan kalimat ini ke dalam berbagai pembicaraan atau berusaha bertindak layaknya pemimpin dengan bicara seperti ini... tunggu... jangan-jangan...

"Oh, terima kasih sudah menantiku. Omong-omong, matamu baik-baik saja?"

Kucoba mengembalikan arah pembicaraan. Kalau-kalau ia menganggapku orang yang semacam itu...

Sudahlah, jangan berpikir yang bukan-bukan.

"Kau sudah pernah melihatnya?"

Ya ampun. Yang kutanyakan itu keadaan matanya. Bukan itu jawaban yang kuharapkan! Yah, aku memang tak pernah punya kesempatan untuk melihatnya, sih. Memangnya ada yang istimewa mengenai matanya atau ada arti lainnya, ya?

Kecuali jika... memang itu.

Hal itu mulai merasuki pikiranku. Gadis di hadapanku ini hampir pasti seorang pengidap chuunibyou.

Aku memang tak ambil pusing sewaktu mendengar rumornya, tapi kalau melihat orangnya secara langsung... rasanya agak aneh. Sebaiknya apa yang harus dilakukan di situasi begini, ya?

Aku memang tak punya masalah dengan siapa pun yang mengidap penyakit itu, namun harus seperti apa aku bersikap? Rasanya tak masuk akal. Tunggu dulu; seperti inilah yang dirasakan orang-orang di sekitarku sewaktu SMP dulu... ternyata seperti ini rasanya. Yah, bagaimanapun juga, mari kita lihat yang sebaiknya dilakukan pada situasi begini.

"Ah, itu. Memangnya ada apa?"

"Oh."

Dan Takanashi pun membuka penutup matanya, menyingkapkan kulit putih pucat di sekitar matanya. Seberkas cahaya emas, sesuatu yang berbeda dari yang pernah kulihat sebelumnya, mulai bersinar membuatku seakan sedang berada di gerbang sebuah kota emas.

Rupanya itu lensa kontak berwarna. Tunggu sebentar, selagi aku terkejut, itu tampak berbeda sekali dengan pupil hitam yang terlihat di sisi lain wajahnya.

"Luar... biasa."

Apa itu benar-benar lensa kontak? Selagi pikiran tak sopan itu muncul di kepalaku, aku jadi merasa tak pantas jika tiba-tiba bertanya hal demikian. Kurasa seperti inilah pengidap chuunibyou itu, ya 'kan?

"Dengan ini, kontrak kita telah terjalin."

"Apa?!"

"Kini matamu telah bertatapan langsung dengan Mata Kezaliman milikku, syaratnya telah terpenuhi. Kau dan aku kini telah terikat. Maka mulai dari sekarang..."

Ah! Ini mirip seperti saat aku mengidap chuunibyou dulu! Tunggu, Mata Kezaliman?

Aku terkejut soal betapa singkatnya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses kontrak barusan. Dengan kronologis pembicaraan yang kami lakukan tadi, kalimat tersebut cukup membuatku tercengang. Namun bukan itu saja yang hendak ia katakan. Luar biasa. Sepertinya ia bisa menyiapkan latar belakang cerita dalam sekejap. Oh, Takanashi yang hebat, lebih baik kita biarkan saja keadaannya seperti ini dulu.

"Tunggu sebentar..."

Fiuh, kalau saja aku tak segera menarik napas, mungkin aku bakal kambuh lagi. Di kerongkonganku sudah tertahan kalimat, A-apa maksudmu kalau aku sudah terikat kontrak denganmu, berengsek?! Hehe, selama ini makhluk sepertimu sudah sedekat ini denganku. Lalu, apa yang mau kaulakukan? Apa kita perlu menghancurkan dunia? Pastinya itu jadi pilihan yang berbahaya.

Tapi bukan hal baik pula bagiku kalau terus-terusan memikirkan hal itu. Terlepas dari kambuh atau tidaknya diriku, yang pasti kini aku sudah sembuh. Memikirkan kejadian-kejadian itu sudah membuatku merasa ingin mati saja. Aku tak berniat untuk menjalin kontrak itu lagi. Mungkin agak mengecewakan, tapi kupikir ia bisa memperoleh hikmahnya.

"Maaf, tapi aku sudah sembuh dari hal itu."

"Sembuh?"

Aku mulai bisa menguasai diriku kembali. Gas menjijikkan yang ada dalam diriku mulai mengendap.

"Ah, keadaanku dua tahun yang lalu sama persis sepertimu, karena itu aku bisa memahami keadaanmu saat ini. Bisa memiliki orang lain untuk diajak berkumpul bersama dalam situasi rekaanmu memang terdengar menyenangkan. Kakak kelas kita mungkin akan berkata, Hentikan, tapi kurasa itu ada baiknya untukmu."

Kuharap Takanashi mengerti apa yang kubicarakan. Membuat hal rekaan memang menyenangkan. Aku tahu persis bagaimana bahagianya saat menghabiskan waktu untuk merancang dunia baru dan semacamnya, biarpun begitu, aku tak mau lagi jika ada yang jatuh ke jalan yang pernah kulalui dulu.

Hal-hal rekaan itu kian lama menjadi sebuah hal yang mengganggu orang-orang sekitarku. Itulah masalah terbesar dari chuunibyou. Hanya sewaktu aku mampu mengingat kembali berbagai perbuatanku, aku jadi bisa merenungi saat-saat ketika aku akan melakukan hal-hal yang merugikan seperti mengganggu jalannya pelajaran. Sewaktu jam pelajaran berlangsung, aku menjerit, "Jangan masuk! Jangan masuk! Wuaa!" Supaya kami tak jadi mengikuti pelajaran tersebut. Kini aku sudah sadar apa yang telah kulakukan dulu.

