Oregairu 2 Bab 1 Bagian 2

On Rabu, 25 Februari 2015 0 komentar

==========================================================
Lamanya sudah gak update...
Ane kira ini blog bakal sepi banget karena gak ada update... eh ternyata masih ada saja yang mau mengunjungi... Terima kasih ya agan-agan semua...
Mungkin di antara para pembaca bakal ada yang merasa kalau dialog di terjemahan ane terlalu bebas, dan seakan tak mematuhi EYD...
Yah, namanya juga novel remaja, isinya ya percakapan khas remaja... Tapi kalau soal EYD ane selalu terapkan sebisa mungkin kok... Apalagi soal pemakaian kata yang terdaftar di KBBI, wajib banget malah...
Nah, contohnya kata " 'kali "... Kata tersebut bukan berarti sungai atau semacamnya... Itu berasal dari kata "barangkali" yang dipotong dengan apostrof (')... Sama penerapannya dengan kata " 'kan " dari kata  "bukan" dan "akan", maupun " 'gitu " dari kata "begitu"...
Oke, kesampingkan dulu masalah teknis, kita lanjut ke catatan penerjemahan...
光物 (hikarimono) mempunyai beberapa makna yang bisa berarti, "yang berkilauan", bisa juga berarti, "irisan ikan yang mempunyai kulit berwarna perak yang biasa dijadikan lapisan atas dari sushi".
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 2


SMA Soubu di Kota Chiba punya kegiatan yang dinamakan "tur lapangan kerja" yang diadakan untuk anak kelas dua.

Guna dari formulir survei yakni untuk menentukan pekerjaan yang ingin didalami oleh para murid dan pihak sekolah akan mengirim mereka ke tempat kerja yang dipilihnya itu. Hal tersebut merupakan bagian dari program pendidikan gaya baru guna memantapkan keinginan hati setiap murid untuk bekerja dalam perusahaan. Sungguh, itu bukanlah hal besar. Setiap sekolah mungkin punya kegiatan yang seperti ini.

Masalahnya, survei tersebut diadakan tepat setelah UTS. Dengan kata lain, melakukan bermacam pekerjaan aneh ini bisa mengacaukan waktu berhargaku menjelang ujian.

"Kenapa juga saya harus melakukannya di tahun ini ...?" tanyaku sambil menggeliat.

Selagi aku menyortir tumpukan kertas formulir ke dalam kelompok pekerjaan, Bu Hiratsuka duduk di atas meja dengan rokok yang sudah terapit di bibirnya. "Soalnya ini cuma setahun sekali, Hikigaya," jawab beliau. "Kau tak dengar, ya, kalau
tepat setelah libur musim panas ini akan ada penjurusan untuk kelas tiga?"

"Baru dengar, Bu."

"Makanya, kalau ada sesi bimbingan kelas itu didengarkan ...."

"Yah, soalnya saya selalu tak di tempat kalau sedang sesi bimbingan kelas. Karena itu saya tidak tahu."

Sungguh, kenapa itu sampai disebut sesi bimbingan kelas? Itu bukanlah lembaga bimbingan. Aku benci betul itu. Ditambah, aku sudah muak akan sistem yang memberikan tugas pribadi di setiap sesi bimbingan kelas. Kita diberi kesempatan berdiri di depan kelas lalu menyampaikan instruksi, meski aku berharap semua anak berhenti mendiamkanku sewaktu aku yang maju. Jika anak seperti Hayama yang memberi instruksi, semua orang akan tersenyum sambil saksama mendengarkan layaknya sebuah keluarga kecil bahagia, namun ketika aku yang memberi instruksi, tak ada satu pun yang menanggapi. Apa-apaan itu? Bahkan yang mengolok-olokku saja tidak ada karena mereka berpura-pura menjauhkan diri.

"... omong-omong, tur lapangan kerja-nya diadakan setelah UTS dan sebelum libur musim panas. Yah, alasannya supaya kalian bisa menghadapi ujian dengan pikiran jernih. Jika tidak begitu, kalian bisa terus kepikiran nantinya."

Aku ragu kalau itu ada gunanya, meski Bu Hiratsuka sudah memperjelasnya sambil mengembuskan asap berbentuk cincin dari ujung rokoknya.

