Oregairu Bab 8 Bagian 2

On Sabtu, 27 September 2014 0 komentar

==========================================================
Secara teknis, semua sudah rampung...Tapi secara keseluruhan, masih kurang catatan pengarang...
Segala keluh kesah, suka duka, dan berbagai cerita yang mengiringi proyek penerjemahan ini akan ane tuangkan di postingan berikutnya saja...
Biar begitu, akhirnya ane merasa puas sudah menamatkan Jilid 1 ini...
Seperti yang ane sampaikan di beberapa pojok komentar, Jilid 2 gak akan ane garap... Karena Jilid 2 itu punya akhir yang menggantung... Mau gak mau harus diselesaikan sampai di Jilid 3... Dengan kecepatan terjemahan ane yang amat lambat serta kesibukan di RL, entah bisa selesai sampai kapan...? Jadi tolong dimaklumi...
Dan akhirnya... Di bagian terakhir inilah alasan kenapa LN ini diberi judul Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 8 - Lalu, Hachiman Hikigaya pun Merenung

Bagian 2


Saat kubuka pintu ruang klub, kulihat Yukinoshita sedang membaca buku di tempat biasanya.

Ia tengadahkan kepalanya saat terdengar suara decitan pintu.

"Oh... kupikir hari ini kau takkan datang."

Ia lalu meletakkan pembatas pada halaman bukunya. Dibandingkan hari pertama aku ke sini, ketika ia benar-benar mengabaikanku dan tetap membaca buku, hubungan kami sudah ada sedikit kemajuan.

"Begitulah... aku juga sempat merasa lebih baik tak usah ke sini dulu, tapi rupanya masih ada yang mau kulakukan."

Kutarik kursi yang menyilang di seberang Yukinoshita, kemudian aku duduk. Itu adalah posisi kami yang biasanya. Kuambil buku tulis bergaris dari tasku dan meletakkannya di meja. Yukinoshita yang mengamatiku dari dekat tampak tak senang.

"...kaupikir ruang kelas ini digunakan untuk apa?"

"Kau sendiri? Yang kaulakukan cuma membaca buku saja..."

Yukinoshita memalingkan wajahnya dan terlihat sedikit malu. Tampaknya tak ada yang meminta bantuan dari klub hari ini. Satu-satunya suara yang terdengar di ruang ini hanyalah detak jarum jam. Saat memikirkannya, aku tersadar kalau ruang ini sudah lama tak sesepi ini... mungkin karena sebelumya ada sebuah keberadaan yang heboh di sini.

"Yuigahama ke mana?"

"Sepertinya ia pergi bersama Miura dan kawan-kawannya."

"Oh..."

Mengejutkan... atau mungkin itu hal yang wajar. Mereka memang berteman, dan semenjak pertandingan tenis waktu itu, aku merasa kalau Miura mulai bersikap lebih ramah. Mungkin karena akhirnya Yuigahama bisa mengutarakan dengan jelas maksud pikirannya.

"Sekarang aku balik tanya. Hari ini kau tidak pergi bersama partnermu?"

"Totsuka sedang berlatih. Mungkin karena latihan khusus tempo hari, makanya belakangan ini ia begitu bersemangat kalau soal latihan..."

Yang berarti bahwa aku tak lagi bisa sering-sering bersamanya. Kenyataan itu membuatku sedih.

"Yang kumaksud bukan Totsuka."

"...lalu siapa?"

"Siapa, kaubilang... yah, orang yang selalu membuntuti bayang-bayangmu itu."

"Oi, berhenti bicara yang seram-seram... jangan bilang kalau kau bisa melihat hantu."

"...cih, menggelikan... yang namanya hantu itu tidak ada."

Yukinoshita lalu berdesah dan memandangku seolah berkata, Mungkin kau saja yang kujadikan hantu... ah, sudah lama juga aku tak mengobrol seperti ini dengan Yukinoshita.

"Maksudku anak itu. Za... Za... Zaitsu, ya? Pokoknya itu..."

"Ahh, Zaimokuza? Anak itu bukan partnerku."

Lagi pula aku tak tahu kalau ia bisa dianggap sebagai teman.

"Ia bilang, Saat ini aku sedang ada pergulatan sengit... maaf, tapi aku harus memprioritaskan tenggat waktuku hari ini. Terus ia pulang duluan."

"Cara bicaranya sudah seperti novelis kawakan saja..."

Gumam Yukinoshita dengan ekspresi jijik yang terlihat jelas pada wajahnya.

Paling tidak ia bisa menunjukkan simpatinya padaku — akulah orang yang membaca karyanya. Bahkan ia tak menulis ceritanya. Yang ia beri padaku hanya ilustrasi dan konsep ceritanya saja. Hei, Hachiman! Aku punya konsep yang cukup bagus! Sang tokoh utama wanita bisa membuat tubuhnya menjadi karet dan tokoh pembantu wanitanya punya kemampuan meniadakan kekuatan karetnya! Ini pasti akan tenar! Anak itu memang bodoh. Bagus dari mana? Jelas-jelas itu menjiplak.

Namun komunitas aji mumpung itu hanya akan bertahan sebentar saja, dan pada akhirnya kami semua kembali ke tempat kami berada sebelumnya. Jadi bisa dibilang kelompok tersebut adalah fenomena sekali seumur hidup.

Tapi kalau ditanya apa ruang kelas ini merupakan tempat aku dan Yukinoshita bernaung, maka bisa kubilang kalau itu tidak terlalu benar.

Obrolan kami yang sekenanya itu menyasar ke mana-mana di tengah suasana (sedikit canggung) yang biasanya.

"Ibu masuk, ya?"

Pintu mendadak bergeser.

"...cih."

Yukinoshita berdesah sambil meletakkan satu tangannya ke dahi. Ia terlihat pasrah. Begitulah... saat kita sedang dalam ruang yang cukup tenang lalu pintu tiba-tiba terbuka seperti itu, wajar saja kalau muncul niat ingin mengumpat...

"Bu Hiratsuka... tolong ketuk pintu dulu sebelum masuk."

"Hmm...? Bukankah itu kalimat khasnya Yukinoshita?"

Bu Hiratsuka tampak sedikit heran, namun beliau menarik kursi di sekitar lalu mendudukinya.

"Ibu mau apa?"

Sewaktu Yukinohita menanyakannya, mata Bu Hiratsuka mulai berseri-seri layaknya anak kecil.

"Ibu mau mengumumkan hasil paruh pertandingan!"

"Ahh, iya..."

Aku benar-benar lupa... malahan, aku tak ingat kalau pernah menyelesaikan permasalahan apa pun, jadi wajar saja kalau aku lupa.

"Hasil pertandingan saat ini adalah dua kemenangan di masing-masing kubu, jadi ini dianggap seri. Yang namanya persaingan frontal memang jiwanya sebuah manga pertarungan... padahal Ibu ingin melihat Yukinoshita bangkit setelah merelakan kematian Hikigaya..."