Dulu, aku takkan peduli mau orang lain berbuat apa; aku hanya bertindak sesuka hatiku. Dulu aku anak yang cukup bermasalah, 'kan? Aku bisa bilang kalau kita bakal cuek terhadap perasaan semua orang jika dihadapkan pada situasi demikian. Terlepas dari apa yang sudah kuperbuat, aku dulu begitu egois sampai-sampai tak pernah meminta maaf atas segala tindakan yang kulakukan.

Tapi ia punya ciri yang sama denganku. Mata iblis yang sama dengan ciri khas chuunibyou. Ia begitu mirip dengan diriku yang dulu. Tak heran kalau ia bakal memerhatikanku dan berpikir kalau aku sama seperti dirinya. Aku pun sempat berpikir kalau perbannya itu tak terasa asing bagiku.

Entah kenapa aku tak merasa kalau ia adalah tipe yang mengganggu semua orang ketika pelajaran berlangsung. Mungkin suatu hari nanti hal itu bakal terjadi, walau aku sendiri meragukannya. Itu memang hanya sekadar prasangka, tapi aku punya firasat kalau suatu hari nanti Takanashi akan kembali mengingatnya sambil menyesali segala hal yang telah ia lakukan dulu, sama sepertiku. Waktu itu terasa cepat sekali berlalu. Tak perlu ia sia-siakan masa SMA-nya yang berharga dan menjadikannya ingatan yang tak ingin ia kenang.

Sebagai mantan pengidap chuunibyou, aku tak tahu sudah berapa banyak orang yang sudah kubuat terganggu, namun aku menduga kalau ia pun tak tahu banyaknya korban (kecuali aku) yang sudah ia buat kesusahan. Itu sebabnya, aku harus mengatakan ini dalam cara chuunibyou.

"Bagaimana kalau begini, daripada menjalin kontrak denganku, bukankah lebih baik kalau kau mengandalkanku saja?"

Betul, aku tak bisa meninggalkan gadis ini seorang diri. Yah, bukan berarti aku menganggap remeh dirinya atau menjadikan ia layaknya seorang adik kelas. Bagiku, ia lebih mirip saudari se-chuunibyou.

"Tapi proses kontraknya sudah sempurna."

"Jadi, kau benar-benar memaksakannya?"

...ini jadi sedikit menyusahkan. Sampai sejauh mana ia mau memaksakan hal itu?

"Untuk saat ini, ayo ke ruang UKS."

"Aku memang mau membawamu ke sana, tahu!"

Setelah itu, Takanashi pun menegakkan badannya dan mulai menuruni tangga, meninggalkanku di belakang. Yah, bukankah ia begitu sehat?

"Kenapa tak menyusulku? Apa kau sudah kehabisan energi?"

"Yah, begitulah. Kurasa aku akan tidur siang dulu di ruang UKS."

Aku jadi sedikit pusing memikirkannya. Rasanya bagus juga kalau aku tidur siang dulu di sana. Lalu kuikuti bayangan Takanashi dari belakang dan kami pun segera menuju ruang UKS.


— II —


Mundur
Lanjut
Read more ...»

Chuunibyou Bab 1 Bagian 1 (Beserta Prolog)

On Selasa, 04 Maret 2014 0 komentar

==========================================================
Mungkin banyak yang bertanya, apa proyek Oregairu-nya dilanjutkan lagi...? Dan ane sudah menjawabnya lewat balasan di beberapa komentar...
Untuk lebih jelasnya ane jawab, ya lanjut, lah...!
Tapi masih menunggu kemungkinan hingga bulan depan, sampai ane dah dapat sumber skripnya lagi, dan ane pun sudah dapat infonya dari sumber yang terpercaya...
Sembari menunggu, ane hadirkan karya lain yang tak kalah bagusnya...
Tapi ini bukan proyek sampingan, loh... Ini proyek yang dikerjakan dengan serius juga...
Kali ini ane bekerja sama dengan penyunting handal, agan Victorrama...
Penceritaan pada LN Chuunibyou ini cukup berbeda jauh dengan yang ada di anime, tapi inti cerita yang ingin disampaikan bisa dibilang satu tujuan...
Oke, deh... Gak usah berlama-lama lagi...
Selamat menikmati...
==========================================================


Prolog - Tentang Betapa Kerennya Aku Dulu!!


Ini mungkin sedikit mendadak, tapi aku ingin membuat sebuah pengakuan. Aku, Yuuta Togashi, mengidap chuunibyou sewaktu aku masih SMP.

Chuunibyou, yang mana menjangkiti orang-orang di masa puber mereka, bukanlah sesuatu yang memengaruhi fisik ataupun mental pengidapnya. Namun, ini penyakit yang jauh lebih menyedihkan akibatnya. Ini adalah sesuatu yang membuat orang-orang merasa dapat melihat hal jahat di sekitar mereka, bahkan di muka umum sekalipun, dan aku tak mengartikannya sebagai sesuatu yang sederhana seperti anak yang sedang dalam fase memberontak saja. Ambil contoh, seseorang bisa menilai jati dirinya secara berlebihan, hingga ia merasa kalau dirinya istimewa dan memiliki kekuatan misterius. Aku pun dulu sempat berpikir demikian. Jadi sewaktu aku menjuluki diriku sendiri sebagai Dark Flame Master, teman maupun perempuan di sekitarku menyingkir dengan kalimat andalanku, "Enyahlah kau, dilahap api kegelapan!"

