Oregairu Jilid 1 Penutup

On Senin, 29 September 2014 0 komentar

==========================================================
Sekapur Sirih dari Penerjemah

Sebelum ane berkata, "Akhirnya tamat juga...!" Mari runut dulu ke belakang...
Di tahun 2013, tepatnya di bulan-bulan awal tahun (persisnya ane lupa), ane memulai sebuah proyek terjemahan LN yang ane anggap "pelarian" dari fansubbing...
Kala itu ane merasa dunia fansub begitu menekan waktu dan pikiran ane yang sebenarnya ingin santai... Memang ada keinginan untuk berhenti, tapi keinginan berbagi hobi ternyata masih bisa mengalahkan... Akhirnya, bertemulah ane dengan sebuah website penyedia bacaan LN di mana semua user bisa berkontribusi dengan terjemahannya, yaitu Baka-Tsuki, yang kebetulan punya ruang khusus untuk terjemahan Bahasa Indonesia...
Beruntung saat itu ane berkenalan dengan dua user Indonesia yang kebetulan juga supervisor di web tersebut, agan Tony Yon dan agan Arczyx... Dari beberapa percakapan dengan mereka, akhirnya ane diberikan ruang untuk berkontribusi dalam proyek penerjemahan LN dalam Bahasa Indonesia, yang sudah kita semua tahu, itu adalah proyek Oregairu... Yang ane ambil sumber skripnya dari NanoDesu Translations...
Ane pun mencoba menerjemahkan dari prolog... Dan ternyata... Susah... Berbeda dengan subbing, penerjemahan LN gak hanya menitikberatkan pada dialog... Monolog maupun narasi porsinya cukup banyak, dan perannya cukup besar...
Walau terasa lebih berat dari yang pernah ane kerjakan, tapi tetap ane lanjutkan... Karena apa... Alasannya cukup sederhana... Karena gak ada tuntutan waktu untuk harus menyelesaikannya, dan jarang ditemui proyek yang terasa kedaluarsa...
Dari proyek LN inilah, ane akhirnya mendalami seni tulisan, gak hanya tata cara penulisan (EYD) maupun kata-kata tepat (KBBI) saja, tapi penyampaian makna dan konteks cerita, serta penyusunan kalimat yang menarik, tanpa sadar ane pelajari...
Pernah dulu ane bagikan hasil terjemahan awal ane ke sebuah forum (niatnya ingin tahu seperti apa pendapat yang membacanya), ternyata lebih banyak respon negatifnya... Intinya, saat itu ane belum tahu seperti apa cara menulis yang baik dan menarik... Karena itu ane perbanyak waktu untuk mencari referensi dengan banyak membaca berbagai macam buku... Dengan kata lain, tanpa sadar wawasan ane pun ikut bertambah... Ternyata membaca itu begitu banyak manfaatnya...
Dan karena alasan itulah, waktu untuk menerjemahkan juga kian menyusut... Bahkan untuk sampai di Bab 3 bisa memakan waktu hampir tujuh bulan...
Lalu mengenai asal-usul blog ini...
Suatu hari ane mengikuti obrolan di chatango di sebuah fansub, yang salah satu proyeknya juga adalah Oregairu... Ya, itu Aiasubs, berkenalanlah ane dengan penerjemahnya, awalnya ane cuma iseng memberi tahu kalau ane punya proyek terjemahan LN Oregairu yang ane pajang di blog pribadi, yang kala itu, tujuan awal sebenarnya untuk backup terjemahan ane di Baka-Tsuki, akhirnya terceploslah ide untuk promosi di Aia, walau niat itu sebenarnya cuma numpang taruh link di chatango... Eh, ternyata, agan Rize membuatkan posting-an khusus di fansub itu...
Gak hanya itu, bahkan teman ane, agan Kemslei, pun ikut mempromosikan blog ini di Zensub...
Mengejutkan, ternyata waktu itu ane banyak dapat sambutan positif dari berbagai komentator, hingga akhirnya, blog ini pun ane seriusi...
Hari berganti hari, bulan berganti bulan... Dan sekarang, izinkan ane untuk berkata dengan lantang...

*Akhirnya tamat juga...!*

Satu setengah tahun yang cukup berkesan...


Untuk versi PDF, sudah mulai ane susun jadwalnya... Yang pasti, sekarang saatnya penyuntingan menyeluruh dari awal bab... Mungkin bisa makan waktu sampai satu bulan sebelum bisa dinikmati...
Akan ane jadikan PDF dari seri ini layak untuk agan sekalian koleksi...
 

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, ane ucapkan...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Sepatah Kata dari Pengarang


Halo, jumpa lagi. Ini Wataru Watari. Bagi yang belum tahu, salam kenal. Ini Wataru Watari.

Mungkin ini sedikit mendadak, namun anggapan masa remaja yang biasanya dikenal oleh dunia pada umumnya itu sebenarnya salah. Itu sepenuhnya kebohongan. Pergi kencan ke Mal Lalaport dengan perempuan manis dalam keadaan masih berseragam, diajak makan siang oleh teman dari sekolah lain yang ikut membawa teman perempuannya... hal-hal semacam itu tidaklah nyata. Hal-hal tadi hanya ada di dunia fiksi.

Apa kalian pernah membaca kisah komedi romantis remaja dan melihat catatan di bagian akhirnya?

Cerita ini hanyalah fiktif belaka, kesamaan tempat, nama juga isi cerita, murni sebuah kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.

Dengan kata lain, kisah komedi romantis remaja tersebut dipenuhi oleh kebohongan. Semua yang membacanya sudah tertipu.

Masa remaja yang sebenarnya adalah pulang sekolah bersama teman lelaki, berhenti di parkiran Restoran Saizeriya sambil berjongkok hingga malam hari dengan hanya ditemani focaccia plus minumnya. Selama itu yang biasanya dilakukan adalah menjelek-jelekkan teman sekelas dan mengeluh soal sekolah. Itulah gambaran sebenarnya dari masa remaja. Saya bicara dari pengalaman, makanya saya cukup yakin soal itu.

Namun di saat yang sama, saya tak sungguh-sungguh membenci masa remaja yang seperti itu.

