Tampilkan postingan dengan label Ore no Kanojo to Osananajimi ga Shuraba Sugiru Jilid 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ore no Kanojo to Osananajimi ga Shuraba Sugiru Jilid 1. Tampilkan semua postingan

Oreshura Jilid 1 Bab 9

On Selasa, 03 Oktober 2017 0 komentar

=========================================================
Sangaaarr... Walau rada aneh sih... Soalnya pakai nuansa chuunibyou segala... Tapi tetap saja gak mengurangi serunya adegan heroik yang dipaksakan ini...
Catatan Terjemahan...: Yukichi-san merujuk pada uang kertas 10.000 yen... Men adalah gerakan ayunan pedang yang ditujukan ke arah kepala di dalam kendo...
Hasil terjemahan seri ini di-posting di masing-masing fantranslation... Rilisan seri ini bisa terlebih dahulu dinikmati sehari lebih awal di Zhi-End Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================

Kupikir saat itu aku sudah bergantung pada Chiwa.

Sebelumnya, masa depan itu begitu suram, tanpa harapan, dan membuat kecil hati.

Itu sebabnya, paling tidak, aku menginginkan sebuah tujuan, sebuah harapan.

Meski berpura-pura ingin membantu Chiwa, sebenarnya orang yang diselamatkan itu adalah aku sendiri.

Akan tetapi, Chiwa memercayaiku.

Itu sebabnya aku pun harus percaya.

Percaya pada diriku yang dipercayai oleh Chiwa.
__________________________________________________________


Bab 9 - Perkelahian Antarlelaki Adalah Sebuah Kekacauan


Ketika bangun tidur, setelah melihat jam, ternyata sekarang sudah jam setengah sepuluh.

"Sial, aku kesiangan ...."

Pada hari Minggu, jika aku tidak datang ke perpustakaan lebih awal, kursi di ruang belajar pasti sudah penuh.

Aku buru-buru berpakaian, memeriksa kompor, mengunci pintu lalu berangkat tanpa sempat sarapan. Pergi ke perpustakaan dengan berjalan kaki butuh waktu sekitar dua belas sampai tiga belas menit. Jika aku bergegas dan sampai dalam waktu sepuluh menit, seharusnya masih ada kursi yang tersisa.

Akan tetapi, kakiku dengan sendirinya membawaku ke arah yang berbeda.

Sekarang pukul sepuluh kurang sepuluh menit.

Kurang sepuluh menit lagi dari waktu janji kencan Chiwa.

Jarak menuju tempat janjian yang berada di depan sebuah stasiun, juga berjarak sepuluh menit jauhnya.

"Hei, hei ...."

Menyedihkan sekali aku ini.

Apa aku akan memata-matainya?

Meski dia temanku sedari kecil, aku tetap tidak boleh melakukannya, 'kan? Aku memang lelaki yang menjijikkan.

Tapi, aku penasaran.

Biar bagaimanapun aku tetap ingin tahu!

"Selamat pagi."

"Wuaaahh?!"

Aku melompat ketika mendengar suara yang tiba-tiba memanggilku dari belakang.

Saat aku bertanya-tanya siapa itu ...,

"Ma-Masuzu, toh?"

"Fufu, apa kamu tidak merasa kalau itu berlebihan, Eita-kun?"

Meski ini hari Minggu, tapi Masuzu memakai seragam sekolahnya (begitu pun aku) sambil tersenyum.

"Berjalan-jalan di sekitar sini, berarti kemungkinan tujuan kita sama, 'kan?"

"Itu artinya, kamu di sini juga untuk memata-matai kencan Chiwa?"

"Kata mata-mata itu punya konotasi negatif. Sebagai ketua Klub Jien-Otsu, aku harus mengawasi sosok berani dari anggota lain."

"Bukankah sama saja?!"

"Oh, jadi Eita-kun di sini bukan untuk itu?"

"...."

Sial.

Sedikit, sedikit lagi.

"Begitu kita yakin kalau mereka sudah bertemu, maka kita pergi."

"Baiklah, aku mengerti."

Sambil terkekeh, dia menggaet lengannya ke lenganku.

"Jangan dekat-dekat begitu! Jauh sana!"

"Oh, kenapa?"

"Mumpung hari ini kita tidak bersama Chiwa dan ini bukan waktu sepulang sekolah, kita tidak perlu terus berpura-pura, 'kan?"

"Tidak. Di kota pinggiran seperti ini, kita tidak pernah tahu kapan akan berpapasan dengan murid SMA Hane. Kita tidak boleh sesantai itu."

Sambil tersenyum, Masuzu mengatakannya dengan sedikit sarkasme, bersamaan dengan itu, bisa kurasakan betapa lembut tangannya yang semakin mendesakku ini.

Aku penasaran, kenapa tubuhnya bisa selembut ini

Tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan itu.

Kami berpapasan dengan beberapa orang yang menatap ke arah kami, hingga akhirnya sampai stasiun.

Plaza di depan tempat penjualan tiket, terdapat sebuah tempat untuk menunggu.

"Oooh ...."

Chiwa ada di sana.

Sakagami-senpai belum datang.

Dengan ponsel yang terbuka, dia berdiri di sana, tanpa bisa tenang. Bahunya menegang, yang bahkan dari kejauhan pun, bisa kurasakan kegugupannya.

Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah,

"Chiwa ..., Chiwa berpakaian modis?!"

Blus putih berlengan panjang dan celana balon pendek berpola bunga.

Terdapat renda di kerah blusnya yang memberi kesan kalau dia memakai pakaian berlapis, membuatnya terlihat begitu kecewekan. Ukuran dari celana pendeknya juga memberi kesan menantang, memamerkan dan menegaskan kerampingan kakinya.

Lumayan. Cocok dengannya ....

"Bagaimana? Akulah yang membantu memilihkannya."

"Kamu? Ternyata kamu juga bisa melakukan hal baik!"

"Yah, itu dulu pakaianku sewaktu masih kelas enam SD. Pas sekali, 'kan?"

"...."

Saat percakapan itu terus berlanjut, waktu menunjukan pukul sepuluh.

Sakagami-senpai masih belum datang.

"Apa yang ada di pikirannya sampai terlambat di kencan pertama?"

"... benar."

"Di saat seperti ini, bukankah seharusnya lelaki yang datang duluan? Boleh jadi dia punya wajah tampan, tapi paling tidak dia harus tahu dasarnya. Apa itu karena Chiwa, makanya dia menyepelekannya?"

Waktu terus berlalu dan kini sudah pukul sepuluh lewat dua puluh menit.

Belum datang juga.

"Hei, hei, ada apa dengan anak itu?"

Chiwa terlihat cemas dan sesekali sibuk mengutak-utik ponselnya. Dia mungkin sedang memeriksa pesan atau mengirim sesuatu pada senpai.

"Jangan-jangan lelaki itu membatalkan kencannya? Atau mungkin ada kecelakaan?"

Masuzu tidak menjawab dan tetap tidak berekspresi.

Situasi tidak berubah seiring waktu berlalu, hingga akhirnya kini sudah pukul sebelas.

Jumlah orang yang berbelanja perlahan terus meningkat, dan plaza di depan stasiun pun sudah dipenuhi banyak orang. Baik itu keluarga maupun pasangan. Orang-orang yang juga menunggu di tempat itu satu-persatu telah pergi dijemput pasangannya.

Hanya Chiwa seorang yang tersisa.

Berdiri di sana tanpa ada yang menemani.

"Cukup, Chiwa! Pulanglah! Abaikan saja anak itu!"

Lalu— tepat di saat itu ....

Sebuah tawa bodoh yang keras terdengar di plaza.

Rupanya itu sekumpulan murid SMA yang terdiri dari empat lelaki dan dua gadis, berpakaian ala antisosial.

"Yak, aku menang! Satu lembar Yukichi-san di tangan!"

Seorang lelaki besar berwajah kasar dan berkulit gelap tampak sedang bersemangat.

Dan di sebelahnya, dengan wajah yang tampak masam — teman kencan Chiwa — yakni Sakagami-senpai.

"Cih, masih menunggu, ya? Gadis tidak tahu diri."

"Bukankah itu bagus? Wajahnya juga manis, 'kan? Kurasa dia cocok pacaran denganmu."

"Lihat pakaiannya! Apa dia berusaha agar tampak lebih tinggi? Meski terlihat sedikit seperti vas bunga, sih."

Ucap dua gadis yang rambutnya diwarnai dengan cukup norak.

Apa-apaan mereka itu?

Seharusnya hari ini adalah kencan mereka berdua, tapi kenapa teman-temannya juga ikut?

Senpai ini sedang apa?

Ayo cepat minta maaf pada Chiwa!