Meski masa-masa itu kini hanya tinggal kenangan, tapi kalau diingat lagi, rasanya seperti mau mati saja. Waktu SMP dulu, kalimat semacam itu bisa membuatku tampak sangat keren, namun ketika sudah SMA, hal semacam itu takkan berani lagi kuucapkan. Soalnya kalimat itu benar-benar payah dan memalukan.

Hal lain yang dulu kulakukan saat SMP adalah membalut tanganku dengan perban guna menyegel kekuatanku selama jam pelajaran berlangsung. Ketika kujelaskan tentang alasanku melakukannya, atau tentang Zero Organization (organisasi yang melatih orang-orang yang berpotensi memiliki kemampuan khusus), dan hal-hal lainnya yang kukarang, mereka hanya akan menertawakanku seolah aku ini orang bodoh.

Tentu saja dulu aku begitu menghayatinya. Aku sering bergumam, "Orang-orang berengsek macam mereka tak tahu apa-apa tentangku... tak lama lagi mereka pun akan enyah dilahap api kegelapan." Seolah-olah aku ini seorang pahlawan yang bersembunyi dalam bayang-bayang selagi dunia berjalan seperti biasanya.

Siapa saja, tolong bunuh aku sekarang.

Atau haruskah aku bertanya, Adakah orang lain yang pernah menjalani hidup semacam itu? Adakah masa di mana seseorang terbangun dengan tujuan hidup yang baru, dan berpikir kalau ia memiliki kemampuan untuk melindungi dunia?


Dulunya kupikir aku bakal terlihat keren kalau kulontarkan kalimat andalanku sepercaya diri itu.

"Mantera Sihir Rahasia! Cahaya dari Kegelapan, bangkitlah dari Sang Residivis! Pergi dan sebarkan keputusasaan juga kesengsaraan bagi musuh kita! Itulah kekuatan keadilan!"

Kini aku jadi terpikir, menggunakan cahaya dari kegelapan? Keadilan yang berasal dari keputusasaan? Aku malah jadi tampak seperti anak yang ingin menantang berkelahi, 'kan? Dengan api kegelapanku, tentunya aku pun sudah siap untuk itu.

Oh, masih ada lagi. Dulu aku yakin kalau tanganku kananku ini menyimpan kekuatan sihir yang membuatku sampai menuliskan kata MUSNAH dan menggambar bintang di atasnya. Dengan latihan, aku sempat yakin kalau aku bisa melayang di udara. Dan kini, aku mampu melihat tanda-tanda virus chuunibyou yang ada di sekelilingku dulu.

Oleh karena itu, aku bertingkah layaknya orang konyol sewaktu kelas dua SMP dulu. Saat jam pelajaran berlangsung, tiba-tiba aku mulai berkata, "Kau... apa yang kaulakukan?! Kekuatanku menghilang?! Hentikan!" Atau ketika kelas kosong, aku bergumam di antara susunan meja, "Ini Ruang Tertutup..." dan sudah sewajarnya kalau nilai-nilaiku pun jadi anjlok.

Di musim panas sewaktu aku kelas tiga SMP, tepatnya menjelang ujian masuk SMA, kubuang jauh semua khayalanku itu dan mulai giat untuk belajar. Karena kurangnya waktu senggang, maka aku pun perlahan-lahan sembuh dari penyakit ini. Aku pun menjadi anak kalem serta murid yang penurut, dan meski diriku tak sekeren dulu, nilai-nilaiku mulai beranjak naik seiring kugunakan akal pikiranku ini.

Dan mungkin orang-orang akan bilang, Tentu saja kau berhasil lolos ujian masuk SMA, soalnya kau sudah tak menderita chuunibyou lagi. Sekarang ini aku sudah kelas satu SMA, dan di antara teman-temanku kini, tak ada yang bertingkah konyol layaknya pengidap chuunibyou. Hari-hari yang kulalui bersama teman-teman SMP-ku dulu sudah berakhir. Kini aku bersekolah di SMA favorit dan tak banyak yang bisa masuk ke sana.

Memang ada beberapa murid lulusan SMP-ku dulu yang bersekolah di SMA-ku sekarang, tapi aku tak begitu kenal dengan mereka. Karena waktu itu aku sedang parah-parahnya mengidap chuunibyou, mungkin saja mereka tak mengenalku. Bagi mereka, aku hanyalah sekadar murid yang pernah satu SMP dulu. Ada bagusnya juga, sih.

Begitulah. Yang berlalu biarlah berlalu. Sudah kuselamatkan diriku ini dari kekonyolan, dan yang terpenting; tak ada yang tahu tentang masa-masa kelamku yang dulu.

Akhirnya, di lingkungan yang baru, dengan teman-teman yang baru, dua bulan pun telah berlalu. Rasanya amat menyenangkan jika dilihat dari sudut pandang normal seperti ini.