SMA Soubu di Kota Chiba tempatku bersekolah ini memang didedikasikan untuk mempersiapkan para murid guna melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mayoritas murid sekolah ini memang berharap ingin lanjut ke perguruan tinggi dan banyak dari mereka yang sudah melakukannya. Itulah hal yang sudah tertanam di pikiran mereka seketika masuk ke SMA ini.

Entah karena dari awal aku sudah memperhitungkan kalau melanjutkan ke perguruan tinggi adalah sebuah penundaan selama empat tahun, makanya hal semacam pandangan terhadap masa depan terasa kabur bagiku. Aku sudah memikirkan dengan matang tentang apa yang akan kulakukan saat dewasa nanti. Yang jelas, aku takkan bekerja.

"Tampaknya kau sedang memikirkan hal-hal yang tak ada manfaatnya ...." Bu Hiratsuka menengadahkan pandangannya. "Lalu, rencananya kau mau masuk jurusan IPA atau jurusan IPS?" tanya beliau.

"Yah, seperti yang Ibu tahu, saya—"

Segera setelah aku membuka mulutku, sebuah suara keras menyelaku. "Ah, di situ rupanya!"

Ia menggelengkan kepalanya dalam keadaan marah, rambutnya yang berwarna terang (yang diikat mirip siomay) terayun ke sana kemari. Seperti biasanya, ia mengenakan rok pendek dan kemeja yang dua atau tiga kancingnya sudah terbuka, yang memperlihatkan dada besarnya. Ialah Yui Yuigahama yang belakangan ini menjadi kenalanku. Kenyataannya, kami hanyalah sepasang kenalan walau saat di dalam kelasku ia sering membicarakan soal kemampuan komunikasiku. Menyebalkan.

"Oh, hei, Yuigahama," sahut Bu Hiratsuka. "Maaf, Ibu pinjam Hikigaya dulu, ya?"

"I-ia juga bukan siapa-siapa saya, kok! Jadi, ya enggak apa-apa!" bantah Yuigahama menggebu sambil mengibaskan tangannya. Suasana yang kutangkap seperti ia ingin berkata, Saya juga enggak butuh dirinya lagi, kok. Ditolak begini rasanya agak begitu menyakitkan ....

"Ada perlu apa?" tanyaku.

Yang menjawab bukanlah Yuigahama, namun gadis yang mendadak muncul dari belakangnya. Rambut hitamnya (yang dikucir dua) bergerak naik turun, selaras dengan pergerakannya yang tiba-tiba. "Kau tak pernah datang ke ruang klub, makanya ia mencarimu. Maksudku, Yuigahama."

"Eng ..., kau tak perlu menekankan bagian terakhirnya. Aku juga sudah paham."

Perempuan berambut hitam yang wajahnya bisa menjadi penebus dosanya ini ialah Yukino Yukinoshita. Layaknya boneka porselen, dirinya begitu mengesankan untuk dipandang, namun sikapnya begitu dingin seakan ia memang sebuah porselen. Orang-orang mungkin bisa menebaknya dari cara ia menghabisiku seketika melihatku. Kami bukanlah sahabat karib.

Untuk saat ini aku dan Yukinoshita berada dalam satu klub — Klub Layanan Sosial. Ia adalah ketuanya. Dan dalam alur kegiatannya, yang kami lakukan adalah saling berdebat hanya untuk sesekali mengakrabkan diri. Intinya, di sini cuma ada perselisihan yang tak berguna dan tak ada habisnya di mana kami saling menaburkan garam pada luka satu sama lain.

Sambil mendengar ucapan Yukinoshita tadi, Yuigahama melipat tangannya sambil merengut. "Aku sampai bertanya pada semua anak di kelas soal keberadaanmu," keluhnya. "Semuanya bilang, Hikigaya? Siapa, ya? Aneeeh banget."

"Tak usah digembar-gemborkan juga, 'kali." Kenapa perempuan ini selalu saja bisa melesatkan peluru yang menyakiti perasaanku? Ia bahkan tak perlu membidik. Memangnya ia penembak jitu, apa?

"Aneeeh banget," ulangnya tak beralasan sambil bermuka masam. Gara-gara dirinya, perihal mengenai tak ada seorang pun yang mengenalku ini membuat perih ulu hatiku untuk yang kedua kalinya.