"Saya mati? Kok ceritanya jadi begitu...? Eng... dua kemenangan di masing-masing kubu? Saya tak ingat kalau ada permasalahan yang selesai. Lagi pula, cuma tiga orang saja yang meminta bantuan pada kami."

Apa beliau tidak bisa berhitung?

"Menurut hitungan Ibu sudah ada empat orang. Kalian paham? Segala keputusan yang diambil itu atas dasar pertimbangan Ibu seorang. Sebenarnya ketika kalian bermain dengan aturan yang otoriter itu, rasanya jadi sedikit melegakan..."

Memangnya beliau itu Giant, apa?

"Bu Hiratsuka... bisa dijelaskan dari mana hitungan Ibu barusan? Sependapat dengan protes anak yang di sana itu, kami memang belum menyelesaikan satu pun masalah yang diserahkan pada kami."

"Hmm..."

Bu Hiratsuka terdiam dan sedikit termenung.

"Jadi begini... kalau kau menulis huruf kanji untuk kata masalah (悩), maka seperti menggabungkan aksara kanji hati (心)
di sisi kiri dengan aksara kanji jahat (凶) di sisi kanan ditambah beberapa garis di atasnya."

"Mending Ibu balik ke pelajaran SMP saja, deh."

"Maksud Ibu, masalah kalian yang sebenarnya itu tersimpan di dalam hati kalian sendiri, karena itu, saat orang-orang mendatangi kalian untuk meminta saran, bisa jadi itu bukan permasalahan mereka yang sebenarnya."

"Lalu maksud dari penjelasan yang Ibu katakan sebelumnya itu apa?"

"Usaha Ibu untuk kelihatan pintar tadi tampaknya gagal."

Yukinoshita serta diriku menghabisi beliau tanpa ampun. Bu Hiratsuka jadi tampak sedikit sedih.

"Ya sudah... padahal Ibu sudah capek-capek memikirkan jawaban yang pas..."

Yah, dengan kata lain, penentuan pihak yang menang maupun yang kalah dalam pertandingan ini juga sama otoriternya. Bu Hiratsuka bolak-balik menatap diriku dan Yukinoshita sambil terlihat sedikit merajuk.

"Huh... kalau soal menyerang orang lain, kalian berdua baru bisa akur... seperti kawan lama saja."

"Itu mustahil... saya tak ingat pernah berteman dengan lelaki itu."

Ujar Yukinoshita sambil mengangkat bahunya. Aku yakin kalau ia bakal melirik ke arahku, tapi ternyata itu sama sekali tak dilakukannya.

"Hikigaya, jangan berkecil hati... konon ada juga serangga yang rupanya senang memakan rumput liar. Jadi itu cuma masalah selera."

Bu Hiratsuka berusaha menenangkanku. Siapa juga yang merasa kecil hati...? Dan kenapa kebaikan beliau malah terasa menyakitkan begini...?

"Betul sekali..."

Aku terkejut, Yukinoshita juga sampai mengiyakan... tunggu, justru perempuan itu yang lebih dulu membuatku tertekan.

Meski begitu, Yukinoshita hanya mengatakan kebenaran; ia takkan membohongi perasaannya sendiri, jadi ia mungkin memang percaya dengan ucapan Bu Hiratsuka. Ia lalu tersenyum padaku.

"Saya juga yakin kalau suatu saat akan ada serangga yang menyukai diri Hikigaya."

"Sial... paling tidak pilihlah hewan yang menggemaskan!"

Padahal aku sudah cukup rendah hati untuk tidak memintanya memilih manusia saja... namun Yukinoshita yang angkuh itu justru dengan bangga mengepalkan tangannya.

Mungkin ia merasa senang dengan yang diucapkannya tadi, matanya saja sampai berseri-seri; tampaknya ia begitu menikmatinya.

Di sisi lain, aku merasa sangat tidak senang. Maksudku, bukankah obrolan dengan para perempuan harusnya lebih terasa manis? Bukankah yang seperti ini justru aneh?

Kupikir sebaiknya kutulis saja apa yang kurasakan saat ini. Karenanya kuposisikan penaku. Yukinoshita lalu mengamati yang sedang kulakukan.

"Sebenarnya apa yang dari tadi mau kautulis itu?"

"Berisik. Bukan urusanmu."

Setelah itu, kutuliskan kalimat terakhir pada tugas esaiku.



Sudah kuduga, kisah komedi romatis remaja saya memang salah kaprah.


— II —


Read more ...»

Oregairu Bab 8 Bagian 1

On Selasa, 23 September 2014 0 komentar

==========================================================
Pertama, ane memakai pengganti diri "saya" dalam tulisan esai, karena sudah sewajarnya dalam sebuah esai yang konteksnya sebuah tugas dan resmi, sebisa mungkin harus formal...
Kedua, Shouten adalah acara kontes komedi di mana para pesertanya berlomba memelesetkan sebuah kata...
Ketiga, mungkin akhir pekan ini bagian selanjutnya bisa diselesaikan dan di-posting...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 8 - Lalu, Hachiman Hikigaya pun Merenung

Bagian 1


Masa remaja.

Itu hanya sebuah frasa sederhana, meski begitu, frasa tersebut begitu gigih menggerakkan hati manusia. Memberi rasa nostalgia pada kaum dewasa yang mapan, memberi rasa rindu tanpa akhir pada para dara muda, dan memberi rasa iri dan benci yang mendalam pada orang seperti saya.

Kehidupan SMA saya tidaklah bagai Taman Firdaus seperti hal yang saya jelaskan di atas. Melainkan dunia monokrom yang kelabu nan suram. Pada hari pertama saya di SMA, saat saya mengalami kecelakaan itu, kehidupan SMA saya menjadi benar-benar suram. Setelah kejadian itu, kehidupan SMA saya hanya diisi dengan pulang pergi antara rumah dan sekolah saja. Bahkan saat liburan pun saya hanya pergi ke perpustakaan. Yang saya jalani tersebut jauh dari anggapan sebuah kehidupan SMA yang diidamkan orang-orang. Dalam dunia saya, kisah komedi romantis itu sama sekali tidak ada.

Biarpun begitu, tak sedikit pun saya merasa menyesal. Nyatanya, bisa dikatakan kalau saya bangga akan diri sendiri.

Pergi ke perpustakaan dan membaca habis berbagai novel fantasi yang amat panjang... menyalakan radio di malam hari dan terkesima dengan cara bercerita sang penyiar radio... menemukan bagian yang menghangatkan hati di luasnya lautan elektronik yang didominasi oleh tulisan... semua ini bisa benar-benar terjadi karena saya menjalani hidup semacam itu.

Saya bersyukur, pula saya tergerak, akan setiap pengungkapan dan perjumpaan tak terduga itu. Air mata itu tetap ada, namun itu bukanlah air mata duka.

Takkan pernah saya sangkal satu tahun waktu SMA yang sudah saya jalani itu. Sebaliknya, akan saya terima itu dengan segenap hati. Dan keyakinan itu takkan berubah, baik kini ataupun nanti.