Tanpa sadar aku tertawa selama upacara pembukaan tahun ajaran baru. Kepala sekolah kami maju ke atas panggung lalu menyanyikan himne sekolah sambil mengenakan seragam kami. Terlebih, aku sudah mendambakan saat-saat di mana aku bisa menikmati kehidupan sekolah yang biasa-biasa saja seperti ini. Ada begitu banyak klub yang bahkan aku tak tahu kalau mereka ada (Lagi pula, Klub Sepak Takraw itu klub yang seperti apa lagi?). Biar bagaimanapun, rasanya cukup menyenangkan bisa bersekolah di tempat yang punya tradisi memberi kebebasan bagi para muridnya.

Pada akhirnya, aku memilih tak ikut bergabung dalam klub supaya bisa fokus dalam pelajaran. Semuanya tampak berjalan sangat lancar semenjak aku punya banyak teman di kelas. Saat ini hal favoritku adalah kumpul-kumpul bareng mereka. Akhirnya aku bisa mendapatkan kembali hal-hal berharga setelah sembuh dari chuunibyou.

Aku tahu, sulit untuk percaya kalau diriku yang keren dulu, yang selalu sendirian, kini punya banyak teman. Soalnya sewaktu aku kumpul-kumpul bareng mereka, yang kupikirkan hanyalah bersenang-senang dan tak mau mengingat-ingat lagi sejarah kelamku yang dulu.

Sayangnya, kejadian buruk pun terjadi.

Yah, bisa dibilang ini sudah suratan. Aku memang pernah mengidap chuunibyou, tapi kini telah sembuh secara menakjubkan. Setidaknya itulah yang ada di benakku.

Itu memang chuunibyou. Tak diragukan lagi.

Lalu, diawali dari kejadian itu, aku pun telah terikat kontrak dengan Rikka Takanashi.

___________________________________________________________________________________________


Bab 1 - Rikka Takanashi

Bagian 1


"Baiklah, persaingan gadis termanis di kelas kita sudah dimulai!"

"Apa?"

Aku tidak mampu memikirkan cara lain untuk menanggapi ucapan anak yang berjalan di sampingku ini. Entah harus berkomentar apa ketika ada yang mengumumkan kontes segila itu? Yah, saat ini sudah di penghujung Bulan Mei, jadi tak ada hubungannya dengan ujian tengah semester yang telah kami lewati.

"Apa maksudmu dengan, Apa? Ini adalah persaingan sengit untuk menentukan siapa gadis termanis di kelas kita! Semua sudah jelas!"

"Kalau begitu, lain kali jelaskan dari awal! Lagi pula, bagaimana caramu mengumpulkan suara seluruh anak lelaki di kelas kita?"

"Ah, seharusnya aku sudah mengira kalau kau akan berkata begitu. Semua orang pasti mempersoalkan masalah mendasar mengenai pengumpulan suara, yaitu tanggapan. Tak perlu takut, sobatku. Semua anak di kelas kita sudah memberi jawaban mereka, dan kini tinggal kau saja yang belum, Togashi. Jadi, kepada siapa pilihanmu jatuh..."

"Kenapa aku mesti ikut-ikutan memilih?"

"Soalnya aku harus mengumpulkan suara dari semua anak lelaki populer di kelas kita. Nanti bakal jadi pertanyaan kalau hasilnya cuma dari pendapat pribadiku saja."

Untuk beberapa alasan, mendengar orang lain menyebut diriku populer, sungguh membuatku bahagia. Sayangnya, pujian itu segera berlalu. Anak itu kemudian lanjut berbicara.

"Semua anak sudah memberitahuku siapa yang mereka pikir gadis termanis di kelas, makanya, kau juga harus memberitahuku!"

"Eng..."

Saat aku mulai memikirkannya, spontan diriku mengerang. Terlintas di benakku sifat asli Makoto Isshiki. Seperti yang bisa ditebak, kelakuannya memang mencerminkan arti namanya: Berdedikasi pada semua orang. Anak itu punya sifat yang menarik.

Jika ditanya seperti apa dedikasi itu, yah, seperti atlet atau orang yang rambutnya dipotong cepak tepat sepanjang 5 mm, namun tipe seperti itu sudah cukup langka. Tapi dilihat dari rapinya ia berpakaian, kita bisa dengan mudah menangkap kesan tersebut. Aku tak tahu apa motivasinya, tapi ia bergabung menjadi anggota Komisi Disiplin di sekolah kami. Ia punya kebiasaan berkata, "Berhenti mengeluh! Kau mengganggu ketenteraman sekolah!" saat sedang memeriksa anak yang melanggar peraturan. Dan juga tongkat bambunya itu yang ia ayun-ayunkan. Aku tak ingin tahu apa yang dilakukannya jika ia sedang seorang diri.

Namun ada juga bagian dari dirinya yang menyukai perempuan. Yah, kata suka hanya sebagian kecilnya; sebenarnya ia adalah tipe maniak yang suka memburu perempuan. Itulah bagian inti dari dirinya. Maksudku, ia mendatangi semua anak di kelas kami cuma untuk bertanya soal anak perempuan di kelas kami sekaligus daya tarik mereka. Ia begitu menyukai perempuan, namun aku takkan bilang kalau dirinya itu salah. Ia hanya suka berbincang mengenai perempuan cantik; itu hal umum baginya. Di sisi lain, aku tak bisa untuk tidak merasakan kejanggalan saat ada orang yang begitu terobsesi mengenai tindakan tak senonoh di muka umum, yang menolak tidur saat jam pelajaran berlangsung, namun tetap membicarakan soal perempuan sepanjang waktu.