Menggebu-gebu sewaktu mencampur soda melon dan jus oranye lalu menamakannya melanye... mengikuti karyawisata dan bermain mahyong bersama tiga orang lainnya di tengah lingkungan yang ganas... bungkam tak bersuara sewaktu melihat perempuan yang disukai sedang bercumbu dengan pacarnya... kini saya jadi memikirkan kembali masa-masa itu dan mengingat-ingat lagi setiap kenangan naif tersebut.

Maaf, yang tadi itu bohong. Saya benci masa remaja macam itu. Saya juga ingin pergi kencan dalam keadaan masih berseragam. Betul, saya masih menginginkannya.

Itulah yang saya rasakan sewaktu menulis buku ini. Saya harap kalian menikmatinya.

Terakhir, saya perlu berterima kasih pada beberapa pihak.

Pertama, manajer saya, Pak Hoshino. Saya bahkan bisa menulis penuh sebuah buku tentang cara beliau membantu orang. Singkat kata, beliau mengawasi segala yang saya lakukan mulai dari tugas yang terkecil hingga yang terbesar. Saya ucapkan terima kasih banyak.

Kemudian Ponkan(8). Setiap kali saya merasa tak bersemangat, ilustrasi Anda yang begitu menggemaskan telah memberi saya kekuatan. Saya benar-benar beruntung telah meminta Anda untuk membantu saya. Terima kasih banyak.

Meski kami tidak saling mengenal, saya ingin berterima kasih pada Yomi Hirasaka atas komentar beliau yang saya pampang di obi buku ini. Di saat saya hampir menyerah karena cemas dan gelisah, kata-kata beliau mampu meneguhkan hati saya. Terima kasih banyak.

Terima kasih buat teman-teman. Setiap kali saya bertemu dengan kalian, yang kalian bahas selalu saja tentang uang! Saya jadi tertekan! Setidaknya bahaslah tentang hidup yang kalian jalani!

Terima kasih pula buat para pembaca. Tepatnya, berkat kalian semua, Wataru Watari sang novelis bisa eksis. Semua perkataan kalian merupakan sumber semangat yang tak ada habisnya bagi saya. Dari lubuk hati yang terdalam, saya ucapkan terima kasih banyak.

Kemudian yang terakhir, terima kasih pada masa lalu SMA saya. Mungkin masa-masa itu sempat dianggap membosankan dan tak ada gunanya, namun karena anggapan itulah novel ini bisa tercipta. Jadi saya bisa membanggakannya. Mungkin masa remaja saya memang salah kaprah, namun di sisi lain itu juga terasa benar. Terima kasih banyak.

Dan seperti inilah ceritanya. Entah bakal berlajut atau tidak, itu tergantung beberapa hal. Namun saya punya keyakinan kalau kita akan bertemu lagi. Jadi, selagi saya memikirkan jalan cerita untuk ke depannya, izinkan saya meletakkan pena pada jilid ini.


Suatu hari di bulan Februari, di suatu tempat di Prefektur Chiba, sembari bernostalgia mengenang masa lalu sambil menyeruput secangkir kopi manis,


Wataru Watari



Read more ...»

Oregairu Bab 8 Bagian 2

On Sabtu, 27 September 2014 0 komentar

==========================================================
Secara teknis, semua sudah rampung...Tapi secara keseluruhan, masih kurang catatan pengarang...
Segala keluh kesah, suka duka, dan berbagai cerita yang mengiringi proyek penerjemahan ini akan ane tuangkan di postingan berikutnya saja...
Biar begitu, akhirnya ane merasa puas sudah menamatkan Jilid 1 ini...
Seperti yang ane sampaikan di beberapa pojok komentar, Jilid 2 gak akan ane garap... Karena Jilid 2 itu punya akhir yang menggantung... Mau gak mau harus diselesaikan sampai di Jilid 3... Dengan kecepatan terjemahan ane yang amat lambat serta kesibukan di RL, entah bisa selesai sampai kapan...? Jadi tolong dimaklumi...
Dan akhirnya... Di bagian terakhir inilah alasan kenapa LN ini diberi judul Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 8 - Lalu, Hachiman Hikigaya pun Merenung

Bagian 2


Saat kubuka pintu ruang klub, kulihat Yukinoshita sedang membaca buku di tempat biasanya.

Ia tengadahkan kepalanya saat terdengar suara decitan pintu.

"Oh... kupikir hari ini kau takkan datang."

Ia lalu meletakkan pembatas pada halaman bukunya. Dibandingkan hari pertama aku ke sini, ketika ia benar-benar mengabaikanku dan tetap membaca buku, hubungan kami sudah ada sedikit kemajuan.

"Begitulah... aku juga sempat merasa lebih baik tak usah ke sini dulu, tapi rupanya masih ada yang mau kulakukan."

Kutarik kursi yang menyilang di seberang Yukinoshita, kemudian aku duduk. Itu adalah posisi kami yang biasanya. Kuambil buku tulis bergaris dari tasku dan meletakkannya di meja. Yukinoshita yang mengamatiku dari dekat tampak tak senang.

"...kaupikir ruang kelas ini digunakan untuk apa?"

"Kau sendiri? Yang kaulakukan cuma membaca buku saja..."

Yukinoshita memalingkan wajahnya dan terlihat sedikit malu. Tampaknya tak ada yang meminta bantuan dari klub hari ini. Satu-satunya suara yang terdengar di ruang ini hanyalah detak jarum jam. Saat memikirkannya, aku tersadar kalau ruang ini sudah lama tak sesepi ini... mungkin karena sebelumya ada sebuah keberadaan yang heboh di sini.

"Yuigahama ke mana?"

"Sepertinya ia pergi bersama Miura dan kawan-kawannya."

"Oh..."

Mengejutkan... atau mungkin itu hal yang wajar. Mereka memang berteman, dan semenjak pertandingan tenis waktu itu, aku merasa kalau Miura mulai bersikap lebih ramah. Mungkin karena akhirnya Yuigahama bisa mengutarakan dengan jelas maksud pikirannya.

"Sekarang aku balik tanya. Hari ini kau tidak pergi bersama partnermu?"

