Tampilkan postingan dengan label Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru. Tampilkan semua postingan

Oregairu 2 Bab 1 Bagian 6

On Senin, 21 Desember 2015 0 komentar

==========================================================
Bingung mau komentar apa...
Oiya, Saize itu singkatan dari Saizeriya, restoran italia yang terkenal di Jepang sana... Untuk berikutnya, sepertinya bakal sering ketemu dengan kata Saize...
Satu lagi, ane lupa persisnya, tapi ada saat di mana Yui waktu itu ditanya mau kuliah di mana, dan dia jawab mau masuk jurusan seni liberal... Mungkin karena cerita di bagian ini alasannya...
Untuk bab berikutnya ane selesaikan langsung satu bab...
Atas request, ane bakal lanjutin SPS... Sebisanya... Hkhkhkhk...
Selesai juga satu bab...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 6



Sambil merangkul kepala Yukinoshita dan membelainya, Yuigahama berbicara, "Tahu enggak, Hikki? Aku cukup kaget saat tahu kalau kau ternyata rajin belajar, lo."

"Yah, aku belajar bukannya karena mau maju lewat pendidikan seperti murid-murid yang lain. Biar satu pun, tak ada bimbel musim panas yang kuikuti."

SMA Soubu di Kota Chiba memang didedikasikan bagi murid-murid yang berencana melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Alhasil, tingkat murid yang mendaftar ke perguruan tinggi itu cukup tinggi. Murid-murid lain yang sadar akan hal tersebut mungkin sudah punya bayangan soal ujian masuk sejak musim panas tahun kedua mereka di sekolah. Waktu semakin menipis ketika mereka cemas tentang apa harus mengikuti seminar pendidikan di Tsudanuma atau Pusat Bimbel Kawai ataupun sekolah di Inage-Kaigan.



"Oh, satu lagi," tambahku. "Aku sedang mengincar beasiswa untuk sekolah persiapan."

"... behasiswa?" ulang Yuigahama.

"Dalam kasusmu, kau tak perlu mengincar apa pun jika sudah mencapai titik batasmu," ujar Yukinoshita. "Kau lebih seperti limbah."

"Ada apa ini, Yukinoshita? Hari ini sikapmu jadi baik. Kupikir kau terang-terangan menolak hakku untuk hidup."

"Saran yang tepat," Yukinoshita menempelkan jarinya ke dahi, kesan jijik terlihat pada wajahnya.

"Oi, oi, behasiswa itu apa?"

Tampaknya Yuigahama telah lepas dari arah pembicaraan sejak di bagian beasiswa. Ampun, deh, Yuigahama.

"Beasiswa adalah dana yang kauperoleh atas usaha belajarmu," jelas Yukinoshita.

"Sekolah persiapan zaman sekarang akan membebaskan iuran pendidikan bagi murid-murid yang berprestasi," kataku. "Intinya, jika aku mendapat beasiswa, maka uang yang diberikan orang tuaku untuk membayar iuran tersebut akan beralih padaku."

Aku sedikit menari saat kenyataan itu menghampiri diriku. Di hadapan adikku yang sudah memandang jijik, aku mulai breakdance di kamar.

Orang tuaku akan beristirahat dengan tenang jika aku rajin belajar dengan niatan jelas dan memperoleh hasil untuk membenarkan investasi mereka. Dan aku bisa mendapatkan uang selagi aku melakukannya. Boleh dibilang, ini merupakan rencana ulung.

Namun kedua perempuan ini menatap penuh keraguan pada diriku. "Bukannya itu curang ...?"

"Ia takkan ambil pusing karena kau tak bisa menuntut tindakannya yang telah merugikan orang tua dengan memakai pendekatan berorientasi hasil untuk kelas yang diikutinya, dan itu hanyalah soal sekolah persiapan yang menerima murid berbeasiswa saja. Dikarenakan menyimpangnya kepribadian anak ini, kau takkan bisa menyebutnya curang," ucap Yukinoshita sinis.

Te-terus kenapa? Kebohongan kecil takkan menyakiti siapa-siapa.

Yuigahama menatap ke arahku. "Jadi itu rencana kehidupanmu, toh ...," gumamnya. Setelahnya, lengan baju Yukinoshita pun ia pegang lebih erat lagi.

Terkejut karena perlakuan Yuigahama yang lebih intens, Yukinoshita menatap tajam wajah perempuan itu dengan perhatian sesaat. "Ada apa ...?"

"Oh, eng ..., enggak juga, sih ...," jawab Yuigahama, tanpa membodohi siapa pun dengan tawa gugupnya. "Karena kalian anak yang pintar, aku jadi berpikir apa kita masih bisa bertemu lagi setelah lulus?"

"Tentu ...," ucap Yukinoshita sambil tersenyum kecil. "Aku salah satu orang yang tak ingin lagi bertemu Hikigaya."

Aku hanya mengangkat bahu ketika mendengarnya. Bingung karena kurangnya reaksi verbalku, Yukinoshita menatapku dengan pandangan aneh. Tak kusangka. Kali ini aku setuju dengan Yukinoshita.

Yah, orang-orang seperti itu memang ada di dunia ini. Mereka yang begitu giat belajar sehingga bisa masuk ke sekolah favorit justru terasingkan dari teman-teman SMP-nya. Tipe seperti mereka sudah memutuskan untuk membuang jauh masa lalu dan berjanji takkan lagi menemui teman-teman sekelasnya. Yuigahama kurang lebih menggambarkan jelas tipe tersebut.

Lalu ada pula orang-orang yang tetap akrab bersahabat dengan tetap saling berkomunikasi di kelompoknya. Lewat teknologi, mereka bisa menjaga secuil kedekatan di antaranya. Kebanyakan dari mereka yang menolak untuk tetap berhubungan justru berakhir sendirian. Yang ingin kusampaikan adalah kita hanya bisa menjaga komunikasi lewat telepon dan SMS saja, selebihnya tidak ada. Apakah yang seperti itu bisa disebut persahabatan? Kuyakin banyak yang beranggapan begitu. Itu artinya, bagi semua orang, ponsel bisa menangani segalanya, dan jumlah teman yang kita punya bisa disamaartikan dengan jumlah nomor kontak yang kita punya pula.

Yuigahama menggenggam erat ponsel-nya sembari sekilas tersenyum pada Yukinoshita. "Enggak akan ada masalah karena kita masing-masing punya ponsel. Kita masih bisa saling berhubungan!"

"Benar, tapi kuharap kau berhenti mengirimiku SMS setiap hari ...," jawab Yukinoshita.

"Eh?! Ka-kau enggak suka ...?"

Yukinoshita hening sesaat, memikirkan kata-kata yang tepat. "Rasanya sangat mengganggu."

"Jujur amat!"

... mereka berdua justru terlihat akur. Sejak kapan mereka seakrab itu sampai-sampai saling berkirim SMS? Lagi pula, tak bisa kubayangkan seperti apa SMS yang dikirim Yukinoshita. "Memangnya setiap hari kau mengirim SMS yang seperti apa?"

"Eng ...," gumam Yuigahama. "Yah, kayak, Hari ini aku makan kue sus, lo."

"Kujawab, Iya," ucap Yukinoshita.

"Yukinon, kau bisa buat kue sus, enggak?! Soalnya aku mau coba makan jenis kue yang lain!"

"Boleh."

"Keahlian mengobrol yang hebat, Yukinoshita ...."

Yukinoshita memalingkan pandangan seakan merasa bersalah. "Kurang ada manfaatnya," gumamnya. Menyedihkan, karena aku tahu yang dirasakannya.

Serius, apa sebenarnya yang ingin disampaikan di percakapan singkat itu? Pembahasan seputar cuaca sudah jadi hal pokok dalam percakapan, tapi itu akan berakhir setelah ada yang bilang, Cuacanya cerah, ya? lalu dijawab, Iya. Itu sama saja sewaktu menelepon lalu berkata, Hmm, eh, eng ..., ada bidadari lewat. Hehehe, suasana hening yang canggung mulai melanda setelahnya.

"Ya ..., aku tak terlalu mengurus kalau soal ponsel, sih," kataku. "Menurutku itu merupakan pemaknaan yang salah dari komunikasi."

Menurutku yang namanya ponsel ini adalah sebuah bentuk perangkat yang mempertegas perilaku penyendiri. Kita bisa mengabaikan ponsel kita ketika ada panggilan masuk, memblokir nomor, tak membalas SMS — hal semacam itu. Kita bisa memilih antara menerima atau menolak segala komunikasi tergantung suasana hati kala itu.