Yah, tidak buruk-buruk amat, terutama kalau kita memang kenal dengan anak-anak lain di sekolah. Melihat dari tidak adanya yang mengenal diriku selama ini, mungkin secara tak sadar aku akan memilih pekerjaan yang sangat cocok untukku, yakni ninja.

"Eh? Ya sudah, maaf kalau begitu." Maaf karena memang tak ada yang menyadari keberadaanku. Ini pertama kalinya bagiku meminta maaf atas sesuatu yang begitu memilukan.

Andai saja aku tak punya tekad yang kuat, pasti aku sudah menangis.

"Ya-ya, enggak masalah juga, sih, tapi ...." Yuigahama mulai memainkan jari-jarinya di depan dada. "Be-begini, eng ...," katanya malu-malu sambil menggembungkan pipi. "Ba-bagi nomor ponselmu, dong. Ya-yah, soalnya aneh kalau harus mencari dirimu ke sana kemari. Memalukan, tahu .... Apalagi saat ada yang menanyakan soal hubungan kita. Padahal aku cuma — ah, bukan, bukan."

Wajahnya lalu memerah, seakan ingatan soal dirinya yang mencariku terasa amat memalukan. Ia memalingkan pandangannya dariku, melipat erat tangannya di depan dada dan menolehkan kepalanya ke arah lain. Kemudian ia melirik ke arahku lewat sudut matanya.

"Yah, memang bukan masalah juga sih ...," ucapku sambil mengeluarkan ponsel-ku. Segera setelahnya, Yuigahama langsung mengeluarkan poselnya yang besar dan bekerlap-kerlip. "Itu ponsel kenapa mirip batu bata?"

Yuigahama tersentak. "Eh? Imut, 'kan?" tegasnya sambil memperlihatkan gantungan ponsel-nya yang tampak murahan itu padaku. Mainan empuk mirip sebuah jamur bergelantungan di ujung talinya dan bergemerincing saat ia menggoyangkannya. Membuatku merasa begitu tertekan.

"Entahlah. Aku tak paham soal estetika di kalangan bispak. Hmm .... Jadi kau suka yang berkilauan begitu, ya? Kayak kaca atau isinya sushi begitu, ya?"

"Hah? Sushi? Oh, dan jangan panggil aku bispak!" Yuigahama menatapku layaknya monster pemangsa manusia.

"Hikigaya. Kalau kau mempersoalkan tentang yang berkilauan, berarti kau memang tak tahu rasanya menjadi anak SMA. Tak ada orang yang menaruh kaca dalam sushi mereka," sela Bu Hiratsuka sambil berbinar-binar. "Yah, itu memang hanya sushi, sih."

Wajah beliau yang seolah berkata, Kata-kataku tadi keren! membuatku jadi jengkel sendiri ....

"Kalau kau enggak bisa melihat keimutannya, jangan-jangan itu karena matamu yang mirip ikan mati, ya?"

Reputasiku yang muncul karena pengaruh mataku yang mirip ikan mati ini malah semakin menguat. Terserahlah, aku sudah capek.

"Ya, sudahlah," ujar Yuigahama. "Kau bisa mengoneksikan ponsel-mu dengan ponsel-ku, 'kan?"

"Tidak bisa. Punyaku itu ponsel cerdas, makanya tidak bisa."

"Hah? Jadi aku harus ketik sendiri, nih?" erangnya. "Merepotkan."

"Aku tidak butuh fungsi macam itu. Lagi pula, aku lumayan benci dengan yang namanya ponsel. Nih." Kuserahkan ponsel-ku pada Yuigahama. Dengan gugup ia mengambilnya dari tanganku.

"Ma-mau enggak mau harus diketik juga, ya .... Enggak apa-apa, deh. Eh, santai sekali kau memberikan ponsel-mu pada orang lain."

"Ah, tidak apa-apa juga kalau kau mau melihat isi ponsel-ku. Yang ada di kotak masukku paling-paling cuma pesan dari adikku dan Amazon saja."

"Wah! Serius?! Eh, Amazon?!"

Ampun, deh.

Yuigahama mulai mengetik dengan sangat cepat di ponsel yang kuserahkan padanya tadi. Di hadapan reaksiku yang lamban, ia benar-benar kebalikan dari diriku — cepat dan tepat. Aku pun sampai menjuluki dirinya Ayrton Senna dalam dunia per-ponsel-an. "Cepat sekali kau mengetiknya ...."

