Oreshura Jilid 1 Bab 5

On Minggu, 07 Mei 2017 0 komentar

=========================================================
Lama ya...? Baiklah setelah ini akan berturut-turut di-update rilisannya... Jadi langsung ke catatan terjemahan saja...
Mendo adalah seruan yang diteriakkan ketika memukul bagian depan helm lawan dalam kendo...
Funnel adalah senjata yang cara kerjanya dikendalikan oleh pikiran pilot dalam seri Gundam. Mereka yang bisa menggunakannya disebut 'newtype', karena Chiwa menyebut dirinya 'oldtype', makanya dia mengatakan kalau Chiwa tidak akan bisa menggunakan funnel...
Hasil terjemahan seri ini di-posting di masing-masing fantranslation... Rilisan seri ini bisa terlebih dahulu dinikmati sehari lebih awal di Zhi-End Translation...
Selamat menikmati....
=========================================================


Bab 5 - Musik Ringan Adalah Sebuah Kekacauan


Keesokan harinya, saat istirahat makan siang.

Sambil menyantap makan siang, kuutarakan secara detail apa yang terjadi kemarin. Kaoru menatapku dengan mata terbelalak.

"Oh, benar-benar perkembangan yang tidak disangka." 

Kaoru benar.

Fakta bahwa aku mendapat pacar adalah kejadian konyol yang sungguh tidak wajar. 

Namun tidak pernah kusangka bahwa aku, yang terkenal selalu pulang ke rumah sehabis sekolah, akan mengikuti kegiatan klub ....

"Apa kamu tahu siapa guru pembimbingnya? Jika tidak ada, kegiatan klub tidak mungkin bisa diadakan, bukan?" 

"Beliau adalah guru sastra, Itotani-sensei. Tahun lalu dia adalah pembimbing klub upacara minum teh, tapi setelah murid kelas tiga lulus, klub itu bubar. Kami dengar dia tidak begitu sibuk, dan klub kami berhasil mengambil alih klub upacara minum teh." 

"Lalu bagaimana caramu menjelaskan kegiatan klubnya pada guru?"

"Demi tujuan untuk menggali kembali penampilan sejati gadis jepang, untuk mengubah murid SMA Hanenoyama menjadi gadis yang bermartabat, suci, jujur, dan cantik, mempelajari etika atau mungkin sopan-santun, dan sebagainya ...."

Kudengar dari Masuzu saat dia menjelaskannya pada guru, meski begitu, aku benar-benar bingung.

Lupakan saja. Itu hanyalah permainan kata-kata.

"Klub kami punya tujuan untuk membuat populer anggotanya dan menyenangkan semua orang, fuhuhuhu~tehe?" tadi itu bukanlah hal yang pantas untuk dikatakan.

Selain itu, ada masalah yang lebih penting yang belum terpecahkan. Apakah buku catatanku akan dibeberkan pada Chiwa atau tidak.

Aku lalu bertanya pada Masuzu tentang alasannya berbuat begini ....

Tidak ada alasan khusus. Hanya saja, lebih menarik kalau seperti itu.

Buku harian ini penuh hal-hal yang sangat menarik .... Aku bisa jelas merasakan <<aura>> talenta Eita yang luar biasa.

Tapi jangan khawatir, aku tidak akan membeberkan isi buku harian ini pada Harusaki-san, ataupun membiarkan dia tahu bahwa ini adalah buku harian pribadimu 

Aku berjanji padamu, jika hal ini terjadi, aku akan mencabut peran pacar <<fake>>-mu itu."

Yah, karena dia bilang begitu, tidak ada ruginya mempercayai hal itu sekarang.

Tapi mustahil menyingkirkan kegelisahan ini. 

"Sampai berkata begitu, inisiatif Natsukawa-san benar-benar luar biasa."

"Ya, aku benar-benar terkejut."

Nyatanya, hanya dalam satu hari, dia berhasil menemukan guru pembimbing, mendaftarkan dan medapatkan ruang klub, ditambah dia bisa memaksa Chiwa bergabung. Aku tidak pernah mengira kekuatan dari seorang ojou-sama.

Kebetulan, Masuzu masih belum ada di kelas, dan aku tidak pernah mendengar kalau dia pergi ke kantin. Jadi, dia makan siang di mana?

"Oh, iya, bagaimana dengan Chihuahua-chan?"

"Tampaknya dia sedang terbakar semangatnya ...." 

Meski sementara ini kelihatannya kami tidak saling berbicara, kemarin malam Chiwa datang untuk makan malam. 

Hidangannya adalah babi panggang jahe, dan dia terus menambah nasinya hingga tiga kali.

"Meski rasanya menjengkelkan dinasehati perempuan itu, tapi aku juga mendengar sesuatu yang bagus." 

"Aku ingin mencuri rahasianya, aku ingin lebih popular dari pada Natsukawa .... Aku pasti akan menunjukannya padamu!" 

Terlihat senang, Chiwa berbicara dengan heboh sampai nasinya berceceran.

Mungkin memang karena itu.

Sejak dia tidak bisa lagi berlatih kendo, kupikir dia punya terlalu banyak energi yang menunggu untuk dihabiskan.

Terlebih, dia sering berkata, mencari hal-hal baru untuk dilakukan.

Hehe.

"Entah kenapa, bukankah Eita terlihat sangat senang sekarang?" 

"Jangan konyol. Dia memaksaku untuk mengurangi waktu belajarku, dan rasanya sangat mengganggu." 

Biarpun begitu, ekspresi di wajahku menjawab berbeda.

Faktanya, Kaoru sepenuhnya benar. Aku memang sedikit ... senang.

Akan tetapi, itu bukan karena aku ikut bergabung dalam klub baru.

Melainkan, melihat Chiwa yang berulang kali berusaha begitu keras— tidaklah buruk.

"Meski begitu, berada di antara dua gadis juga sangat berat," ujar Kaoru dengan senyum masam. 

"Ya, hanya kamu yang bisa mengerti aku." 

"Tentu saja, karena kita ini sahabat."

Rasa empati semacam ini adalah sesuatu yang ingin juga kuperoleh dari pacar dan teman sedari kecilku.

Aku tidak sabar menantikannya!


XXX


Sepulang sekolah—

Ada sebuah gulungan kaligrafi yang ditulis Masuzu tergantung di depan ruang klub.

Klub Jien-Otsu kami akhirnya siap memulai kegiatan.

"Harusaki-san, apa kamu siap?" tanya Masuzu.

Masuzu memakai pakaian seputih salju sebagai jubah yang dia peroleh entah dari mana, dengan satu tangan membawa buku catatanku, terlihat seperti seorang guru. Pakaian semacam ini sangat cocok untuknya. Sudah kuduga, orang cantik pasti bisa melakukan hal seperti itu.

"Penghiburan diri para gadis muda, ayo dimulai!"

Chiwa menggerutu tidak puas, meski begitu ia tetap berlutut di bantalan duduk. Seperti pelatih kendo yang berpengalaman, punggunggnya lurus, dan posturnya sempurna.

Aku menyusul dan duduk bersila di kursi lipat, tidak jauh dari kedua gadis itu. 

"Untuk memulai, mari sepakati satu tujuan." 

"Tujuan?"

"Pertama, kita targetkan orang yang ingin kamu jadikan pacar. Singkatnya, siapa yang ingin kamu taklukan?"

"Menjadi populer tanpa hal itu ..., apa tidak bisa?"

"Aku percaya menetapkan sebuah tujuan pasti akan memudahkan kita mendapatkan hasil dari pelatihan ini."

"... tapi, meski kamu menyuruhku langsung memilih seseorang ...." 