"Benar. Sang penerima diharuskan menjawab SMS ataupun panggilan masuk," Yukinoshita mengangguk setuju akan gumaman santaiku.

Ia cukup lumayan jika hanya dilihat dari wajahnya saja. Aku jadi terpikir, mungkin itulah alasan kenapa banyak anak yang menanyakan nomor ponsel maupun alamat surel-nya.

Bagiku, ada satu waktu ketika aku mengumpulkan semua keberanianku untuk menanyakan nomor ponsel dari seorang perempuan manis. Itu terjadi sewaktu aku masih jadi anak SMP yang lugu. Saat aku bertanya di mana rumahnya, ia menjawab, "Maaf, ya, bateraiku habis. Nanti saja aku SMS, ya?" masih menjadi misteri mengenai alasan ia tak pernah memberi tahu alamatnya dan tak mengirim SMS padaku. Hingga kini aku masih menunggunya ....

"Selain itu, aku tak mau melihat SMS yang membuatku jijik ...," aku Yukinoshita seolah ingin menambahkan.

"Hmm ...?" Yuigahama menempelkan telujuknya di dagu sambil memiringkan kepalanya. "Jadi artinya ..., SMS-ku membuatmu jijik, ya?"

"... aku tak berkata begitu." Yukinoshita, yang sedari tadi menatap ke arah Yuigahama, mengalihkan pandangannya. "Hanya terasa mengganggu saja," wajahnya lalu memerah. Menurutku itu adalah reaksi yang menggemaskan, tapi karena tak ada hubungannya denganku, jadi aku tak menghiraukannya.

Melihat ekspresi Yukinoshita, Yuigahama melompat dan mengeluarkan suara menggemaskan. Cukup misterius, Yukinoshita berbalik dengan wajah yang lebih lembut — ia benar-benar telah luluh. Sekali lagi, itu tak ada hubungannya denganku, jadi aku tak menghiraukannya.

"Oh, begitu. Rupanya ponsel enggak sesempurna itu," Yuigahama memeluk erat tubuh Yukinoshita, seolah meremukkan betapa rapuhnya ikatan mereka. "Aku akan giat belajar, deh .... Pasti luar biasa rasanya kalau bisa satu kuliah denganmu," ujarnya dengan suara pelan, tatapannya lalu tertuju ke bawah. "Kau sudah ada rencana mau kuliah di mana, Yukinon?"

"Belum, belum ada rencana pasti. Tapi setidaknya aku berencana masuk ke fakultas MIPA di perguruan tinggi negeri."

"Wah, kedengarannya intelek sekali!" tegas Yuigahama. Lalu ia melanjutkan, "Terus ..., kalau kau Hikki? Wa-wajar, dong, kalau aku bertanya juga."

"Jurusan seni liberal di perguruan tinggi swasta."

Senyum kembali terpancar di wajah Yuigahama. "Terdengar meyakinkan!"

Yang benar saja, reaksi macam apa itu? "Biar kutekankan, memelajari seni liberal di perguruan tinggi bukanlah hal sulit. Ayo minta maaf dulu sana, ke seluruh jurusan seni liberal di negeri ini. Kau dan aku bahkan ada di tingkatan yang berbeda."

"Oooh ..., ya sudah, aku akan lebih giat lagi!" Yuigahama lalu melepaskan pelukannya dari Yukinoshita. "Oke, semuanya sudah jelas. Mulai minggu ini kita akan belajar kelompok," terangnya dengan suara keras.

"... apa maksudmu?" tanya Yukinoshita ragu.

Yuigahama benar-benar mengabaikan pertanyaan itu dan segera melontarkan ide yang terorganisasi. "Kita enggak ada kegiatan klub sampai seminggu sebelum ujian, 'kan? Karena itu siangnya kita punya waktu senggang. Oh, Selasa boleh juga. Soalnya para guru minggu ini sedang jalan-jalan."

Astaga, jalan-jalan? Murid SMA macam apa yang sampai bisa berkata begitu?

Jalan-jalan yang Yuigahama bicarakan barusan adalah sebuah rapat dengan Dinas Pendidikan Kota. Karena para guru wajib untuk hadir, maka jam pelajaran dipotong dan kegiatan klub diliburkan.

Yah, bukan berarti aku setuju akan rencana Yuigahama. Yukinoshita, murid peringkat satu yang bercita-cita masuk ke fakultas MIPA di perguruan tinggi negeri, dan aku, murid peringkat tiga di pelajaran bahasa Jepang, bakal terganggu jika menjelang ujian. Lagi pula, aku punya semacam kepercayaan diri bila dibandingkan adik perempuanku yang bodoh — yang tak mendapat nilai memuaskan. Kapan pun ia punya soal yang tak bisa diselesaikan, aku tak bisa bersikap cuek untuk tidak menolongnya.

Jika ada sesuatu yang kubenci, pasti itu adalah diambilnya waktu privasi dariku. Aku bahkan tak menghadiri perayaan setelah festival olahrahga. Bu-bukan karena aku tidak diajak! Alasannya lebih karena aku menghargai waktuku sendiri, dan akan terasa menyiksa bagiku jika kuhabiskan itu dengan orang lain.

"Uhhh ...," cepat jawab dan tolak idenya, pikirku dalam hati karena tak mampu berkata-kata, seraya Yuigahama lanjut berbicara.

"Bagaimana kalau kita ke Saize di pusat kota?"

"Tak masalah ...," jawab Yukinoshita.

"Yuigahama, begini ...," aku mulai bersuara. Kalau aku tak segera mengatakan sesuatu, mereka benar-benar akan ke sana! Berhenti basa-basi dan tolak idenya, pikirku.

"Ini pertama kalinya kita jalan bareng, Yukinon!" sela Yuigahama. "Cuma kita berdua!"

"Iya," ucap Yukinoshita.

....

Rupanya dari awal aku memang tak diajak.

"Hikki, tadi kau mau bicara apa?" tanya Yuigahama.

"Bu-bukan apa-apa .... Selamat belajar."

Lagi pula, belajar sendiri itu lebih efisien. 

... aku takkan kalah.



Lanjut
Read more ...»

Oregairu 2 Bab 1 Bagian 5

On Senin, 07 Desember 2015 0 komentar

==========================================================
Akhirnya ada juga ilustrasinya...
Bagian yang gak ada di anime-nya... Dan percakapan yang cukup menghibur...
Betewe, rencananya penerjamahan Sakurasou mau dihidupkan kembali, biar gak lupa jalan ceritanya, silakan baca-baca dulu yang Jilid 1 Bab 1 Bagian 1...
Yah, sebenarnya ada juga rencana mau lanjutin seri lainnya, tapi masih belum ketemu yang pas, khususnya yang SPS, itu seri bagus banget, bukan hanya karena tema musikal remaja kayak Shigatsu musim-musim kemarin (gak menyinggung dosa proyek lain, hkhkhkhk), tapi memang karena ceritanya benar-benar bagus...
Lanjut ke catatan terjemahan... Misuzu Kaneko adalah penyair yang menulis "Watashi to Kotori to Suzu to" (yang harfiahnya: Saya, Lonceng dan Seekor Burung), yang di dalamnya terdapat kalimat, "Setiap orang itu berbeda, setiap orang itu punya hal bagus."...
AT Field adalah kemampuan spesial yang digunakan oleh pilot Eva dalam seri Neon Genesis Evangelion... Semakin kacau keadaan psikis sang pilot, semakin kuat AT Field yang bisa dihasilkan...

Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 5


Yuigahama bersandar malas di kursi tanpa mengutak-utik ponselnya yang biasa ia gunakan untuk menghabiskan waktu. Karena itu dadanya tanpa sadar jadi terpampang jelas, yang membuat pikiranku tidak tenang, sehingga kualihkan pandanganku ke arah Yukinoshita yang dadanya tak memberi kesan serupa.

Yukinoshita, yang dadanya merupakan simbol kemenangan dari Konten Aman, menutup buku bacaannya. "Kalau memang tak ada yang dilakukan, kenapa tidak belajar saja?" ucapnya pada Yuigahama dengan nada ketidaksetujuan. "Lagi pula, sebentar lagi UTS."

Dari cara bicaranya, Yukinoshita memang kurang peka soal kepentingan yang mendesak. Bagi dirinya, itu sepenuhnya masalah orang lain. Namun itu kian mempertegas  bagi Yukinoshita, UTS tak lebih dari kegiatan rutin. Perempuan ini memang murid nomor satu jika berhadapan dengan apa pun materi yang bisa diujikan. Tak bisa disangkal bahwa UTS sekalipun tak bakal membuatnya cemas.