"Totsuka sedang berlatih. Mungkin karena latihan khusus tempo hari, makanya belakangan ini ia begitu bersemangat kalau soal latihan..."

Yang berarti bahwa aku tak lagi bisa sering-sering bersamanya. Kenyataan itu membuatku sedih.

"Yang kumaksud bukan Totsuka."

"...lalu siapa?"

"Siapa, kaubilang... yah, orang yang selalu membuntuti bayang-bayangmu itu."

"Oi, berhenti bicara yang seram-seram... jangan bilang kalau kau bisa melihat hantu."

"...cih, menggelikan... yang namanya hantu itu tidak ada."

Yukinoshita lalu berdesah dan memandangku seolah berkata, Mungkin kau saja yang kujadikan hantu... ah, sudah lama juga aku tak mengobrol seperti ini dengan Yukinoshita.

"Maksudku anak itu. Za... Za... Zaitsu, ya? Pokoknya itu..."

"Ahh, Zaimokuza? Anak itu bukan partnerku."

Lagi pula aku tak tahu kalau ia bisa dianggap sebagai teman.

"Ia bilang, Saat ini aku sedang ada pergulatan sengit... maaf, tapi aku harus memprioritaskan tenggat waktuku hari ini. Terus ia pulang duluan."

"Cara bicaranya sudah seperti novelis kawakan saja..."

Gumam Yukinoshita dengan ekspresi jijik yang terlihat jelas pada wajahnya.

Paling tidak ia bisa menunjukkan simpatinya padaku — akulah orang yang membaca karyanya. Bahkan ia tak menulis ceritanya. Yang ia beri padaku hanya ilustrasi dan konsep ceritanya saja. Hei, Hachiman! Aku punya konsep yang cukup bagus! Sang tokoh utama wanita bisa membuat tubuhnya menjadi karet dan tokoh pembantu wanitanya punya kemampuan meniadakan kekuatan karetnya! Ini pasti akan tenar! Anak itu memang bodoh. Bagus dari mana? Jelas-jelas itu menjiplak.

Namun komunitas aji mumpung itu hanya akan bertahan sebentar saja, dan pada akhirnya kami semua kembali ke tempat kami berada sebelumnya. Jadi bisa dibilang kelompok tersebut adalah fenomena sekali seumur hidup.

Tapi kalau ditanya apa ruang kelas ini merupakan tempat aku dan Yukinoshita bernaung, maka bisa kubilang kalau itu tidak terlalu benar.

Obrolan kami yang sekenanya itu menyasar ke mana-mana di tengah suasana (sedikit canggung) yang biasanya.

"Ibu masuk, ya?"

Pintu mendadak bergeser.

"...cih."

Yukinoshita berdesah sambil meletakkan satu tangannya ke dahi. Ia terlihat pasrah. Begitulah... saat kita sedang dalam ruang yang cukup tenang lalu pintu tiba-tiba terbuka seperti itu, wajar saja kalau muncul niat ingin mengumpat...

"Bu Hiratsuka... tolong ketuk pintu dulu sebelum masuk."

"Hmm...? Bukankah itu kalimat khasnya Yukinoshita?"

Bu Hiratsuka tampak sedikit heran, namun beliau menarik kursi di sekitar lalu mendudukinya.

"Ibu mau apa?"

Sewaktu Yukinohita menanyakannya, mata Bu Hiratsuka mulai berseri-seri layaknya anak kecil.

"Ibu mau mengumumkan hasil paruh pertandingan!"

"Ahh, iya..."

Aku benar-benar lupa... malahan, aku tak ingat kalau pernah menyelesaikan permasalahan apa pun, jadi wajar saja kalau aku lupa.

"Hasil pertandingan saat ini adalah dua kemenangan di masing-masing kubu, jadi ini dianggap seri. Yang namanya persaingan frontal memang jiwanya sebuah manga pertarungan... padahal Ibu ingin melihat Yukinoshita bangkit setelah merelakan kematian Hikigaya..."

"Saya mati? Kok ceritanya jadi begitu...? Eng... dua kemenangan di masing-masing kubu? Saya tak ingat kalau ada permasalahan yang selesai. Lagi pula, cuma tiga orang saja yang meminta bantuan pada kami."

Apa beliau tidak bisa berhitung?

"Menurut hitungan Ibu sudah ada empat orang. Kalian paham? Segala keputusan yang diambil itu atas dasar pertimbangan Ibu seorang. Sebenarnya ketika kalian bermain dengan aturan yang otoriter itu, rasanya jadi sedikit melegakan..."

Memangnya beliau itu Giant, apa?

"Bu Hiratsuka... bisa dijelaskan dari mana hitungan Ibu barusan? Sependapat dengan protes anak yang di sana itu, kami memang belum menyelesaikan satu pun masalah yang diserahkan pada kami."

"Hmm..."

Bu Hiratsuka terdiam dan sedikit termenung.

"Jadi begini... kalau kau menulis huruf kanji untuk kata masalah (悩), maka seperti menggabungkan aksara kanji hati (心)
di sisi kiri dengan aksara kanji jahat (凶) di sisi kanan ditambah beberapa garis di atasnya."

"Mending Ibu balik ke pelajaran SMP saja, deh."

"Maksud Ibu, masalah kalian yang sebenarnya itu tersimpan di dalam hati kalian sendiri, karena itu, saat orang-orang mendatangi kalian untuk meminta saran, bisa jadi itu bukan permasalahan mereka yang sebenarnya."

"Lalu maksud dari penjelasan yang Ibu katakan sebelumnya itu apa?"

"Usaha Ibu untuk kelihatan pintar tadi tampaknya gagal."

Yukinoshita serta diriku menghabisi beliau tanpa ampun. Bu Hiratsuka jadi tampak sedikit sedih.

"Ya sudah... padahal Ibu sudah capek-capek memikirkan jawaban yang pas..."

Yah, dengan kata lain, penentuan pihak yang menang maupun yang kalah dalam pertandingan ini juga sama otoriternya. Bu Hiratsuka bolak-balik menatap diriku dan Yukinoshita sambil terlihat sedikit merajuk.