Dan begitulah, aku mengenalnya tepat saat penerimaan masuk SMA. Sejak itu, kami pun sering menghabiskan waktu bersama. Aku tidak bisa mengatakan kalau kami sudah melakukan hal-hal yang menarik, kami hanya berbincang-bincang di lorong dan makan siang bersama. Yah, kegiatan yang biasa dilakukan bareng teman SMA. Aku tidak menganggapnya sudah seperti sahabat karib, tapi aku masih bisa merasakan gelora persahabatan antar lelaki di antara kami.

Dan selagi kurenungi gelora persahabatan itu, kami pun berjalan pulang ke rumah di bawah naungan sinar mentari. Kejadian penting pertama yang dialami hampir setiap anak SMA, pertengahan semester pertama, telah kami lalui, dan aku merasa ingin menghibur dirinya sambil menjawab pertanyaan mudah seperti itu. Lagi pula, tak peduli apa pun tanggapanku, itu bukanlah masalah.

"Jadi bagaimana, Bos? Memang sih, di kelas kita ada banyak cewek cantik, tapi kau bisa memercayaiku, Bung. Ayolah, beritahu sobatmu ini siapa yang paling manis di antara mereka."

Tampaknya gelora persahabatan tersebut juga cukup berdampak pada dirinya. Tekanan dari keadaan ini pun mulai menyerang. Aku jadi tak ingin menanggapinya setelah ia berkata begitu.

"Eng, coba kulihat dulu... yang paling manis di kelas, ya? Kalau begitu, akan kuperiksa nanti pada saat jam pelajaran, biar bisa kutentukan siapa yang paling manis. Tidak mungkin aku bisa memberi jawaban kalau belum melihatnya dulu!"

"Kau memang sungguh seorang pria terpelajar! Kapan-kapan kau harus mengajarkanku beberapa hal, Bung."

Seolah–olah aku tak dapat melihat niat di balik jawaban gombal seperti itu. Tanggung jawab dari persahabatan antar lelaki ini memang menjengkelkan. Aku jadi merasa harus memberi suaraku setelah akting konyolnya barusan.

"Oh... tapi aku belum tahu nama lengkapnya..."

"Hmm... oke... tapi ia ada di kelas kita, 'kan?"

"Yah, benar, tapi aku tak yakin bagaimana menulis namanya."

"Aku paham, Bung. Ini ada enam nama gadis yang sudah kukenal dengan baik."

"Hah?! Kau memang seorang genius kalau menyangkut segala macam hal mengenai perempuan. Kali ini pengamatan macam apa lagi yang sudah kaulakukan!?"

"Oh... aku hanya memeriksa informasi para murid saat mencari data anak-anak yang sering melanggar peraturan sekolah."

Anak ini benar-benar layak mendapat gelar maniak.

"Hehe, ini semua info yang sudah kukumpulkan!" Bersamaan dengan itu, ia lalu merogoh tasnya dan mengambil buku catatan misterius. Kita bisa langsung menduga kalau itu miliknya setelah melihat isi di dalamnya.

"Kita lihat dulu. Kalau yang kaumaksud itu Azami, Kannagi, Takanashi, Nabatame, Nibutani, atau Hirakata, aku tahu aksara kanji mereka."



"Luar biasa. Aku serasa mendapat kilasan tentang betapa tak normalnya hobimu ini. Lalu, bagaimana jika salah satu dari gadis-gadis itu ternyata nama depannya berbeda dengan aksara kanji yang kauketahui itu?"

"Hmm, begini, nama depan Kannagi adalah Kazari, layaknya semilir angin yang menggemerincingkan lonceng. Dari yang kudengar, ia bisa jadi sedikit marah kalau kau memanggilnya lonceng angin."

"Perbendaharaan informasi pribadimu sungguh luar biasa..."

Aku bisa dengan mudah membayangkan dirinya yang menjadi penyelidik swasta di masa depan.

"Ah. Hehe, apa kau juga mau tahu tentang apa yang disukai Kannagi dan alamat e-mail-nya? Kalau kau mau, sekarang juga bisa kucarikan lebih banyak infonya."

"...biar kulihat dulu apa yang ada di catatan!"

Ia bahkan lebih maniak dari yang kubayangkan, namun ia juga cukup pandai kalau membuat lelucon. Sejujurnya, aku tak keberatan mendapatkan beberapa informasi mengenai gadis-gadis manis di kelas kami. Meski aku tak tahu apa kegunaan info tersebut dalam kehidupanku, tapi entah kenapa, aku yakin ada yang bisa kuambil dari hal itu.

"Kalau kau bersedia, akui saja siapa yang menurutmu gadis termanis. Aku tak keberatan, kok, berbagi cerita dengan sobat sendiri."

Kuarahkan pandanganku ke atas. Aku sudah punya firasat kalau ini bakal terjadi. Namun ada sesuatu yang masih mengganjal: Bagaimana caranya supaya aku yakin kalau ia takkan memberi tahu siapa-siapa soal gadis yang kupilih? Lebih baik kutanyakan dulu sebelum memberitahukan siapa pilihanku padanya.

"I-ini rahasia, ya? Janji kau tak membocorkannya pada siapa-siapa? Kalau kau melanggarnya, aku bakal menangis sejadi-jadinya nanti! I-ini hanya gadis yang kuanggap paling manis dalam sudut pandangku saja! Jadi, jangan terlalu dianggap serius!"

Ia hanya menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Kau bisa memercayaiku, Bung."