Yuigahama mengalihkan pandangannya ke tempat lain, seakan ia juga sadar jika sedang dibicarakan. "Apa gunanya belajar?" gumamnya tertahan. "Enggak bisa juga dipakai di kehidupan nyata ...."

"Kau baru saja mengucapkan kalimat khas anak lemot!" tegasku. Yang barusan itu begitu gampang ditebak hingga membuatku lepas kendali. Bisa-bisanya di zaman sekarang masih ada yang berkata begitu?

Tersindir karena disebut lemot, Yuigahama sungguh-sungguh mempertahankan keadaannya. "Maksudku, belajar itu enggak ada gunanya! Masa SMA itu singkat dan hal yang semacam itu buang-buang waktu! Hidup itu hanya sekali, 'kan?"

"Makanya jangan dibuat main-main."

"Ampun deh .... Enggak usah sok bijak!"

"Aku berpikir jangka panjang."

"Kalau dalam kasusmu," sela Yukinoshita, "kau sudah gagal di setiap aspek kehidupan SMA."

Hampir benar. Kita tak selalu bisa memenangkan segalanya. Eh, tunggu! Apa tadi ia bilang kalau aku tak punya kehidupan? Apa aku perlu check out dari keberadaan fana ini seperti halnya check out dari hotel?

"Asal kautahu, ya .... Aku tidak gagal .... Aku hanya berbeda dari orang kebanyakan. Beginilah kepribadianku! Setiap orang itu berbeda, setiap orang itu punya hal bagus!"

"Be-betul! Beginilah kepribadianku! Payah dalam belajar adalah bagian dari kepribadianku!"

Kami berdua menegaskan kalimat klise yang konyol di saat bersamaan. Tapi jujur, kepribadian adalah kata yang tepat.

"Misuzu Kaneko akan bangkit dari kuburnya jika mendengar hal barusan ...," Yukinoshita berdesah sembari menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "Yuigahama, yang kaukatakan sebelumnya soal belajar tak ada gunanya itu tidaklah tepat. Faktanya, belajar adalah perilaku untuk menemukan makna dari diri sendiri. Oleh sebab itu, berbeda orang bisa berbeda alasan untuk belajar, namun tak ada alasan untuk menyangkal seluruh tujuan dari belajar."

Argumen yang logis. Begitu logis hingga bisa dirasa benar jika dikemukakan ke pemikiran orang dewasa — yang mana hal tersebut akan masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Bahkan sebuah pernyataan mengecoh sederhana seperti, Apa itu belajar? akan memberi dampak serupa. Maka siapa pun yang berusaha menjadi orang dewasa di zaman sekarang takkan mendapat pesan tersiratnya.

Sayangnya, aku tak pamer soal betapa pintarnya diriku dengan menyampaikan kesimpulan seperti barusan. Orang yang tampaknya benar-benar meyakininya ialah Yukinoshita.

"Soalnya kau pintar, sih, Yukinon ...," ucap Yuigahama dengan suara pelan. "Rasanya malas kalau belajar .... Teman-temanku juga enggak ada yang belajar ...."

Yukinoshita mendadak memicingkan mata. Merasa suhu ruangan sudah turun sekitar sepuluh derajat karena heningnya Yukinoshita, Yuigahama menutup mulut karena terkejut. Tampak seolah ia masih mengingat semua hal mengerikan yang pernah diucapkan Yukinoshita sebelumnya.

Ia menyerah pada pendiriannya. "Ba-baiklah, aku akan belajar betul-betul!" tegasnya dengan serius. "O-omong-omong! Hikki, memangnya kau belajar?!"

Oh, ia mengelak dari amarah Yukinoshita. Rupanya rencana liciknya adalah dengan membebankan semua serangan kepadaku. Usaha yang bagus dari yuigahama.

"Ya, iyalah," jawabku.

"Pengkhianat! Kupikir kau lemot juga!"

"Enak saja. Aku ini peringkat tiga di pelajaran bahasa Jepang," aku berhenti sebentar agar dampaknya terasa. "Ditambah, di pelajaran lain pun nilaiku tidaklah buruk."

"Enggak mungkin .... Kok aku enggak tahu ...?"

Untungnya, pihak sekolah tidak memampang hasil ujian murid-muridnya. Mereka hanya memberi tahu peringkat dan nilai secara pribadi. Alhasil, sementara yang lainnya saling menunjukkan peringkat mereka, tak ada seorang pun yang tahu peringkatku — karena siapa pun tak bakal kuberi tahu. Hampir tepatnya, tak ada yang bertanya soal peringkatku.

Tentu saja tak ada yang secara umum bertanya soal diriku.

"Jadi sebenarnya kau pintar juga ya, Hikki?!"

"Itu bukan hal yang patut dibanggakan," tandas Yukinoshita.

"... kenapa kau yang jawab?" yah, tentu saja nilaiku tak bisa dibandingkan dengan Yukinoshita, biarpun begitu, nilaiku tidaklah buruk.

Itu artinya, Yuigahama adalah orang paling lemot di antara kami bertiga.

"Uh," rengeknya. "Jadi cuma aku saja yang dapat peran orang bodoh di sini."

"Jangan langsung menyimpulkan begitu, Yuigahama," nada suara dan ekspresi dingin Yukinoshita mulai mencair, dan matanya menunjukkan jelas sebuah keyakinan.

Mendengar ucapan tersebut, wajah Yuigahama berubah cerah bagaikan bohlam. "Yu-Yukinon!"

"Karaktermu tidak dibuat-buat. Kebodohanmu memang bawaan dari lahir."

"Waaaaaah!" Yuigahama memukul-mukul tubuh bagian depan Yukinoshita.

Terlihat seolah tak tahu seperti apa harus menanggapinya, Yukinoshita mengeluarkan desahan pendek yang terasa dipaksakan. "Yang ingin kusampaikan adalah hal bodoh jika menilai seseorang hanya dari nilai ujian dan peringkat saja. Bahkan di antara murid-murid berperingkat tinggi terdapat beberapa manusia rendahan."

"Hei, kenapa kau bicara begitu sambil melihatku?" tanyaku. Untuk sesaat, semua tatapan tertuju padaku. "Aku bicara begini untuk jaga-jaga, tapi tahukah kalian alasanku belajar karena aku memang suka?"

"Begitu ...."

"Begitulah orang yang tak punya kerjaan."

Dua perempuan tersebut bicara dalam kesinambungan. Yuigahama mengucapkan satu kata seruan tanda terkejut, sementara kalimat lengkapnya diselesaikan oleh Yukinoshita. Tanpa disadari, dahi mereka saling menempel.

"Memang, dan kau juga sama," ucapku pada Yukinoshita.

"Tapi kau tak menyangkalnya," ujarnya.

"Sudah! Aku jadi sedih, tahu!" teriak Yuigahama.

Yukinoshita dengan dingin berbicara seperti biasanya, namun Yuigahama justru menggebu-gebu berempati. Yuigahama memeluk hangat Yukinoshita, seolah mencoba meringankan luka di hati Yukinoshita. Ekspresi tak nyaman yang ditunjukkan Yukinoshita seolah berkata ... tak bisa bernapas! sementara Yuigahama merangkul erat dirinya.


Hei! Bagaimana denganku?! Aku tak punya hal yang bisa kulakukan selain belajar! Aku merenung sewaktu sudah dipastikan kalau tak ada pelukan maupun rangkulan yang akan datang ke arahku. Yah, kurasa akan terasa canggung bagiku jika ia memelukku. Begitulah yang kupikirkan.

Yang benar saja, kenapa para makhluk riajuu bisa sedekat itu bila saling mengasihi? Apa keintiman itu sudah jadi hal lumrah, ya? Memangnya mereka pikir mereka itu orang Amerika, ya? Mereka akan mengacau dan saling memukul demi bahan lelucon, tapi jika sudah terlalu serius, mereka akan saling berpelukan seolah itu hal yang paling cerdas untuk dilakukan. Jika para lelaki dan perempuan tersebut sampai memiloti Eva, mereka takkan mungkin bisa menggunakan AT Field. Tak ada batasan mengenai kebaikan dalam hati mereka.

Read more ...»