Tapi saya ingin meluruskan hal ini. Meskipun seperti itu, saya takkan menyangkal cara hidup yang dijalani oleh orang-orang lainnya. Saya takkan menyangkal cara hidup orang-orang yang mengagungkan masa remaja mereka.

Bagi mereka yang berada di puncak masa remajanya, kegagalan pun bisa diubah menjadi kenangan menakjubkan. Bahkan perselisihan, pertengkaran dan permasalahan bisa menjadi momen lain dari masa remaja mereka.

Dunia jadi berubah ketika dipandang melalui kacamata orang-orang di masa remajanya.

Kalau begitu, mungkin saja masa remaja saya bisa dihiasi oleh warna komedi romantis. Mungkin itu tak sepenuhnya salah.

Dan mungkin saja suatu hari nanti, saya pun akan melihat cahaya terang dari tempat saya kini berada, meski cahaya tersebut saya lihat melalui mata sayu yang persis ikan mati ini. Saya bisa merasakannya, sesuatu yang berkembang dalam diri saya, sesuatu yang setidaknya bisa membuat saya berharap bahwa hal itu kelak 'kan terjadi.

Tentu saja ada satu hal yang telah saya pelajari selama hari-hari saya bersama Klub Layanan Sosial.

Jadi inilah kesimpulan yang saya dapatkan.




Sampai di kalimat tersebut, kuhentikan laju pena pada tanganku.

Aku lalu melakukan perenggangan tubuh. Sepulang sekolah, hanya akulah satu-satunya yang tersisa di ruang kelas ini.

Bukan berarti aku sedang ditindas atau semacamnya... aku hanya sedang menulis ulang esai yang ditugaskan Bu Hiratsuka tempo hari. Aku mencoba bersikap apa adanya. Bukan karena aku sedang ditindas.

Penulisan ulang esaiku berjalan begitu lancar, namun aku terhenti pada bagian kesimpulan. Itu sebabnya sampai memakan waktu sesore ini.

Mungkin sebaiknya kulanjutkan saja di ruang klub...

Sewaktu memikirkannya, segera saja kumasukkan buku tulis bergaris serta alat tulisku ke dalam tas, lalu kutinggalkan ruang kelas yang kosong itu.

Tak seorang pun tampak pada lorong yang mengarah ke paviliun, meski masih bisa kudengar seruan semangat dari klub olahraga yang berlatih di luar.

Mungkin Yukinoshita sedang asyik membaca bukunya di ruang klub... jika begitu, aku bisa lanjut menulis di sana tanpa ada yang mengganggu.

Lagi pula, kami sama sekali tak melakukan kegiatan apa-apa di klub itu.

Benar-benar jarang. Memang ada beberapa orang aneh yang datang pada kami, tapi itu juga jarang. Kebanyakan orang cenderung mendatangi orang yang mereka anggap dekat, orang yang mereka percayai, atau menyimpan masalah mereka dan menghadapinya sendiri.

Mungkin itulah jawaban yang tepat. Sesuatu yang umumnya orang-orang harus tuju. Meski begitu, terkadang ada orang yang tak bisa melakukannya. Contohnya orang sepertiku, atau Yukinoshita, atau Yuigahama, ataupun Zaimokuza.

Bagi sebagian besar orang, hal semacam persahabatan, cinta maupun impian adalah sesuatu yang menakjubkan. Bahkan momen-momen ketika sedang dirundung masalah atau saat tak tahu harus berbuat apa, bisa benar-benar berubah dan dianggap sebagai hal positif.

Sudah tentu itu sesuatu yang kita sebut dengan masa remaja.

Akan tetapi, ada juga orang-orang sinis yang memandang golongan tersebut lalu menyimpulkan bahwa mereka sudah teracuni oleh konsep masa remaja dan berbuat semau mereka. Seperti yang dibilang adikku, Masa remaja? Apa itu? Program pemerintah, ya? Jelas bukan, karena yang dimaksud  adikku itu masa belajar. Sepertinya ia sudah terlalu sering menonton Shouten.




Read more ...»

Oregairu Jilid 1 Bab 8

On 0 komentar

-Bab 8 - Lalu, Hachiman Hikigaya pun Merenung.-


Daftar Isi

Read more ...»

Oregairu Bab 7 Bagian 6

On Sabtu, 20 September 2014 0 komentar

==========================================================
Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.................
Setelah empat bulan lamanya... Kelar juga episode 3...
Penutup cerita yang lumayan bikin adem... Bikin adem karena ada "layanan kipas"-nya... (Mudahan mengerti maksud ane)
Sama seperti waktu ane lebih memakai "suten" untuk "suit" atau "hompimpa", di sini ane lebih memilih memakai istilah "kutang" ketimbang "bra", karena faktor KBBI... Rupanya "bra" belum diserap menjadi Bahasa Indonesia...
Untuk jilid penutup sepertinya akan ane kebut selesaikan sebelum akhir bulan ini... Doakan saja ya gan...

Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 7 - Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Baik

Bagian 6


Tak lama setelah itu, hanya tinggal kami sendiri yang tersisa di lapangan.

"Kurasa ini artinya kita memenangkan pertandingan tapi kalah dalam perang."

Ujar Yukinoshita sedikit cuek, namun tanpa sadar aku tertawa.

"Jangan Konyol... dari awal aku bukanlah tandingan mereka."

Mereka yang mengagungkan masa remaja memang selalu dapat sorotan.

"Yah, benar juga... bisa jadi seperti ini juga gara-gara ada Hikki. Diabaikan padahal kau menang... sedih banget."

"Hei, Yuigahama, hati-hati kalau bicara. Harusnya kau sadar, terkadang perasaan jujurmu itu bisa lebih menyakiti orang ketimbang kata-kata sinis."

Aku memandang sinis ke arah Yuigahama, tapi ia sama sekali tampak tak menyesal.

Yah, kurasa semua yang dikatakannya tadi memang benar, jadi tak ada alasan baginya untuk merasa menyesal. Sejak awal, Hayama dan Miura tak begitu peduli soal persaingan ataupun pertandingan macam tadi. Aku kagum mereka bisa menerima kekalahan dan menjadikannya kenangan berharga dari indahnya masa remaja.

Apa-apaan itu? Sial... Masa Remaja, meledak saja sana!

"Ah, sial... ada apa sebenarnya dengan Hayama itu... andai aku lahir dan dibesarkan dengan cara berbeda, paling-paling aku juga bakal seperti itu, sial..."

"Jika begitu, bukankah kau justru jadi orang yang benar-benar berbeda...? Yah, memang benar kalau kau perlu menata ulang hidupmu."

Ketus Yukinoshita sambil menatap dingin ke arahku, seakan ingin berkata, Mati saja sana!

"...ta-tapi, eng... kurasa Hikki sudah bagus seperti ini, atau, eng... maksudnya, itu bukan hal yang buruk, eng..."