Kata Chiwa, kemudian melirik sejenak ke arahku.

Ada apa?

Apa dia ingin meminta saranku mengenai hal itu?

"Benar, memiliki sebuah tujuan adalah hal yang bagus. Jadi, apa ada seseorang yang mengusik hatimu?" 

"Ah ... mana mungkin aku punya ..., 'kan?"

Chiwa menundukkan kepalanya.

Eh ....

Tidak ada lelaki yang disukainya, tapi masih ingin menjadi populer?

Ini sungguh menyia-nyiakan inti dari penetapan tujuan.

"Jangan berpikir terlalu keras, tidak apa-apa jika mulai dari mereka yang kamu anggap teman."

Chiwa menundukkan kepalanya selama beberapa sesaat dan berkata,

"Yah ...."

Dia kemudian mendongak dan melanjutkan perkataannya,

"... Sakata dari klub basket putra? Dia seorang kakak kelas. Aku selalu dengar para gadis di kelas kami membicarakan soal tampannya dia."

Sakata?

Apa klub basket putra punya senpai dengan nama itu?

"Apa maksudmu Sakagami-senpai? Anak kelas tiga itu?"

"Ah, be-betul, maksudku dia."

Jadi maksudnya kakak kelas yang itu?

Jika itu benar-benar dia, maka aku tahu seperti apa orangnya. Dia akan ikut andil dalam kompetisi olahraga  Inter-High tingkat SMA, dan dia adalah andalan tim basket SMA Hanenoyama. Dia sangat tinggi, berpenampilan menarik, dan pastinya dianggap sebagai kakak kelas yang populer.

"Tapi dia seperti bunga yang tidak bisa dijangkau, bukankah itu sulit?" 

"Yah, aku jelas ... tidak merekomendasikan dia," kata Masuzu samar.

Aku sedikit terkejut.

Kupikir dia akan berkata, Tujuan yang ambisius pasti akan sangat bagus.

"... tidak, tunggu, sebenarnya ini sangat pas." 

Masuzu melanjutkan seolah mengesampingkan keraguannya tadi. Dia mengangguk dan berkata,

"Adiknya Sakagami ada di kelas kami. Akan lebih mudah menggunakan dia untuk mengenalkan dirimu."

"Mungkin kamu bisa membuatnya memberitahu kakaknya kalau ada gadis yang sangat manis di kelasnya."

Bahkan setelah melalui semua kendala untuk memilih seorang target, ekspresi Chiwa tetap terlihat tidak senang.

"... yah, kurasa Sakashita-senpai bisa kutetapkan sebagai tujuan."

"Maksudmu Sakagami?" 

"Ah, iya, Sakagami-senpai." 

Bagaimana bisa antusiasmenya tiba-tiba menghilang?

Kemarin, dia begitu bersemangat.

"Yah, karena kita sudah menetapkan sebuah tujuan —maka kita mulai hari pertama pendidikan." 

Masuzu berdiri di depan papan tulis putih (yang dia dapatkan entah dari mana) lalu berkata,

"Pertama kita akan membaca buku hariannya, jadi tolong dengar dan perhatikan."

Eh?

Tidak ada yang bisa kulakukan selain terkejut ..., namun, mata Masuzu melirik ke arahku sambil tersenyum seolah berkata, Tidak usah khawatir.

... yah, sementara ini aku akan percaya padamu.

"28 Mei- Cerah. Aku ingin memperkenalkan partnerku — gitarku dan musik barat, seiring dengan irama jiwa. Hari ini, aku membawa partnerku keluar bersamaku. Mereka adalah aku. Sampai kapan pun, aku tidak mampu baik untuk melepaskan, meninggalkan, atau mengganti mereka dengan avatar palsu. Itu adalah Guitar! Itu terukir sebagai partner jiwaku. Ketika kubawa gitar ini, aku terlihat mirip seperti seorang artis. Mata orang-orang yang lewat di jalanan menatapku dengan pandangan berbeda. Itu karena mereka melihat mata seorang artis — yang hanya menunggu apa yang ada di depannya. Terpapar tatapan bergairah ini, aku dan partnerku terbakar semangat, panas, panas. Tapi ekspresiku selalu Kool karena— tidak, bukan seperti itu. Wajah Kool x jiwa Hatto = 8. Jika bukan seperti itu, kamu tidak akan bisa membuat musik sungguhan— Ayolah, hari ini kita akan mengadakan pembukaan konser! Abaikan sekolah yang menyedihkan —panaskan suasana sekarang!"

"Ku— oooooooooooouuuu—"

Ini ....

I-ini sudah .....

Masuzu benar-benar menuruti perjanjiannya, dia membuat perubahan yang cerdik, menghilangkan hal-hal yang spesifik, hingga tidak ada yang bisa tahu kalau aku yang menulis buku harian itu.

Dia melakukannya dengan sangat baik, sampai aku ingin memujinya.

Ta-tapi ....

Tapi ....

Aaaaarrggghhhhhhhhhhhh ....

"Hei, hei, Ei-kun! Kamu tidak apa-apa?" 

Kusadari Chiwa sedang mengguncang bahuku.

"Ya, aku tidak apa-apa, Chiwa, haha, memangnya ada apa? Kamu terlihat kaget begitu." 

"Soalnya tiba-tiba kamu mulai membenturkan kepala ke dinding! Eh! Kamu ..., kamu berdarah!" 

Chiwa segera mengambil cairan disinfektan merah dan kain kassa dari dalam tasnya. Sepertinya dia punya kebiasaan membawa P3K sejak bergabung ke klub kendo. Dia sangat berpengalaman dan sudah ahli dalam merawat luka.

"Apa Eita-kun mau dibawa ke UKS?"

Tidak disangka, Masuzu ikut peduli.

—oh tunggu, bukankah dia orang yang patut disalahkan atas hal ini?

Sial ....

Tidak pernah kubayangkan kalau membaca buku catatan di depan orang bisa punya kekuatan merusak yang sebegitu besar.

Ini sungguh di luar dugaanku.

Mungkin ini benar-benar akan berdampak pada hidupku.

Aku harus segera membuat Chiwa populer, lalu menghentikan  kegiatan klub ini, kalau tidak ....

"Ma-maaf, aku baik-baik saja! Kita bisa terus lanjut." 

Masuzu mengangguk, dan kembali berdiri di depan papan tulis.

"Inti dari buku harian ini adalah — orang yang ikut sebuah band, adalah orang populer! Khususnya terhadap gitar. Faktanya, 97% murid SMA lelaki yang mulai belajar bermain gitar, melakukannya supaya menjadi populer. Data penyelidikan ini sangat jelas, dengan kata lain, Gitar memiliki efek yang sangat bagus terhadap popularitas. Tentu saja, ini juga berlaku untuk para gadis SMA."

Meski Masuzu dengan tenang menyelipkan beberapa rumor palsu, aku harus setuju kalau klaim Masuzu ini mengandung beberapa kebenaran walau dia menyimpangkan maksudnya.

Orang yang tergabung dalam band memang benar-benar populer. Tapi apakah ini karena band membuat orang populer atau karena orang populer tergabung dalam band? Yang manapun itu, aku tidak cukup yakin.

"Tapi bagaimana jika aku tidak bisa bermain gitar?"

"Lalu apa yang bisa kamu mainkan?"

Chiwa memiringkan kepalanya dan berkata :

"Hmm .... Shinai?"

"Shinai bukan alat musik." 

"Eh? Tapi shinai menghasilkan bunyi ketika terpukul." 

"Memangnya ada nadanya?