Oregairu 2 Bab 1 Bagian 4

On Senin, 30 November 2015 0 komentar

==========================================================
Ini salah satu bagian yang kocak yang pernah ane baca di LN Oregairu, dan sudah ane buat senatural mungkin percakapannya agar bisa terasa kelucuannya... Mudahan agan sekalian bisa ngakak bacanya... Amin...
Lanjut ke catatan penerjemahan...
Game Shanghai Mahjong adalah game mencocokkan dua keping mahyong yang sama dari kumpulan kepingan yang tersusun secara acak, permainan selesai manakala seluruh keping telah dicocokkan... Kalau penasaran seperti apa, cek saja di game bawaan windows, ada, kok... Yang membedakan dengan Strip Mahjong adalah terdapat gambar latar di balik susunan kepingan, yang akan terlihat utuh jika seluruh keping selesai dicocokkan, dan gambar yang digunakan adalah gambar dengan konten dewasa...
Dan memang, sangat berbeda sekali dengan cara bermain mahyong yang asli...
Untuk referensi Devilman, bisa dilihat di sini...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 4


Lantai empat paviliun, sisi sebelah timur jika ingin melihat pemandangan di bawah, di sana ada sebuah ruang yang menyediakan hal tersebut.

Suara-suara dari masa remaja terdengar dari luar jendela yang terbuka. Suara-suara dari anak-anak rajin di tengah kegiatan klub mereka menggema ke luar ruangan, bercampur dengan bunyi dentangan pemukul besi dan lengkingan peluit seiring alunan klarinet dan terompet dari orkestra simfoni.

Di tengah musik latar dari masa remaja tersebut, apa yang sedang kami lakukan di Klub Layanan Sosial? Sama sekali tak ada. Aku sedang membaca shoujo manga yang kupinjam dari adikku, Yukinoshita telah tenggelam dalam buku bacaan seukuran saku yang bersampul kulit miliknya, dan Yuigahama mengutak-atik ponsel-nya dengan tak semangat.

Seperti biasanya, ketika seharusnya menjalani masa remaja dengan sebaik-baiknya, kami malah melakukan hal tak berguna.

Klub payah macam apa yang kegiatannya malah menghabiskan waktu begini? Ini seperti Klub Rugbi yang diubah menjadi Klub Mahyong. Kudengar mereka memainkan separuh permainan sebelum dan sesudah latihan. Itu sebabnya, bisa selalu terlihat koin dari Klub Rugbi (mata uang yang digunakan bukanlah uang sungguhan, tetapi hampir mirip dengan koin mata uang yen) berserakan di ruang klub dan di lorong keesokan harinya. Yah, menurutku itu memanglah mahyong. Tapi bagi mereka, itu adalah bentuk komunikasi kekinian dan lembaran masa remaja yang berkilauan.

Kira-kira ada berapa anak yang ikut bermain yang memang tahu cara memainkan mahyong?

Tak banyak yang memainkan game Shanghai Mahjong ataupun Strip Mahjong di Pusat Permainan Tsudanuma seperti diriku. Aku cukup yakin mereka hanya memelajari cara bermain mahyong agar mereka bisa berbaur dengan sesamanya. Kebetulan, cara bermain mahyong sungguh berbeda dengan game Shanghai Mahjong meski menggunakan keping yang sama. Jadi intinya, hanya ada satu alasan kenapa seseorang ingin memelajari game Strip Mahjong. Energi akan benar-benar terkumpul saat ada payudara di bidang pandangnya.

Memiliki hal-hal mendasar yang sudah umum merupakan sesuatu yang sangat diperlukan jika ingin menjalin pertemanan. Seperti itulah yang dimiliki oleh anak semacam Yui Yuigahama.

Pemikiran itu terlintas di benakku sewaktu aku selesai memeriksa apakah tokoh-tokohnya telah melakukan perbuatan mesum di dalam shoujo manga yang kini sedang kubaca. Ketika selesai, kualihkan pandanganku ke arah Yuigahama. Ia sedang menggenggam ponsel di salah satu tangannya sambil menyunggingkan senyum tipis. Tapi ia berdesah panjang begitu lembut hingga hampir tak terdengar. Tak bisa kudengar jelas desahannya, tapi aku sadar betapa panjang ia menghela napas. Itu terlihat dari rongga dadanya yang mengempis.

"Ada apa?"

Yang bertanya bukan diriku melainkan Yukinoshita. Tampaknya ia sadar akan perilaku Yuigahama yang tak biasanya itu meski tanpa melepas pandangannya dari buku. Mungkin karena ia mendengar desahan tadi. Devilman memang sakti, yang pendengaran iblisnya merupakan pendengaran neraka.

"Oh, eng ..., bukan apa-apa, sih," ujar Yuigahama. "Cuma ada SMS aneh saja. Makanya aku jadi kaget begitu."

"Hikigaya, kalau tak ingin dilaporkan ke polisi, sebaiknya segera kauhentikan mengirim SMS tak senonoh itu."

Ia langsung berasumsi kalau itu SMS cabul dan aku pengirimnya.

"Bukan aku, kok ...," belaku. "Mana buktinya? Ayo coba, mana ...?"

Sambil tersenyum sinis, Yukinoshita mengibaskan rambutnya melewati bahu. "Kau baru saja membuktikannya. Seperti itulah ucapan seorang kriminal. Mana buktinya? Kesimpulan yang hebat; Kenapa kau tak menjadi novelis saja? Tak mungkin aku satu ruangan dengan pembunuh."

"Yang terakhir tadi malah terdengar seperti ucapan sang korban ...," kataku. Ini terasa seperti pertanda kematian.

Yukinoshita mengangguk saat mendengar perkataanku. "Mungkin kau benar," jawabnya sembari membalik halaman bukunya. Tampaknya ia sedang membaca novel misteri atau semacamnya. 

"Enggak, Aku enggak merasa Hikki pelakunya, kok," ucap Yuigahama setelah jeda satu setengah menit.

Tangan Yukinoshita terhenti di tengah-tengah saat membalik halaman. Tatapannya sendiri seolah berkata, Mana buktinya? Ya ampun, apa sebegitunya ia menginginkan diriku menjadi sosok kriminal.

"Hmm ..., yah, soalnya isi SMS ini mengenai kelasku. Itu tandanya, Hikki enggak terlibat."

"Tapi aku sekelas denganmu ...," kataku.

"Masuk akal," ucap Yukinoshita. "Dengan begitu, Hikigaya tak bisa dijadikan tersangka."

"Jadi itu bisa dianggap sebagai bukti ...?"

Halo semuanya, di sini Hachiman Hikigaya dari kelas II-F.

Aku jadi dongkol sendiri karena tanpa sadar memperkenalkan diri dalam hati. Biarpun begitu, aku lolos dari tuduhan kriminal. Jadi mungkin itu ada bagusnya.

"Yah, kurasa yang seperti ini juga kadang-kadang terjadi," ucap Yuigahama serius sambil menutup ponsel-nya dengan keras. "Aku juga enggak begitu ambil pusing," ia berkata seperti dari pengalaman pribadi.

Kadang-kadang katanya, tapi asal ia tahu, aku tak pernah mendapat SMS itu.

... yang bagusnya, aku tak punya teman!

Tapi memang, orang yang punya banyak teman mau tak mau juga harus berurusan dengan banyak hal tak mengenakkan. Layaknya pekerjaan yang berat. Maka dari itu, aku telah terbebas dari hal yang amat memalukan yang sudah melumuri teman-teman sekelasku. Dengan seluruh pemikiran mendalamku, aku telah mencapai kesempurnaan Buddhisme. Aku memang hebat.

Setelahnya, Yuigahama enggan menyentuh kembali ponsel-nya.

Jelas aku tak mau mengira-ngira apa isi SMS-nya, kemungkinan itu bukan hal baik. Yuigahama memang bodoh karena bicara setengah-setengah, dan ia tipe orang bodoh yang perasaannya gampang dibaca. Ia begitu sentimentil karena selalu cemas sendiri akan diriku maupun Yukinoshita, dan mungkin ia juga memiliki sisi yang kadang berkecil hati akan beberapa hal.

Seakan memaksa untuk menekan rasa depresinya, Yuigahama bersandar di kursi lalu merenggangkan tubuh.

"... enggak ada yang bisa dilakukan."
Read more ...»

Oregairu 2 Bab 1 Bagian 3

On Kamis, 26 November 2015 0 komentar

==========================================================
Oke, memang sudah keterlaluan lamanya rentang waktu untuk posting Bagian ini...
Pas ane buka, ternyata malah ada juga yang tanya-tanya soal detail jilid kemarin...
Bagi yang bersangkutan, silakan ke TKP , di situ sudah ane jawab...
Nah, karena ane sempat bareng teman ngerjain yang kemarin itu, entah kenapa niat mau lanjutin muncul kembal
Untuk "teman yang kaubutuhkan hanyalah cinta dan keberanian", itu moto dari seri Anpanman... Dan semua yang pernah menonton Captain Tsubasa, pasti gak asing mendengar moto, "bola adalah teman"...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 3


"Hei, sadarkah kau betapa kejamnya reaksimu tadi?" tegasku ke Yuigahama. "Kau tak sadar, 'kan? Pekalah sedikit!"