Gumam Yuigahama, tapi aku sama sekali tak bisa mendengarnya. Kuharap ia bisa bicara dengan jelas. Ia mengingatkanku akan kejadian di toko baju saat pegawai tokonya mencoba bicara padaku.

Biar begitu, tampaknya Yukinoshita mendengar apa yang dikatakan Yuigahama tadi; ia sedikit tersenyum sebelum menganggukkan kepala.

"Ternyata ada beberapa orang yang sudah terselamatkan oleh tindakan menyimpangmu... sungguh disayangkan."

Ujar Yukinoshita yang kemudian tiba-tiba mengalihkan pandangan. Saat kuikuti ke mana arah pandangannya itu, kulihat Totsuka berjalan pelan sembari berhati-hati akan luka di lututnya. Zaimokuza pun mengikutinya layaknya seorang penguntit.

"Kerja bagus, Hachiman... rekanku memang hebat. Namun sayangnya, akan datang hari di mana kita harus menyelesaikan ini untuk selamanya..."

Entah kenapa Zaimokuza mulai berbicara sendiri dengan mata berkaca-kaca. Kuabaikan dirinya dan bicara pada Totsuka.

"Lututmu baik-baik saja?"

"Iya..."

Saat itu aku mendadak sadar kalau di sekelilingku hanya ada lelaki saja. Mungkin karena ada Zaimokuza di sini, tapi baik Yukinoshita maupun Yuigahama juga sudah menghilang entah ke mana.

Hayama bisa mendapatkan perempuan-perempuan yang memanjakannya layaknya James Bond, tapi aku justru dikelilingi oleh para lelaki. Jadi anak itu mendapat akhir seperti film James Bond, dan aku berakhir seperti film A-Team... sungguh tak adil.

Kisah komedi romantis hanyalah mitos.

"Hikigaya... eng... terima kasih."

Totsuka berdiri di hadapanku dan tatapannya tertuju langsung ke arahku. Setelah mengatakan itu, ia lalu tampak tersipu dan mengalihkan pandangannya. Aku hampir ingin memeluk dan menciumnya, tapi aku segera tersadar kalau ia lelaki...

Kisah komedi romantis ini sudah salah kaprah, begitu pula dengan jenis kelamin Totsuka. Lagi pula, Totsuka berterima kasih pada orang yang salah.

"Aku tak berbuat apa-apa. Kalau mau berterima kasih, berterimakasihlah pada para perempuan itu..."

Kucoba mencari sosok orang yang kubicarakan tadi sambil melihat ke sana kemari. Saat itu kulihat ada sepasang kucir dua berayun-ayun di sebelah ruang Klub Tenis.

Rupanya mereka ke sana.

Aku berjalan menuju ke arah ruang klub itu dengan niat ingin berterima kasih pada mereka.

"Yukinoshi... ah..."



Ternyata ia sedang berganti pakaian.

Bagian depan kemejanya sudah terbuka, dan sekilas kulihat kutang berwarna hijau limau miliknya. Ia memang masih mengenakan rok, namun sensasi ketidakseimbangan itu justru kian menguatkan kesan tentang betapa ramping dan proporsional tubuhnya.

"Wa... wa, wa, wa—"

Eh, kenapa ia malah heboh begitu? Padahal aku sedang berkonsentransi merekam hal ini dalam ingatanku. Oh, rupanya Yuigahama juga ada di sini.

Dan ternyata ia juga sedang berganti pakaian.

Tampaknya ia tipe orang yang biasa mengancing pakaian dari bawah ke atas. Jadi bajunya masih terbuka lebar, dan kutang merah muda serta belahan dadanya itu jadi terlihat. Salah satu tangannya memegang rok, dan ia tampak sedang menyodorkan rok itu ke Yukinoshita... dengan kata lain, ia sedang tak mengenakan rok.

Bokong yang proporsional itu tampak menyembul dari setelan celana dalam merah mudanya, dan pergelangan kakinya sudah ditutupi oleh kaus kaki berwarna biru tua.

"Dasar, mati saja sana!"

*Dang!* Dengan sekuat tenaga ia melempar raket ke wajahku.

...ah, benar juga, ini memang lebih seperti kisah komedi romantis.

Yah, dewa komedi romantis sudah bekerja dengan baik. *Hiks*.


— II —


Read more ...»

Oregairu Bab 7 Bagian 5

On Selasa, 16 September 2014 0 komentar

==========================================================
Setelah sebelumnya karakter lain yang sering mendapat sorotan, kini, di bagian ini, sang protagonis kita, tampil dengan kerennya...
Ane sempat lupa kalau Hachiman itu memang keren...
Jadi, pesan moral di bagian ini adalah, "Plot twist itu nyata adanya"...
Biar begitu, mungkin gak hanya ane saja, tapi agan sekalian setelah membaca bagian ini, mungkin bakal berpikir kalau Hachiman memang wajar "dianggap kalah"...
Bagaimana menurut agan sekalian...?

Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 7 - Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Baik

Bagian 5


Keheningan yang tak wajar menyelimuti lapangan. Satu-satunya yang bisa terdengar hanyalah suara bola yang memantul di tanah.

Di tengah suasana tegang yang aneh itu, aku memaksa kesadaran yang ada jauh dalam diriku.

Aku bisa... aku bisa... aku meyakinkan diriku — tidak, aku sudah yakin akan diriku.

Lagi pula, tak ada alasan bagiku untuk kalah di sini.

Aku adalah orang yang sudah bertahan seorang diri dari sia-sia, menyedihkan dan menyakitkannya kehidupan sekolah, yang sudah menjalani pahit dan menderitanya masa remaja ini seorang diri. Jadi tak ada alasan bagiku kalah dari mereka yang menggantungkan diri pada orang banyak di setiap langkahnya.

Istirahat makan siang akan segera berakhir.

Biasanya di waktu seperti ini aku sudah menyantap habis makan siangku di dekat ruang UKS di seberang lapangan.

Ingatan tentang pembicaraanku dengan Yuigahama di tempat itu, obrolan pertamaku dengan Totsuka, semuanya terlintas di benakku.

Kubuka telingaku lebar-lebar.

Tak bisa kudengar suara mengejek Miura; tak bisa kudengar suara sorakan para penonton...

Tapi aku mendengar suara itu... suara yang aku, dan mungkin hanya aku yang bisa mendengarnya sepanjang tahun ini.

Di saat itu, kulancarkan sebuah servis.

Itu adalah servis ringan, mudah dan tak bertenaga yang melambung tinggi ke angkasa.

Kulihat Miura bergegas menuju ke arah bola. Kulihat Hayama dengan sigap mengikutinya. Kulihat para penonton yang tampak merasa kecewa. Sekilas kulirik Totsuka yang pandangannya sudah tertunduk ke tanah. Kuabaikan Zaimokuza yang sedang mengepalkan tangannya. Aku saling bertatapan dengan Yuigahama yang mulai berdoa. Lalu pandanganku pun tertuju pada senyum kemenangan yang disunggingkan Yukinoshita.