"Huh... kalau soal menyerang orang lain, kalian berdua baru bisa akur... seperti kawan lama saja."

"Itu mustahil... saya tak ingat pernah berteman dengan lelaki itu."

Ujar Yukinoshita sambil mengangkat bahunya. Aku yakin kalau ia bakal melirik ke arahku, tapi ternyata itu sama sekali tak dilakukannya.

"Hikigaya, jangan berkecil hati... konon ada juga serangga yang rupanya senang memakan rumput liar. Jadi itu cuma masalah selera."

Bu Hiratsuka berusaha menenangkanku. Siapa juga yang merasa kecil hati...? Dan kenapa kebaikan beliau malah terasa menyakitkan begini...?

"Betul sekali..."

Aku terkejut, Yukinoshita juga sampai mengiyakan... tunggu, justru perempuan itu yang lebih dulu membuatku tertekan.

Meski begitu, Yukinoshita hanya mengatakan kebenaran; ia takkan membohongi perasaannya sendiri, jadi ia mungkin memang percaya dengan ucapan Bu Hiratsuka. Ia lalu tersenyum padaku.

"Saya juga yakin kalau suatu saat akan ada serangga yang menyukai diri Hikigaya."

"Sial... paling tidak pilihlah hewan yang menggemaskan!"

Padahal aku sudah cukup rendah hati untuk tidak memintanya memilih manusia saja... namun Yukinoshita yang angkuh itu justru dengan bangga mengepalkan tangannya.

Mungkin ia merasa senang dengan yang diucapkannya tadi, matanya saja sampai berseri-seri; tampaknya ia begitu menikmatinya.

Di sisi lain, aku merasa sangat tidak senang. Maksudku, bukankah obrolan dengan para perempuan harusnya lebih terasa manis? Bukankah yang seperti ini justru aneh?

Kupikir sebaiknya kutulis saja apa yang kurasakan saat ini. Karenanya kuposisikan penaku. Yukinoshita lalu mengamati yang sedang kulakukan.

"Sebenarnya apa yang dari tadi mau kautulis itu?"

"Berisik. Bukan urusanmu."

Setelah itu, kutuliskan kalimat terakhir pada tugas esaiku.



Sudah kuduga, kisah komedi romatis remaja saya memang salah kaprah.


— II —


Read more ...»

Oregairu Bab 8 Bagian 1

On Selasa, 23 September 2014 0 komentar

==========================================================
Pertama, ane memakai pengganti diri "saya" dalam tulisan esai, karena sudah sewajarnya dalam sebuah esai yang konteksnya sebuah tugas dan resmi, sebisa mungkin harus formal...
Kedua, Shouten adalah acara kontes komedi di mana para pesertanya berlomba memelesetkan sebuah kata...
Ketiga, mungkin akhir pekan ini bagian selanjutnya bisa diselesaikan dan di-posting...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 8 - Lalu, Hachiman Hikigaya pun Merenung

Bagian 1


Masa remaja.

Itu hanya sebuah frasa sederhana, meski begitu, frasa tersebut begitu gigih menggerakkan hati manusia. Memberi rasa nostalgia pada kaum dewasa yang mapan, memberi rasa rindu tanpa akhir pada para dara muda, dan memberi rasa iri dan benci yang mendalam pada orang seperti saya.

Kehidupan SMA saya tidaklah bagai Taman Firdaus seperti hal yang saya jelaskan di atas. Melainkan dunia monokrom yang kelabu nan suram. Pada hari pertama saya di SMA, saat saya mengalami kecelakaan itu, kehidupan SMA saya menjadi benar-benar suram. Setelah kejadian itu, kehidupan SMA saya hanya diisi dengan pulang pergi antara rumah dan sekolah saja. Bahkan saat liburan pun saya hanya pergi ke perpustakaan. Yang saya jalani tersebut jauh dari anggapan sebuah kehidupan SMA yang diidamkan orang-orang. Dalam dunia saya, kisah komedi romantis itu sama sekali tidak ada.

Biarpun begitu, tak sedikit pun saya merasa menyesal. Nyatanya, bisa dikatakan kalau saya bangga akan diri sendiri.

Pergi ke perpustakaan dan membaca habis berbagai novel fantasi yang amat panjang... menyalakan radio di malam hari dan terkesima dengan cara bercerita sang penyiar radio... menemukan bagian yang menghangatkan hati di luasnya lautan elektronik yang didominasi oleh tulisan... semua ini bisa benar-benar terjadi karena saya menjalani hidup semacam itu.

Saya bersyukur, pula saya tergerak, akan setiap pengungkapan dan perjumpaan tak terduga itu. Air mata itu tetap ada, namun itu bukanlah air mata duka.

Takkan pernah saya sangkal satu tahun waktu SMA yang sudah saya jalani itu. Sebaliknya, akan saya terima itu dengan segenap hati. Dan keyakinan itu takkan berubah, baik kini ataupun nanti.

Tapi saya ingin meluruskan hal ini. Meskipun seperti itu, saya takkan menyangkal cara hidup yang dijalani oleh orang-orang lainnya. Saya takkan menyangkal cara hidup orang-orang yang mengagungkan masa remaja mereka.

Bagi mereka yang berada di puncak masa remajanya, kegagalan pun bisa diubah menjadi kenangan menakjubkan. Bahkan perselisihan, pertengkaran dan permasalahan bisa menjadi momen lain dari masa remaja mereka.

Dunia jadi berubah ketika dipandang melalui kacamata orang-orang di masa remajanya.

Kalau begitu, mungkin saja masa remaja saya bisa dihiasi oleh warna komedi romantis. Mungkin itu tak sepenuhnya salah.

Dan mungkin saja suatu hari nanti, saya pun akan melihat cahaya terang dari tempat saya kini berada, meski cahaya tersebut saya lihat melalui mata sayu yang persis ikan mati ini. Saya bisa merasakannya, sesuatu yang berkembang dalam diri saya, sesuatu yang setidaknya bisa membuat saya berharap bahwa hal itu kelak 'kan terjadi.

Tentu saja ada satu hal yang telah saya pelajari selama hari-hari saya bersama Klub Layanan Sosial.