"Eh? Biasa saja, kok. Mungkin jari-jarimu tak terbiasa karena tak punya teman SMS-an. Iya, 'kan?"

"Tidak sopan," kataku. "Sewaktu SMP dulu aku sering SMS-an dengan beberapa perempuan."

*Duk* Yuigahama menjatuhkan ponsel-ku. (Oi, hati-hati sama barangku! pikirku.)

"Enggak mungkin ...."

Read more ...»

Oregairu Jilid 2 Bab 1

On Jumat, 30 Januari 2015 0 komentar

-Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar.-


Daftar Isi

Read more ...»

Oregairu 2 Bab 1 Bagian 1

On 0 komentar

==========================================================
Buset... Ternyata malah ane lanjutin...
Kalau mau tahu soal s-CRY-ed dan jurus-jurusnya silakan lihat wiki maupun wikipedia-nya...
Lalu, "Bekerja itu untuk dipercundangi" diambil dari frasa Hataraitara make (働いたら負け) yang populer di kalangan anak muda di Jepang... Itu adalah ucapan yang umum dilontarkan para pelajar maupun pengangguran yang meyakini bahwa tak ada gunanya bekerja jika hasil yang didapat tak sepadan dengan yang dikerjakan...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Survei Tur Lapangan Kerja Prospektif




Survei Tur Lapangan Kerja Prospektif
__________________________________________________________
SMA Soubu                                                                                        Kelas II - F
__________________________________________________________

Hachiman Hikigaya
__________________________________________________________
__________________________________________________________
1. Karier yang Diinginkan:
__________________________________________________________

Bapak Rumah Tangga
__________________________________________________________
2. Tempat Kerja yang Diinginkan:
__________________________________________________________

Rumah Sendiri
__________________________________________________________
3. Tuliskan Alasan Saudara:
__________________________________________________________

Menurut orang bahari, bekerja itu untuk dipercundangi.
Kerja fisik adalah sebuah tindakan membahayakan diri agar bisa memperoleh penghasilan. Bisa dibilang, pekerjaan ideal adalah pekerjaan yang bisa memperoleh penghasilan semaksimal mungkin dengan resiko yang seminimal mungkin. Anak perempuan (sebelum remaja) akan berkata, "Saat dewasa nanti, saya ingin menjadi seorang pengantin," itu bukan karena ia sedang bersikap manis, tapi lebih karena naluri biologis mereka sendiri.
Maka dari itu, pilihan karier tak bekerja agar menjadi bapak rumah tangga sudah benar-benar tepat dan wajar. Harapan saya terhadap tur lapangan kerja ini adalah untuk mengakrabkan diri pada lingkungan seputar bapak rumah tangga, yaitu dengan cara menetap di rumah sendiri.
QED.

__________________________________________________________


Bab 1 - Begitulah, Yui Yuigahama Memutuskan Untuk Belajar

Bagian 1


Salah satu bagian dari ruang guru dibuat menjadi sebuah area penerima tamu. Sebuah sekat memisahkan sofa kulit berwarna hitam serta meja kacanya dari bagian ruang guru lainnya. Ada sebuah jendela di dekatnya yang bisa melihat langsung pemandangan perpustakaan dari sana.

Semilir angin di awal musim panas berhembus melalui jendela yang terbuka, dan selembar kertas tipis menari mengikuti ayunan angin. Adegan sentimental itu sampai mencuri hatiku, dan mataku mengikuti pergerakan sepotong kertas tersebut, penasaran akan seperti apa caranya jatuh ke lantai. Pelan dan perlahan. Bagaikan air mata yang berlinangan, kertas itu berayun-ayun jatuh ke lantai.

Kemudiantercabik. Sebuah hak sepatu runcing menghujam kertas tersebut layaknya sebuah tombak.

Sepasang kaki yang gemulai menyilang di hadapanku. Aku tak bisa melepaskan perhatianku pada betapa jenjang dan anggunnya kaki tersebut yang terbalut lewat setelan jas dan celana panjang yang ketat itu.

Setelan jas memang cukup modis, namun daya tariknya sering memberi ketidakpuasan. Wanita yang menggunakan pantyhose akan memenuhi kriteria seksi jika dipadankan dengan rok, namun ketika kaki itu tersembunyi oleh setelan jas dan celana panjang, itu malah tampak seolah tidak sopan dan terkesan kurang ajar. Jika kaki wanita tersebut kurus dan tak memiliki daya tarik seksual, maka tak ada gunanya memakai setelan jas dan celana panjangyang ada malah terlihat mengerikan.