Pukulan bolaku melayang ke arah yang tak tentu.

"Hyaaahh!!"

Miura menjerit layaknya seekor ular buas dan akhirnya sampai di posisi bola akan mendarat.

Tepat pada saat itu, angin pun berhembus.

Miura mungkin tidak tahu...

...soal istimewanya angin laut yang berhembus di penghujung istirahat makan siang, yang membuat unik SMA Soubu dan lingkungan sekitarnya.

Bolanya goyah dan tersapu naik ke atas oleh angin. Membuatnya menjauh dari Miura dan memantul di tepi lapangan, tetapi hayama sudah berlari mengejar bolanya.

Hayama mungkin tidak tahu...

...kalau angin ini tak hanya berhembus satu kali saja.

Cuma aku satu-satunya yang tahu soal ini. Aku, yang sepanjang tahun duduk di sana seorang diri, yang tak berbicara dengan siapa pun, yang hanya menghabiskan waktu tanpa ada yang tahu... dan hanya angin itu satu-satunya yang tahu tentang masa-masa tenang yang kuhabiskan seorang diri.

Dan itulah bola melengkung ajaib yang hanya aku, dan memang cuma aku, yang sanggup melakukannya.

Hembusan angin yang kedua menyapu naik bolanya, meskipun bola itu telah memantul.

Setelah itu, bolanya jatuh ke tanah di pojok paling ujung lapangan kemudian menggelinding.

Mulut semua orang pun terbungkam, telinga mereka pun terbuka lebar, dan mata mereka pun terbelalak.

"Ah, kini aku ingat pernah mendengarnya... sebuah keahlian yang membuat penggunanya bisa mengendalikan angin sesukanya, Pewaris Angin, Eulen Sypheed!"

Cuma Zaimokuza satu-satunya anak yang tak mendapat arahan dan malah berteriak keras.

Kuharap ia berhenti menamai secara acak pukulanku barusan. Sial... suasananya malah jadi rusak gara-gara dirinya.

"Eng-enggak mungkin..."

Miura tampak sangat syok. Gumamannya mulai memancing reaksi penonton; mulanya mereka hanya berbisik-bisik, namun perlahan suara mereka berubah menjadi seruan, "Eulen Sylpheed! Eulen Sylpheed!" Ya Tuhan, semoga itu tidak sampai jadi heboh...

"Kami gagal... yang tadi itu memang bola melengkung ajaib."

Hayama menghadapiku sambil tersenyum. Ia tersenyum layaknya kami sudah berteman lama... sewaktu membalas senyumnya itu, kugenggam erat bola dan berdiri tanpa bisa bergerak.

Aku benar-benar tak tahu harus seperti apa menanggapi situasi seperti ini.

Yang ada, aku malah memulai percakapan sia-sia.

"Hayama. Apa saat kecil kau pernah memainkan bisbol?"

"Iya. Aku sering memainkannya... kenapa?"

Hayama tampak kebingungan akan pertanyaan yang tiba-tiba kusodorkan padanya itu, tapi ia tetap menjawabku tanpa ragu. Mungkin ia memang orang yang baik...

"Perlu berapa banyak orang supaya bisa memainkannya?"

"Eh...? Kalau enggak sampai delapan belas orang, kau enggak bisa bermain bisbol."

"Ya, sudah kuduga... tapi asal tahu saja, selama ini aku memainkannya seorang diri."

"Eh? Maksudmu?"

Tanya balik Hayama, tapi kupikir ia takkan mengerti andai kujelaskan.

Maksudku tadi bukanlah permainan bisbol tunggal.

Apa mereka mengerti deritanya mengayuh sepeda sendirian layaknya orang bodoh di tengah teriknya matahari musim panas dan menusuknya hawa musim dingin? Yang biasanya mereka alihkan dengan keluhan, Panas banget! Dingin banget! Gawat, nih! Dan semua itu sudah kulalui seorang diri.

Memangnya mereka tahu... memangnya mereka mengerti betapa menakutkannya saat tak bisa bertanya pada siapa-siapa mengenai bahan ujian yang akan datang, dan akhirnya diam-diam belajar sendirian lalu menerima langsung akibatnya. Mereka bisa sampai seperti ini karena mereka saling memeriksa jawaban masing-masing, saling membandingkan nilai ujian mereka, saling membodoh-bodohi ataupun memuji satu sama lain dan lari dari kenyataan, sementara aku menghadapi kenyataan itu seorang diri.

Apa kira-kira pendapat mereka? Bukankah aku tampak seperti manusia paling tangguh?

Tersapu oleh emosi-emosi itu, aku bersiap melakukan servis.

Kutekuk satu kaki ke depan dan menarik kencang satu sisi tubuhku ke belakang layaknya busur yang siap menembak. Lalu kulambungkan bola ke udara. Kugenggam erat raketku dengan kedua tangan dan memosisikannya di belakang leherku.

Lagit yang biru, musim semi yang hendak berlalu, dan musim panas yang akan menghampiri... aku sudah muak dan mengutuk semua itu.

"Masa Remaja, sialan!!!"

Dengan segenap kekuatan, seiring bola turun mendekatiku, kupukul bola ke udara dengan ayunan ke atas.

Bolanya sampai menimbulkan bunyi *takk!* sewaktu tepat menghantam tepi rangka raketku, yang kemudian melesat naik ke atas seakan langit yang mengisapnya.

Bola itu pun naik semakin tinggi. Pada titik tertentu, bolanya terlihat seperti bintik yang lebih kecil dari sebutir beras.

"I-itu... sang roh kehancuran yang melambung tinggi menembus langit, Meteor Strike!"

Seru Zaimokuza sambil mencondongkan badannya ke depan. Lagi-lagi... kenapa ia harus memberi nama untuk pukulanku?

"Meteor Strike..." Beberapa anak lain di antara para penonton pun mulai membisikkannya. Ya ampun, kenapa mereka juga ikut-ikutan?!

Itu bukan perkara besar... itu hanya sekadar permainan pukul-tangkap.

Biar kujelaskan. Saat masih kecil, aku tidak punya banyak teman, maka dari itu kukembangkan sebuah olahraga baru dari bisbol tunggal — aku melempar, memukul, dan menangkap bolanya sendiri. Saat berusaha merancang skema agar permainan bisa berlangsung lebih lama, aku sadar bahwa cara terbaik untuk memperlama irama permainan adalah dengan skema pukul-tangkap itu sendiri.

Jika bolanya berhasil kutangkap, maka si pemukul dinyatakan out, dan jika bolanya luput tapi bisa ditangkap setelah memantul, maka pukulan itu dianggap masuk. Jika aku memukul bolanya terlalu jauh, maka itu kuhitung sebagai home run. Salah satu kelemahan permainan ini adalah sekali aku memutuskan bermain di pihak mana (entah sebagai pemukul atau penangkap), maka permainan akan cenderung berat sebelah. Untuk memainkan bisbol ini, sangatlah penting untuk bersikap obyektif seolah sedang bermain suten dengan diri sendiri. Yang seperti ini tak patut dicontoh; bermain dengan teman-teman jauh lebih bijaksana.