"Menurutku sih, Takanashi. Anak yang duduk di depanku itu, lo. Yah... aku tak begitu yakin kalau itu Takanashi. Namaku Togashi, jadi anak yang duduk di depanku mungkin punya suku kata ta di awal namanya. Kurasa aku pernah melihatnya menulis aksara kecil dan burung, jadi kemungkinan itu masuk dalam kategori ta. Aku harus ada di dalam kelas dulu supaya bisa memeriksanya. Soalnya aku tak tahu kelanjutan namanya."

"Sip, nama Takanashi terpilih! Rikka Takanashi mendapat tambahan total satu suara! Aku juga harus memeriksa cara penulisan namanya, jadi aku bisa paham apa yang kaumaksud. Jika kau coba-coba mengubah-ubah penulisan kata burung kecil itu akan menghasilkan nama Takanashi. Dan kurasa nama itu bukan berasal dari burung yang berkeliaran di langit seperti rajawali atau yang lainnya. Kalau yang begitu itu, berarti dibacanya Takanai."

Maniak yang berdedikasi ini memang bisa diandalkan. Jika ada hal yang tak diketahuinya dari seorang gadis, ia akan menyelidikinya. Walau kami baru saja melewati ujian tengah semester, namun kurasa ini sudah waktunya untuk fokus belajar. Kalau nilai-nilaiku mengecewakan, aku pun harus ikut les tambahan.

Sewaktu ia berkata, "Jadi Takanashi, ya? Memang harus diakui, sih, kalau ia manis." Ekspresi wajahnya tampak seolah masih menyimpan sesuatu yang belum diutarakan.

Aku lalu bertanya, "Apa ada masalah?"

Jika dipikir lagi, aku sudah menyebut nama seseorang yang bahkan tak kuketahui cara penulisannya. Namun tampaknya seperti ada sesuatu yang sulit diceritakan sewaktu menyinggung gadis itu. Untuk seseorang yang menyukai perbincangan soal perempuan, ia jelas tampak seperti orang yang sudah kehabisan kata-kata.

Aku kurang begitu peduli soal perempuan sewaktu SMP dulu, jadi mungkin aku tak tahu seperti apa kriteria gadis yang diinginkan oleh orang lain. Bagaimanpun juga, aku bukanlah sesuatu yang dianggap penting kala itu. Aku cukup yakin kalau aku tak membuat kesalahan; gadis ini cocok dengan tipe yang kuinginkan. Jujur saja, aku merasa cukup beruntung sudah disuruh duduk di belakang gadis semanis itu.

Isshiki lalu menjawab dengan informasi yang ia punya tentang Takanashi. "Yah, aku memang tak pernah mendengarnya bicara, tapi ia punya wajah yang sangat manis."

"Oh, iya. Jika melihat wajahnya, kau akan teringat pada bayi yang baru terlahir ke dunia ini. Tunggu sebentar... kalau begitu, bukannya ia mirip wujud organik yang diciptakan untuk sarana komunikasi manusia? Yah, semacam humanoid interface, kau tahu?! Ia merupakan satu dari sekian gadis cantik yang wajah datarnya tak pernah menunjukkan reaksi kepada siapa pun. Lalu ada semacam perban yang ia kenakan menutupi matanya. Dari situ kita lalu lanjut ke tubuh mungilnya, yang membuatnya begitu imut saat mengenakan seragam. Tak berlebihan jika kubilang kalau dirinyalah yang menginspirasi gadis-gadis di kelas kita hingga mengenakan blazer! Lalu ia juga punya tubuh yang ramping, yang membuatku sampai terpesona melihatnya. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengagumi wajah kekanak-kanakan itu juga dadanya yang kecil. Yak, jika dinilai dari penampilan, sudah pasti ia ada di urutan atas di kelas kita."

Kurasa aku sudah mengerti cukup jelas tentang hal-hal menarik dari gadis itu, namun sepertinya anak lelaki di depanku ini tak memahami apa yang kumaksud. Aku sudah cukup tahu tentang penampilan gadis itu, tapi semua itu hanya tampak luarnya saja... itulah yang dari tadi dibahas, 'kan? Jika diperhatikan, Isshiki memang cukup banyak bicara jika mengenai paras gadis-gadis, namun kami belum membahas soal kepribadian gadis itu.

Jadi apa yang kausuka dari Takanashi... Kenapa pertanyaan semacam ini bisa membuat tertekan? Kuputuskan untuk langsung ke pokok permasalahannya saja.

"Ternyata seperti itu penampilannya. Apa ia punya kepribadian yang buruk?"

"Kau memang pendengar yang baik, Bung. Baiklah, akan kuceritakan apa yang kutahu, tapi ini hanya sekadar rumor, kau paham? Berhati-hatilah, ada kemungkinan ini bakal menghancurkan anggapanmu tentangnya selama ini."

Yah, tampaknya ini bukan rumor yang baik jika ia sampai bertele-tele seperti ini. Tapi yah, itu hanya sekadar rumor. Bisa jadi itu hal sepele yang disebarkan oleh gadis lain yang iri terhadap wajah manisnya. Semua orang sudah mengenal seperti apa watak gadis yang tak punya kecantikan dari dalam seperti itu. Ya, pastinya begitu. Selama dua bulan terakhir ini, yang kulihat, Takanashi biasa menyendiri. Ia jadi sasaran empuk bagi gadis lain yang ingin mengerjainya. Mungkin ia satu dari sekian banyak orang yang ditakdirkan untuk berteman dengan mereka yang penyendiri. Astaga, tipe itu benar-benar pas denganku.