"... oh," alih Yuigahama. "Aku cuma, eng ..., enggak bisa bayangkan kau bersama perempuan, Hikki ...," ia lalu mengambil ponsel yang terjatuh tadi sambil tersenyum malu.

"Perempuan bodoh," kataku. "Aku ini memang hebat. Biar kuberi tahu betapa hebatnya diriku. Dulu, sewaktu hari pertama di kelas yang baru, semua anak saling bertukar nomor telepon satu sama lain. Saat itu aku begitu populer, jadi kukeluarkan ponsel-ku dan menoleh ke kanan dan ke kiri hingga seorang gadis menyapaku dan berkata, Oh, ya sudah, ayo tukaran nomor."

"Ya, sudah, katanya? Sikap baik itu memang kejam," senyum senang tampak di wajah Yukinoshita.

"Tak usah menyindir begitu! Kami memang saling kirim SMS setelahnya."

Pandangan Yuigahama tertuju ke arah ponsel. "Anaknya kayak apa?" tanyanya cuek. Yang cukup aneh, kecepatan pergerakan jemarinya itu tetap terjaga.

"Kuingat-ingat dulu ...," kataku. "Ia perempuan yang kalem dan sehat. Kenapa kubilang sehat? Soalnya aku mengirim SMS padanya jam tujuh malam lalu ia membalas keesokan paginya dengan jawaban, Maaf, aku ketiduran, ~sampai ketemu di sekolah, ya~, ia pun begitu sopan dan berhati-hati karena berbicara denganku bisa membuatnya malu."

Yuigahama menutupi mulutnya dengan tangan. "Kejamnya ...," ia terisak sambil meneteskan air matanya.

Padahal ia tak perlu membuat diriku menjelaskan betapa menyedihkannya aku dulu. Ia benar-benar sudah menyadarinya sendiri.

"Itu artinya ia mengabaikan SMS-mu dengan berpura-pura tidur. Hikigaya, jangan berpaling dari keadaan yang sebenarnya. Hadapi kenyataan."

Seorang Yukinoshita menasihatiku? Sampai-sampai ia memandang iba begitu? Yukinoshita sialan!

"... aku sudah tahu segalanya soal memahami kenyataan. Begitu pahamnya, sampai-sampai bisa kubuatkan Hikipedia."

Fiuh ..., hahaha! Sungguh membuatku mengingatnya lagi. Saat itu aku masih lugu. Tak kusangka perempuan itu meminta nomorku karena kasihan dan membalas SMS-ku karena merasa sungkan. Aku pun akhirnya tersadar setelah dua minggu kemudian, saat ia tak lagi membalas satu pun SMS-ku, dan aku pun menyerah.

Hingga suatu hari aku mendengar obrolan para perempuan di kelasku.

"Si Hikigaya itu masih mengirimiku SMS. Kapan berhentinya, sih? Menakutkan."

"Anak itu pasti menyukaimu, Kaori ...!"


"Ih, menjijikkan!"


Rasanya aku ingin jatuh dan mati di tempat saja. Dan aku memang ..., memang benaran menyukainya!

Kini aku merasa prihatin akan diriku yang dulu berusaha keras, yang selalu menyertakan emoticon di setiap SMS. Karena menurutku menggunakan simbol hati dianggap menjijikkan, makanya kugunakan saja simbol bintang dan senyuman juga not musik. Hanya dengan memikirkannya bisa membuatku merinding. Ampun, deh.

"Hikigaya ...," sahut Bu Hiratsuka sambil bergerak maju. "Ka-kalau begitu, tukaran nomor dengan Ibu, yuk? Ibu janji akan membalas SMS-mu. Ibu juga tak akan pura-pura ketiduran," beliau pun langsung menyambar ponselku yang berada di tangan Yuigahama lalu mulai memasukkan nomornya di ponselku. Rasa kasihan beliau terhadap diriku sudah melampaui kewajaran.

"Eng ..., Ibu tak perlu bersikap sebaik itu padaku ...."

Soalnya, mendapat SMS dari guru sendiri itu rasanya menyedihkan. Tak ada bedanya seperti mendapat cokelat tiap tahun dari ibu sendiri di Hari Valentine. Rasa kasihan macam apa itu? Rasanya masih lebih baik jika tak diacuhkan oleh Yukinoshita saja.

Akhirnya kedua orang tersebut menyimpan nomorku di ponsel mereka masing-masing lalu menyerahkan kembali ponselku. Itu hanya penambahan sedikit data pada ponsel mereka, jadi bukan berarti ada yang benar-benar berubah. Tapi entah kenapa rasanya seperti ada beban di balik tindakan mereka tadi. Jadi ini yang namanya beban dari sebuah ikatan?

... hal yang begitu rapuh. Menggelikan betapa masa laluku sendiri akan sangat melekat pada beberapa kilobyte data. Sewaktu aku memikirkan tentang tak bergunanya mengenang hal tersebut saat ini, kubuka daftar kontakku. Dan di situ tertulis.

☆★YUI★☆

Ya ampun, memangnya yang seperti itu bisa dimasukkan ke kontak? Huruf pertamanya saja bukan abjad. Ditambah, dari sudut pandang manapun itu terlihat seperti alamat spam. Cocok sekali dengan bispak-nya Yuigahama. Kututup ponsel-ku tanpa melihat isinya lebih jauh.

Dikarenakan aku cukup hebat dalam melakukan pekerjaan yang tak biasa, hanya tinggal beberapa lembar saja yang tersisa. Aku mulai meletakkan tumpukkan lembaran itu segera.

Bu Hiratsuka dengan kentara berdeham sambil melirik ke arahku. "Hikigaya, cukup. Terima kasih bantuannya. Kau boleh pergi sekarang," ucap beliau sembari menyalakan rokok di mulutnya tanpa melihat.

Mungkin saja luapan rasa iba atas kejadian sebelumnya punya dampak yang mendalam pada diri beliau. Bu Hiratsuka menjadi sangat baik. Atau lebih tepatnya tergantung kepada siapa beliau berhadapan, dan beliau tidak bersikap lebih baik dibanding orang kebanyakan.

"Sip. Saatnya lanjut ke kegiatan klub," kuambil tas sekolahku dari atas karpet, lalu menentengnya di bahu kananku. Di dalamnya ada kumpulan buku pelajaran untuk bahan UTS dan beberapa manga yang rencananya akan kubaca saat di ruang klub.

Mungkin itu akan menjadi kebiasaan lain dari menghabiskan waktu ketika tak ada yang datang meminta bantuan ke klub.

Aku lalu pergi disusul oleh Yuigahama. Kuharap ia bergegas dan langsung pulang ke rumah. Jangan sampai ia mengikutiku .... Tepat saat di penghujung pintu, kudengar suara dari belakangku, "Oh, iya. Hikigaya. Ibu lupa bilang. Kau harus membentuk kelompok berisi tiga orang untuk Tur Lapangan Kerja-mu nanti. Kau bisa memilih kelompokmu sendiri. Pikirkan dengan bijak, ya."

Aku tak percaya akan pendengaranku.

Seketika mendengarnya, tubuhku melemas. Bahuku sampai terturun. 

"... waduh. Saya tak mau teman sekelas sampai datang ke rumah, Bu."

"Jadi kau benar-benar akan melakukan Tur Lapangan Kerja di rumah ...?" Bu Hiratsuka bergidik saat melihat wajahku yang penuh keyakinan.

"Saya sungguh menganggap konyol ide soal membentuk kelompok," terangku.

"Eh? Bagaimana bisa ada anak seperti di"

Aku langsung menoleh, mengibaskan rambutku di waktu bersamaan. Kemudian sesaat aku membuka mata, kutatap Bu Hiratsuka dengan seluruh intensitas yang terhimpun di kedua bola mataku. Gigi-gigiku pun ikut berkelip.

"Menjadi penyendiri bukan hal yang menyakitkan, kok! Saya sudah terbiasa!"

"Menyedihkan ...."

"Da-dasar bodoh. Pahlawan super selalu sendirian, tahu. Dan juga keren. Dengan kata lain, penyendiri itu keren."

"Benar juga. Soalnya ada pahlawan yang berkata bahwa teman yang kaubutuhkan hanyalah cinta dan keberanian," ujar Yukinoshita.

"Ya, 'kan? Wah, rupanya kau tahu juga moto itu."

"Ya, aku memang tertarik soal ini. Aku penasaran, sewaktu kau masih kecil, kapan kausadar kalau kau tak punya cinta, keberanian ataupun teman?"