Tapi sepasang kaki yang ada di hadapanku ini berbeda. Kaki tersebut punya keseimbangan yang sempurna. Bisa dibilang, Rasio Emas itu berlaku.

Ah, tapi itu tak berlaku pada kaki beliau. Rompi ketat itu dengan halus menonjolkan bentuk lekukan tubuh beliau, dan lekukan tersebut berujung pada puncak payudara besar di hadapan .... Oh, inikah Gunung Fuji? Tubuh beliau benar-benar bagus dari ujung kepala hingga ujung kaki layaknya sebuah biolatapi bukan sekadar biola biasa. Terpampang mantap, sesempurna buatan Stradivarius.

Masalahnya adalah beliau sudah bagaikan wujud patung Buddha yang tampak murka dan mengerikan, yang dibuat oleh tangan-tangan genius. Yang sudah begitu menakutkan jika dilihat dari sudut pandang seni, budaya maupun sejarah.

Sewaktu beliau sedang tanpa sadar mengunyah filter rokoknya, Bu Hiratsuka selaku guru bahasa Jepang-ku menatapku hina. "Hikigaya. Kau sudah tahu apa salahmu, 'kan?"

"Ti-tidak tahu ...."

Konsentrasi yang tinggi tak pernah lepas dari mata besarnya, dan aku dengan cepat memalingkan wajah.

Segera setelahnya, Bu Hiratsuka mulai menggertakkan kepalan tangannya. Yang bisa kudengar hanyalah suara pertanda dari mendekatnya kematianku. "Jangan bilang kalau kau tidak tahu."

"Ti-tidak tahu? saya tadi bilang, Tahu, kok! Ibu salah dengar! Saya sudah mengerti juga, kok! Nanti saya tulis ulang lagi! Yang penting jangan pukul saya, ya, Bu."

"Baguslah kalau kau mengerti. Huh ..., Ibu kira kau sudah sedikit berubah."

"Yah, soalnya moto saya itu kalau sudah diniatkan, ya harus dituntaskan, Bu," ujarku sambil tersenyum sumringah.

Bisa kurasakan alis Bu Hiratsuka sudah berkernyit di dahinya.

"... ternyata pilihan yang tersisa hanyalah menghajarmu saja, ya? Lagi pula, di TV orang-orang akan saling menghajar setiap kali mereka mau melangkah maju."

"Ja-ja-jangan, jangan lakukan itu pada tubuh saya yang peka. Lagi pula, acara-acara TV belakangan ini sedikit ada muatan kekerasannya. Itu malah tambah menunjukkan berapa umur Ibu!"

"Kurang ajar ...! Shougeki no First Bullet (Peluru Pertama Pengejut)!"

Melesak. Seruan beliau itu tak ada apa-apanya bila dibandingkan suara tertahan yang dihasilkan tinjunya saat tenggelam dalam perutku.

"... urk."

Sesaat aku menengadahkan kepalaku dengan lemahnyabersama hidupku yang terombang-ambing di hadapanku iniBu Hiratsuka sudah terkikih dengan menjijikkannya. "Kalau tak ingin merasakan Gekimetsu no Second Bullet (Peluru Kedua Penghancur) milik Ibu, mulai sekarang kau lebih baik diam saja."

"Am-ampun ...," mohonku tak berdaya. "Tolong jangan habisi saya dengan Messatsu no Last Bullet. (Peluru Penghabisan Pemusnah)"

Bu Hiratsuka lalu menjatuhkan dirinya ke kursi dengan rasa puas. Beliau menyeringai lebar saat melihatku cepat-cepat mengalah akibat terkena serangannya. Beliau adalah tipe orang yang tanpa sadar lupa jika ucapan maupun tindakannya terasa begitu menyedihkan. Biarpun begitu, beliau sebenarnya pribadi yang cantik dari dalam.

"s-CRY-ed itu tontonan yang bagus, 'kan ...? Syukurlah kalau kau cepat mengerti, Hikigaya."

Ralat. Beliau memang menyedihkan. Tampaknya beliau hanya bisa tertawa oleh leluconnya sendiri.