"Tetap saja membosankan. Pulang sana, Chihuahua-chan!"

Sambil menghadap Chiwa yang bengong, senpai mengibaskan tangan, mengusir Chiwa.

"Gara-gara kamu aku jadi syok. Memangnya kamu pikir bisa berpacaran denganku?"

"Itu mustahil, 'kan? Seharusnya kamu tahu diri, Chihuahua yang Malang."

Keenam orang itu pun tertawa.

"Tapi tubuhmu benar-benar mungil, ya? Apa kamu yakin tidak memalsukan umur? Mungkin sebenarnya kamu ini masih SD, ya?"

"Aku punya kenalan dari SMP yang seorang lolicon. Apa perlu kukenalkan padamu? Kurasa dia akan menganggap dirimu manis. Yah, dalam pandangan seorang maniak."

"Kalian ini, hentikan, kasihan jadinya, tahu? Chihuahua-san sampai gemetaran. Membuatnya menangis itu kejam, tahu? Gyahaha!"

Padahal Chiwa tidak gemetaran.

Tidak pula menangis.

Dia hanya tersenyum kebingungan.

Melihat ekspresi itu, aku merasakan sebuah deja vu—

Aku tidak akan bisa berlatih kendo lagi.

"... hentikan."

Masuzu menahan lenganku saat aku hendak pergi.

"Lepaskan aku, Masuzu!"

"Hentikan! Kamu — bukan — orang — yang — seperti — itu, — 'kan?"

"Terserah, pokoknya lepaskan!"

"Semuanya akan baik-baik saja, 'kan?"

"Hah?"

"Kita tidak peduli dengan berbagai macam lika-liku cinta, 'kan?"

Ucap Masuzu tanpa mengubah ekspresinya.

Hanya saja, mata birunya berkilau menyeramkan.

"Anak bernama Sakagami itu mungkin berpenampilan layaknya seorang olahragawan keren di sekolah ..., tapi inilah sifat aslinya. Dia berpacaran dengan dua atau bahkan tiga gadis sekaligus, dan ketika sudah bosan dengan mereka, dia akan mencampakkannya dan kembali mengulangi hal tersebut, lagi dan lagi. Tabiatnya itu cukup terkenal di antara mantan-mantannya sewaktu SMP. Biarpun begitu, aku pun tidak menyangka kalau ternyata dia sampah yang sebusuk ini!"

"Berarti, dari awal kamu sudah tahu soal ini ...."

Kalau dipikir-pikir, sewaktu Chiwa menyebut nama Sakagami dulu, Masuzu tampak tidak begitu antusias.

Jadi itu alasannya.

"Kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk membuat Harusaki-san belajar tentang kenyataan. Cinta adalah sebuah kesia-siaan. Kita bisa menggunakan hal ini untuk membersihkan otaknya. Penganut cinta suci seperti dirinya harus menyadari betapa tidak berguna dan konyolnya cinta itu. Jika itu berhasil, dia mungkin akan menganut doktrin antiromansa seperti kita."

"Jangan main-main!"

Kucengkeram kerah Masuzu.

Walaupun begitu, ekspresi Masuzu tetap tidak berubah.

Dia ..., bagaimana bisa dia berekspresi sedingin itu?

"Jadi, segala kegiatan klub itu hanya pura-pura, hanya main-main?"

"Bukankah sudah kubilang sebelumnya? Seperti itulah Jien-Otsu. Semuanya hanya <<fake>>. Tak ada satu pun yang sungguhan."

"Tidak mungkin ...."

Bohong.

Itu pasti bohong!

"Tapi bukankah kamu bahagia bersama kami? Entah itu sewaktu kita bertiga memakan camilan bareng di ruang klub, atau sewaktu kita berakting dengan gugupnya — bukankah kamu benar-benar tersinggung saat sandiwara kehidupan terdahulu itu hanya dianggap sketsa komedi? Atau sewaktu kamu mendengar diterimanya pernyataan cinta Chiwa itu, bukankah kamu juga ikut senang?"

Tatap mata Masuzu sama sekali tidak berubah, dan aku tidak tahu seperti apa yang dia rasakan.

"Hei! Bicara!"

"... tidak usah tanya kenapa atau bagaimana, bukankah sebelumnya kamu sudah mengatakannya sendiri?"

"Maksudmu?"

"Aku adalah iblis."

Ucapnya, lalu disertai tawa.

Tampak sebuah seringai — sebuah senyum getir.

Senyum yang sama persis dengan senyum Chiwa tadi.

Ketika dihadapkan dengan romansa, muncul pahitnya perasaan pupus harapan.

Ketika dihadapkan dengan cinta, muncul dalamnya perasaan putus asa.

Apa yang sebenarnya telah terjadi pada gadis ini di masa lalu?

Jujur saja, itu mungkin sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan diriku.

Terasa begitu gelap, layaknya sebuah gua yang menganga, jauh dan begitu dalam ....



"Hei, Masuzu."

"Ya?"

"Meski itu <<fake>>, meski itu hanya sekadar nama, secara teknis aku ini masih pacarmu."

"Kenapa tiba-tiba membahas soal ini?"

"Apa aku bukan pacarmu?"

"Kamu ini bicara apa?"

"Kalau iya, ada satu hal yang harus kuminta padamu. Meski untuk saat ini saja, tolong dengarkan bagian dirimu yang memercayai cinta yang sudah kamu kubur itu."

Kuletakkan kedua tanganku di atas bahu Masuzu, menatap dalam matanya lalu menarik napas,

"Jangan buat dirimu menyimpang, Natsukawa Masuzu!"

Kali ini, sebuah retakan muncul di senyum sempurna Masuzu.

Aku selalu merasa kalau sejak awal dia sudah menutupi dirinya dengan topeng.

"Ka-kamu bicara apa? Kamu dan aku itu satu jenis. Iya, 'kan?"

"Ya. Itu tidak perlu dipertanyakan. Kita sebuah persekongkolan, dengan sistem penilaian yang menyimpang, dengan rasa putus asa yang tidak bisa dipahami siapa pun."

"Jangan berlagak merangkai kata! Kenapa kamu mengatakan itu—"

"Karena Chiwa sosok yang luar biasa!"

Teriakku marah.

"Dia begitu blak-blakan, jujur, dan gegabah .... Bahkan ketika impiannya tentang kendo harus pupus, nada bicaranya yang ceria itu sama sekali tidak berubah. Lebih tepatnya, dia terus melanjutkan hidup dengan kekuatan bodohnya. Itu jelas amat sangat berlawanan dengan kita!"

"... benar."

Dengan suara lemah, Masuzu menundukan kepalanya.

"Anak itu ... begitu bersinar."

Bagaikan sebuah tirai, rambut keperakan Masuzu terjuntai turun ke bahunya dan menyembunyikan ekspresi wajahnya.

Kugoyang-goyangkan lengan Masuzu.

"Aku akan mendatangi Chiwa!"

Aku berjalan menjauh.

... namun.

Jari-jari Masuzu mengenggam ujung bajuku, tubuhnya gemetar.

Keadaannya kini sungguh berbeda dari sebelumnya, kekuatannya kini begitu rapuh.

"... eh?"

"Jangan pergi."

Kepala Masuzu tertunduk, dan dia terlihat seperti anak kecil yang merengek, Tidak, tidak, tidak, tidak, sambil menggelengkan kepalanya.

Persis seperti seorang anak kecil.

Aku juga pernah seperti itu, jadi aku bisa memakluminya.

Dia mirip seperti seseorang yang ditelantarkan tanpa pesan, tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Seorang anak yang hanya bisa berdiri terdiam, dan sendirian.

"Masuzu ...."

Tepat di saat itu, aku yakin akan satu hal.

Seseorang yang butuh bantuan ... juga ada di sini.

"Bodoh ...."

Kusentil dahi Masuzu.

Dia mengangkat kepalanya dengan ekspresi kaget, dan dibarengi senyuman, aku lanjut berkata,

"Jangan menunduk. Perhatikan baik-baik!"

"... perhatikan apa?"

"Memangnya itu harus kujelaskan?"

*Puk~* aku menepuk pundak Masuzu,

"Aksi heroik pacarmu."

Aku lalu berlari menuju plaza.

"Hiiiyyaaaaaahhhhhhhh!"

Ah!

Ah ..., ini terasa melegakan!

"Hiyaaaaahhhhh — Chiwa — aaaaaaahhhhh — aku datang!"

Rasanya lepas sekali meneriakkan kalimat seperti seorang tokoh dalam manga.

Meski beberapa orang menyebut ini chuunibyo, tapi aku tidak bisa berhenti melakukannya!

"Hei, lelaki keren yang di sana, jangan ganggu Chiwa! Hiyaaahhhhhhhhh!"