"Aku cuma mau memastikan kalau kau tahu mengenai keadaannya. Berjanjilah padaku."

"Siap. Terima kasih pemberitahuannya. Itu hanya sekadar rumor, Pak. Bukan cerita yang menarik, Pak."

"Baiklah."

"Jadi begini..."

Dan sewaktu ia akan bicara, wajahnya mulai memelas seakan sedang menceritakan kisah hantu.

"Takanashi... Rikka Takanashi mulai berangsur berubah sewaktu ia masih duduk di kelas dua SMP... hingga saat itu, ia dulunya adalah gadis ceria yang selalu bersenang-senang dengan teman-temannya. Bisa dibilang, ia dulunya bagai maskot di kalangannya... namun sesuatu berubah. Rasanya ia seperti orang yang kerasukan. Ia mulai bicara yang aneh-aneh dengan suara keras... lalu..."

"Kok jadi cerita rakyat Jepang?!" Aku memang keliru. Ternyata itu bukan kisah hantu.

"Yah, aku punya firasat kalau ia mendadak terpisah dari teman-temannya seolah ia tersadar kalau mereka adalah orang-orang jahat. Ia mulai memberontak dan seperti lepas kendali. Muncul perbincangan yang menanyakan apakah ia menderita kepribadian ganda. Seburuk itulah keadaannya."

Aku serasa pernah mendengar hal semacam ini sebelumnya. Ah, pasti itu cuma khayalanku saja.

"Hmm, jika benar begitu, jelas semua orang yang mengenalnya bakal kaget, dong. Tapi, yah, itu sekadar pemikiranku kalau dilihat dari sudut pandang orang normal."

"Kau... kau masih berpikir dalam sudut pandang orang normal...? Ketika seorang gadis mendadak mengubah kepribadiannya seperti itu... bukankah itu bisa dianggap chuunibyou?! Bagiku, tak ada yang lebih menarik selain gadis cantik berkulit putih langsat yang senantiasa bersikap wajar!"

Aku telah melupakan kata itu sejak dua bulan yang lalu, jadi sewaktu mendengar ada yang mengucapkan chuunibyou, itu membuatku jadi syok. Di saat kami sedang membahas informasi yang telah dikumpulkannya, kata itu tak pernah sekalipun terlintas dalam pikiranku.

"...chuunibyou? Bukannya tadi kaubilang kalau itu sekadar rumor? Kau takkan langsung memercayainya, 'kan? Di samping itu, bukankah kontesnya dinilai dari penampilan?"

"Kau tak menyangka gadis semanis dirinya ternyata mengidap chuunibyou, 'kan?"


Rasa syok itu akan tetap menghinggapiku setidaknya dalam seminggu. Bukannya memberi jawaban, diriku malah mulai berkeringat. Ini bukan semacam keringat yang disebabkan karena udara lembab di Bulan Juni, tepatnya, ini keringat berminyak. Chuunibyou? Bukankah mestinya itu jadi hal buruk bagi orang-orang? Meski aku punya pengalaman pribadi terhadap penyakit ini, aku tak bisa mengatakan kalau itu sesuatu yang buruk. Itu bukan seperti orang yang telah terjangkit trilyunan campak. Beri mereka waktu dan mereka akan terlepas dari hal itu. Contohnya, lihat saja aku.

Tapi harus seperti apa aku menanggapinya? Andai itu adalah diriku yang dulu, kira-kira seperti apa tanggapanku? Bukankah kita menjadi dewasa seiring bertambahnya umur kita? Kini aku adalah pribadi yang berbeda. Haruskah aku langsung mengutuknya? Kurasa memang harus seperti itu.

Aku tak tahu kalau Takanashi ternyata anak yang mengidap hal semacam itu, sama tak menyangkanya aku yang kini bakal berurusan lagi dengan masalah chuunibyou. Sialnya aku!

Atau beruntungkah aku? Lagi pula, ia gadis yang manis.

"Eng, memang ada yang membuatku penasaran soal Takanashi, tapi menurut rumor, apa pernah ada yang bilang tentang dirinya yang menggunakan sihir atau menjelma menjadi seekor kucing hitam...?"

"Aku tak sampai menanyakan itu. Memangnya itu informasi baru?! Begitu, ya? Jika demikian, itu adalah betul chuunibyou! Hmm, orang-orang yang mengidapnya tak serta-merta bisa menggunakan sihir maupun menjelma menjadi sesuatu, melainkan mereka berpura-pura memiliki sihir dan kekuatan super semacamnya."

"Yah, itu cuma sesuatu yang sempat membuatku penasaran saja. Tapi jika itu benar, bukankah pesona gadis itu menjadi berlipat?!"

"..."

Cih. Setidaknya jawablah dengan gurauan atau semacamnya. Secara pribadi, aku merasa kalau hal itu memang membuat pesonanya jadi berlipat.

"Itu cuma lelucon, 'kan? Tapi tetap diingat, kalau yang kukatakan tadi masih sekadar rumor. Kita belum tahu banyak tentangnya. Kenapa kita tidak bisa tahu lebih banyak lagi tentang kepribadiannya? Sebaiknya kita ingat hal itu."

"Omong-omong, siapa pula yang punya informasi semacam itu?"