"Mendo~ Mendo~"

"Bisa-bisanya kamu mengatakan itu dengan santai?!"

Masuzu mengetuk tongkatnya di papan tulis lalu berkata,

"Tidak masalah jika kamu tidak bisa memainkannya."

"Eh?"

"Kamu hanya perlu terlihat seolah tahu cara memainkannya. Lagi pula, kamu tidak akan punya kesempatan untuk menampilkannya di sekolah."

"Betul ...." 

"Saat ini, gitar khayalan itu sedang jadi tren, 'kan? Itulah bukti paling nyata kalau kamu ingin jadi populer, kamu tidak harus bisa bermusik." 

Masuzu lalu mengeluarkan kotak gitar dari balik papan tulis.

Itu adalah kotak gitar yang besar, berat, berwarna hitam.

"Silakan, ini untukmu."

Chiwa mengambil kotak tersebut, membukanya, dan mengeluarkan ekspresi menyerah.

"Mana gitarnya?"

Masuzu mengangkat bahu, seolah bermaksud mengatakan, Anak kecil ini bicara apa? dengan bahasa tubuhnya. 

Gadis itu pun bertanya,

"Jika ada gitar di dalamnya, nanti jadi terlalu berat, 'kan?" 

"...."

"Silakan bawa kotak ini bersamamu. Seperti yang para pemain gitar akan katakan, Gitar itu seperti bagian tubuhmu sendiri, bukan begitu, Eita-kun ?"

"Ten-tentu." 

Di buku catatan itu memang tertulis begitu.

Meski pada kenyataannya, aku tidak tahu apa pun soal gitar.

Isi dari buku harianku seluruhnya berdasar pada gagasan, Jika aku bisa bermain gitar. Anggap saja ini sejenis persiapan mental atau visi untuk masa depan ..., atau yah ... sejenis cerita mimpi yang ideal.

Argh.

Tidak ....

"Waaahhhhhhhhh! Jika kamu melompat dari jendela itu, kamu akan mati!" 

"Kamu ini kenapa?! Tenanglah, Ei-kun!"

Aku akhirnya menyerah untuk bunuh diri ketika Chiwa menenangkanku.

Masuzu berdeham dan berkata,

"Jika ada yang ingin menyentuh kotak ini, marahi mereka, Jangan kotori jiwaku! atau, Singkirkan tangan kotormu!, sifat mudah marah adalah ciri khas dari seorang gitaris."

Itu anggapan yang sungguh klise.

"Tapi di dalamnya kosong, 'kan?" 

"Yah, jika ada gitar di dalamnya, bukankah nanti jadi terlalu berat?"

"...."

Chiwa memperlihatkan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan, sambil menatap ke arah kotak gitar tersebut.

"Ditambah, kamu harus sepenuhnya meremehkan musik tradisional Jepang."

"Ke-kenapa begitu?"

"Itulah kecenderungan gitaris. Mendengarkan musik tradisional itu hina, sampah, serangga kotor! Kamu harus punya persiapan mental seperti ini, khususnya saat mendengarkan Johnny atau AK. Saat kamu mendengarkan jenis musik seperti ini, itu seolah membuat telingamu membusuk, akui itu!"

Eh?

Apa Masuzu memang punya kebencian mendalam terhadap musik tradisional Jepang?

"Apa ini benar-benar akan membuatku populer?"

Tanya Chiwa sambil mengerutkan alisnya.

Tampaknya dia sudah mulai merasa curiga.

"Tentu saja, catatan dia itu lebih sempurna daripada sebuah kitab." 

Bahkan ketika dihadapkan dengan pertanyaan yang meragukan, Masuzu tetap tidak goyah.

"Kebencian terhadap musik tradisional dan kecintaan terhadap musik barat adalah syarat mutlak bagi seorang gitaris." 

"Aku tidak pernah mendengarkan musik barat, dan aku tidak tahu siapa pun penyanyinya."

"Bukan penyanyi. Mereka disebut artis." 

Masuzu dengan teliti membenarkan detailnya.

"Jangan khawatir, jika ada yang bertanya siapa artis favoritmu, sebut saja nama dari Stand di Jojo's Bizarre Adventure Bagian IV, seperti yang tertulis di buku catatan ini." 

"...."

Maafkan aku, Araki Hirohiko-sensei.

"Oh .... Omong-ngomong Jojo itu apa?"

"Ehh?!"

Masuzu menatap Chiwa dengan ekspresi kaku,

"Maksudmu, kamu tidak tahu JoJo's Bizarre Adventure, begitu?"

"Tidak. Apa itu ada hubungannya dengan Toko Yakiniku ? 

"...."

Masuzu menghela napas panjang.

Bukankah ini berarti, terlepas dari penampilannya, dia menyukai manga cowok sebagaimana Chiwa menyukai manga cewek?

"Akhirnya aku tahu alasan kamu tidak populer, Harusaki Chiwa. Seseorang yang tidak tahu Jojo itu satu level dengan manusia purba Peking." 

"Ja-jangan bicara omong kosong! Aku ini orang Jepang tulen!" 

Tidak, kamu seharusnya berceletuk di bagian manusia purba itu

"Jika kamu ingin mengklaim bahwa kamu adalah orang Jepang yang hidup di era modern, bacalah dulu Jojo sampai tamat! Populer atau tidak, mulai dari sinilah awalnya." 

"Jojo berubah menjadi sebuah faktor penting ...." 

Chiwa menundukan kepalanya dengan kesal.

Tapi hanya beberapa detik setelahnya,

"Aku mengerti. Aku akan mampir di toko buku dan membelinya saat pulang!" 

Rambut Chiwa mendadak terayun ketika dia mengangkat kepalanya, matanya kembali berbinar dengan penuh antusias.

"Sebenarnya, aku ingin kamu membaca semuanya dari awal, tapi karena kita hanya fokus dengan bagian keempat, belilah volume 29 sampai 47. Satu volume harganya 410 yen, jadi total semuanya 7790 yen." 

"Mahal sekali! Aku hanya punya uang saku 5000 yen sebulan!" 

"Pahami inti dari hal ini. Untuk menjadi populer, seseorang pasti akan membutuhkan uang." 

"Yang benar saja, jadi yang namanya cinta itu ... tergantung dari banyaknya uang ...." 

Mata Chiwa memandang jauh.

Ya ampun ....

"Jangan khawatir, Chiwa, soal Jojo, aku punya lengkap semua volumenya, nanti aku pinjamkan." 

"Te-terima kasih, Ei-kun~!" 

Chiwa terlihat mirip seperti anak anjing yang telah diberi makan, dan mendekat ke arahku dengan antusias.

"Jika setelah membaca kamu jadi menyukainya, pastikan untuk memiliki salinannya sendiri, paham?" 

Desak Masuzu agar Chiwa melakukan hal tersebut. Ini adalah bukti bahwa dia penggemar garis keras Jojo.

Setelahnya, kami pun membahas detail operasi popularitas yang akan dilaksanakan besok.


XXX


Hari berikutnya sepulang sekolah....

"Oi, oi ..., Ei-kun!"

Sambil membawa kotak gitar, Chiwa datang ke kelasku.

"Hei— Chiwa? Kenapa, hari ini, kamu membawa gitar?"

"Ini, tentu saja, adalah jiwaku! Gitar adalah jiwaku!"

Chiwa dan aku berbicara kata demi kata.

Sementara Masuzu, dia duduk di sampingku, sepenuhnya mengabaikan kami sambil menulis riwayat tugas harian. Jika ada masalah, jika sesuatu yang tidak beres terjadi, dia akan ikut bergabung dan menyesuaikan situasinya.