Kubiarkan diriku berlari bebas dan berniat untuk menyerang punggung Sakagami-senpai dengan sebuah tendangan terbang— sayangnya aku gagal.

Ketika aku hampir mengenainya, dia tiba-tiba menghindar.

Ah, jika aku terus menyerang seberisik ini, semua orang pasti akan memperhatikan kami.

"Siapa kamu?"

"Aku teman sedari kecil Chihuahua!"

Chiwa tercengang dan bengong, sepenuhnya membeku.

"Hmm ..., baiklah, Teman Sedari Kecil, ada urusan apa?"

"Eh? Apa anak ini temannya yang ikut salah paham atau memang tidak punya otak?"

Keempat orang yang mengelilingiku menyeringai dan menunjukan niat untuk memulai perkelahian. Orang yang berkulit gelap itu terlihat cukup kuat, dia juga memakai bermacam cincin di kedua tangannya. Jika dia memukulku, aku yakin rasanya pasti sakit sekali.

"Wah, wah ... pukul dia, pukul dia!"

"Hajar dia! Hajar dia sampai dia menangis!"

Ketika kedua gadis yang bersama mereka itu bersorak, tatap mata keempat lelaki tersebut langsung berubah.

Huh! Kelompok ini memang sekumpulan pemuja Agama Cinta yang tidak berotak.

Tidak ada yang perlu kutakutkan pada mereka.

Mereka ini bukanlah apa-apa.

Karena aku ...,

"Kembali!"

"Hah?"

"Aku mendapatkan kembali ingatan kehidupan terdahuluku!"

Area plaza seketika hening.

"Nama asliku adalah <<Burning Fighting Fighter>>. Meski aku lebih kuat dari iblis kelas S dengan level ZZZ <<Triple Zeta>>, aku tidak punya minat untuk menunjukan kekuatanku! Alhasil, aku berada di kelas D. Tapi jika aku mengerahkan seluruh kekuatanku, aku bisa melenyapkan seluruh galaksi seorang diri!"

"Hah?"

Keenam anggota kawanan Sakagami serempak memiringkan kepalanya, kebingungan.

"Selagi para <<Wyverns>> menggunakan kamuflase optimal <<Illumination>> untuk menyembunyikan jejak aksi mereka, mereka tidak bisa membodohi simbol di tanganku! Karena jika mereka melakukannya, rasa sakit khayalan itu pasti akan jadi kenyataan ...!"

"Oi, kamu bicara apa—"

"Hiyaahhh!!"

Kali ini, kugunakan Jurus Rahasia Klan Naga Suci <<Dragon>>, Kuda-Kuda Elang Liar!

Jangan tanya kenapa naga bisa menggunakan kuda-kuda elang!

"Pa! Papapah!"

Lalu aku menggunakan Api Kelam Sang Takdir <<Fate's Dark Black Flame>> pada Sakagami.

Tentu aku tidak melupakan efek suaranya.

"A-anak ini menjijikkan!"

"Sial?! Matanya terlihat tidak normal!"

Teman-teman Sakagami terlihat takut.

Segerombolan penonton mengelilingi kami dan tampak was-was.

"Hei, kita pergi saja, ya?"

"Abaikan saja anak ini. Tidak usah dipedulikan!"

Tampak jika kelompok Sakagami buru-buru menjauh.

... tidak akan kubiarkan mereka pergi!

"Bodoh! Kelemahanmu terlihat! Kamu benar-benar lengah!"

Kutangkap punggung Sakagami dan kugunakan berat tubuhku untuk mendorongnya jatuh.

Sambil mengangkangi perutnya, kupukuli Sakagami! Kuhantam! Kuhajar dirinya!

"Sedang apa kamu?"

Si lelaki berkulit gelap menggunakan seluruh kekuatannya untuk menendang perutku. Untunglah aku tidak sarapan .... Cairan yang naik ke tenggorokanku terasa begitu masam.

Tapi aku tidak melepaskan Sakagami.

Aku tidak akan melepaskannya.

"Minta maaf!"

"Hah?"

"Minta maaflah pada Chiwa!"

"Menjengkelkan!"

"Kamu sudah menipunya, dan berkata macam-macam padanya! Ayo minta maaf!"



"Kamu memang menjengkelkan!"

Sebuah pukulan mendarat tepat di wajahku.

Hidungku menyemburkan darah dan membuat bercak merah pada bajuku.

"Ti-tidak akan kulepaskan ...!"

Ketika Sakagami mencoba bangkit, tanpa bersuara kurangkul kakinya.

Ayo! Ini waktunya menunjukan kekuatan ZZZ milikku!

Akan kutinggalkan kemampuan kelas D ini dan menunjukan kekuatanku yang sesungguhnya!

"Hahaha! Ternyata dia lemah, dasar otaku menjijikkan!"

Wajahku ditendang berkali-kali hingga hampir hilang kesadaran.

Kenapa ....

Bangkitlah! Dengan kekuatan Klan Naga Suci! ZZZ! Lenyapkan seluruh galaksi!

Hanya di saat ini, aku bisa begitu percaya diri.

Aku ingin percaya.

Meski aku sendiri tidak memercayai kalimat-kalimat delusional yang tertulis di buku catatan itu ....

Namun aku ingin memercayai kekerenan yang terus Chiwa percayai sepenuhnya itu.

"Hei, kamu ini kenapa? Bukankah kamu si Burning apalah itu, hah? Mana semangatmu yang tadi?"

Sakagami menginjak jariku dengan sepatunya, lalu menekannya dengan kejam.

"Aaaaaaarrgghhhh...."

Sakit.

Benar-benar sakit.

Kuku jariku mungkin sudah terkoyak, dan rasanya ada benda keras masuk ke dalam dagingku .... Sakit! Sakit, sakit, sakit, sakit! Rasanya ingin menangis — sebenarnya aku sudah menangis — darah dan ingus bercucuran di wajahku, meninggalkan noda besar di tanah! Rasa sakit yang nyata ini merasuki diriku .... Sepertinya aku akan kalah.

Benar.

Terlepas dari apakah aku ini Kesatria Klan Naga Suci, atau karakter apa pun itu, rasa sakit tetaplah sakit!

Kenyataannya ..., aku tidak bisa menang.

Sakit.

Kenyataan itu benar-benar menyakitkan.

Tapi ....

"Uuuaaahhhhhhhh, sakit! Aaarrgghhhh!"

Teriak Sakagami seperti seorang gadis.

Sambil merangkul kakinya, lelaki itu pun berguling-guling di tanah.

"Berengsek! Di-dia benar-benar menggigitku ...."

Kutatap mata Sakagami yang sedang merintih itu kemudian berdiri.

"Dia melihatku ...."

"Hah?"

"Pacarku sedang melihatku! Wuuoooohhhh!"

Ketiga teman Sakagami lalu mengelilingiku dengan aura membunuh di wajah mereka.

Seringai mereka sebelumnya itu pun telah menghilang.

"Ini bukan lelucon, 'kan?"

"Kamu harus menghabisinya sebelum polisi datang."

"Ada kantor polisi di dekat sini. Memangnya tidak apa-apa?"

Aku berdiri sambil mengusap darah di hidungku dengan lutut gemetar. Aku tidak bisa mendengar yang mereka katakan.

"Hahaha! Kemenangan yang mudah, kalian lihat? Kantor polisi, kantor polisi .... aneh? Memangnya ada kantor polisi di dekat sini?"

Dengan kesadaran yang berangsur memudar, aku nyaris jatuh tersungkur ....

"Hentikan, sudah cukup!"

Yang berteriak barusan adalah Chiwa.

"Cukup! Jika Ei-kun terus begini, kamu bisa mati! Jangan hiraukan tiga bajingan itu! Lagi pula, aku sudah tidak peduli! Ka-kalau sesuatu terjadi pada Ei-kun, aku bisa ...."

Mata Chiwa yang berkaca-kaca tampak memerah.

Sambil terhuyung-huyung dan tertatih-tatih, dia bermaksud mendekat.

"Siapa yang kamu maksud bajingan? Dasar melon musim dingin pendek!"

Si pria berkulit gelap tampak sedang naik pitam dan terlihat siap menyerang Chiwa.

"Tung-tunggu! Kalau kamu ingin memukul, pukul aku saja! Chiwa—"

Tepat di saat itu ....

Di bawah langit cerah tidak berawan ini, sebuah tongkat tiba-tiba melayang entah dari mana.

Itu adalah tongkat aluminium panjang yang biasanya digunakan untuk menyangga pohon-pohon kecil.

Seolah membelah angin dengan liar, tongkat itu melayang menuju targetnya — menuju tangan Chiwa.

"—ini!"

Pupil mata Chiwa dipenuhi sinar membara.