"Ketertarikan yang menyimpang ...."

Tapi, yah, Yukinoshita ada benarnya. Aku memang tak punya cinta, keberanian ataupun teman. Di dalam kata-kata manis nan indah tersebut tersembunyi kebohongan dan kepalsuan yang menghibur. Di dalam hati orang-orang, itu tak lebih dari kata-kata pemenuh harapan dan pemuas diri. Karena itu aku tak punya teman. Bahkan bola pun bukanlah temanku.

Sikap baik, rasa kasihan, keberanian, teman benar, bahkan bola aku tak butuh itu semua.
Read more ...»

Oregairu 2 Bab 1 Bagian 2

On Rabu, 25 Februari 2015 0 komentar

==========================================================
Lamanya sudah gak update...
Ane kira ini blog bakal sepi banget karena gak ada update... eh ternyata masih ada saja yang mau mengunjungi... Terima kasih ya agan-agan semua...
Mungkin di antara para pembaca bakal ada yang merasa kalau dialog di terjemahan ane terlalu bebas, dan seakan tak mematuhi EYD...
Yah, namanya juga novel remaja, isinya ya percakapan khas remaja... Tapi kalau soal EYD ane selalu terapkan sebisa mungkin kok... Apalagi soal pemakaian kata yang terdaftar di KBBI, wajib banget malah...
Nah, contohnya kata " 'kali "... Kata tersebut bukan berarti sungai atau semacamnya... Itu berasal dari kata "barangkali" yang dipotong dengan apostrof (')... Sama penerapannya dengan kata " 'kan " dari kata  "bukan" dan "akan", maupun " 'gitu " dari kata "begitu"...
Oke, kesampingkan dulu masalah teknis, kita lanjut ke catatan penerjemahan...
光物 (hikarimono) mempunyai beberapa makna yang bisa berarti, "yang berkilauan", bisa juga berarti, "irisan ikan yang mempunyai kulit berwarna perak yang biasa dijadikan lapisan atas dari sushi".
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 2


SMA Soubu di Kota Chiba punya kegiatan yang dinamakan "tur lapangan kerja" yang diadakan untuk anak kelas dua.

Guna dari formulir survei yakni untuk menentukan pekerjaan yang ingin didalami oleh para murid dan pihak sekolah akan mengirim mereka ke tempat kerja yang dipilihnya itu. Hal tersebut merupakan bagian dari program pendidikan gaya baru guna memantapkan keinginan hati setiap murid untuk bekerja dalam perusahaan. Sungguh, itu bukanlah hal besar. Setiap sekolah mungkin punya kegiatan yang seperti ini.

Masalahnya, survei tersebut diadakan tepat setelah UTS. Dengan kata lain, melakukan bermacam pekerjaan aneh ini bisa mengacaukan waktu berhargaku menjelang ujian.

"Kenapa juga saya harus melakukannya di tahun ini ...?" tanyaku sambil menggeliat.

Selagi aku menyortir tumpukan kertas formulir ke dalam kelompok pekerjaan, Bu Hiratsuka duduk di atas meja dengan rokok yang sudah terapit di bibirnya. "Soalnya ini cuma setahun sekali, Hikigaya," jawab beliau. "Kau tak dengar, ya, kalau
tepat setelah libur musim panas ini akan ada penjurusan untuk kelas tiga?"

"Baru dengar, Bu."

"Makanya, kalau ada sesi bimbingan kelas itu didengarkan ...."

"Yah, soalnya saya selalu tak di tempat kalau sedang sesi bimbingan kelas. Karena itu saya tidak tahu."

Sungguh, kenapa itu sampai disebut sesi bimbingan kelas? Itu bukanlah lembaga bimbingan. Aku benci betul itu. Ditambah, aku sudah muak akan sistem yang memberikan tugas pribadi di setiap sesi bimbingan kelas. Kita diberi kesempatan berdiri di depan kelas lalu menyampaikan instruksi, meski aku berharap semua anak berhenti mendiamkanku sewaktu aku yang maju. Jika anak seperti Hayama yang memberi instruksi, semua orang akan tersenyum sambil saksama mendengarkan layaknya sebuah keluarga kecil bahagia, namun ketika aku yang memberi instruksi, tak ada satu pun yang menanggapi. Apa-apaan itu? Bahkan yang mengolok-olokku saja tidak ada karena mereka berpura-pura menjauhkan diri.

"... omong-omong, tur lapangan kerja-nya diadakan setelah UTS dan sebelum libur musim panas. Yah, alasannya supaya kalian bisa menghadapi ujian dengan pikiran jernih. Jika tidak begitu, kalian bisa terus kepikiran nantinya."

Aku ragu kalau itu ada gunanya, meski Bu Hiratsuka sudah memperjelasnya sambil mengembuskan asap berbentuk cincin dari ujung rokoknya.

SMA Soubu di Kota Chiba tempatku bersekolah ini memang didedikasikan untuk mempersiapkan para murid guna melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mayoritas murid sekolah ini memang berharap ingin lanjut ke perguruan tinggi dan banyak dari mereka yang sudah melakukannya. Itulah hal yang sudah tertanam di pikiran mereka seketika masuk ke SMA ini.

Entah karena dari awal aku sudah memperhitungkan kalau melanjutkan ke perguruan tinggi adalah sebuah penundaan selama empat tahun, makanya hal semacam pandangan terhadap masa depan terasa kabur bagiku. Aku sudah memikirkan dengan matang tentang apa yang akan kulakukan saat dewasa nanti. Yang jelas, aku takkan bekerja.

"Tampaknya kau sedang memikirkan hal-hal yang tak ada manfaatnya ...." Bu Hiratsuka menengadahkan pandangannya. "Lalu, rencananya kau mau masuk jurusan IPA atau jurusan IPS?" tanya beliau.

"Yah, seperti yang Ibu tahu, saya—"

Segera setelah aku membuka mulutku, sebuah suara keras menyelaku. "Ah, di situ rupanya!"

Ia menggelengkan kepalanya dalam keadaan marah, rambutnya yang berwarna terang (yang diikat mirip siomay) terayun ke sana kemari. Seperti biasanya, ia mengenakan rok pendek dan kemeja yang dua atau tiga kancingnya sudah terbuka, yang memperlihatkan dada besarnya. Ialah Yui Yuigahama yang belakangan ini menjadi kenalanku. Kenyataannya, kami hanyalah sepasang kenalan walau saat di dalam kelasku ia sering membicarakan soal kemampuan komunikasiku. Menyebalkan.

"Oh, hei, Yuigahama," sahut Bu Hiratsuka. "Maaf, Ibu pinjam Hikigaya dulu, ya?"

"I-ia juga bukan siapa-siapa saya, kok! Jadi, ya enggak apa-apa!" bantah Yuigahama menggebu sambil mengibaskan tangannya. Suasana yang kutangkap seperti ia ingin berkata, Saya juga enggak butuh dirinya lagi, kok. Ditolak begini rasanya agak begitu menyakitkan ....

"Ada perlu apa?" tanyaku.

Yang menjawab bukanlah Yuigahama, namun gadis yang mendadak muncul dari belakangnya. Rambut hitamnya (yang dikucir dua) bergerak naik turun, selaras dengan pergerakannya yang tiba-tiba. "Kau tak pernah datang ke ruang klub, makanya ia mencarimu. Maksudku, Yuigahama."

"Eng ..., kau tak perlu menekankan bagian terakhirnya. Aku juga sudah paham."

Perempuan berambut hitam yang wajahnya bisa menjadi penebus dosanya ini ialah Yukino Yukinoshita. Layaknya boneka porselen, dirinya begitu mengesankan untuk dipandang, namun sikapnya begitu dingin seakan ia memang sebuah porselen. Orang-orang mungkin bisa menebaknya dari cara ia menghabisiku seketika melihatku. Kami bukanlah sahabat karib.

Untuk saat ini aku dan Yukinoshita berada dalam satu klub — Klub Layanan Sosial. Ia adalah ketuanya. Dan dalam alur kegiatannya, yang kami lakukan adalah saling berdebat hanya untuk sesekali mengakrabkan diri. Intinya, di sini cuma ada perselisihan yang tak berguna dan tak ada habisnya di mana kami saling menaburkan garam pada luka satu sama lain.

Sambil mendengar ucapan Yukinoshita tadi, Yuigahama melipat tangannya sambil merengut. "Aku sampai bertanya pada semua anak di kelas soal keberadaanmu," keluhnya. "Semuanya bilang, Hikigaya? Siapa, ya? Aneeeh banget."