Jadi inilah kesimpulan yang saya dapatkan.




Sampai di kalimat tersebut, kuhentikan laju pena pada tanganku.

Aku lalu melakukan perenggangan tubuh. Sepulang sekolah, hanya akulah satu-satunya yang tersisa di ruang kelas ini.

Bukan berarti aku sedang ditindas atau semacamnya... aku hanya sedang menulis ulang esai yang ditugaskan Bu Hiratsuka tempo hari. Aku mencoba bersikap apa adanya. Bukan karena aku sedang ditindas.

Penulisan ulang esaiku berjalan begitu lancar, namun aku terhenti pada bagian kesimpulan. Itu sebabnya sampai memakan waktu sesore ini.

Mungkin sebaiknya kulanjutkan saja di ruang klub...

Sewaktu memikirkannya, segera saja kumasukkan buku tulis bergaris serta alat tulisku ke dalam tas, lalu kutinggalkan ruang kelas yang kosong itu.

Tak seorang pun tampak pada lorong yang mengarah ke paviliun, meski masih bisa kudengar seruan semangat dari klub olahraga yang berlatih di luar.

Mungkin Yukinoshita sedang asyik membaca bukunya di ruang klub... jika begitu, aku bisa lanjut menulis di sana tanpa ada yang mengganggu.

Lagi pula, kami sama sekali tak melakukan kegiatan apa-apa di klub itu.

Benar-benar jarang. Memang ada beberapa orang aneh yang datang pada kami, tapi itu juga jarang. Kebanyakan orang cenderung mendatangi orang yang mereka anggap dekat, orang yang mereka percayai, atau menyimpan masalah mereka dan menghadapinya sendiri.

Mungkin itulah jawaban yang tepat. Sesuatu yang umumnya orang-orang harus tuju. Meski begitu, terkadang ada orang yang tak bisa melakukannya. Contohnya orang sepertiku, atau Yukinoshita, atau Yuigahama, ataupun Zaimokuza.

Bagi sebagian besar orang, hal semacam persahabatan, cinta maupun impian adalah sesuatu yang menakjubkan. Bahkan momen-momen ketika sedang dirundung masalah atau saat tak tahu harus berbuat apa, bisa benar-benar berubah dan dianggap sebagai hal positif.

Sudah tentu itu sesuatu yang kita sebut dengan masa remaja.

Akan tetapi, ada juga orang-orang sinis yang memandang golongan tersebut lalu menyimpulkan bahwa mereka sudah teracuni oleh konsep masa remaja dan berbuat semau mereka. Seperti yang dibilang adikku, Masa remaja? Apa itu? Program pemerintah, ya? Jelas bukan, karena yang dimaksud  adikku itu masa belajar. Sepertinya ia sudah terlalu sering menonton Shouten.




Read more ...»

Oregairu Jilid 1 Bab 8

On 0 komentar

-Bab 8 - Lalu, Hachiman Hikigaya pun Merenung.-


Daftar Isi

Read more ...»

Oregairu Bab 7 Bagian 6

On Sabtu, 20 September 2014 0 komentar

==========================================================
Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.................
Setelah empat bulan lamanya... Kelar juga episode 3...
Penutup cerita yang lumayan bikin adem... Bikin adem karena ada "layanan kipas"-nya... (Mudahan mengerti maksud ane)
Sama seperti waktu ane lebih memakai "suten" untuk "suit" atau "hompimpa", di sini ane lebih memilih memakai istilah "kutang" ketimbang "bra", karena faktor KBBI... Rupanya "bra" belum diserap menjadi Bahasa Indonesia...
Untuk jilid penutup sepertinya akan ane kebut selesaikan sebelum akhir bulan ini... Doakan saja ya gan...

Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 7 - Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Baik

Bagian 6


Tak lama setelah itu, hanya tinggal kami sendiri yang tersisa di lapangan.

"Kurasa ini artinya kita memenangkan pertandingan tapi kalah dalam perang."

Ujar Yukinoshita sedikit cuek, namun tanpa sadar aku tertawa.

"Jangan Konyol... dari awal aku bukanlah tandingan mereka."

Mereka yang mengagungkan masa remaja memang selalu dapat sorotan.

"Yah, benar juga... bisa jadi seperti ini juga gara-gara ada Hikki. Diabaikan padahal kau menang... sedih banget."

"Hei, Yuigahama, hati-hati kalau bicara. Harusnya kau sadar, terkadang perasaan jujurmu itu bisa lebih menyakiti orang ketimbang kata-kata sinis."

Aku memandang sinis ke arah Yuigahama, tapi ia sama sekali tampak tak menyesal.

Yah, kurasa semua yang dikatakannya tadi memang benar, jadi tak ada alasan baginya untuk merasa menyesal. Sejak awal, Hayama dan Miura tak begitu peduli soal persaingan ataupun pertandingan macam tadi. Aku kagum mereka bisa menerima kekalahan dan menjadikannya kenangan berharga dari indahnya masa remaja.

Apa-apaan itu? Sial... Masa Remaja, meledak saja sana!

"Ah, sial... ada apa sebenarnya dengan Hayama itu... andai aku lahir dan dibesarkan dengan cara berbeda, paling-paling aku juga bakal seperti itu, sial..."

"Jika begitu, bukankah kau justru jadi orang yang benar-benar berbeda...? Yah, memang benar kalau kau perlu menata ulang hidupmu."

Ketus Yukinoshita sambil menatap dingin ke arahku, seakan ingin berkata, Mati saja sana!

"...ta-tapi, eng... kurasa Hikki sudah bagus seperti ini, atau, eng... maksudnya, itu bukan hal yang buruk, eng..."

Gumam Yuigahama, tapi aku sama sekali tak bisa mendengarnya. Kuharap ia bisa bicara dengan jelas. Ia mengingatkanku akan kejadian di toko baju saat pegawai tokonya mencoba bicara padaku.

Biar begitu, tampaknya Yukinoshita mendengar apa yang dikatakan Yuigahama tadi; ia sedikit tersenyum sebelum menganggukkan kepala.

"Ternyata ada beberapa orang yang sudah terselamatkan oleh tindakan menyimpangmu... sungguh disayangkan."