Rasanya sudah sangat lama ....

Ekspresi tegang itu adalah tampang yang dia perlihatkan sebelum bertanding Kendo.

Dengan kedua tangan menggenggam tongkat, dia langsung memasang kuda-kuda tinggi.

"—meeeeeeeeenn!"

Dengan gerakan indah dan eksplosif itu, Chiwa menghantam dahi si pria berkulit gelap.

Tanpa sempat berteriak, lelaki tersebut ambruk ke belakang, tidak bergerak.

"Gadis jalang!"

Dua orang lainnya serempak berteriak sembari melayangkan tinjunya ke arah Chiwa, namun meleset. Chiwa menyelipkan diri di antara kedua lelaki itu, dengan gesit dan anggun menghindari gerakan mereka. Kerumunan di sekitar bersorak, "Wah!"

"Dora! Dorara!"

Berseru seperti saat berlatih Pertunjukan Langsung Dorarara ~ Chihuahua, Chiwa menghindar ke samping dan menghantam bagian tengah tubuh kedua pria itu dengan kecepatan cahaya! Kukira mereka akan berteriak, "Aaarghh," tapi ternyata mereka justru memegangi perut lalu jatuh berlutut.

Kemenangan seketika.

"... haha."

Mendadak kehabisan tenaga, aku pun tersungkur di lantai bebatuan.

—Chiwa benar-benar kuat!

Chiwa meletakkan shinai-nya lalu mendekati Sakagami.

"Yieieehhh!"

Sakagami menyeret tubuhnya di tanah, layaknya kecoa yang merayap ingin melarikan diri .... Citra lelaki kerennya hancur seketika.

Chiwa menghadap ke arah Sakagami ....

"Senpai, maafkan aku!"

Chiwa dengan tegas membungkuk, posisi hormatnya begitu formal dan anggun bagaikan membungkuk dalam kendo.

"Jujur saja, aku juga berbohong padamu."

"Hah?"

"aku sebenarnya sama sekali tidak menyukaimu. Lebih tepatnya, karena bertengkar dengan teman sedari kecil yang begitu bodoh, aku pun memutuskan mencari pacar. Lalu, aku memilih target secara acak. Aku minta maaf."

Usai mengatakan hal tersebut, Chiwa kembali membungkuk.

"Bisakah kamu lupakan saja semua yang terjadi hari ini?"

"Ah! Cukup! Aku tidak ingin lagi berhubungan denganmu dan tidak ingin punya hubungan apa pun denganmu!"

Sakagami berdiri, dipapah oleh kedua gadis yang bersamanya sambil mengangguk dengan cepat.

Kerumuman orang juga memanfaatkan kesempatan ini untuk membubarkan diri, dan tidak ada lagi yang menonton kami. Mereka pasti masih cukup terkejut.

Gerombolan Sakagami juga menyelinap di tengah-tengah kerumunan, merasa kesal.

"Wajahmu terlihat menyedihkan."

Chiwa mengamati wajahku yang masih tersungkur di tanah.

"Hidungmu masih mimisan. Ei-kun, apa kamu membawa tisu?"

"... aku lupa."

"Yah, mau bagaimana lagi ...."

Chiwa duduk bersimpuh di tanah lalu mengangkat kepalaku. Dia menempatkan kepalaku di atas pangkuannya. Mungkin ini yang pernah Saeko-san bilang, Pangkuan seorang teman sedari kecil memang yang terbaik, atau semacamnya.

"A-aku mau bilang sesuatu ...."

"Eh?"

"Tadi, sewaktu bagian pertarungan dengan musuh dari kehidupan terdahulu, aku hanya melakukannya karena memang sudah terbiasa. Bukan demi kamu."

"... Ei-kun memang Tsundere. Teman sedari kecil yang tsundere itu harusnya perempuan, tahu?"

"Siapa peduli? Cerewet!"

"Iya, iya. Apa terasa sakit?"

Dia menggunakan tisu untuk membersihkan darah dari hidungku.

"Di dalam hidung ini rasanya masih perih."

"Hmm, apa aku perlu menunjukkan celana dalamku? Siapa tahu kamu bisa merasa lebih baik."

Mimisanku kembali keluar. Bukankah itu malah membuatku semakin parah?

"Si-si-siapa juga yang mau melihat ce-ce-celana dalammu?"

"Hmm, jangan sungkan begitu. Tidak masalah, kok."

Dasar pendendam, teganya mengerjaiku?

Aku memeriksa sekitar dan melihat sebuah tongkat alumunium yang menggelinding di tanah.

Orang yang melempar tongkat tersebut, apa itu memang dia ...?

Aku tidak bisa melihat sosok orang itu lagi.

"Oh, Ei-kun?"

"Apa?"

"Sewaktu kamu berteriak marah tadi, kamu bilang, Pacarku sedang melihatku, ya?"

*Uhuk*

"A-a-a-apa aku bilang begitu? Aku tidak ingat."

"Ya, kamu memang bilang begitu. Telingaku mendengarnya dengan jelas~"

Nada bicaranya membuatku jengkel hingga tingkat maksimal.

Chiwa melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian ke sekelilingnya, lalu berkata,

"Natsukawa, tidak ikut ke sini?"

"Ah? Hmm, kurasa ... tidak."

Sehabis aku mengatakannya, mata Chiwa tiba-tiba berbinar bahagia.

"Kalau begitu ..., saat kamu bilang, Pacarku, itu maksudnya aku?"

Kali ini, mimisanku benar-benar menyembur.

"Ma-ma-ma-mana mungkin, 'kan ...?!"

Darahku terus mengalir, dan kesadaranku perlahan memudar ....

"Hei! Ei-kun! Ei-kun! Sadarlah! Jangan pingsan!"

Suara Chiwa terasa kian menjauh. Ini sungguh ... akhir yang melegakan.



Mundur
Lanjut
Read more ...»

Oreshura Jilid 1 Bab 8

On Kamis, 28 September 2017 0 komentar

=========================================================
Wuiiih... Baik di anime maupun di novelnya, pas adegan kilas balik yang melatarbelakangi keinginan Eita ini memang ngena banget...
Untuk referensi banbaji maupun poutpori, silakan cari sendiri ya artinya... Soalnya itu cuma nama makanan kok...
Hasil terjemahan seri ini di-posting di masing-masing fantranslation... Rilisan seri ini bisa terlebih dahulu dinikmati sehari lebih awal di Zhi-End Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 8 - Air Tata Teman Sedari Kecil Adalah Sebuah Kekacauan


Hari Minggu berlalu dan kini berganti ke akhir jam pelajaran di hari Senin.

Setelah dua hari tidak datang ke ruang klub, kulihat sebuah kalimat tegas tertulis di papan tulis.


-

Waktunya Telah Tiba

-

Sambil membelakangi papan tulis, Masuzu menyatakannya dengan tegas,

"Yak, waktunya tiba."

"Apa itu meong?"

Ucap Chiwa, sembari mengunyah roti kari di mulutnya. Dia selalu makan, tapi kenapa dia tidak meninggi juga?

"Waktu? Waktu untuk apa?"

"Tentu saja waktu bagi Harusaki-san untuk menyatakan cinta pada Sakagami-senpai."

"Hah?"

"Karena dua insiden terakhir itu, poin cinta Sakagami-senpai pasti sudah meningkat pesat. Menurut perhitunganku, dia seharusnya sudah berada di level terpincut."

Serius ...?

"Mau kamu bilang apa, itu masih terlalu cepat, 'kan? Bahkan orang-orang menganggap kalau yang sebelumnya itu sebagai sebuah sketsa komedi."

"Eh?! Yang benar?"

Ah, betul juga. Chiwa masih belum tahu.

"Soal itu, biar bagaimanapun, hal tersebut tampaknya punya efek positif."

Menggunakan kalimat itu sebagai permulaan, Masuzu melanjutkan,

"Sakagami-senpai kabarnya adalah penggemar berat komedi. Dia sangat suka dengan sketsa komedi, baik itu mengenai gitar ataupun tentang kehidupan terdahulu. Bahkan kudengar kalau dia begitu ingin menyaksikannya sendiri, walau akhirnya dia menyesal karena tidak bisa melakukannya. Tampaknya dia pun menganggap kalau Harusaki-san itu orang yang sangat menarik."

"Apa ini yang namanya berkah tersembunyi?"

Setelah gagal menjadi gitaris ataupun prajurit dari kehidupan terdahulu, pada akhirnya sosok yang melekat adalah sebagai seorang pemain sandiwara?

... kalau begitu, semua yang sudah kami lalui, kerja keras kami ....

"Sket-sketsa komedi...? Padahal aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku dalam berakting .... Tapi mereka menganggap itu sebuah sketsa komedi ...?!"