Namun itulah simbol dari terasingnya diriku, dan itu pula yang menjadi senjata terkuatku.

Itu adalah palu yang jatuh dari kehampaan dan menghancurkan mereka yang mengagungkan masa remaja.

"A-apa itu?"

Miura mendongak ke atas sambil kebingungan. Hayama pun menatap tinggi ke angkasa, namun ekspresinya mendadak berubah panik lalu berteriak.

"Yumiko! Mundur!"

Teriak Hayama pada Miura yang kini terpaku dengan wajah syok. Sudah kuduga, Hayama sadar dengan yang sedang terjadi... sayangnya, ia sudah terlambat.

Bola tenis itu pun terus melaju ke atas, tapi kecepatannya berangsur berkurang akibat pengaruh gravitasi, hingga dua daya itu mencapai titik keseimbangan lalu membuat laju bola terhenti.

Ketika kemudian keseimbangan itu hancur, energi potensial bola berubah menjadi energi kinetik. Bola itu pun mulai terjun bebas. Seketika menghantam tanah, energi dari bola itu hendak meledak.

Setelah melayang begitu lama di angkasa, bola tersebut akhirnya memecut tanah hingga menciptakan kepulan debu, lalu memantul kembali, melambung tinggi ke udara.

Bermaksud ingin memukul balik, Miura mengejar bola itu sambil menerobos kepulan debu dengan langkah tak beraturan. Bolanya terbang tak menentu menuju pagar ram di belakang lapangan.

Gawat... Miura akan menabrak pagar ram tersebut.

"Ugh!"

Hayama membuang raketnya dan berlari mengejar Miura.

Apa ia akan sempat?! Ataukah tidak sempat?!

Sesaat dua anak tersebut menghilang dari pandangan di antara kepulan debu.

Seketika suasana jadi sunyi senyap.

Kudengar suara seseorang menelan ludahnya... nyatanya, mungkin itu diriku sendiri.

Lalu kepulan debu tersebut perlahan menghilang, dan dua anak tadi kembali terlihat.

Punggung Hayama sudah menghantam pagar ram sambil memeluk Miura untuk melindunginya. Wajah Miura tersipu sembari ia mencengkeram lembut baju Hayama.

Sesaat kemudian, suasana meledak dalam sorakan keras dan tepuk tangan yang bergemuruh. Itu adalah apresiasi penuh seluruh penonton.

Hayama membelai kepala Miura untuk menenangkannya, dan wajah Miura pun semakin memerah.

Sambil bersorak, para penonton pun mengelilingi Hayama dan Miura.

"HA~ YA~ TO~ GO!! HA~ YA~ TO~ GO!!"

Dalam suasana gegap gempita itu, bel penanda berakhirnya istirahat makan siang pun berbunyi. Rasanya benar-benar seperti menyaksikan adegan ciuman yang dilanjutkan dengan kredit penutup dalam sebuah film.

Pada akhirnya semua orang sudah diliputi oleh rasa puas dan kelelahan. Mereka seperti habis menonton sebuah film heroik yang menegangkan atau membaca sebuah komedi romantis remaja yang menghibur.

Dan begitulah, para murid menyanjung dua anak itu dengan sorakan, "Hore! Hore!" Lalu sosok mereka menghilang ke dalam gedung sekolah.

TAMAT.

Ah, aje gile.




Read more ...»

Saekano Jilid 1 Bab 2 [Manga]

On Kamis, 11 September 2014 0 komentar

Akhirnya kelar juga...
Dan kembali menjadi selingan (alasan) untuk menunggu Oregairu yang belum di-update...




Penerjemah: Cucundoweh
Pembersih Gambar, Tata Letak Teks, Penyunting, Pengolah Berkas, Pengedar: Rizerza

Dengan ini, kami sepakat menghentikan proyek manga ini... Bukan hanya karena sumber skrip yang jarang update, tapi karena kami gak ingin menebar spoiler lebih banyak... Biarkan saja semua terungkap di anime-nya... Semoga saja ada pihak lain yang mau melanjutkan... Semoga yang melanjutkan juga bagus... Amin...
 
Lalu ini...?
 
Hmm... Anggap saja teaser...

Teaser...?

Hmm... Teaser itu bahasa Indonesia-nya apa, ya...? Pokoknya ibarat hidangan, teaser itu kayak makanan penggugah selera... Intinya, supaya yang membaca, penasaran ingin tahu lebih lanjut...

Cuma sampai di Bab 2...? Gak gantung tuh...?

Tenang saja, Bab 1 dan 2 ini jalan ceritanya hampir seperti 1 episode utuh dalam anime... Jadi anggap saja ini manga one-shot...
 
Terus...
 
Ah, sudahan aja deh, nanti malah tl;dr...


Read more ...»

Oregairu Bab 7 Bagian 4

On Sabtu, 06 September 2014 0 komentar

==========================================================
Andai ane gak pernah nonton anime-nya mungkin ane bakal lebih deg-degan baca bagian ini...
Sumpah... Mulai dari awal sampai akhir, penggambaran kejadiannya begitu bagus, hingga di akhir bagian (yang rasanya kayak plot twist) bikin ane gak sabar mau tahu kelanjutannya... (Walau sebenarnya sudah tahu seperti apa ceritanya...)
Yang pasti bagian-bagian terakhir ini memang pantas dijadikan klimaks dalam LN ini...
Tambahan... Staccato adalah istilah dalam musik yang cara memainkan atau menyanyikan atau memperdengarkan suatu nada atau serangkaian nada pendek-pendek, terputus-putus...

Hiei adalah salah satu karakter dari seri Yu Yu Hakusho yang berwatak dingin dan tetap bersikap kalem meski dalam keadaan terdesak...
Mungkin untuk ke depannya hingga minggu ketiga bulan ini update akan lebih lama, karena RL dan fokus ke proyek lainnya...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 7 - Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Baik

Bagian 4


Begitulah, semua pihak yang berhubungan dengan pertandingan tenis ini pun berkumpul. Pertandingan ini akhirnya melaju ke fase final yang sesungguhnya.

Tim Hayama dan Miura yang pertama kali jalan. Nyonya Kupu-Kupu alias perempuan gulungan vertikal alias Miura yang melakukan servis.

"Oh, iya, Yukinoshita. Entah kau tahu soal ini atau enggak, tapi aku benaran jago dalam tenis."

Ujar Miura sewaktu berulang kali memantulkan bola tenis ke tanah lalu menangkapnya, hampir seperti sedang mendribel bola basket. Tapi Yukinoshita bergeming; matanya hanya menunggu kelanjutan aksi Miura.

Miura tersenyum. Senyumnya itu sungguh berbeda dengan senyum yang ditunjukkan Yukinoshita sebelumnya... itu adalah senyum seekor hewan buas.

"Jangan salahkan aku kalau bolanya mengenai wajahmu."