Ujar Yukinoshita yang kemudian tiba-tiba mengalihkan pandangan. Saat kuikuti ke mana arah pandangannya itu, kulihat Totsuka berjalan pelan sembari berhati-hati akan luka di lututnya. Zaimokuza pun mengikutinya layaknya seorang penguntit.

"Kerja bagus, Hachiman... rekanku memang hebat. Namun sayangnya, akan datang hari di mana kita harus menyelesaikan ini untuk selamanya..."

Entah kenapa Zaimokuza mulai berbicara sendiri dengan mata berkaca-kaca. Kuabaikan dirinya dan bicara pada Totsuka.

"Lututmu baik-baik saja?"

"Iya..."

Saat itu aku mendadak sadar kalau di sekelilingku hanya ada lelaki saja. Mungkin karena ada Zaimokuza di sini, tapi baik Yukinoshita maupun Yuigahama juga sudah menghilang entah ke mana.

Hayama bisa mendapatkan perempuan-perempuan yang memanjakannya layaknya James Bond, tapi aku justru dikelilingi oleh para lelaki. Jadi anak itu mendapat akhir seperti film James Bond, dan aku berakhir seperti film A-Team... sungguh tak adil.

Kisah komedi romantis hanyalah mitos.

"Hikigaya... eng... terima kasih."

Totsuka berdiri di hadapanku dan tatapannya tertuju langsung ke arahku. Setelah mengatakan itu, ia lalu tampak tersipu dan mengalihkan pandangannya. Aku hampir ingin memeluk dan menciumnya, tapi aku segera tersadar kalau ia lelaki...

Kisah komedi romantis ini sudah salah kaprah, begitu pula dengan jenis kelamin Totsuka. Lagi pula, Totsuka berterima kasih pada orang yang salah.

"Aku tak berbuat apa-apa. Kalau mau berterima kasih, berterimakasihlah pada para perempuan itu..."

Kucoba mencari sosok orang yang kubicarakan tadi sambil melihat ke sana kemari. Saat itu kulihat ada sepasang kucir dua berayun-ayun di sebelah ruang Klub Tenis.

Rupanya mereka ke sana.

Aku berjalan menuju ke arah ruang klub itu dengan niat ingin berterima kasih pada mereka.

"Yukinoshi... ah..."



Ternyata ia sedang berganti pakaian.

Bagian depan kemejanya sudah terbuka, dan sekilas kulihat kutang berwarna hijau limau miliknya. Ia memang masih mengenakan rok, namun sensasi ketidakseimbangan itu justru kian menguatkan kesan tentang betapa ramping dan proporsional tubuhnya.

"Wa... wa, wa, wa—"

Eh, kenapa ia malah heboh begitu? Padahal aku sedang berkonsentransi merekam hal ini dalam ingatanku. Oh, rupanya Yuigahama juga ada di sini.

Dan ternyata ia juga sedang berganti pakaian.

Tampaknya ia tipe orang yang biasa mengancing pakaian dari bawah ke atas. Jadi bajunya masih terbuka lebar, dan kutang merah muda serta belahan dadanya itu jadi terlihat. Salah satu tangannya memegang rok, dan ia tampak sedang menyodorkan rok itu ke Yukinoshita... dengan kata lain, ia sedang tak mengenakan rok.

Bokong yang proporsional itu tampak menyembul dari setelan celana dalam merah mudanya, dan pergelangan kakinya sudah ditutupi oleh kaus kaki berwarna biru tua.

"Dasar, mati saja sana!"

*Dang!* Dengan sekuat tenaga ia melempar raket ke wajahku.

...ah, benar juga, ini memang lebih seperti kisah komedi romantis.

Yah, dewa komedi romantis sudah bekerja dengan baik. *Hiks*.


— II —


Read more ...»

Oregairu Bab 7 Bagian 5

On Selasa, 16 September 2014 0 komentar

==========================================================
Setelah sebelumnya karakter lain yang sering mendapat sorotan, kini, di bagian ini, sang protagonis kita, tampil dengan kerennya...
Ane sempat lupa kalau Hachiman itu memang keren...
Jadi, pesan moral di bagian ini adalah, "Plot twist itu nyata adanya"...
Biar begitu, mungkin gak hanya ane saja, tapi agan sekalian setelah membaca bagian ini, mungkin bakal berpikir kalau Hachiman memang wajar "dianggap kalah"...
Bagaimana menurut agan sekalian...?

Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 7 - Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Baik

Bagian 5


Keheningan yang tak wajar menyelimuti lapangan. Satu-satunya yang bisa terdengar hanyalah suara bola yang memantul di tanah.

Di tengah suasana tegang yang aneh itu, aku memaksa kesadaran yang ada jauh dalam diriku.

Aku bisa... aku bisa... aku meyakinkan diriku — tidak, aku sudah yakin akan diriku.

Lagi pula, tak ada alasan bagiku untuk kalah di sini.

Aku adalah orang yang sudah bertahan seorang diri dari sia-sia, menyedihkan dan menyakitkannya kehidupan sekolah, yang sudah menjalani pahit dan menderitanya masa remaja ini seorang diri. Jadi tak ada alasan bagiku kalah dari mereka yang menggantungkan diri pada orang banyak di setiap langkahnya.

Istirahat makan siang akan segera berakhir.

Biasanya di waktu seperti ini aku sudah menyantap habis makan siangku di dekat ruang UKS di seberang lapangan.

Ingatan tentang pembicaraanku dengan Yuigahama di tempat itu, obrolan pertamaku dengan Totsuka, semuanya terlintas di benakku.

Kubuka telingaku lebar-lebar.

Tak bisa kudengar suara mengejek Miura; tak bisa kudengar suara sorakan para penonton...

Tapi aku mendengar suara itu... suara yang aku, dan mungkin hanya aku yang bisa mendengarnya sepanjang tahun ini.

Di saat itu, kulancarkan sebuah servis.

Itu adalah servis ringan, mudah dan tak bertenaga yang melambung tinggi ke angkasa.