Kehilangan kata-kata, Chiwa tiba-tiba merebahkan tubuhnya ke atas meja. Dia mirip seperti Masuzu kala itu, terguncang oleh anggapan tersebut.

"Tentunya kita tidak sedang berada dalam posisi tidak bisa kabur dari pertarungan, karena itulah—"

"Hei,tunggu sebentar."

Aku langsung menghentikan Masuzu segera setelah mendengarkan kata-katanya.

"Meski sketsa komedi itu benar-benar populer, tidak mungkin hal itu akan berujung pada cinta pandangan pertama. Apalagi dia itu senpai yang sangat populer dan selalu dikelilingi banyak gadis. Menurutku mustahil dia bisa langsung terpikat."

Karena itu adalah pernyataan cinta, persiapan supaya berhasil itu perlu.

Jika dia ditolak, kita akan kembali ke titik awal dan semua ini akan sekadar menjadi jalan memutar.

"Yang kamu katakan tadi terdengar masuk akal."

Aku selalu berpikir kalau Masuzu tidak akan sependapat denganku, itu sebabnya aku tidak menduga kalau dia akan mengangguk dan lanjut berkata,

"Eita-kun, dalam pandanganmu, kira-kira berapa kemungkinan kita berhasil?"

"Paling besar, ya satu atau dua persen."

"Kita butuh setidaknya lima persen sebelum berharap ini akan berhasil. Kita harus bekerja lebih keras, dan memikirkan sebuah strategi perang—"

"Tunggu!"

Chiwa berdiri dan mengangkat tangannya.

"Akan ku-kucoba menyatakan cinta padanya."

"... kamu serius?"

"Meski nantinya ditolak, kita bisa memikirkan rencana baru! Ini juga akan jadi pengalaman yang bagus, entah itu berhasil atau gagal. Ayo kita coba!"

"Yah, keputusan soal ini ada di tanganmu. Apa kamu percaya diri dengan itu?"

"Mana mungkin. Iya, 'kan?"

Chiwa tersenyum, tak peduli sedikitpun.

Masuzu menggumam pada dirinya sendiri;

"Rasanya seolah dia ingin ditolak saja."

"Bukan begitu! Orang bodoh macam apa yang berpikir kalau mereka akan kalah sebelum berusaha?"

Tanpa sengaja Chiwa menyangkal anggapan tersebut sambil kebingungan.

Hmm .... Baiklah, tidak apa-apa.

Yah, karena mereka sudah membuat keputusan, maka tidak ada lagi kesempatan untuk menyela.

"Lalu, bagaimana caramu menyatakan cinta?"

"Lebih baik Harusaki-san jangan mengatakannya secara langsung. Kalau tidak, itu akan jadi seperti waktu kita latihan menyatakan cinta tempo hari. Jika sedikit saja dia gugup, maka itu akan langsung gagal."

Benar, Chiwa sangat gugup dan gelisah sewaktu di atap dulu.

"Kali ini berbeda! Kali ini aku tidak akan gugup!"

"Lalu, kenapa saat itu kamu gugup?"

"Soalnya waktu itu latihannya bersama Ei-kun ...."

Wajah Chiwa memerah saat dia menatapku.

Ada apa ini?

Kenapa dia jadi gugup saat berlatih denganku? Padahal kami sengaja memutuskan kalau latihannya akan dilakukan bersama teman.

"Singkatnya, jangan menyatakan perasaanmu secara langsung. Letakkan surat cinta di loker sepatu, seperti cara lawas."

"Hmm ..., itu cara yang bisa diandalkan."

Chiwa hanya sedikit mengangguk.

Setelah menghabiskan dua jam penuh, kami bertiga sibuk merangkai isi surat hingga jam pelajaran terakhir sebelum sekolah usai.

-

Kepada Sakagami Takuya-sama,

Maaf tiba-tiba menulis surat ini padamu.

Aku murid kelas 1-5, Harusaki Chiwa.

Sejak masuk ke SMA ini, aku sudah menyukaimu.

Jika kamu tidak keberatan, tolong temui aku.

Sekitar pukul lima hingga enam sore ini, akan kutunggu di atap sepulang sekolah.

Jika kamu tidak memiliki perasaan yang sama, tolong abaikan surat ini.

Jika itu yang terjadi, maka aku akan menyerah dan melupakannya.

-

"Apa kamu tidak merasa kalau ini kesannya terlalu dingin?"

Ketika aku menyatakan pendapatku, Masuzu langsung menjawab,

"Tidak, jika suatu artikel ditulis dengan terlalu antusias, itu bisa gampang membuat pihak lawan mundur dengan efek kebalikan. Sesuatu seperti ini harus segar dan renyah dengan isi yang lebih baik."

Karena dialah yang memikirkan lebih dari setengah isi surat dan bertugas menulisnya, Masuzu terlihat begitu percaya diri.

"Tapi kalau kamu memintanya agar mengabaikan surat itu jika tidak tertarik atau menyerah dan melupakannya, kesannya seolah kamu tidak punya keyakinan."

"Ini supaya ketika semua sudah selesai, dia tidak akan mendapat kesan telah terlibat dalam sebuah kekacauan. Lebih mudah membuatnya tampak seolah kamu ingin berteman."

Eh ....

Begitukah?

"Chiwa, apa menurutmu tidak apa-apa?"

Chiwa terlihat melamun.

Termangu, dia menatap dasar cangkirnya yang kosong.

"Eh, ah, um, ah? Tulisan tangan Natsukawa bagus sekali."

"Maksudku bukan itu .... Menurutmu bagaimana isinya?"

"Uh, menurutku tidak masalah?"

Ada apa dengannya?

Sekarang dia mulai gugup?

"Besok pagi sesampainya di sekolah, letakkan surat ini di loker sepatu senpai, paham?"

Chiwa lalu menerima amplop cantik berwarna merah jambu tersebut dan mengangguk.

Jadi, apa yang akan terjadi kemudian?


XXX


Hasilnya langsung diketahui.

Seperti yang tertulis disurat, Sakagami-senpai datang ke atap tepat pukul 5 ....

"Aku terima."

"Eh?"

Si senpai menatap Chiwa yang mematung, dan berbicara sembari tersenyum,

"Aku juga selalu berpikir kalau Harusaki-san itu sangat manis."

"Ya-yang benar?"

"Aku mendengar banyak tentangmu dari adikku. Dia bilang kamu bermain gitar?"

"Ah, hmm, anggap saja begitu."

Bohong, kamu sama sekali tidak bisa memainkannya!

"Aku juga dengar kalau kamu saat ini sedang bertarung melawan musuh kuat yang tidak dikenal?"

"Oh, eng, itu. Aku sudah menyelesaikannya ...."

Sejak awal memang tidak ada yang namanya musuh!

"Gadis sepertimu sangatlah menarik. Kamu punya sisi misterius."

Apa ada yang tidak beres di kepalanya senpai?

"Kalau begitu, bagaimana jika kita ke bioskop Minggu ini? Katakan saja padaku yang ingin kamu tonton, Chihuahua-chan?"


—kejadian di atas adalah yang diceritakan Chiwa pada kami.

Setelah selesai berbicara, Chiwa duduk di kursinya dengan linglung.

Dia masih tidak percaya kalau pernyataan cinta itu bisa berhasil.

Benar, bahkan aku pun agak sulit memercayainya.

Biar bagaimanapun, Chiwa akhirnya punya pacar!

... tidak, dia itu sudah SMA. Jika hanya dilihat dari keadaannya, tidaklah mengejutkan kalau akhirnya dia punya pacar.

Kepalaku hanya tidak bisa mengikuti betapa cepat segala sesuatunya berubah.

Sebenarnya aku ingin memberinya selamat, tapi entah kenapa aku tidak mampu mengatakannya.

Dulu ketika dia mendengar kalau aku punya pacar, mungkin Chiwa juga merasa seperti ini. Setelah mengalaminya sendiri, kurasa itu masuk akal. 

"Berhasil!"

Masuzu menuliskan kata Luar Biasa besar di papan tulis.

"Kemenangan dalam sekali tembak! Ini adalah sebuah keberhasilan besar bagi Komunitas Gadis Remaja demi Menampilkan Pribadinya! Dengan seluruh waktu yang sudah kita habiskan dalam kegiatan klub, akhirnya kita meraih dan memperoleh hasil yang jelas. Sebagai ketua, tidak ada lagi yang lebih memuaskan dari ini."

Sambil mengepalkan kedua tangannya, seluruh tubuh Masuzu bergetar hebat sewaktu dirinya menatap langit-langit.

Tampak kalau dia sangat bahagia.

Jika kami membiarkannya lebih lama lagi, mungkin dia akan mulai berkeliling sambil menari. Sebenarnya aku mau melihat hal semacam itu.