Adik Sakagami-senpai duduk di meja berjarak tiga meja di depan orang yang duduk di kananku.

Dia sedang mengobrol dengan seorang gadis, yang artinya dia masih belum pulang.

Itu adalah kesempatan yang bagus.

"Aneh, ya? Jadi Chihuahua-chan bisa main gitar?" 

Yang berbicara barusan adalah pemimpin dari grup para gadis —Akano Mei.

Katanya dia memiliki lingkup pertemanan yang luas. Tidak peduli di kelas mana, baik lelaki maupun perempuan, dia selalu punya teman, seolah-olah dia itu perwujudan dari gadis populer.

Dia dan Chiwa harusnya hanya sesekali bicara, jadi fakta bahwa gadis itu menyebut nama panggilan Chiwa adalah perubahan yang sangat berarti.

"Hai, Mei-chan! Ya, aku bisa main gitar, hahaha!"

"Sudah berapa lama kamu memainkannya?"

"Be-berapa lama, ya .... Aku sudah lebih dulu memegang pick gitar sebelum minum dari botol susu!"

"Apa kamu punya 'band'?"

"A-aku .... Aku bermain sendiri! Terkadang, aku melalukan pertunjukan solo di stasiun kereta."

"Luar biasa. Kamu sudah seperti musisi jalanan!"

"I-iya! Haha! Hahaha!"

Hei ....

Bualanmu itu sudah berlebihan, tahu?

Meski begitu, obrolan tadi tampaknya punya hasil. Kulihat adik Sakagami beberapa kali melirik ke arah Chiwa.

Kami lalu menatap Masuzu yang ada di samping, dan menyadari bahwa di bawah meja, dia sudah mengacungkan telunjuknya.

Itu adalah aba-aba untuk lanjut.

"Musik macam apa yang biasanya kamu dengarkan?"

Salah satu teman Akano — Aoba Satsuki, ikut menambah pembahasan.

Kedua gadis itu adalah pusat pergaulan kelas kami, biasa disebut Kombinasi Merah-Hijau.

"Hmm, seperti reddo hotto, chiri pepaa. Kadang juga baddo kanpani dan sejenisnya. Tahu, 'kan?"

Meski perlahan dia tampak mulai ragu, Chiwa tetap menjawab nama band tersebut dengan benar.

Terbukti, dia sudah membaca semua bagian IV kemarin malam.

"Red Hot .... Apa itu?"

"Kamu tidak tahu? Mereka itu band asal Amerika yang sangat terkenal."

Akano berkedip dengan takjub ke arah Aoba yang bersedia memberi penjelasan.

Sepertinya Aoba adalah tipe orang yang serba tahu.

"Harusaki-san, jadi kamu suka Rechiri?"

"Rebusan aneka ikan buntal? Aku pernah memakannya sewaktu berwisata dengan keluargaku di Kyuushu, tapi aku lebih suka shabu-shabu daging babi."

Oi, dasar Chiwa bego!

Seharusnya kamu memikirkan konteks pembicaraan! Rechiri itu singkatan dari Red Hot Chili Pepper.

"Ah, maaf, Harusaki-san. Kamu tidak suka singkatan ini, ya?"

"EH?"

"Semua penggemar terdahulu menyingkatnya RHCP atau Chilipepper, bilang ayahku sih begitu."

Chiwa terlihat seolah dia akhirnya mengerti.

"Ah! Eng, aku memang penggemar terdahulu mereka. Aku seorang oldtype."

Sepertinya Chiwa tidak akan bisa menggunakan Funnel*.

"Yah, karena kamu penggemar Chilipeppers, gitarmu harusnya Stratocaster, 'kan?"

"Eh?"

"Frusciante memang tampan! Sayang sekali dia sudah hengkang dari sana."

"F-Fruscian ...? Stand siapa itu?"

"Stand?"

Obrolan ini tidak akan berhasil

Meski aku sangat ingin membantunya, tapi aku tidak punya pengetahuan apa pun soal musik barat. Bahkan aku baru saja tahu kalau Red Hot Chili Peppers adalah nama sebenarnya band itu karena koreksi mereka tadi.

Menghadapi situasi seperti ini, aku melirik ke arah Masuzu.

"Aah ..., awan-awan berwarna merah bagaikan darah, senja para dewa (Ragnarok) pasti sudah dekat."

Masuzu bersandar di mejanya dengan tangan menopang dagu, layaknya seorang penyair yang menatap keluar jendela dengan malas.

Seakan semua ini tidak ada hubungannya dengan dia.

Aku tidak pernah bertemu orang semengerikan ini!

"Biar kulihat gitarmu."

Akano mengatakan kalimat tegas tersebut.

"Ti-tidak! Ini adalah jiwaku! Aku tidak bisa membiarkan orang lain melihatnya sesuka hati."

Chiwa memindahkan kotak gitar (kosong) miliknya ke belakang.

"Eh? Memanganya kenapa? biarkan aku melihat Stratocaster-mu yang berharga itu!"

"Kalau begitu, kamu harus bermain untuk kami! Walau hanya sedikit, tapi pasti akan mengangumkan!"

Ini adalah batasnya.

"Ayolah, Chiwa! Ini sudah waktunya bagimu untuk melakukan pertunjukkan, 'kan?"

Aku ingin membantunya, tapi—

"Betul, aku juga mau lihat!"

Kali ini, adik Sakagami ikut menimpali.

"Hobi kakakku adalah mengoleksi gitar tua. Kamarnya penuh dengan gitar. Mungkin saja Harusaki bisa akrab dengannya."

Persis seperti kakaknya, anak itu punya wajah yang tampan. Dia lalu mendekati Chiwa.

Setelah akhirnya dipojokkan, Chiwa gemetar dan menempel pada kotak gitarnya.

Aku tersadar betapa pendeknya dia.

Membawa sebuah kotak gitar yang besar membuat tubuh kecilnya itu terlihat pendek. Lagi pula, nama panggilan Chihuahua miliknya itu ada karena suatu alasan.

Meski begitu, fisiknya jelas sangat kuat.

Kebanyakan gadis SMA tidak akan bisa dibandingkan dengan dirinya. Setelah delapan tahun pengalaman dalam kendo, hasilnya bukanlah hanya di kulit saja.

Kali ini, Chiwa tergagap.

"O-o-o-oke! A-a-akan kutunjukkan pada kalian ...."

Dia menggenggam leher kotak gitar tersebut dan mengangkatnya seperti sebuah shinai.

"Doraa!"

Chiwa mengeluarkan raungan dari kedalaman perutnya.

"Dorarararararararara!"

Dia seperti seorang gitaris gila saat dalam konser, dan segera setelahnya, dia mulai mengayunkan kotak gitarnya!

"Dorarararararararara!"

Adik Sakagami menganga, tatapannya kosong.

Semua orang di kelas menahan napas mereka, terpaku selagi menyaksikan rambut Chiwa yang terombang-ambing bersama tindakan merusaknya. Untungnya, lengannya itu sangat pendek, sehingga dia tidak membuat kerusakan apa pun di sekitarnya.

"Fiuh— dora—!"

Akhirnya, dia menyerukan teriakan penutup yang epik, mengingatkan hari-hari kejayaannya saat di klub kendo.

Ruang kelas hening sepenuhnya.

"Ro-rokkun Ro-ru—! Sankyuu! Aku cinta kalian!"

Wajah Chiwa menegang sambil menyeringai sewaktu dia dengan semangatnya melambaikan tangan ke arah penonton.

Itu adalah akhir dari sebuah konser.

".... Selesai!!"