Kulihat Miura bergegas menuju ke arah bola. Kulihat Hayama dengan sigap mengikutinya. Kulihat para penonton yang tampak merasa kecewa. Sekilas kulirik Totsuka yang pandangannya sudah tertunduk ke tanah. Kuabaikan Zaimokuza yang sedang mengepalkan tangannya. Aku saling bertatapan dengan Yuigahama yang mulai berdoa. Lalu pandanganku pun tertuju pada senyum kemenangan yang disunggingkan Yukinoshita.

Pukulan bolaku melayang ke arah yang tak tentu.

"Hyaaahh!!"

Miura menjerit layaknya seekor ular buas dan akhirnya sampai di posisi bola akan mendarat.

Tepat pada saat itu, angin pun berhembus.

Miura mungkin tidak tahu...

...soal istimewanya angin laut yang berhembus di penghujung istirahat makan siang, yang membuat unik SMA Soubu dan lingkungan sekitarnya.

Bolanya goyah dan tersapu naik ke atas oleh angin. Membuatnya menjauh dari Miura dan memantul di tepi lapangan, tetapi hayama sudah berlari mengejar bolanya.

Hayama mungkin tidak tahu...

...kalau angin ini tak hanya berhembus satu kali saja.

Cuma aku satu-satunya yang tahu soal ini. Aku, yang sepanjang tahun duduk di sana seorang diri, yang tak berbicara dengan siapa pun, yang hanya menghabiskan waktu tanpa ada yang tahu... dan hanya angin itu satu-satunya yang tahu tentang masa-masa tenang yang kuhabiskan seorang diri.

Dan itulah bola melengkung ajaib yang hanya aku, dan memang cuma aku, yang sanggup melakukannya.

Hembusan angin yang kedua menyapu naik bolanya, meskipun bola itu telah memantul.

Setelah itu, bolanya jatuh ke tanah di pojok paling ujung lapangan kemudian menggelinding.

Mulut semua orang pun terbungkam, telinga mereka pun terbuka lebar, dan mata mereka pun terbelalak.

"Ah, kini aku ingat pernah mendengarnya... sebuah keahlian yang membuat penggunanya bisa mengendalikan angin sesukanya, Pewaris Angin, Eulen Sypheed!"

Cuma Zaimokuza satu-satunya anak yang tak mendapat arahan dan malah berteriak keras.

Kuharap ia berhenti menamai secara acak pukulanku barusan. Sial... suasananya malah jadi rusak gara-gara dirinya.

"Eng-enggak mungkin..."

Miura tampak sangat syok. Gumamannya mulai memancing reaksi penonton; mulanya mereka hanya berbisik-bisik, namun perlahan suara mereka berubah menjadi seruan, "Eulen Sylpheed! Eulen Sylpheed!" Ya Tuhan, semoga itu tidak sampai jadi heboh...

"Kami gagal... yang tadi itu memang bola melengkung ajaib."

Hayama menghadapiku sambil tersenyum. Ia tersenyum layaknya kami sudah berteman lama... sewaktu membalas senyumnya itu, kugenggam erat bola dan berdiri tanpa bisa bergerak.

Aku benar-benar tak tahu harus seperti apa menanggapi situasi seperti ini.

Yang ada, aku malah memulai percakapan sia-sia.

"Hayama. Apa saat kecil kau pernah memainkan bisbol?"

"Iya. Aku sering memainkannya... kenapa?"

Hayama tampak kebingungan akan pertanyaan yang tiba-tiba kusodorkan padanya itu, tapi ia tetap menjawabku tanpa ragu. Mungkin ia memang orang yang baik...

"Perlu berapa banyak orang supaya bisa memainkannya?"

"Eh...? Kalau enggak sampai delapan belas orang, kau enggak bisa bermain bisbol."

"Ya, sudah kuduga... tapi asal tahu saja, selama ini aku memainkannya seorang diri."

"Eh? Maksudmu?"

Tanya balik Hayama, tapi kupikir ia takkan mengerti andai kujelaskan.

Maksudku tadi bukanlah permainan bisbol tunggal.

Apa mereka mengerti deritanya mengayuh sepeda sendirian layaknya orang bodoh di tengah teriknya matahari musim panas dan menusuknya hawa musim dingin? Yang biasanya mereka alihkan dengan keluhan, Panas banget! Dingin banget! Gawat, nih! Dan semua itu sudah kulalui seorang diri.

Memangnya mereka tahu... memangnya mereka mengerti betapa menakutkannya saat tak bisa bertanya pada siapa-siapa mengenai bahan ujian yang akan datang, dan akhirnya diam-diam belajar sendirian lalu menerima langsung akibatnya. Mereka bisa sampai seperti ini karena mereka saling memeriksa jawaban masing-masing, saling membandingkan nilai ujian mereka, saling membodoh-bodohi ataupun memuji satu sama lain dan lari dari kenyataan, sementara aku menghadapi kenyataan itu seorang diri.

Apa kira-kira pendapat mereka? Bukankah aku tampak seperti manusia paling tangguh?

Tersapu oleh emosi-emosi itu, aku bersiap melakukan servis.

Kutekuk satu kaki ke depan dan menarik kencang satu sisi tubuhku ke belakang layaknya busur yang siap menembak. Lalu kulambungkan bola ke udara. Kugenggam erat raketku dengan kedua tangan dan memosisikannya di belakang leherku.

Lagit yang biru, musim semi yang hendak berlalu, dan musim panas yang akan menghampiri... aku sudah muak dan mengutuk semua itu.

"Masa Remaja, sialan!!!"

Dengan segenap kekuatan, seiring bola turun mendekatiku, kupukul bola ke udara dengan ayunan ke atas.

Bolanya sampai menimbulkan bunyi *takk!* sewaktu tepat menghantam tepi rangka raketku, yang kemudian melesat naik ke atas seakan langit yang mengisapnya.

Bola itu pun naik semakin tinggi. Pada titik tertentu, bolanya terlihat seperti bintik yang lebih kecil dari sebutir beras.

"I-itu... sang roh kehancuran yang melambung tinggi menembus langit, Meteor Strike!"

Seru Zaimokuza sambil mencondongkan badannya ke depan. Lagi-lagi... kenapa ia harus memberi nama untuk pukulanku?