"Tak usah digembar-gemborkan juga, 'kali." Kenapa perempuan ini selalu saja bisa melesatkan peluru yang menyakiti perasaanku? Ia bahkan tak perlu membidik. Memangnya ia penembak jitu, apa?

"Aneeeh banget," ulangnya tak beralasan sambil bermuka masam. Gara-gara dirinya, perihal mengenai tak ada seorang pun yang mengenalku ini membuat perih ulu hatiku untuk yang kedua kalinya.

Yah, tidak buruk-buruk amat, terutama kalau kita memang kenal dengan anak-anak lain di sekolah. Melihat dari tidak adanya yang mengenal diriku selama ini, mungkin secara tak sadar aku akan memilih pekerjaan yang sangat cocok untukku, yakni ninja.

"Eh? Ya sudah, maaf kalau begitu." Maaf karena memang tak ada yang menyadari keberadaanku. Ini pertama kalinya bagiku meminta maaf atas sesuatu yang begitu memilukan.

Andai saja aku tak punya tekad yang kuat, pasti aku sudah menangis.

"Ya-ya, enggak masalah juga, sih, tapi ...." Yuigahama mulai memainkan jari-jarinya di depan dada. "Be-begini, eng ...," katanya malu-malu sambil menggembungkan pipi. "Ba-bagi nomor ponselmu, dong. Ya-yah, soalnya aneh kalau harus mencari dirimu ke sana kemari. Memalukan, tahu .... Apalagi saat ada yang menanyakan soal hubungan kita. Padahal aku cuma — ah, bukan, bukan."

Wajahnya lalu memerah, seakan ingatan soal dirinya yang mencariku terasa amat memalukan. Ia memalingkan pandangannya dariku, melipat erat tangannya di depan dada dan menolehkan kepalanya ke arah lain. Kemudian ia melirik ke arahku lewat sudut matanya.

"Yah, memang bukan masalah juga sih ...," ucapku sambil mengeluarkan ponsel-ku. Segera setelahnya, Yuigahama langsung mengeluarkan poselnya yang besar dan bekerlap-kerlip. "Itu ponsel kenapa mirip batu bata?"

Yuigahama tersentak. "Eh? Imut, 'kan?" tegasnya sambil memperlihatkan gantungan ponsel-nya yang tampak murahan itu padaku. Mainan empuk mirip sebuah jamur bergelantungan di ujung talinya dan bergemerincing saat ia menggoyangkannya. Membuatku merasa begitu tertekan.

"Entahlah. Aku tak paham soal estetika di kalangan bispak. Hmm .... Jadi kau suka yang berkilauan begitu, ya? Kayak kaca atau isinya sushi begitu, ya?"

"Hah? Sushi? Oh, dan jangan panggil aku bispak!" Yuigahama menatapku layaknya monster pemangsa manusia.

"Hikigaya. Kalau kau mempersoalkan tentang yang berkilauan, berarti kau memang tak tahu rasanya menjadi anak SMA. Tak ada orang yang menaruh kaca dalam sushi mereka," sela Bu Hiratsuka sambil berbinar-binar. "Yah, itu memang hanya sushi, sih."

Wajah beliau yang seolah berkata, Kata-kataku tadi keren! membuatku jadi jengkel sendiri ....

"Kalau kau enggak bisa melihat keimutannya, jangan-jangan itu karena matamu yang mirip ikan mati, ya?"

Reputasiku yang muncul karena pengaruh mataku yang mirip ikan mati ini malah semakin menguat. Terserahlah, aku sudah capek.

"Ya, sudahlah," ujar Yuigahama. "Kau bisa mengoneksikan ponsel-mu dengan ponsel-ku, 'kan?"

"Tidak bisa. Punyaku itu ponsel cerdas, makanya tidak bisa."

"Hah? Jadi aku harus ketik sendiri, nih?" erangnya. "Merepotkan."

"Aku tidak butuh fungsi macam itu. Lagi pula, aku lumayan benci dengan yang namanya ponsel. Nih." Kuserahkan ponsel-ku pada Yuigahama. Dengan gugup ia mengambilnya dari tanganku.

"Ma-mau enggak mau harus diketik juga, ya .... Enggak apa-apa, deh. Eh, santai sekali kau memberikan ponsel-mu pada orang lain."

"Ah, tidak apa-apa juga kalau kau mau melihat isi ponsel-ku. Yang ada di kotak masukku paling-paling cuma pesan dari adikku dan Amazon saja."

"Wah! Serius?! Eh, Amazon?!"

Ampun, deh.

Yuigahama mulai mengetik dengan sangat cepat di ponsel yang kuserahkan padanya tadi. Di hadapan reaksiku yang lamban, ia benar-benar kebalikan dari diriku — cepat dan tepat. Aku pun sampai menjuluki dirinya Ayrton Senna dalam dunia per-ponsel-an. "Cepat sekali kau mengetiknya ...."

"Eh? Biasa saja, kok. Mungkin jari-jarimu tak terbiasa karena tak punya teman SMS-an. Iya, 'kan?"

"Tidak sopan," kataku. "Sewaktu SMP dulu aku sering SMS-an dengan beberapa perempuan."

*Duk* Yuigahama menjatuhkan ponsel-ku. (Oi, hati-hati sama barangku! pikirku.)

"Enggak mungkin ...."

Read more ...»

Oregairu 2 Bab 1 Bagian 1

On Jumat, 30 Januari 2015 0 komentar

==========================================================
Buset... Ternyata malah ane lanjutin...
Kalau mau tahu soal s-CRY-ed dan jurus-jurusnya silakan lihat wiki maupun wikipedia-nya...
Lalu, "Bekerja itu untuk dipercundangi" diambil dari frasa Hataraitara make (働いたら負け) yang populer di kalangan anak muda di Jepang... Itu adalah ucapan yang umum dilontarkan para pelajar maupun pengangguran yang meyakini bahwa tak ada gunanya bekerja jika hasil yang didapat tak sepadan dengan yang dikerjakan...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Survei Tur Lapangan Kerja Prospektif




Survei Tur Lapangan Kerja Prospektif
__________________________________________________________
SMA Soubu                                                                                        Kelas II - F
__________________________________________________________

Hachiman Hikigaya
__________________________________________________________
__________________________________________________________
1. Karier yang Diinginkan:
__________________________________________________________

Bapak Rumah Tangga
__________________________________________________________
2. Tempat Kerja yang Diinginkan:
__________________________________________________________

Rumah Sendiri
__________________________________________________________
3. Tuliskan Alasan Saudara:
__________________________________________________________

Menurut orang bahari, bekerja itu untuk dipercundangi.
Kerja fisik adalah sebuah tindakan membahayakan diri agar bisa memperoleh penghasilan. Bisa dibilang, pekerjaan ideal adalah pekerjaan yang bisa memperoleh penghasilan semaksimal mungkin dengan resiko yang seminimal mungkin. Anak perempuan (sebelum remaja) akan berkata, "Saat dewasa nanti, saya ingin menjadi seorang pengantin," itu bukan karena ia sedang bersikap manis, tapi lebih karena naluri biologis mereka sendiri.
Maka dari itu, pilihan karier tak bekerja agar menjadi bapak rumah tangga sudah benar-benar tepat dan wajar. Harapan saya terhadap tur lapangan kerja ini adalah untuk mengakrabkan diri pada lingkungan seputar bapak rumah tangga, yaitu dengan cara menetap di rumah sendiri.
QED.

__________________________________________________________


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 1


Salah satu bagian dari ruang guru dibuat menjadi sebuah area penerima tamu. Sebuah sekat memisahkan sofa kulit berwarna hitam serta meja kacanya dari bagian ruang guru lainnya. Ada sebuah jendela di dekatnya yang bisa melihat langsung pemandangan perpustakaan dari sana.

Semilir angin di awal musim panas berhembus melalui jendela yang terbuka, dan selembar kertas tipis menari mengikuti ayunan angin. Adegan sentimental itu sampai mencuri hatiku, dan mataku mengikuti pergerakan sepotong kertas tersebut, penasaran akan seperti apa caranya jatuh ke lantai. Pelan dan perlahan. Bagaikan air mata yang berlinangan, kertas itu berayun-ayun jatuh ke lantai.

Kemudiantercabik. Sebuah hak sepatu runcing menghujam kertas tersebut layaknya sebuah tombak.

Sepasang kaki yang gemulai menyilang di hadapanku. Aku tak bisa melepaskan perhatianku pada betapa jenjang dan anggunnya kaki tersebut yang terbalut lewat setelan jas dan celana panjang yang ketat itu.