Chiwa kembali memegang kotak gitarnya, lalu melarikan diri dari kelas bagaikan seekor kelinci.

Tidak ada seorang pun yang berusaha mengejarnya.

Kami semua diam tidak bergerak.

Dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Di ruang kelas yang membeku ini, hanya satu orang yang mengeluarkan suara.

Natsukawa Masuzu.

Dia membenamkan wajahnya di meja, tubuhnya berguncang karena getaran.

Aku mendapat kesan bahwa dirinya telah hancur oleh kegagalan tragis ini, sebab dirinyalah sponsor atas proyek ini. Itulah yang kukira—

"Pufufufufufufufu fufufufufufu fufufufufuf fufufufu—"

Dia tertawa.

Sampai mengeluarkan air mata.

Bahunya bergetar.

Seluruh tubuhnya terbawa dalam pecahnya tawa.

"...."

Sungguh, aku tidak pernah melihat orang semengerikan ini!

__________________________________________________________



Eita: Lalu, apa kamu sendiri suka musik barat?

Masuzu: Aku biasa mendengarkan Star Platinum.

Eita: Itu bukan nama artis!


Read more ...»

Sakurasou Bab 2 Bagian 2

On Rabu, 05 April 2017 0 komentar

=========================================================
Akhir paragraf dari bagian ini benar-benar bagus loh... Kayaknya dialog itu gak ada di anime-nya... Ane saja sampai terkesima bacanya...
Dan ane pun jadi sedikit paham soal kenapa Mashiro jadi seperti itu...
Maaf karena bulan kemarin gak bisa update normal, karena lagi fokus di RL dan rampungin satu jilid novel (hayo, novel apa yo...?)...
Selamat menikmati...
=========================================================


Bab 2 - Apa yang Harus Kulakukan?

Bagian 2


Jam pelajaran ketiga adalah bahasa Jepang, dan bagi Sorata, itu berlalu dalam sekejap mata. 

Saat dia beranjak keluar kelas, sang guru, Shiroyama Koharu, memukul pelan kepala Sorata menggunakan sebuah binder, dan membangunkannya dari meja. 

"Hei, jangan terang-terangan tidur di baris depaaan~~."

Rekan kerja Chihiro, Koharu, baik dari segi tampang maupun cara bicaranya cenderung manja. Itu sebabnya, dia sering membuat jengkel beberapa murid perempuan di sekolah, meski dia sendiri sangat populer di kalangan murid lelaki. 

Dia sering terlihat bersama dengan Chihiro di sekolah, dan banyak yang tahu soal kedekatan mereka. Mungkin karena Chihiro sering terlihat menyeret Koharu yang kurang bertanggung jawab itu ke sana kemari, tapi Chihiro sendiri telah dicap sebagai guru berkepala dingin. Sorata tidak setuju soal itu. 

"Rasanya seperti mendengarkan ninabobo, sih ...."

"Ooo, beraninya bicara begitu, padahal kamu satu-satunya siswa yang belum menyerahkan angket karir .... Akan Ibu laporkan pada Mbak Chihiro."

Sambil menggembungkan pipinya karena tidak puas, Koharu keluar meninggalkan kelas. 

Bahkan tanpa melihat kepergiannya, Sorata tertidur lagi atas meja. 

"Uuuuuughhhhhhhh ...."

"Hei, Kanda. Bisa tidak jangan bersikap menjengkelkan dan mengerang seperti itu di hadapanku? Aku bisa tertular nanti."

Orang yang tampak mengajak bertengkar barusan adalah Nanami Aoyama, seorang gadis yang juga sekelas dengan Sorata tahun lalu. Sesuai nada bicaranya, dia memiliki tampang yang tegas. Dari sisi mana pun dia terlihat layaknya seorang murid teladan, dan jika harus dibandingkan dengan seekor kucing, dia mirip seperti kucing ras abyssinian. Dia memiliki tinggi rata-rata, sekitar 158 cm. Berat badannya tidak diketahui. Menurut Jin, tiga ukuran tubuhnya itu 81-58-83. 

Kursinya ada di urutan pertama. Dan setelah Akasaka, Asano, Ikuta, Ogikubo, dan Kawasaki, Sorata Kanda ada di kursi urutan ketujuh. Jadi di dalam kelas yang berisi enam kursi di tiap kolomnya, Sorata duduk persis sebelah Nanami di barisan depan. Posisi mereka juga sama seperti ini saat pengaturan tempat duduk tahun lalu.

Nanami tampak masih belum selesai dan mengamati Sorata. 

Hiuuuh ....

"Jangan tambah mendesah!"

"Kelas ini adalah salah satu tempat di mana aku bisa merasa tenang. Tidak usah sekasar itu."

"Ini sudah yang ke-36 kalinya."

"Hmm?"

"Ke-36 kalinya kamu mendesah."

"Aoyama, kamu menguntitku?"

"Akan kutendang wajahmu."

"Orang-orang sekitar sini tidak ada yang bilang, Kutendang wajahmu, tahu?!"

"A-aku sudah tahu ...."

Bukan hanya Nanami saja yang berasal dari Osaka, tapi banyak murid yang tinggal di asrama Suikou itu berasal dari berbagai daerah di Jepang. Sekitar separuh penghuni kelas Sorata datang dari luar prefektur untuk mengikuti ujian masuk.

Jika Nanami mengobrol biasa, dialek Kansai-nya akan terdengar jelas sekali. Seperti itulah dia setahun yang lalu. Tapi sekarang, untuk menguasai bahasa Jepang standar, dia harus memaksakan diri untuk menahan dialeknya. Ini masuk akal mengingat Nanami bercita-cita menjadi seorang pengisi suara, dan dalam pekerjaan semacam itu, intonasi merupakan hal yang paling mendasar. Selama setahun ke belakang, kemampuan berbahasa Jepang standarnya sudah meningkat cukup jauh, tapi bukan berarti hal mustahil untuk menemukan dialek Kansai-nya saat dia berbicara. Kelihatannya selama akhir pekan, dia menjalani pelatihan khusus di tempat kerjanya, baik untuk dialek maupun hal lainnya.

"Baiklah, kalau begitu akan kutinju wajahmu."

"Kamu tidak perlu repot-repot mengubah kalimatnya!"

"Yah, kurasa itu lebih baik."

"Yang manapun itu, dua-duanya tidak terdengar feminin, tahu?"

"Kamu ini memang menjengkelkan. Padahal kamu itu satu-satunya murid yang belum mengumpulkan angket karier."

"Wah, aku iri sekali pada Aoyama, yang bisa menuliskan jurusan seni Drama di Institut seni pada angket kariernya layaknya menulis nama sendiri."

"... jangan meledekku."

Dia melotot ke arah Sorata lewat lirikannya. Namun Sorata sedang bersikap serius: dia benar-benar terkesan dengan angket karier gadis itu. 

"Jadi, sampai kapan Kanda berencana tinggal di Asrama Sakura?"

"Aku juga masih belum tahu."

"Kalau kamu tidak segera keluar dari sana, terlambat sudah."

Sorata merasa kalau itu mungkin saja sudah terlambat. Ingatan dirinya yang dipandangi orang-orang sewaktu di kantin layaknya seekor panda dalam kandang, masih jelas dalam pikirannya. Bisa dibilang kalau dia mendapatkan perhatian sebanyak itu karena dia bersama dengan Mashiro, atau mungkin saja karena citra dirinya dengan Asrama Sakura telah melekat dalam pikiran murid-murid tersebut. Itu membuatnya merasa ingin mendesah saja. 

"Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu."