Belakangan ini aku jadi tahu seperti apa hobi Bu Hiratsuka. Intinya, beliau itu suka manga dan anime yang menegangkan. Aku malah mempelajari hal-hal yang tak begitu kupedulikan, alamak.

"Nah, Hikigaya. Ibu mau tanya lagi supaya jelas. Apa maksud dari tulisan sampahmu ini?"

"Tak seharusnya Ibu bicara sekasar itu pada muridnya ...."

Bisa lebih mudah kalau aku hanya disuruh mengarang sesuatu, namun karena aku sudah menyalurkan semua pemikiranku ke lembar kertas itu, aku jadi tak punya lagi jawaban untuk antisipasi. Jika setelah membacanya beliau tetap tak bisa mengerti, ya, itu masalah beliau sendiri.

Bu Hiratsuka mengembuskan asap rokoknya sambil menatap tajam ke arahku seolah beliau bisa melihat langsung ke dalam diriku dan tahu apa yang kupikirkan. "Ibu mengerti seperti apa kacaunya kepribadianmu itu, meski begitu, Ibu sempat berpikir kalau kau sudah sedikit berubah. Apa menghabiskan banyak waktu di Klub Layanan Sosial sama sekali tak berpengaruh padamu?"

"Eng-eng ...," jawabku sambil mengingat-ingat masa-masaku di tempat yang namanya Klub Layanan Sosial itu.

Sederhananya, tujuan dari Klub Layanan Sosial itu adalah mendengarkan kekhawatiran murid-murid lain lalu menyelesaikan permasalahan mereka. Tapi kenyataannya, klub itu hanyalah ruang karantina di mana para anak yang tak bisa bergaul dengan sesamanya berkumpul bersama. Aku berada di situasi di mana aku dipaksa membantu orang lain agar bisa memperbaiki kepribadianku yang kacau, namun karena hal tersebut sama sekali tak berdampak padaku, maka tingkat ikatan emosionalku pada klub pun hampir tidak ada. Mau bagaimana lagi?

... biarpun begitu, Totsuka tetap manis. Yak, memang seperti itu.

"Hikigaya ..., tiba-tiba matamu sudah seperti orang sakit. Liurmu keluar."

"Eh?! Ah, sial ...," buru-buru kuseka mulutku dengan lengan kemejaku.

Bahaya sekali. Ada sesuatu yang bangkit dalam diriku.

"Kau sama sekali belum berkembang," ujar Bu Hiratsuka setelah diam sejenak. "Kau malah jadi tambah menyedihkan."

"Eng .... Saya rasa saya tidak semenyedihkan Ibu ...," gumamku. "Yah, menyebut soal s-Cry-ed memang hal yang biasa dibicarakan oleh orang seumur"

"Messatsu no ...."

"Maksud saya, itu adalah hal wajar bagi wanita dewasa seperti Ibu. Saya sungguh kagum akan kepedulian Ibu dalam menyebarkan karya klasik. Sungguh! Ibu benar-benar hebat!" ceplosku. Kulakukan apa saja supaya bisa menghindari pukulan beliau.

Ternyata berhasil. Bu Hiratsuka sudah menurunkan kepalan tinjunya. Namun beliau menatapku dengan tatapan tajam yang mengingatkanku akan seekor hewan buas. "Huh ...." akhirnya beliau bicara. "Ya sudah, kumpulkan saja lagi Formulir Survei Tur Lapangan Kerjamu. Kalau sudah selesai, hitung formulir surveinya sebagai hukuman karena sudah menyakiti perasaan Ibu."

"... siap."

Di depan mataku terlihat tumpukan kertas yang sudah menggunung. Menyortir satu persatu lembaran kertas ini memang melelahkan. Sama seperti bekerja di pabrik roti. Atau mungkin penjaga pantai.

Berduaan dengan guru perempuan seperti ini sama sekali bukan perkembangan yang membuat hati berdebar. Dan sudah pasti jika beliau memukulku, takkan mungkin aku terjatuh lalu secara tak sengaja menyentuh payudaranya. Itu semua hanyalah omong kosong. Cuma kebohongan! Aku mau semua penulis naskah permainan simulasi kencan juga pengarang light novel untuk meminta maaf atas hal ini.
Read more ...»