Setelan jas memang cukup modis, namun daya tariknya sering memberi ketidakpuasan. Wanita yang menggunakan pantyhose akan memenuhi kriteria seksi jika dipadankan dengan rok, namun ketika kaki itu tersembunyi oleh setelan jas dan celana panjang, itu malah tampak seolah tidak sopan dan terkesan kurang ajar. Jika kaki wanita tersebut kurus dan tak memiliki daya tarik seksual, maka tak ada gunanya memakai setelan jas dan celana panjangyang ada malah terlihat mengerikan.

Tapi sepasang kaki yang ada di hadapanku ini berbeda. Kaki tersebut punya keseimbangan yang sempurna. Bisa dibilang, Rasio Emas itu berlaku.

Ah, tapi itu tak berlaku pada kaki beliau. Rompi ketat itu dengan halus menonjolkan bentuk lekukan tubuh beliau, dan lekukan tersebut berujung pada puncak payudara besar di hadapan .... Oh, inikah Gunung Fuji? Tubuh beliau benar-benar bagus dari ujung kepala hingga ujung kaki layaknya sebuah biolatapi bukan sekadar biola biasa. Terpampang mantap, sesempurna buatan Stradivarius.

Masalahnya adalah beliau sudah bagaikan wujud patung Buddha yang tampak murka dan mengerikan, yang dibuat oleh tangan-tangan genius. Yang sudah begitu menakutkan jika dilihat dari sudut pandang seni, budaya maupun sejarah.

Sewaktu beliau sedang tanpa sadar mengunyah filter rokoknya, Bu Hiratsuka selaku guru bahasa Jepang-ku menatapku hina. "Hikigaya. Kau sudah tahu apa salahmu, 'kan?"

"Ti-tidak tahu ...."

Konsentrasi yang tinggi tak pernah lepas dari mata besarnya, dan aku dengan cepat memalingkan wajah.

Segera setelahnya, Bu Hiratsuka mulai menggertakkan kepalan tangannya. Yang bisa kudengar hanyalah suara pertanda dari mendekatnya kematianku. "Jangan bilang kalau kau tidak tahu."

"Ti-tidak tahu? saya tadi bilang, Tahu, kok! Ibu salah dengar! Saya sudah mengerti juga, kok! Nanti saya tulis ulang lagi! Yang penting jangan pukul saya, ya, Bu."

"Baguslah kalau kau mengerti. Huh ..., Ibu kira kau sudah sedikit berubah."

"Yah, soalnya moto saya itu kalau sudah diniatkan, ya harus dituntaskan, Bu," ujarku sambil tersenyum sumringah.

Bisa kurasakan alis Bu Hiratsuka sudah berkernyit di dahinya.

"... ternyata pilihan yang tersisa hanyalah menghajarmu saja, ya? Lagi pula, di TV orang-orang akan saling menghajar setiap kali mereka mau melangkah maju."

"Ja-ja-jangan, jangan lakukan itu pada tubuh saya yang peka. Lagi pula, acara-acara TV belakangan ini sedikit ada muatan kekerasannya. Itu malah tambah menunjukkan berapa umur Ibu!"

"Kurang ajar ...! Shougeki no First Bullet (Peluru Pertama Pengejut)!"

Melesak. Seruan beliau itu tak ada apa-apanya bila dibandingkan suara tertahan yang dihasilkan tinjunya saat tenggelam dalam perutku.

"... urk."

Sesaat aku menengadahkan kepalaku dengan lemahnyabersama hidupku yang terombang-ambing di hadapanku iniBu Hiratsuka sudah terkikih dengan menjijikkannya. "Kalau tak ingin merasakan Gekimetsu no Second Bullet (Peluru Kedua Penghancur) milik Ibu, mulai sekarang kau lebih baik diam saja."

"Am-ampun ...," mohonku tak berdaya. "Tolong jangan habisi saya dengan Messatsu no Last Bullet. (Peluru Penghabisan Pemusnah)"

Bu Hiratsuka lalu menjatuhkan dirinya ke kursi dengan rasa puas. Beliau menyeringai lebar saat melihatku cepat-cepat mengalah akibat terkena serangannya. Beliau adalah tipe orang yang tanpa sadar lupa jika ucapan maupun tindakannya terasa begitu menyedihkan. Biarpun begitu, beliau sebenarnya pribadi yang cantik dari dalam.

"s-CRY-ed itu tontonan yang bagus, 'kan ...? Syukurlah kalau kau cepat mengerti, Hikigaya."

Ralat. Beliau memang menyedihkan. Tampaknya beliau hanya bisa tertawa oleh leluconnya sendiri.

Belakangan ini aku jadi tahu seperti apa hobi Bu Hiratsuka. Intinya, beliau itu suka manga dan anime yang menegangkan. Aku malah mempelajari hal-hal yang tak begitu kupedulikan, alamak.

"Nah, Hikigaya. Ibu mau tanya lagi supaya jelas. Apa maksud dari tulisan sampahmu ini?"

"Tak seharusnya Ibu bicara sekasar itu pada muridnya ...."

Bisa lebih mudah kalau aku hanya disuruh mengarang sesuatu, namun karena aku sudah menyalurkan semua pemikiranku ke lembar kertas itu, aku jadi tak punya lagi jawaban untuk antisipasi. Jika setelah membacanya beliau tetap tak bisa mengerti, ya, itu masalah beliau sendiri.

Bu Hiratsuka mengembuskan asap rokoknya sambil menatap tajam ke arahku seolah beliau bisa melihat langsung ke dalam diriku dan tahu apa yang kupikirkan. "Ibu mengerti seperti apa kacaunya kepribadianmu itu, meski begitu, Ibu sempat berpikir kalau kau sudah sedikit berubah. Apa menghabiskan banyak waktu di Klub Layanan Sosial sama sekali tak berpengaruh padamu?"

"Eng-eng ...," jawabku sambil mengingat-ingat masa-masaku di tempat yang namanya Klub Layanan Sosial itu.

Sederhananya, tujuan dari Klub Layanan Sosial itu adalah mendengarkan kekhawatiran murid-murid lain lalu menyelesaikan permasalahan mereka. Tapi kenyataannya, klub itu hanyalah ruang karantina di mana para anak yang tak bisa bergaul dengan sesamanya berkumpul bersama. Aku berada di situasi di mana aku dipaksa membantu orang lain agar bisa memperbaiki kepribadianku yang kacau, namun karena hal tersebut sama sekali tak berdampak padaku, maka tingkat ikatan emosionalku pada klub pun hampir tidak ada. Mau bagaimana lagi?

... biarpun begitu, Totsuka tetap manis. Yak, memang seperti itu.

"Hikigaya ..., tiba-tiba matamu sudah seperti orang sakit. Liurmu keluar."

"Eh?! Ah, sial ...," buru-buru kuseka mulutku dengan lengan kemejaku.

Bahaya sekali. Ada sesuatu yang bangkit dalam diriku.

"Kau sama sekali belum berkembang," ujar Bu Hiratsuka setelah diam sejenak. "Kau malah jadi tambah menyedihkan."

"Eng .... Saya rasa saya tidak semenyedihkan Ibu ...," gumamku. "Yah, menyebut soal s-Cry-ed memang hal yang biasa dibicarakan oleh orang seumur"

"Messatsu no ...."

"Maksud saya, itu adalah hal wajar bagi wanita dewasa seperti Ibu. Saya sungguh kagum akan kepedulian Ibu dalam menyebarkan karya klasik. Sungguh! Ibu benar-benar hebat!" ceplosku. Kulakukan apa saja supaya bisa menghindari pukulan beliau.

Ternyata berhasil. Bu Hiratsuka sudah menurunkan kepalan tinjunya. Namun beliau menatapku dengan tatapan tajam yang mengingatkanku akan seekor hewan buas. "Huh ...." akhirnya beliau bicara. "Ya sudah, kumpulkan saja lagi Formulir Survei Tur Lapangan Kerjamu. Kalau sudah selesai, hitung formulir surveinya sebagai hukuman karena sudah menyakiti perasaan Ibu."

"... siap."

Di depan mataku terlihat tumpukan kertas yang sudah menggunung. Menyortir satu persatu lembaran kertas ini memang melelahkan. Sama seperti bekerja di pabrik roti. Atau mungkin penjaga pantai.

Berduaan dengan guru perempuan seperti ini sama sekali bukan perkembangan yang membuat hati berdebar. Dan sudah pasti jika beliau memukulku, takkan mungkin aku terjatuh lalu secara tak sengaja menyentuh payudaranya. Itu semua hanyalah omong kosong. Cuma kebohongan! Aku mau semua penulis naskah permainan simulasi kencan juga pengarang light novel untuk meminta maaf atas hal ini.
Read more ...»