Dan satu-satunya alasan Sorata bisa mempertahankan citra baiknya di kelas sendiri, mungkin karena dia bisa mengobrol dengan teman sekelasnya seperti Nanami, yang satu kelas dengannya tahun lalu. Seharusnya dia merasa sangat bersyukur. 

Untuk sekarang, dia menepukkan kedua tangannya di depan dan memandang Nanami dengan penuh hormat. 

"Apa-apaan .... Apa kamu sedang meledekku?"

Dia menatap dingin ke arah Sorata.

"Tidak, aku hanya berusaha memberitahumu betapa bersyukurnya diriku."

"Kalau kamu terus berperilaku aneh begini, orang-orang akan melihatmu dan berkata, Ah, pantas saja dia di Asrama Sakura, atau semacamnya, kamu tahu?"

Tentu saja Sorata tidak menginginkannya. Karena itu dia menarik kembali tangannya. 

Nanami menatap ke arah Sorata, dengan tatapan yang lebih dingin dari sebelumnya.

"Apa lagi yang kamu mau dariku?"

"Hmm .... Aku masih ragu apa perlu aku meminta tolong pada Aoyama ...."

"Memangnya kamu mengharapkan aku berkata apa?"

"Aku hanya bercanda. Aku memang ingin minta tolong padamu. Setidaknya, aku bisa mengingat itu."

"Bisamu hanya mengeluarkan banyak celotehan tidak berguna seperti itu, 'kan?!"



"Yah, terkadang aku memang harus bersikap bodoh. Kalau hanya aku seorang yang mengatai orang lain bodoh, maka keseimbangan mentalku bisa kacau."

"Aku tidak peduli sedikit pun dengan keseimbangan mentalmu, Kanda. Jadi ... kamu ingin minta tolong apa?"

"Kak Misaki ingin agar kamu membantunya lagi."

"Jadi, dia sudah menyelesaikan karya baru?"

"Semua animasinya sudah digambar."

"Lalu?"

"Seperti yang sudah kubilang, gadis itu gila. Animasinya memang menakjubkan. Sampai membuatku merinding."

"... begitu ya. Hmm, aku sih mau saja .... Aku mau saja, tapiii ...."

Entah kenapa, dia jadi sulit berkata-kata.

"Kalau merasa tidak mau, kamu tinggal menolaknya saja, kok."

"Bukan begitu. Aku mau saja. Walau sama seperti sebelumnya, tapi ini adalah hal yang tidak bisa kulakukan andai aku tidak di sini."

Tahun lalu, Nanami juga ikut andil dalam anime Misaki yang memecahkan 100.000 penjualan DVD. Peran lainnya diisi oleh mahasiswa jurusan seni drama yang meluangkan waktu dari kegiatan belajar demi membantu Misaki. 

"Hanya saja, yah ...."

"Hanya saja, apa?"

"... aku hanya penasaran apa benar tidak masalah bagiku untuk melakukan ini. Karya itu mendapat banyak perhatian, 'kan?"

"Kalau Kak Misaki sampai menyuruhku untuk meminta bantuanmu, maka tidak ada masalah, 'kan?"

"Dan jujur saja, aku tidak tahu bagaimana berurusan dengan Kak Kamiigusa. Arahan aktingnya juga sama sekali tidak bisa kupahami. Apa Kanda mau membantuku menerjemahkannya?"

"Sejak kapan aku jadi penerjemah?"

"Memangnya kamu tidak ikut?"

"Yah, aku ikut, sih ...."

"Kalau begitu, tidak masalah buatmu untuk membantu menerjemahkannya untukku."

"Kurasa tidak. Jadi, dia mendapat persetujuanmu, 'kan?"

"Ya. Asal dia tidak keberatan denganku."

"Baiklah, aku akan segera mengabarinya."

Sorata mengeluarkan ponsel-nya dan mengirimkan pesan, hingga ....

「Aku cinta kamu!」

Balasannya langsung muncul, diiringi nada dari sebuah game RPG sewaku karakternya naik level.

「Maaf, tapi kita sebaiknya putus saja.」

Sorata membalas pesannya. Kemudian dia letakkan ponselnya begitu saja. Nada naik level itu didengarnya lagi, tapi dia tidak ingin menghabiskan kuota maupun baterainya, karena itu dia tidak menghiraukannya.

Nanami masih tampak seolah ingin mengatakan sesuatu sambil terus melihat ke arah Sorata.

"Kamu masih merasa jengkel, ya?"

"Bagaimana kabar Hikari?"

"Ya, cukup baik. Bokongnya tumbuh dengan cukup baik."

Sorata memperlihatkan foto di ponsel-nya pada Nanami.

"Kelihatannya dia tambah besar."

Hikari si kucing putih sudah bersama Sorata selama setahun.

Mereka bertemu bulan Mei silam. Itu setelah Sorata telah kurang lebih terbiasa dengan sekolah dan asramanya.

Dalam usia masih anak-anak, Hikari ditelantarkan dalam sebuah kardus dan diletakkan di luar gerbang sekolah. Belasan murid berkerumun mengelilingi kotak itu, membicarakan tentang betapa menggemaskannya atau sungguh menyedihkannya kucing tersebut, namun tidak ada yang mengulurkan tangan untuk membantu.

Sorata cuma kebetulan lewat. Nanami juga kebetulan bersamanya. 

Sorata tidak bisa berdiam diri begitu saja melihat anak kucing yang terlantar itu menjadi tontonan. Untuk menenangkan hatinya, Sorata membawa kucing itu ke asrama.

Dia tidak menyangka kalau ini akan membuatnya diusir dari asrama biasa.

"Fotonya kuambil."

Tanpa meminta izin Sorata, Nanami mengirimkan fotonya ke ponsel-nya sendiri via infra red.

Dia memasangnya sebagai screensaver dan menunjukkannya ke Sorata dengan ekspresi bangga.

"Padahal yang memotretnya itu aku ...."

"Anu, lalu ...."

Nanami berpaling. Tampak seolah masih ada yang ingin dikatakannya. Semua obrolan mengenai kucing ini mungkin hanya basa-basi sebelum hal utama yang sebenarnya ingin dia bahas. 

"Hmm?"

"Gadis baru itu."

"Ahh."

"Kita kedatangan murid perempuan baru, 'kan?"

"Ya."

"Jadi?"

"...."

"Kenapa malah diam?"

"Aku tidak yakin mau berkata apa ...."

"Dia manis, 'kan?"

"Yah, kurasa."

"Manis sekali, 'kan? Aku sempat melihatnya beberapa hari lalu."

"Kurasa rata-rata orang akan berkata seperti itu."

"Lalu bagaimana pendapatmu, Kanda?"

"Rasanya seperti bertemu makhluk asing."

"Hmm ..., itu ...."

Nanami segera berpaling ke arah lain, tampak seperti bosan.

"Maksudku itu dalam artian yang buruk."

"Lalu apa tujuanmu menambahkan hal semacam tadi?"

Nanami melihat ke luar pintu kelas. Ke lorong. Sesaat, matanya penuh dengan keterkejutan.

Sorata, yang masih tumbang di atas mejanya, menengadahkan pandangannya.

Seorang anak lelaki dalam kelas itu, yang Sorata masih belum tahu namanya, melihat ke arah Sorata.

"Hei, Kanda, ada yang mencarimu."

Tapi dia ternyata tahu nama Sorata. Tinggal di Asrama Sakura memang bisa membuat seseorang terkenal.

Dan dari balik anak lelaki itu, Mashiro muncul.

Sorata berseru, "Eh—" tanpa sadar. Dia menguatkan diri dan mengangkat badannya.