Oregairu Jilid 2 Prolog

On Rabu, 21 Januari 2015 0 komentar

==========================================================
Tanya: Loh katanya sudah pensiun...?
Jawab: Pensiun apaan... Ane aja malah balik ngesub...
Tanya: Lah terus kok malah menerjemahkan LN lagi...?
Jawab: Masih dengan alasan yang sama... Buat pelarian...
Tanya: Tapi di Baka-Tsuki kan sudah ada yang menerjemahkan Jilid 2... Buat apa capek-capek menerjemahkannya lagi...?
Jawab: Yah, selera masing-masing orang kan beda... Biar pembaca aja yang menentukan mau baca hasil terjemahan yang mana...
Tanya: Terus hutang-hutang yang dulu kok belum dilunasi...? Contohnya PDF Jilid 1 begitu...
Jawab: Yah, namanya juga ini pelarian... Pelarian dari hutang-hutang yang dulu... Hkhkhkhk... Nanti kalau ada waktu dan keinginan ane lunasi deh...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Prolog


Di saat Golden Week berakhir, makin hari, hawa di luar makin terasa panas saja. Begitu pula di saat para murid dengan banyak waktu luangnya membuat heboh hal ini, itu justru membuat hari ini menjadi terasa lebih panas dari yang mereka butuhkan. Mungkin aku ini orang yang bisa bersikap keren dan sok kuat, tapi aku juga orang yang lemah jika menghadapi hawa panas. Maka, dalam pencarianku mencari setitik kesejukan, aku memutar arah ke samudra yang belum terjamah.

Suhu normal tubuh manusia itu sekitar 36°C. Mengacu pada angka itu, jika dibuat berkumpul dengan orang-orang malah lebih seperti berada di tungku pembakaran ketimbang di tengah musim panas. Bahkan orang sepertiku ini juga tak mampu bertahan dalam suhu panas yang punya kelembaban tinggi begini.

Hal yang sama juga berlaku bagi kucing. Mereka akan mengasingkan diri ketika hawa di luar terasa panas. Di luar hasrat kecilku untuk melawan hawa panas ini, sebenarnya aku juga ingin pergi ke sebuah tempat yang tak berpenghuni. Yah, ini bukan seolah aku sudah tak merasa nyaman di kelas ataupun tak merasa cocok akan semuanya — sama sekali bukan begitu.

Ini adalah tindakan naluriah — atau jika mau blakblakan, teman-teman sekelasku yang tak berbuat begini bisa dibilang sudah gagal sebagai makhluk hidup. Mereka berkumpul bersama kawanannya karena mereka lemah. Hanya makhluk lemah saja yang tanpa sadar membentuk kelompok. Para herbivora hidup berkelompok agar mereka bisa mengorbankan salah satu kawanannya jika sedang diserang oleh karnivora. Dan itu tak ada bedanya dengan teman-teman sekelasku. Dengan tampang tak berdosa, mereka asyik mengunyah rumput di saat kawanannya sedang dimangsa.

Begitulah. Hewan kuat takkan berkumpul bersama kawanannya. Kita pun sudah tak asing lagi mendengar istilah serigala penyendiri, 'kan? Kucing itu menggemaskan dan serigala itu keren. Dengan kata lain, penyendiri itu menggemaskan juga keren.

Bersama dengan pikiran-pikiran tak penting yang melayang-layang di kepalaku ini, aku lanjut berjalan. Tujuanku adalah anak tangga menuju atap. Rutenya sudah dipenuhi oleh meja-meja yang berserakan, jadi cuma satu orang saja yang bisa muat melewatinya.

Andai ini hari biasa, pintu atap pasti sudah terkunci rapat. Namun hari ini gemboknya telah terbuka dan bergelantungan di sana. Kurasa ada orang-orang dari kelas lain yang sudah lebih dulu ke atap untuk menyombongkan sekaligus melecehkan diri mereka sendiri — tahu sendirilah, jika sedang membicarakan soal asap, orang-orang bodoh dan hubungannya dengan ketinggian.

Dorongan pertama yang kurasakan di saat seperti ini adalah menumpuk tiga meja dan dua kursi untuk menghalangi jalan mereka. Seperti biasa, kemampuanku dalam mengambil tindakan memang mengesankan. Laki banget. Kyaa! Bercinta denganku, dong.