...wuah, menakutkan. Ini pertama kalinya kudengar seseorang membuat prediksi seperti itu.

Saat memikirkannya, kudengar suara *wuuuss* dan sedikit bunyi dari bola yang dipukul.

Bolanya melesat kencang ke sisi kiri Yukinoshita dan menyerempet garis sisi kiri lapangan. Yukinoshita adalah pengguna tangan kanan, jadi pukulan itu ada di luar jangkauannya.

"...gampang."

Bersamaan dengan kudengarnya bisikan itu, Yukinoshita sudah bersiap untuk mengembalikan bola. Ia memancangkan kaki kirinya ke tanah dan menggunakannya sebagai tumpuan, lalu ia berputar seolah sedang berdansa waltz. Itu adalah backhand sempurna yang dilancarkan oleh raket yang digenggam tangan kanannya.

Raketnya berayun layaknya pedang samurai, dan bola yang dikembalikannya melaju kencang ke arah Miura.

Bolanya jatuh ke sisi Miura, dekat di kakinya, dan ia sedikit terpekik sewaktu bolanya memantul kembali. Pengembalian cepat tadi membuat Miura tersentak.

"Entah kau tahu soal ini atau tidak, tapi aku juga benar-benar jago dalam tenis."

Yukinoshita menghunuskan raketnya ke arah Miura dan menatap dingin perempuan itu, hampir seakan sedang melihat seekor serangga. Miura termundur ke belakang, menatap balik Yukinoshita dengan rasa takut dan benci. Bibirnya sedikit menekuk dan ia mulai melontarkan umpatan. Sampai bisa membuat Ratu Miura jadi terlihat seperti itu... Yukinoshita memang luar biasa.

"...hebat juga kau bisa mengembalikan bola tadi."

Yukinoshita tak menunjukkan sedikit pun reaksi terhadap ekspresi menggertak yang ditampakkan wajah Miura, melainkan hanya tertuju tepat pada satu titik.

"Wajah perempuan itu mirip sekali seperti wajah para senior yang dulu pernah mengerjaiku. Mudah untuk mengetahui betapa rendahnya orang tersebut."

Yukinoshita menyunggingkan senyum kemenangan lalu mulai menyerang.

Bahkan pertahanannya adalah serangan. Ini tak seperti yang biasanya orang lawas katakan, Pertahanan terbaik adalah menyerang — permainan bertahannya begitu agresif. Ia akan menjatuhkan servis tepat ke sisi lapangan lawan sebagai balasannya, dan setiap bola yang menuju ke arahnya akan dikembalikan sepenuh tenaga.

Para penonton pun menjadi kecanduan akan keindahan permainannya.

"Fuahaha! Anak buahku sungguh kuat! Ayo libas mereka semua!"

Zaimokuza terjebak dalam aroma kemenangan dan akhirnya kembali ke pihak kami, dan kini ia benar-benar berada di pusat perhatian. Itu membuatku jengkel... tapi di sisi lain, fakta bahwa Zaimokuza berada di pihak kami adalah tanda kalau keadaan sudah berbalik.

Saat aku dan Yuigahama yang bermain tadi, kami merasa benar-benar sedang bermain di kandang lawan, tapi perlahan kini para penonton berpihak ke sisi Yukinoshita. Soalnya, semua anak lelaki kini tengah memandang Yukinoshita dengan menggebu-gebu.

Yah, memang benar kalau Yukinoshita adalah spesies yang berbeda, dan tak banyak yang tahu seperti apa sifat aslinya. Dan tentu saja ia juga begitu cantik. Ia juga punya aura misterius yang mengelilinginya; kesan yang dipancarkannya bagai sekuntum bunga yang tumbuh di puncak tertinggi sebuah gunung, yang tak mungkin untuk dipetik. Bukan berarti kalau ia terlihat menakutkan, tapi dirinya terasa seperti sesosok makhluk yang tak tersentuh yang tak boleh diajak bicara.

Sudah tentu Yuigahama punya keberanian yang besar hingga bisa sedikit menembus penghalang itu... dan bisa jadi ia juga orang yang sangat bodoh.

Akan tetapi, sikap jujurnya yang kolot dan kebaikannya yang apa adanya itu mampu menggetarkan hati Yukinoshita. Yuigahama satu-satunya manusia yang sanggup meyakinkan Yukinoshita agar bisa datang kemari hari ini, dan Yukinoshita pun bermain dengan segenap kemampuannya demi membalas keberanian Yuigahama itu. Ia mungkin takkan datang andai aku yang memintanya.



Selisih angka kami yang besar perlahan menipis.

Sewaktu menyaksikan Yukinoshita yang berputar ke kiri dan ke kanan di tengah lapangan, aku selalu membayangkan kalau ia tampak seperti seekor peri. Gerak kakinya yang bagai tarian itu merupakan atraksi seorang bintang di atas panggung. Aku hanya pemain figuran di sini, dan setiap kali menerima bola, aku merinding saat semua orang menatapku. Seakan mereka ingin berkata, Jangan kau!

Namun harapan para penonton terkabulkan — kini giliran Yukinoshita yang melakukan servis.

Ia cengekeram bolanya lalu melambungkannya ke udara. Bola itu hampir tampak seperti terisap oleh langit biru sewaktu melayang ke tengah lapangan. Bola tersebut tampak takkan jatuh di dekat posisi Yukinoshita berada.

Semua orang bakal mengira kalau bolanya luput, akan tetapi...

Yukinoshita terbang.

Ia melangkah ke depan dengan kaki kanannya, membuat dorongan dengan kaki kiri, lalu melompat saat kedua kakinya sejajar. Itu merupakan langkah ringan layaknya staccato.

Kemudian ia melayang ke udara dengan anggunnya. Posisi tubuhnya bagai seekor elang yang dengan halusnya meluncur ke angkasa, dan tak ada seorang pun yang tidak terkejut oleh pemandangan tadi. Dirinya begitu gesit dan elok dipandang. Tak ada yang berkedip sewaktu mereka merekam kejadian ini di ingatan mereka.

Suara melengking terpekik melalui udara, kemudian bolanya bergulir jauh di atas tanah. Para penonton, aku, Hayama, Miura... tak seorang pun yang sanggup menggerakkan diri.

"...ser... servis lompat..."

Ucapku, namun aku hampir kehilangan kata-kata. Menyaksikan hal tak masuk akal yang dilakukan Yukinoshita itu membuatku tak bisa menutup mulut yang menganga ini. Kami sempat jauh tertinggal, tapi ia dengan mudah mengejarnya. Bahkan kini kami unggul dua angka, dan jika kami berhasil meraih angka lagi, maka kami akan memenangkan pertandingan ini.

"Kau memang luar biasa. Tetap seperti itu dan kita menangkan ini dengan mudah."

Aku begitu yakin hingga bisa berkata begitu, namun Yukinoshita tiba-tiba merengut.

"Mauku memang begitu, tapi... rasanya itu mustahil."