Saat Mashiro melangkah ke dalam kelas tersebut, suasana di sekeliling gadis itu pun berubah. Fokus semua penghuni kelas yang ramai itu lalu berpaling pada Sorata dan Mashiro.

Tanpa informasi tambahan apa pun, Mashiro jelas terlihat seperti seorang murid pindahan yang berparas manis. April ini, keberadaan Mashiro telah beredar dalam pusaran gosip. Bahkan terlepas dari fakta bahwa dia adalah seorang pelukis muda nan brilian, aura hebat dan tidak biasa yang mengelilinginya itu cukup untuk memancing perhatian siapa saja. Terlebih lagi, dia tinggal di Asrama Sakura. Meski begitu, tidak ada yang mau mendekatinya dan menanyakan hal tersebut di depannya, mungkin itu karena dia memancarkan aura anehnya pada kekuatan penuh, aura yang begitu dipahami Sorata.

Tentunya, percakapan Nanami dengannya tadi adalah pertama kalinya Sorata membahas soal Mashiro dengan seseorang di kelas ini.

Mashiro melihat ke arah Sorata.

"Sorata, aku lapar."

"Eh? Apa maksudmu?"

"Aku ingin makan baumkuchen."

"Kenapa bicaranya ke aku?"

"Kamu tidak punya baumkuchen?"

"Tentu saja tidak!"

"Rita saja memberiku baumkuchen ...."

"Siapa pula itu?!"

"Kalau tidak ada baumkuchen, berarti ...."

Perut Mashiro lalu mengeluarkan bunyi, dan dia mulai meninggalkan ruangan itu.

Dia sejenak berdiri di pintu masuk, tampak masih tidak puas, lalu berbalik.

"Aku juga percaya padamu."

Tatapan teman sekelas Sorata bagaikan jarum yang menusuk syarafnya.

Mashiro pergi sambil sempoyongan, meninggalkan kesan sedih di raut wajahnya.

Dalam situasi ini, Sorata akan dicap oleh para gadis sebagai orang yang dingin, dan sisa dua tahun masa SMA-nya akan menjadi suram. Bisa dibilang, kehidupan SMA-nya sudah cukup suram semenjak tinggal di Asrama Sakura.

"Baik! Baik! Itu salahku!"

Sorata melesat keluar kelas dan berhasil mengejar Mashiro.

"Hei, Kanda! Jam pelajaran keempat sudah dimulai!"

Bel berbunyi persis ketika Nanami berteriak memperingatkan Sorata. Perut Mashiro kembali mengeluarkan bunyi.

"Aku akan segera kembali, jadi buatlah alasan selama aku pergi!"

"Jangan minta aku berbuat begitu!"

Dengan niat penuh untuk bolos pada jam pelajaran keempat, Sorata ikut membawa Mashiro pergi membeli makanan.

********

Awan besar mengambang di sehamparan birunya langit.

Karena sekarang sedang berlangsung jam pelajaran keempat, orang yang berada di atap hanyalah Mashiro dan Sorata saja.

Sorata menyandarkan dirinya di sebuah bangku, dan Mashiro duduk di sampingnya, mengupas dan memakan baumkuchen-nya satu per satu.

Ini tidak terduga. Ini tidak terbayangkan. Bahkan bisa dibilang ini sangat tidak wajar.

Sorata mengira kalau ini hanya akan sulit pada awalnya saja. Dengan naifnya, dia pikir jika akhirnya nanti akan terbiasa menghadapi Mashiro, sama seperti terbiasanya dia dengan kehidupan baru serta peraturan baru yang harus diikutinya.

Dia mengingat kembali dua minggu yang lalu.

Dia telah membiarkan gadis itu memakai mesin cuci, dan ketika dia memalingkan perhatiannya sejenak, gadis itu telah menuangkan sekotak penuh deterjen ke dalamnya, mengubah seluruh ruangan menjadi lautan busa. Sangat sulit membersihkannya. Hingga membuat Sorata berharap seseorang telah menciptakan deterjen yang bisa membersihkan deterjen.

Ketika Sorata memintanya untuk membersihkan bak mandi, dia keluar dengan basah kuyup. Mustahil untuk mengatakan apa dia memang telah membersihkan bak itu, atau apa malah dia yang dibersihkan oleh bak.

Ketika dia membiarkannya berbelanja seorang diri, gadis itu langsung tersesat dan tidak kembali. Sorata bersyukur karena Chihiro telah memaksa Mashiro membawa ponsel yang memiliki fungsi GPS. Mashiro juga tidak mau menjawab ponsel-nya meski Sorata menghubunginya, jadi akhirnya Sorata sendiri yang menjemputnya.

Masih ada situasi lainnya yang membuat sakit kepala, tapi itu terlalu banyak untuk dihitung.

Dan masalah terbesarnya adalah Mashiro sedikit pun tidak menyadarinya.

Gadis itu mengira kalau dirinya teramat normal.

Karena itulah, hal yang terlewat bodoh untuk berpikir kalau dia akan mengerti atau terbiasa melakukan sesuatu.

Setiap hari, masalah baru terus menumpuk, dan jumlah hal yang harus ditangani Sorata kian bertambah.

"Hei, Shiina, jam keempat nanti ada pelajaran apa?"

"Olahraga."

"Memangnya tidak masalah kalau kamu tidak masuk?"

"Bola voli. Aku hanya menonton saja."

"Kenapa? Apa ada masalah kesehatan? Apa kamu ada cedera?"

"Aku tidak boleh melukai jariku."

Itu adalah jawaban yang belum pernah Sorata dengar sebelumnya. Tapi anehnya, dia bisa mengerti maksudnya.

Sesuatu yang menciptakan karya-karya seni itu tidak lain adalah jari ramping nan panjang milik Mashiro.

"Aku ingin main."

"Eh?"

"Tapi guru melarangnya."

"Luar biasa."

"Ya, benar. Dia luar biasa menentang keinginanku."

Sorata hampir menyahut, Bukan itu maksudku, tapi dia menahan dirinya.

"Jadi, Rita yang kamu maksud tadi siapa?"

"Teman."

"Temanmu sewaktu di Inggris dulu?"

Mashiro mengangguk pelan.

"Dia teman sekamarku."

"Ya ampun, yang namanya Rita ini pasti sudah melalui banyak hal ...."

"Aku suka Rita."

"Kenapa sepertinya sekarang kita berdua sedang membahas sesuatu yang sama sekali berbeda?"

Sorata mengangkat badannya lalu duduk di atas bangku.

"Shiina memang bisa melukis karya yang mengagumkan."

"Tidak juga."

"Tidak. Sungguh. Aku sudah melihatnya. Lukisan yang memenangkan sebuah penghargaan. Aku tidak tahu banyak soal seni, tapi itu begitu meninggalkan kesan bagiku."

"...."

"Kalau memang ingin serius mendalami seni, bukankah lebih baik kalau kamu tetap di luar negeri?"

"Mungkin."

"Lalu, kenapa kamu kembali ke Jepang?"

Meski dia memutuskan kembali ke Jepang, bukankah lebih masuk akal baginya jika melakukan itu sewaktu di perguruan tinggi saja?

Tidak, ujung-ujungnya, kalau dia sungguh ingin mengasah kemampuannya, dia sebaiknya tetap tinggal di luar negeri.

Potongan baumkuchen terakhir telah lenyap ke dalam mulut kecil Mashiro. Dia menyeruput sedikit teh susu dalam kemasan itu dengan sedotan.

Sorata hampir merasa bahwa dia sudah tidak begitu lagi memedulikan pertanyaannya tadi, sampai ketika ....

"Aku akan menjadi seniman manga."

Ujar Mashiro dengan suara yang sangat jelas dan tegas.