"Meski kamu bilang seluruh waktu yang sudah kita habiskan dalam kegiatan klub, kenyataannya hanya baru beberapa minggu, 'kan? Lagi pula, sejak kapan kamu yang jadi ketuanya?"

"Jangan merusak suasana selagi aku merasa sesenang ini!"

Meskipun cemberut, Masuzu tetap terlihat sangat bahagia.

"Selain karena pesona Harusaki-san, keberhasilan ini juga membuktikan ampuhnya buku catatan dia. Eita-kun juga punya alasan untuk merasa senang, 'kan?"

"Ter-ter-terserah! Itu tidak ada hubungannya denganku!"

"... anu, ah ...."

Chiwa yang hanya sedari tadi diam, tiba-tiba membuka mulutnya dan berbicara,

"Orang yang menulis buku catatan itu adalah cinta pertama Natsukawa, 'kan? Kurasa dia pasti orang yang hebat."

"... ah!"

Apa maksudnya itu?

Aku tidak bisa begitu saja menutup telinga akan hal itu.

"Orang-orang semacam dia hanya bisa menulis delusi ataupun hal-hal aneh! Apanya yang hebat?!"

Sewaktu aku berseru sekeras itu, Chiwa pun menatapku bingung.

"Jujur saja, aku tidak terlalu mengerti isi buku catatan itu, tapi menurutku bagian gitar dan kehidupan terdahulunya sangatlah keren."

"Ya-yang benar?"

Begitulah ....

Itu hal yang wajar.

Begitulah sebenarnya reaksi yang wajar.

Namun Chiwa menggelengkan kepalanya lalu berkata,

"Tapi ..., bukankah kenyataannya dia tidak malu maupun ragu untuk mempercayai hal-hal keren tersebut? Kurasa bagian itulah yang membuatnya keren."

"... apa-apaan itu?"

Orang yang sepenuhnya yakin bahwa hal itu keren, dianggap keren?

Tapi, yang menulis seperti itu adalah diriku waktu SMP?

Dianggap terlalu keren begitu, aku jadi merasa sangat malu.

Aku yang sekarang sama sekali tidak memercayai hal-hal tersebut.

Aku bahkan merasa kalau itu adalah sebuah aib dalam hidupku.

"...."

"Natsukawa, terima kasih."

Chiwa menyodorkan tangannya berjabat dengan Masuzu.

"Berkat kamu dan cinta pertamamu, aku berhasil meraih tujuanku."

"Tapi kenapa kamu tidak terlihat senang?"

Masuzu lalu menjabat tangan Chiwa sambil memiringkan kepalanya karena bingung.

"Ini tidak seperti dirimu saja. Kalau secara terang-terangan kamu bilang, Aku punya pacar, hore! itu malah terkesan lebih wajar."

"... ahahaha, benar juga, hahaha."

Chiwa tertawa.

Namun ....

Dia tidak terlihat ceria.


XXX


Makan malam hari itu, semua makanan favorit Chiwa sudah tersaji di atas meja.

Daging goreng masak bawang, ayam salad banbanji, dan perkedel daging.

Menu ini untuk merayakan keberhasilannya serta untuk mendoakan kencan pertamanya di hari Minggu nanti.

Meski begitu, Chiwa justru tidak memakannya. Biasanya, sumpitnya akan terjulur untuk mencuri perkedel dagingku.

Kami pun tidak bisa membuka pembicaraan dan suasana di meja terasa hening. Bahkan suara anjing mengonggong di kejauhan sampai bisa terdengar.

... ini bukan makan malam perayaan, tapi lebih seperti acara pemakaman.

Aku mencoba bicara dengan nada ceria,

"Po-pokoknya, itu sangat luar biasa! Kamu berhasil meraih tujuanmu."

Chiwa lalu mengangguk pelan dan berkata,

"Aku mendapatkan senpai terpopuler di sekolah, jadi anggap saja kalau akhirnya kini aku populer."

"Iya."

Meski dalam kenyataannya, butuh banyak lelaki yang mengejar sebelum gadis itu bisa disebut populer.

Namun dalam hal ini, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Iya, 'kan?

"Jika kabar ini tersebar, para gadis akan sangat iri padamu. Para lelaki pun akan memandangmu dari sisi berbeda dan tidak ada lagi yang berkata, Maaf Chihuahua, padamu lagi dari sekarang."

"Biarpun begitu, penggemar senpai juga akan membenciku. Apa mereka akan ramai-ramai menyerangku?"

"Tidak masalah. Jika itu kamu, kamu bisa menyerang balik mereka."

"Ahahaha, begitukah?"

Setelah itu obrolan pun berakhir, dan ruang tamu kembali menjadi hening.

Eh ....

Kenapa sulit sekali menghidupkan suasana di sini?

"... apa benar tidak masalah?"

Gumam Chiwa dengan keras.

"Eh?"

"Soal aku yang berpacaran dengan senpai, apa Ei-kun tidak keberatan?"

"Kamu bicara apa? Bukankah kita mendirikan klub itu untuk tujuan ini? Bahkan kita sudah merencanakan bermacam strategi dan berusaha keras untuk meraih tujuanmu."

"... klub para gadis. Mulai dari sekarang, akan jadi apa klub itu?"

"Kita akan menghentikan kegiatan sementara. Lagi pula, kita sudah mencapai tujuan kita."

"Jadi begitu ya .... Aku merasa agak hampa."

"Yah, aku justru tenang, akhirnya aku bisa berkonsentrasi belajar."

Chiwa meletakkan sumpitnya, padahal dia belum menghabiskan setengah dari makanannya.

Dia lalu menunduk dan berkata,

"Ei-kun sungguh tidak keberatan walau apa pun terjadi padaku?"

"Apa?"

"Benar juga. Bagaimanapun, Ei-kun adalah pacar Natsukawa Masuzu."

Kata-katanya jelas begitu getir.

"... apa? Aku sudah berusaha keras membantumu menjadi populer, 'kan? Bukankah kamu yang bilang ingin merasakan romansa seperti yang ada di manga cewek? Untuk tujuan inilah kamu berusaha begitu keras, 'kan?"

"Ya, aku sudah berusaha mati-matian."

"Dan inilah hadiah atas kerja kerasmu. Jadi apa lagi yang mengganggu—"

"Ini bukan hadiah!"

Teriak Chiwa setelah mengangkat kepalanya.

"... eh?"

Apa maksudnya itu?

Jangan bilang kalau kekaguman satu senpai saja tidak cukup.

"Tidak masalah? Bagi Ei-kun tidak masalah jika aku mulai pacaran dengan lelaki lain? Ke depannya mungkin aku tidak bisa lagi makan malam denganmu!"

"Kalau soal itu ...."

Tidak.

Mungkin itu benar.

Meski kami adalah teman sedari kecil, tidak peduli seberapa akrabnya, jika dia tahu kalau Chiwa selalu makan malam dengan lelaki lain, mungkin senpai akan berpikir yang tidak-tidak.

Meja makan tanpa Chiwa.

Makan malam sendirian.

... entah kenapa, rasanya sedikit kesepian.

Tapi ....

"A-akan kuatasi hal itu!"

Aku berusaha tegar di depan Chiwa.

"Biar bagaimanapun, setelah melalui berbagai masalah, impianmu akhirnya menjadi nyata."

Ucapku.

Lalu aku tersadar ....

Mata Chiwa yang besar itu sudah berkaca-kaca.

Air mata tiba-tiba meluap di sudut matanya dan perlahan berlinangan ke pipinya.

"... bodoh!"

Chiwa lalu berulang kali mengucapkannya sambil menangis:

"Bodoh, bego, beloon! Ei-kun bodoh!"

Persis seperti malam sewaktu memutuskan ingin menjadi populer, dia memanggilku dengan serangkaian umpatan.

Suaranya bagai raungan binatang, dan tampak segera dikuasai oleh kelemahan bak anak anjing.

"O-oi, Chiwa ...?"

"Bodoh! Aku benci Ei-kun! Aku benci sekali denganmu!"

"Apa maksudmu?"

"Aku benci menjadi teman sedari kecilmu, Ei-kun! Andai aku hanya murid biasa, yang juga punya hubungan biasa denganmu, aku tidak akan semenderita ini! Tidak ada gunanya menjadi temanmu sedari kecil!"

"... eh?"

Apa?

Dia tidak ingin menjadi teman sedari kecilku?

"Ke-kenapa tiba-tiba kamu bicara begitu? Kita sudah saling kenal sejak masih kecil. Kita ini sudah seperti kakak lelaki dengan adik perempuannya, 'kan?"

Chiwa memandangku dengan mata yang merah.