Ingin kutanyakan alasan ia berkata begitu, namun kulihat Hayama sudah bersiap melakukan servis.

...terserahlah... tampaknya kami akan menang begitu Yukinoshita melancarkan pengembalian bola andalannya. Aku takkan lengah, aku yakin kalau kami akan menang sewaktu bersiap menghadapi servis itu.

Hayama juga tampak kehilangan sedikit motivasi untuk bermain; servisnya tak ia lakukan sekuat tenaga seperti sebelumnya. Servisnya memang cukup cepat, tapi itu hanya servis biasa, dan bolanya melaju ke ruang di antara aku Yukinoshita.

"Yukinoshita."

Kupikir bola itu lebih baik kuserahkan padanya, makanya tadi aku memanggil namanya. Namun ia tidak menanggapiku. Yang kudengar justru suara datar dari pantulan bola yang jatuh di antara kami.

"He-hei!"

"Hikigaya... apa kau tak keberatan jika aku sedikit sesumbar?"

"Hah? Lagi pula, ada apa dengan permainanmu barusan?"

Yukinoshita tak tampak peduli dengan ucapanku, tetapi justru menghela napas panjang dan menjatuhkan diri di tengah lapangan.

"Sejauh yang bisa kuingat, aku selalu bisa melakukan segala hal, karena itu aku tak pernah berlama-lama menanganinya."

"Terus kenapa mendadak bicara begitu?"

"Bahkan dalam tenis, ada seseorang yang melatihku di olahraga tersebut, namun setelah tiga hari aku bisa melampauinya... tidak, tidak hanya olahraga, bahkan musik juga. Aku bisa menguasainya hanya dalam tiga hari saja."

"Wah, kau mirip kebalikan dari pengangguran tiga hari. Dan ternyata kau memang cuma mau sesumbar! Jadi maksudnya semua ini apa?"

"Satu-satunya hal yang tak kuyakini adalah ketahanan fisikku."

Kudengar suara pantulan bola lainnya yang melesat dan berdesing di dekat Yukinoshita.

Sudah sangat terlambat mengatakan hal tersebut di saat seperti ini...

Karena Yukinoshita bisa melakukan segala hal, ia tak pernah terjebak dalam suatu hal, dan ia tak pernah berlama-lama dalam hal apa pun. Itu berarti ketahanan fisiknya adalah titik lemahnya. Pantas saja yang selalu ia lakukan hanyalah menonton kami sedang latihan saat istirahat makan siang... yah, jika diingat kembali, ini memang sudah kelihatan jelas. Jika ingin lebih baik dalam suatu hal, maka caranya adalah dengan berlatih, dan semakin banyak berlatih, semakin kita bisa meningkatkan ketahanan fisik kita.

Namun karena dari awal ia bisa melakukan segala hal dengan begitu baik, makanya ia tak pernah berlatih. Dan itu sebabnya ketahanan fisik yang dimiliki perempuan itu begitu lemah.

"Uh, tapi kau tak harus mengatakannya dengan suara sekeras itu, 'kan...?"

Aku menoleh ke arah Hayama dan Miura, lalu melihat Ratu Hewan Buas itu sedang tersenyum bengis.

"Oh, tapi kami sudah dengar, lo~~"

Ujar Miura dengan agresif. Terlihat kalau semua kesulitannya baru saja sirna. Tepat di sebelahnya, Hayama juga tertawa kecil.

Ini situasi yang paling buruk... sesaat setelah kami memimpin pertandingan, mendadak perolehan angka menjadi deuce.

Kami memang pemain pemula dalam tenis yang memiliki peraturan aneh ini. Tapi kami paham kalau dalam keadaan deuce, kemenangan bisa diraih kalau bisa memimpin dengan selisih dua angka.

Andalan kami, Yukinoshita, sudah kehabisan seluruh staminanya dan kini hanya terdiam. Tak hanya itu, lawan kami sudah sadar betul akan situasi ini. Buktinya, servisku sudah tak ampuh lagi melawan mereka — mereka dengan mudah mengembalikannya, dan akhirnya jadi seperti itu.

"Ia boleh saja mengganggu jalannya pertandingan tadi, tapi sepertinya semua sudah berakhir, ya 'kan?"

Aku tak bisa membalas ucapan agresif Miura tadi. Yukinoshita pun masih terdiam... malahan, ia sempat mengangguk. Ia tampak kelelahan. Apa-apaan itu? Memangnya ia itu Hiei, apa?

Miura memandang angkuh ke arah kami dan tertawa dengan senangnya. Sepertinya ia ingin segera mengakhiri ini. Aku merasa seperti sedang ditatap oleh seekor ular... memangnya perempuan ini anaconda, apa?

Hayama merasakan suasana berbahaya ini dan mencoba menyela.

"Su-sudah, sudah, semuanya sudah berusaha keras... enggak usah terlalu serius. Lagi pula pertandingannya menyenangkan, jadi kita anggap seri saja, ya?"

"Ap—? Hei, Hayato, kau itu bicara apa? Ini pertandingan, lo. Kita harus serius dan melakukannya sampai selesai."

Dengan kata lain, mereka akan memenangkan pertandingan dan secara sah mengambil alih lapangan ini dari Totsuka. Ditambah, ucapan, Melakukannya sampai selesai tadi... mengerikan sekali. Kira-kira apa yang mau ia perbuat kepadaku... aku sama sekali tak suka ini... jangan-jangan itu bakal menyakitkan? Aku tak suka saat semuanya jadi terasa menyakitkan...

Seketika aku berdiri menunggu, kudengar ada seseorang yang berdecak.

"Bisakah kalian tenang dulu?"

Ujar Yukinoshita terdengar tidak senang. Ia lalu lanjut berbicara sebelum Miura sempat menanggapinya.

"Anak ini yang akan mengakhiri pertandingannya. Jadi kalahlah dengan terhormat."

Semua yang di sini meragukan apa yang baru didengar mereka tadi. Tentu saja termasuk diriku... malahan, akulah yang paling terkejut di sini.

Mendadak semua mata tertuju padaku. Hingga tadi, keberadaanku tidaklah diakui, tidak pula diinginkan. Namun mendadak aku merasa keberadaanku kini begitu menguat.

Aku saling bertatapan dengan Zaimokuza. Untuk apa ia mengacungkan jempol segala?

Aku saling bertatapan dengan Totsuka. Untuk apa ia menatapku dengan penuh harap begitu?

Aku saling bertatapan dengan Yuigahama. Kuharap ia berhenti menyorakiku, sial... malu sekali rasanya.

Aku saling bertatapan dengan Yukinoshi— ah, ia sudah berpaling. Ia malah melemparkan bola padaku.

"Kau tahu sendiri, bukan...? Kadang aku memang melontarkan hinaan maupun cacian, tapi aku tak pernah menggembar-gemborkan kebohongan."

Angin pun terhenti, mungkin karena itu suaranya begitu jelas terlantang.

Ya, aku tahu itu... yang berbohong di sini hanyalah aku dan mereka saja.




Read more ...»