Dia tidak berkata ingin menjadi seniman manga, atau bertekad untuk menjadi seniman manga.

Dia akan menjadi seniman manga.

"Kenapa?!"

Sorata meneriakkannya dengan intensitas yang mampu mengejutkan dirinya sendiri.

Dia akan menjadi seniman manga. Ketika Sorata melihat manuskrip manganya pagi tadi, sejenak dia berpikir bahwa mungkin saja hal tersebut yang gadis itu ingin kejar. Tapi untuk sejenak, itu seperti hal yang mustahil. Itu tidak akan mungkin.

Itu adalah gagasan yang sangat sulit untuk diterima Sorata dalam hal keyakinannya.

Mashiro punya cukup talenta hingga menarik banyak perhatian dalam dunia seni. Fakta bahwa Sorata sampai mengakui kemampuannya merupakan bukti atas hal tersebut.

Seorang juri kompetisi seni bahkan menyebutnya genius.

Bukankah itu sesuatu yang patut dibanggakan? Mashiro memiliki sesuatu yang hanya bisa diidamkan oleh kebanyakan orang. Suatu cara untuk memisahkan dirinya dengan yang lain. Suatu talenta yang unik. Jadi, kenapa pula dia ingin menjadi seorang seniman manga?

"Kamu akan melakukannya sambil tetap melukis seperti biasa, 'kan?"

Mashiro menggelengkan kepalanya.

"Hanya menjadi seniman manga saja maksudmu?"

Mashiro mengangguk.

"Astaga. Konyol sekali."

Sorata mengangkat tangannya ke atas kepala karena frustasi, lalu kembali menyandarkan punggungnya.

"Hei, kalian berdua sedang apa?! Berani sekali kalian terang-terangan bolos di sini!"

Orang yang bicara sambil menggebrak pintu di atap tadi adalah Chihiro.

Dia berdiri di atas Sorata yang sedang bersandar di bangku, lalu melihat Sorata yang ada di bawahnya sambil melipat tangan.

"Argh, Bu Chihiro, jangan terlalu dekat! Nanti aku bisa melihat yang ada di balik rok Ibu!"

Sayangnya, dia mengenakan rok ketat, jadi tidaklah semudah itu untuk mengintipnya.

"Harus kuakui kalau aku iri padamu, yang bisa begitu bergairah hanya karena melihat celana dalam seseorang."

"Tapi kalau melihat celana dalam Ibu, aku yakin diriku akan berubah jadi batu!"

Sorata bergegas berdiri.

"Jangan main-main. Kembalilah ke kelas."

Setelah menghabiskan sisa teh susunya, Mashiro berdiri dari bangku.

Dia pergi duluan, dan kembali ke gedung sekolah seorang diri.

"Termasuk kamu, Kanda."

"Bu Chihiro, boleh bicara sebentar?"

"Kamu mau apa?"

"Shiina itu gadis yang seperti apa?"

Sorata menatap ke arah pintu yang baru saja dilalui Shiina.

Ketika Sorata kembali menoleh ke belakang, dia melihat picingan waspada pada mata Chihiro.

"Aku sudah tidak bisa lagi memahami pikiran gadis itu."

"Kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula, sebelum kamu tahu caranya tertawa, menangis, atau marah, Mashiro sudah lebih dulu mengenggam kuas dan melukis." 

"Apa keluarganya juga seperti itu?"

"Ayahnya cukup berbakat hingga bisa mengajar di institut seni di Inggris. Walau dia tidak begitu dikenal sebagai seorang pelukis. Ibunya juga alumnus dari institut seni. Bisa dibilang mereka adalah keluarga pelukis. Walau mereka semua masih tinggal di Inggris."

"Tapi aku tidak paham bagaimana hal itu bisa membuatnya dirinya jadi seaneh ini."

"Hmm, entahlah. Kalau kamu menganggap bahwa dia lebih dulu belajar bagaimana mengekspresikan dirinya lewat seni sebelum dia belajar bagaimana mengekspresikannya lewat emosi atau kata-kata, maka itu bukan hal yang aneh, 'kan?"

Kata-kata yang dengan wajarnya terucap dari Chihiro barusan itu membuat Sorata terhenyak di tempat.

Dari Awal, Mashiro Shiina memang telah berbeda.

Dia hidup di dunia seni. Dan itulah yang membuat dia seperti dirinya yang sekarang.

"Jadi itu alasannya dia tidak tertawa?"

"Itu juga salah satu talentanya."

"Kalau begitu, apa sungguh tidak masalah? Bagi dirinya untuk menjadi seniman manga."

"Itu urusan Mashiro. Aku tidak peduli."

"Tapi ...."

"Aku tahu apa yang mau kamu sampaikan. Tapi bukankah itu tidak masalah? Kalaupun dia bisa menjadi seniman manga yang hebat. Itu juga bukan sesuatu yang buruk."

"... itu memang mudah untuk dibayangkan, tapi orang tuanya pasti menentang, 'kan?"

"Sementara ini, tidak. Dia tidak pernah memberitahu kedua orang tuanya alasan dia kembali ke Jepang. Mereka pikir kalau dia kemari untuk mempelajari hal-hal berbau Jepang sebagai bahan untuk karya barunya."

"Wah, sungguh tidak bertanggung jawab. Bagaimana kalau dia ketahuan?"

"Itu bukan urusan yang perlu kucampuri. Itu antara Mashiro dengan keluarganya. Tidak, bahkan bukan itu. Ini masalah Mashiro sendiri. Aku memang akan membantunya dengan memberinya tempat untuk tinggal di Jepang ini, tapi yang terjadi selepas itu bukanlah urusanku. Meskipun dia tidak berhasil menjadi seniman manga."

"Plinplan sekali ...."

"Dan kamu. Berhenti merisaukan orang lain dan lekas kumpulkan angket kariermu."

"Diingatkan lagi?"

"Kalau kamu tidak mengumpulkannya, nanti aku mendapat keluhan dari orang yang bertugas sebagai wali kelasmu."

Sorata benar-benar berharap agar Chihiro lupa soal itu.

Mencoba untuk tidak berkontak mata dengan Chihiro, Sorata menatap ke atas langit. Dia memandang ke atas saat sebuah awan besar menyebar lalu menghilang.

"Kurasa kita semua memang perlu mencari sesuatu yang ingin kita lakukan ...."

Chihiro tertawa singkat.

"Setidaknya Saat melihatmu, aku mendapat firasat kalau survei karir itu akan ada gunanya."

"Eh? Jadi itu biasanya tidak berguna, ya?"

"Aku hampir yakin kalau itu sekadar sarana untuk melihat siswa mana yang tidak menulis semacam, Untuk sementara, saya ingin masuk ke perguruan tinggi, yang seperti itu bisa membuat para guru merasa kalau semua yang dilakukannya sepadan."

"Eh ...."

"Kamu akan paham kalau sudah dewasa nanti. Bahwa jika kamu perlu sebuah kata untuk diletakkan setelah, Untuk sementara, maka kata, Sake, sudah lebih dari cukup."

"Astaga. Kalau Ibu perlu orang gila, di sini ada banyak ...."

Pada saat itu, bel berbunyi, menandakan akhir dari jam pelajaran keempat.

Chihiro tampak seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi sepertinya dia urungkan lalu meninggalkan atap.

"Masa depan, ya ...?"

Untuk sementara, masa depan masih belum ditetapkan.

Dan Sorata masih belum memecahkan apa pun hari ini.

Dia hanya terus berusaha mencari jawabannya.

"Untuk sementara, ayo makan dulu."


Read more ...»