"Kamu salah! Aku kakak perempuanmu yang lebih tua tiga bulan sepuluh hari!"

"Kenapa tiba-tiba sekarang kamu mempermasalahkannya? Oke! Kita bisa menjadi kakak perempuan dengan adik lelakinya. Intinya, kita ini sudah seperti keluarga."

"Itu sebabnya aku jadi benci, seperti yang kubilang tadi!"

Dia lalu menangis keras.

Apa ...?

Ke-kenapa ekspresinya menjadi seperti itu?

"Ku-kumohon, kumohon jangan menangis. Oke? Chiwa, jangan menangis!"

"Mana mungkin aku bisa! Bodooooooh!"

Chiwa pun melontarkan kata-kata itu sambil menangis, lalu bangkit berdiri.

Belum aku sempat menghentikannya, dia sudah berlari keluar menuju koridor.

Aku masih berdiri terdiam, tanpa punya kesempatan untuk mengejarnya.

"... ada apa ini ...?"

Apa aku sudah berbuat salah?

Kalau dipikir-pikir ....

Apa aku sudah berbuat sesuatu yang menyakiti Chiwa?

Memang, semenjak Jien-Otsu terbentuk, semua yang sudah kulakukan adalah demi diriku sendiri. Aku tidak akan menyangkalnya.

Namun itu juga demi Chiwa.

Semua itu agar Chiwa bisa mendapatkan pacar.

Sementara Jien-Otsu berhasil mencapai tujuannya, aku pun akhirnya bisa berkonsentrasi belajar ....

Mestinya itu menguntungkan kami berdua.

Tapi Chiwa menangis tersedu-sedu.

Apa aku sudah salah mengira?

Serius, di mana salahku?

Aku tidak bisa melihat logika dari hal tersebut. Ini memalukan. Meski aku sudah giat belajar, kecenderungan bawaanku tidak akan berubah, paham?

Namun, satu hal yang jelas.

"Aku sudah membuat Chiwa menangis."

Sial!

Kenapa aku jadi sedepresi ini?

Kenapa aku jadi sesedih ini?

Bukankah ini hal bagus? Mungkin ini adalah kesempatan yang tepat untuk menyelesaikan hubungan yang membawa sial ini. Sejak awal pun, hal tersebut sudah membebani Masuzu sebagai faktor tidak menentu. Jika Chiwa si pembuat masalah menjaga jarak dariku, bisa saja kehidupan sekolahku menjadi lebih stabil.

Dia benar-benar gadis berisik menyusahkan yang tidak ada duanya.

"Tidak mungkin aku sanggup berbuat sesuatu seperti itu ...."

Di piringnya, Chiwa menyisakan separuh perkedel daging yang belum selesai dimakan.

Selain itu, sup miso potpouri dan nasinya yang baru selesai dimasak, dia tinggalkan tanpa disentuh.

Saat aku melihat hidangan beruap itu perlahan menjadi dingin, hatiku pun ikut terasa dingin.

Menyaksikan hal ini ..., aku tiba-tiba teringat sesuatu ....

"Ah, benar."

Tepat sekali.

Aku pernah mengatakannya, 'kan?

Kaoru juga mengatakan sesuatu tentang itu, kan?

Chiwa adalah keluarga.

Kehilangan anggota keluarga.

Tentu rasanya menyakitkan ....

....

Malam itu aku bermimpi.

Itu adalah mimpi tentang masa lalu.

Saat itu adalah awal musim gugur tahun lalu — sesuatu yang terjadi pada semester dua saat aku kelas tiga SMP.


XXX


Di hari ketika langit baru saja menggelap, aku terduduk di kursi ruang tamu tanpa ada satu pun lampu menyala.

"Jadi rumahku selalu sebesar ini, ya ...?"

Sudah sekitar sebulan semenjak ayah dan ibuku menghilang, dan aku ditinggal sendiri.

Meski para kerabat telah mencari keberadaan orang tuaku, namun mereka tidak bisa menemukannya, dan suasana kini diisi oleh kesan ingin menyerah. Bahkan sudah kudengar kalau mereka mulai berdiskusi tentang, Siapa yang akan menjadi waliku?

Tidak, itu lebih tepatnya seperti, Pada siapa aku akan dibuang?

Aku tidak berpikir kalau mereka itu kejam. Bagaimanapun, itu adalah reaksi yang wajar. Mereka punya kehidupan sendiri, jadi siapa juga yang tiba-tiba ingin mengasuh seorang anak SMP? Karena aku diharuskan berada di bawah penjagaan kerabat, jadi ini merupakan tugas yang sangat sulit. Aku tidak pernah mendengar soal si Saeko ini, seorang bibi lajang yang akan merawatku, harapan terlihat agak redup.

Aku sudah tidak punya keluarga.

Aku harus bertahan hidup sendiri.

"Sudah waktunya makan malam."

Dapur dipenuhi dengan tumpukan kardus kosong mi instan dan bento dari minimarket. Makanan semacam itulah yang belakangan ini kumakan. Jika mengingat kembali hari itu, aku bahkan pernah makan dari wadah plastik, rasanya agak tidak menyenangkan.

Dan di saat itu, sebuah suara datang dari koridor.

"Yahoo .... Ei-kun ...!"

Aku berbalik dan melihat wajah Chiwa yang menempel di kaca.

Dia sedang mengenakan piyama rumah sakit. Meski sekarang sudah musim gugur, dia tampak berkeringat.

"Ba-bagaimana caranya kamu bisa ke sini!?"

Aku langsung berlari membuka jendela.

Kulihat tangan kanannya bertumpu pada tongkat selagi dia menggaruk kepala dengan tangan kirinya. Dia tertawa, "Tehehe," saat mengucapkan,

"Aku tidak sengaja ke sini."

"Bisa-bisanya kamu bilang tidak sengaja? Seharusnya kamu masih di rumah sakit, 'kan? Omong-omong, kamu bisa berjalan?"

Sejak mengalami kecelakaan saat bulan Juni kemarin, Chiwa dirawat di rumah sakit.

Bulan lalu saat aku datang menjenguknya, dia masih tidak bisa bangkit dari ranjang dan terlihat sangat kesakitan ....

"Yah, aku bisa berjalan, tapi kaki ini masih ada yang mengganjal. Mereka belum boleh melepas gipsnya. Nih, coba lihat!"

Dia lalu menaikkan kaki kanannya dan memperlihatkannya padaku.

"Hari ini, aku memanfaatkan sesi latihan berjalan dan menuju ke rumah Ei-kun."

"... memangnya kamu dapat izin pergi?"

"Eh .... Sudah lama aku tidak mencium bau Ei-kun, bau rumah Ei-kun~"

"Kamu tidak dapat izin, 'kan? Pasti kamu menyelinap keluar!"

Chiwa dengan terampil menggunakan tongkatnya lalu masuk ke ruang tamu tanpa permisi.

Persis seperti biasanya Chiwa bertingkah.

"Astaga, kamu ini memang sembrono ...."

Bersama dirinya yang terus berbicara, aku pun menghela napas lega.

Aku sangat bersyukur.

Bagaimanapun juga, di situasi semacam ini, jika keadaan Chiwa sangat buruk, mungkin aku tidak akan mampu menahannya.

Meski keluargaku tidak akan pernah bisa seperti dulu.

Tapi setidaknya, kuharap Chiwa bisa kembali tersenyum seperti dulu.

"Sepertinya pemulihanmu berjalan lancar. Kapan kamu bisa keluar dari rumah sakit?"

"Mungkin bulan depan saat gipsnya dilepas?"

*buuf* Chiwa lalu duduk di sofa.

"Setelah itu, aku akan memulai rehabilitasi dan perlahan memulihkan kekuatanku lewat latihan. Dokter bilang kalau tahun ini aku bisa kembali berjalan seperti dulu."

Terima kasih sudah menghawatirkanku! Chiwa tersenyum dan tampak mengisyaratkan itu sambil sedikit membungkuk.

"Itu ... bagus! Itu benar-benar kabar yang sangat bagus!"

Aku sangat bahagia.

Rasanya seolah aku belum pernah tertawa setulus ini dalam waktu yang lama.

"Yah, begitu kamu masuk SMA, Chihuahua sang pengguna pedang akan bangkit sekali lagi. Jika aku tidak salah ingat, kamu juga akan ke SMA Hane, 'kan? Kudengar kegiatan klub di sana diberi perhatian lebih, kamu pasti bisa masuk sebagai tim reguler."

"... itu ...."

Ucap Chiwa dengan sebuah senyum,

"Aku tidak akan bisa berlatih kendo lagi."

"Eh?"

Aku menolehkan kepalaku dan menatap wajah Chiwa.