"Meteor Strike..." Beberapa anak lain di antara para penonton pun mulai membisikkannya. Ya ampun, kenapa mereka juga ikut-ikutan?!

Itu bukan perkara besar... itu hanya sekadar permainan pukul-tangkap.

Biar kujelaskan. Saat masih kecil, aku tidak punya banyak teman, maka dari itu kukembangkan sebuah olahraga baru dari bisbol tunggal — aku melempar, memukul, dan menangkap bolanya sendiri. Saat berusaha merancang skema agar permainan bisa berlangsung lebih lama, aku sadar bahwa cara terbaik untuk memperlama irama permainan adalah dengan skema pukul-tangkap itu sendiri.

Jika bolanya berhasil kutangkap, maka si pemukul dinyatakan out, dan jika bolanya luput tapi bisa ditangkap setelah memantul, maka pukulan itu dianggap masuk. Jika aku memukul bolanya terlalu jauh, maka itu kuhitung sebagai home run. Salah satu kelemahan permainan ini adalah sekali aku memutuskan bermain di pihak mana (entah sebagai pemukul atau penangkap), maka permainan akan cenderung berat sebelah. Untuk memainkan bisbol ini, sangatlah penting untuk bersikap obyektif seolah sedang bermain suten dengan diri sendiri. Yang seperti ini tak patut dicontoh; bermain dengan teman-teman jauh lebih bijaksana.

Namun itulah simbol dari terasingnya diriku, dan itu pula yang menjadi senjata terkuatku.

Itu adalah palu yang jatuh dari kehampaan dan menghancurkan mereka yang mengagungkan masa remaja.

"A-apa itu?"

Miura mendongak ke atas sambil kebingungan. Hayama pun menatap tinggi ke angkasa, namun ekspresinya mendadak berubah panik lalu berteriak.

"Yumiko! Mundur!"

Teriak Hayama pada Miura yang kini terpaku dengan wajah syok. Sudah kuduga, Hayama sadar dengan yang sedang terjadi... sayangnya, ia sudah terlambat.

Bola tenis itu pun terus melaju ke atas, tapi kecepatannya berangsur berkurang akibat pengaruh gravitasi, hingga dua daya itu mencapai titik keseimbangan lalu membuat laju bola terhenti.

Ketika kemudian keseimbangan itu hancur, energi potensial bola berubah menjadi energi kinetik. Bola itu pun mulai terjun bebas. Seketika menghantam tanah, energi dari bola itu hendak meledak.

Setelah melayang begitu lama di angkasa, bola tersebut akhirnya memecut tanah hingga menciptakan kepulan debu, lalu memantul kembali, melambung tinggi ke udara.

Bermaksud ingin memukul balik, Miura mengejar bola itu sambil menerobos kepulan debu dengan langkah tak beraturan. Bolanya terbang tak menentu menuju pagar ram di belakang lapangan.

Gawat... Miura akan menabrak pagar ram tersebut.

"Ugh!"

Hayama membuang raketnya dan berlari mengejar Miura.

Apa ia akan sempat?! Ataukah tidak sempat?!

Sesaat dua anak tersebut menghilang dari pandangan di antara kepulan debu.

Seketika suasana jadi sunyi senyap.

Kudengar suara seseorang menelan ludahnya... nyatanya, mungkin itu diriku sendiri.

Lalu kepulan debu tersebut perlahan menghilang, dan dua anak tadi kembali terlihat.

Punggung Hayama sudah menghantam pagar ram sambil memeluk Miura untuk melindunginya. Wajah Miura tersipu sembari ia mencengkeram lembut baju Hayama.

Sesaat kemudian, suasana meledak dalam sorakan keras dan tepuk tangan yang bergemuruh. Itu adalah apresiasi penuh seluruh penonton.

Hayama membelai kepala Miura untuk menenangkannya, dan wajah Miura pun semakin memerah.

Sambil bersorak, para penonton pun mengelilingi Hayama dan Miura.

"HA~ YA~ TO~ GO!! HA~ YA~ TO~ GO!!"

Dalam suasana gegap gempita itu, bel penanda berakhirnya istirahat makan siang pun berbunyi. Rasanya benar-benar seperti menyaksikan adegan ciuman yang dilanjutkan dengan kredit penutup dalam sebuah film.

Pada akhirnya semua orang sudah diliputi oleh rasa puas dan kelelahan. Mereka seperti habis menonton sebuah film heroik yang menegangkan atau membaca sebuah komedi romantis remaja yang menghibur.

Dan begitulah, para murid menyanjung dua anak itu dengan sorakan, "Hore! Hore!" Lalu sosok mereka menghilang ke dalam gedung sekolah.

TAMAT.

Ah, aje gile.




Read more ...»

Saekano Jilid 1 Bab 2 [Manga]

On Kamis, 11 September 2014 0 komentar

Akhirnya kelar juga...
Dan kembali menjadi selingan (alasan) untuk menunggu Oregairu yang belum di-update...




Penerjemah: Cucundoweh
Pembersih Gambar, Tata Letak Teks, Penyunting, Pengolah Berkas, Pengedar: Rizerza

Dengan ini, kami sepakat menghentikan proyek manga ini... Bukan hanya karena sumber skrip yang jarang update, tapi karena kami gak ingin menebar spoiler lebih banyak... Biarkan saja semua terungkap di anime-nya... Semoga saja ada pihak lain yang mau melanjutkan... Semoga yang melanjutkan juga bagus... Amin...
 
Lalu ini...?
 
Hmm... Anggap saja teaser...

Teaser...?

Hmm... Teaser itu bahasa Indonesia-nya apa, ya...? Pokoknya ibarat hidangan, teaser itu kayak makanan penggugah selera... Intinya, supaya yang membaca, penasaran ingin tahu lebih lanjut...

Cuma sampai di Bab 2...? Gak gantung tuh...?

Tenang saja, Bab 1 dan 2 ini jalan ceritanya hampir seperti 1 episode utuh dalam anime... Jadi anggap saja ini manga one-shot...
 
Terus...
 
Ah, sudahan aja deh, nanti malah tl;dr...


Read more ...»