"Untuk semua yang berhubungan dengan para gadis, aku bisa dengan mudah menanyakannya pada anak-anak di kelas kita, ataupun pada kakak kelas yang ada di Komisi Disiplin! Selalu ada kabar yang beredar di sekitar mereka. Tapi jika ada yang tak kami ketahui tentang seseorang, atau kami ingin tahu lebih banyak, maka kami tinggal mengorek informasinya sewaktu ia melanggar peraturan sekolah. Orang-orang seperti itu sudah mengganggu ketenteraman sekolah, dan kami menandainya. Ini yang namanya sambil menyelam minum air."

Itu namanya penyalahgunaan kekuasaan! Tapi aku yakin kalau semua anak lelaki akan memfokuskan perhatian mereka demi mencari tahu lebih banyak soal gadis yang tak banyak kami ketahui ini. Itu sesuatu yang umum di kalangan para lelaki.

"Dengan ini, maka pilihan Togashi jatuh pada Takanashi. Hehe, berarti kini tinggal giliranku untuk memilih, dan setelah itu, kontes popularitas di kelas kita pun berakhir!"

Jelaskan padaku. Benarkah ia mendatangi semua lelaki di kelas kami dan mengumpulkan suara mereka? Itu bakat yang luar biasa. Aku hampir merasa seolah harus menyaksikan sendiri dan mendokumentasikannya. Untunglah dorongan itu lenyap dalam hitungan detik.

"Kebetulan, jadi siapa pilihanmu? Tak adil kalau kau tahu pilihanku tapi tak memberi tahu pilihanmu."

"Hmm. Aku suka semua gadis di kelas kita! Manisnya mereka jauh di atas rata-rata, ya 'kan? Yah, relatif bagi kelas lain di sekolah ini. Namun di kelas lain juga punya beberapa gadis manis. Tampaknya rata-rata gadis manis di kelas kita ini ada di atas normal. Yang ada di kelas dua dan di kelas tiga sebenarnya juga memesona. Khususnya yang di Klub Tari. Satu-satunya yang bisa menggambarkan seperti apa tarian mereka yaitu kenikmatan sejati!"

Kesukaannya sudah melampaui batas.

...tunggu! Ia tak menjawab pertanyaanku! Ayo katakan! "Ternyata... kau tak memberitahu siapa gadis yang kauanggap paling manis."

"Masa, sih? Yah, aku sungguh berpikir kalau mereka semua memang manis. Hmm, Megata memang tampak kurang populer di kalangan anak lelaki, tapi aku menyukainya. Entah apa penyebabnya hingga ia tak begitu populer, tapi aku memilih dirinya... atau barangkali Nibutani."

"Eh, maksudmu ketua kelas?"

Kalau kuingat lagi, bukankah para anak lelaki menjulukinya sang penguasa kelas? Sedang bagiku, aku tak punya hubungan apa-apa dengannya. Eh, tunggu; aku memang tak punya hubungan apa-apa dengan satu gadis pun di kelas kami. Terkecuali saat aku menyerahkan lembaran fotokopi kepada Tokise, aku tak pernah berbicara dengan gadis mana pun.

"Yak, ketua kelas kita, Nibutani! Ia benar-benar pas dengan penggambaran kata manis. Ia punya poin penting yang kusuka, yaitu perilaku, dan wajahnya juga manis. Tubuhnya tinggi nan semampai; cocok sekali menjadi seorang model. Di samping itu, aku merasa ia akan bisa bicara dengan siapa saja tak peduli seperti apa orangnya. Bisa dengan mudah berbicara kepada setiap orang adalah hal yang wajib dilakukan oleh seorang ketua kelas, ya 'kan? Ia punya sikap yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin sejati; itu sebabnya aku merasa kalau ia begitu mengagumkan. Aku juga merasa kalau ada sedikit sisi sadis dalam dirinya. Kurasa aku pun mampu bertahan pada sisi lain kepribadiannya itu! Jelas, hal semacam itu takkan pernah kukatakan kepadanya!"

Itu adalah perubahan sikap drastis dari anak pemalu yang sempat kusebut tadi. Biar begitu, jika aku harus membantahnya, aku bakal berkomentar kalau aku hanya pernah melihatnya bersama teman-teman gadisnya yang manis. Kurasa kali ini aku harus menahannya dulu.

"Hmm, aku jadi mengerti kenapa ia bisa punya hubungan baik dengan semua anak lelaki. Kurasa itu sebabnya ia jadi populer."

"Oh, sang ketua kelas, eh, sang penguasa kelas memang luar biasa. Aku jadi ingin memberikan suaraku padanya, tapi aku harus bersabar sedikit. Sekali aku memberi suara, maka kontes ini berakhir. Akan kulihat dulu pendapat dari semuanya dan menghitung siapa yang mendapat suara terbanyak. Luar biasa! Kontes ini memang luar biasa! Kita harus segera adakan lagi kontes yang kedua! Saat kontes ini sudah selesai, rencananya aku nanti akan membagi lembaran pengumuman hasil kontesnya."

Dan sewaktu berkata begitu, ia pun menepuk bahuku.

"Baiklah, sampai jumpa di pusat permainan yang biasanya, ya!"

Kupalingkan kepalaku selagi hendak berlari. Tanpa kusadari, aku sudah ada di persimpangan jalan menuju rumahku. Saat aku menoleh dan melihat dirinya pergi, kakiku sudah mulai melangkah menuju rumah.

"Eh? Di kelas kami ada tiga belas anak lelaki dan empat belas anak perempuan, bagaimana cara ia membuat pemeringkatannya, ya?"

Pertanyaan itu baru saja terlintas di pikiranku.



Read more ...»