Dengan senyum riangnya yang sering kulihat sejak kecil, tercampur bayangan samar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

"Aku benar-benar tidak boleh melakukan latihan instens lagi. Dokter bilang kalau kondisi tulang punggung bagian bawahku tidaklah bagus. Tentu aku akan berusaha sebaik-baiknya untuk melakukan rehabilitasi, meski begitu, mulai sekarang aku harus merelakan kendo dari diriku."

"...."

Aku berpikir, Jadi seperti ini rasanya ketika seseorang berhenti berpikir?

Karena sewaktu pertama kali kami bertemu, Chiwa sudah memegang shinai.

Mulai dari pagi buta, dia akan berlatih di halaman, menganggu tidurku.

Dalam perjalanan pulangnya, zirah besar yang dia bawa akan membuat suara *krak krak krak* sambil mengejarku, lalu bertanya, "Pulang bareng, yuk?"

Sebelum kompetisi, Chiwa akan memasang ekspresi serius pada wajahnya seolah dia orang yang berbeda, sebegitu seriusnya hingga membuatku terkejut.

Aku tidak akan pernah melihat hal itu lagi ...?

"Yah, dokter itu pasti salah, dia pasti salah!"

Kuayunkan tinjuku sembari mati-matian menyangkal.

"Sebaiknya kamu mencari dokter yang le-lebih baik! Pengoceh itu pasti dokter palsu. Iya, 'kan?"

"Ayahku bilang kalau dia adalah salah satu dokter terbaik di kota."

"Bohong! Dia pasti seorang penipu! Seorang dokter yang bisa berkata seperti itu ... 100% pasti penipu!"

Chiwa tidak menjawab, dan hanya tersenyum, lalu berekspresi seolah berkata, Ah, yang benar ...?

"Sudahlah, jangan membahasku. Bagaimana denganmu, Ei-kun?"

"Eh?"

"Ei-kun sendiri, nantinya bagaimana?"

Aku menoleh dan menjawab:

"Ah .... Yah, sebentar lagi kita juga akan tahu."

"Kamu tidak akan menghilang begitu saja, 'kan?"

Chiwa menatap wajahku dengan gelisah.

"... ah."

Sampai di titik ini, akhirnya aku pun mengerti ....

Kenapa dia sampai menyelinap keluar dari rumah sakit lalu datang kemari.

"Kamu tidak akan pergi, 'kan? Ei-kun tidak akan pergi ke mana-mana, 'kan?"

Alhasil, kucoba menunjukkan senyum terbaikku lalu berkata,

"Memangnya mau ke mana? Selain di sini, di mana lagi rumahku?"

"Ya ..., i-iya, lah!"

Kami pun tertawa sambil saling berpandangan.

"... benar juga, kamu belum makan, ya? Apa ada pantangan yang tidak boleh kamu makan?"

"Tidak, aku tidak punya pantangan kalau soal makan."

"Kalau begitu aku akan memasak sekarang, setelah itu kita bisa makan bareng."

"Memasak yang kamu maksud itu ..., apa mi instan?"

"Bodoh. Tentu saja memasak sungguhan. Kamu sedang ingin makan apa?"

Chiwa sampai membelalakkan matanya.

"Ei-kun, memasak? Memangnya bisa?"

"Tentu saja, lelaki zaman sekarang harus bisa memasak! Akan kumasakkan apa pun yang kamu mau."

"Ka-kalau begitu, perkedel daging!"

Setelahnya, kami berdua lalu pergi berbelanja.

Aku terus membolak-balik buku resep tanpa henti, untuk mencari resep perkedel daging.

Chiwa berguling dan tertawa di meja.

"Warna perkedel dagingnya kuning kehijauan!"

"Salah, karena belakangan ini kita belum makan sayuran, jadi kutambahkan kacang polong."

"Tapi ini malah jadi jenis makanan lain!"

Dia benar ....

Karena daging cincangnya hancur, masakan ini justru menjadi tumis daging babi dengan kacang polong dan bawang bombay. 

"Sial! Kubiarkan kamu tertawa sekarang. Aku hanya belum menunjukkan keseriusanku! Jika aku benar-benar serius, hidangan apa pun itu, akan gampang!"

"Itu baru semangat, Ei-kun! Suatu hari nanti kamu pasti akan membuatkanku perkedel daging yang enak!"

"Percaya saja padaku!"

Kami pun bersulang dengan jus buah.

Kami lalu memakan makanan yang tampak mirip perkedel daging itu sambil bertengkar satu sama lain.

"Begitu masuk SMA nanti, aku harus menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada kendo. Itu harus lebih seru dan menarik perhatian orang ketimbang shinai!"

"Yah, kamu harus mencarinya. Lagi pula kamu itu murid SMA, dan bukan SMP lagi. Aku yakin kamu akan menemukan sesuatu."

"Kalau Ei-kun sendiri? Apa yang akan kamu lakukan setelah masuk SMA?"

"Ehh .... Aku ...."

Setelah berpikir sejenak, aku lalu berkata,

"Tidak ada yang begitu ingin kulakukan."

"Tidak ada?"

Dengan kondisiku saat ini, aku bahkan tidak tahu apa bisa masuk SMA.

Aku sudah mempertimbangkan dengan serius untuk mencari kerja setelah lulus SMP.

"Intinya, tujuan dan cita-cita itu mengganggu, ditambah, aku ini orangnya malas."

"Tidak, itu tidak benar!"

Chiwa memukul meja dengan tangannya yang masih memegang sumpit.

"Soalnya kamu belum pernah melibatkan diri pada apa pun, makanya kamu anggap itu percuma! Padahal kegiatan SMA itu sulit! Apa tidak ada yang membuatmu tertarik?"

Jika ditanya begitu ..., mungkin jawabannya membaca manga, menonton anime dan melamunkan hal-hal semacam itu. Lalu akan begitu saja kutulis di buku catatanku.

Bahkan dengan berbagai hal tersebut, belakangan aku tidak mampu mengumpulkan energi maupun minatku.

Itu karena kini aku mengerti bahwa harapan dan fantasi itu tidak ada apa-apanya di hadapan realita.

"... jika itu soal akademis, maka aku ingin menjadi seorang dokter."

"Dokter? Kenapa?"

"Mungkin supaya aku bisa menyembuhkanmu."

Bagiku, hanya gagasan inilah yang tiba-tiba terlintas di kepalaku.

Jika aku bisa meraih hal bagus ..., itu sudah seperti salah satu harapanku yang tidak layak disebutkan.

Tapi ....

"Oi, Chiwa?"

"Dasar bodoh ...."

"Ke-kenapa kamu menangis? Waduh."

"Bodoh .... Ini karena ... yang kamu katakan tadi, tahu? Padahal kamu hanya seorang Ei-kun ...."

Kulihat air mata Chiwa berlinangan dan merasakan ada hal yang menyentuh sedang menyeruak keluar.

... aku tidak punya satu pun harapan.

Aku hanyalah pria yang suka menghela napas, monoton, menyedihkan, sering bimbang, dan memalukan. Hanya dengan melihat bagaimana kendo telah direnggut dari Chiwa, dan dia masih dipenuhi harapan, aku akhirnya memahami diriku.

Tapi, bisakah aku menjadi diri yang lebih baik?

Orang sepertiku ... ingin menjadi seperti Chiwa dan kembali punya harapan ....

"Sudah kuputuskan."

Aku langsung berdiri dengan penuh semangat.

"Sudah kuputuskan kalau aku akan menjadi seorang dokter! Di SMA nanti aku akan bekerja keras dan menjadi murid nomor satu SMA Hane. Kemudian aku akan mendapatkan kualifikasi untuk mengikuti ujian masuk Sekolah Kedokteran!"

Chiwa berkedip dengan mata memerah dan berkata,

"Tapi, bukankah peringkat Ei-kun hampir ada di urutan menengah ke bawah ...?"

"Aku akan serius di SMA nanti! Hal-hal seperti peringkat dan kualifikasi itu gampang didapat walau tanpa orang tua! Aku pasti akan menyembuhkanmu!"

"... sungguh?"

"Ya, aku sungguh-sungguh! Kemajuan ilmu kedokteran sedang berkembang pesat! Saat kita sudah dewasa nanti, teknologi medis pasti akan jauh lebih maju dibandingkan sekarang .... Eh, tunggu, bahkan mungkin akulah yang akan menciptakan kemajuan tersebut!"

... aku yang dulu memang sangat bodoh, tidak layak untuk diperbandingkan.

Tapi aku punya semangat.

Semangat yang tanpa makna.

Hasrat yang tiada berguna.

Namun, itu baru setahun yang lalu.

Chiwa menangis saat berbicara menghadapku,

"Terima kasih Ei-kun. Aku akan selalu, selalu menunggumu."


Read more ...»