Kemudian aku tersadar kalau di balik pintu ini terasa begitu sunyi. Aneh. Sejauh yang kutahu, para riajuu, baik anak lelaki maupun perempuan benci dengan keheningan. Hal sama juga berlaku bagi hewan yang takut dengan api. Mereka menganggap keheningan sama dengan hal yang membosankan, jadi agar bisa meyakinkan diri mereka jika mereka bukanlah orang-orang yang membosankan, mereka mengobrol, mengoceh dan melantur sesukanya. Di sisi lain, ketika mereka membicarakanku, mereka justru tenggelam dalam kebosanan dan membawa diriku dalam keheningan. Aku bertanya-tanya sebenarnya apa maksud di balik keheningan itu .... Tidak, bukan seperti itu — lebih baik diam saja.

Dilihat dari keheningan ini, tampak seakan tak ada satu pun riajuu yang berada di atap. Apa mungkin memang tak ada siapa-siapa di sana?

Jika sedang sendirian, kita bisa jadi bersemangat — itulah arti dari menjadi seorang penyendiri. Seperti itulah diriku. Bukan berarti kita menjadi orang yang malu-malu terhadap orang sekitar atau semacamnya — itu hanyalah kepedulian terhadap sesama atau desakan untuk tak menghalangi mereka saja.

Kubongkar barikade yang baru saja kubangun tadi dan meletakkan tanganku pada pintu. Ini ketegangan yang sama kurasakan ketika pertama kali memasuki kedai mi di stasiun sewaktu jalan-jalan dulu. Jantungku pun berdebar-debar sewaktu meninggalkan Chiba dan pergi menelusuri toko buku di Yotsukaido untuk membeli majalah dewasa. Begitulah. Karena aku seorang penyendiri, maka aku bisa mendapatkan pengalaman selangka ini.

Pemandangan langit biru yang luas dan cakrawala yang tanpa batas sudah menunggu dari balik pintu. Atap gedung sekolah ini sudah berubah menjadi atap rumah pribadi di depanku. Para orang kaya menginginkan mempunyai jet pribadi juga pantai pribadi dan sebagainya. Para penyendiri yang mempunyai waktu pribadi bagi diri mereka sendiri pun adalah pemenang dalam kehidupan. Dan itu berarti, para penyendiri sebenarnya juga punya status tersendiri.

Langit terlihat begitu membentang dan cerah, seolah berkata padaku kalau suatu hari aku akan memiliki kebebasan di dunia yang mengekang ini, Jika boleh kugambarkan layaknya mahakarya sepanjang masa, ini seperti yang ada di film Shawshank Redemption. Yah ..., aku memang belum pernah menontonnya, sih, tapi dari judul saja sudah ketahuan kalau itu film yang bagus.

Menatap jauh langit berkabut ini dan menatap masa depan sudah hampir sama bagiku. Jadi ini memang tempat yang wajar untuk mengisi Formulir Survei Tur Lapangan Kerja Prospektif yang sedang kupegang. Kunjungan ke tempat kerja bisa membuatku tertekan layaknya jadwal ujian yang sudah ditetapkan. Pada lembar kertas tersebut, dengan hati-hati kususun daftar karier yang kurasa menjanjikan serta tempat kerja yang kira-kira bisa untukku beradaptasi, bersama dengan alasan yang membuatku memilihnya. Aku sudah benar-benar yakin akan rencana masa depan yang telah kutanamkan dalam diri ini, karena itu tanganku tak pernah lepas dari lembaran ini. Tak sampai makan waktu dua menit untuk mengisi penuh formulirnya.

... akan tetapi—

Angin berhembus. Itu adalah angin yang di dalamnya terdapat sebuah tujuan, angin yang memberi pertanda akan sebuah pertemuan penting sepulang sekolah. Selembar kertas yang telah kutulisi dengan impianku itu pun terbang menuju masa depan, seolah-olah kertas itu dilipat menjadi pesawat terbang.

Mungkin penjelasanku tadi terlalu berlebihan, tapi aku memang sedang membahas soal kertas yang baru saja kutulisi sebelumnya. Dasar, Angin sialan!

Seakan sedang menggodaku, kertas tersebut melayang ke sana kemari sebelum sampai ke lantai, lalu sekali lagi terhempas ke atas sewaktu kukira telah bisa kuambil.

... yah, terserahlah. Biar kutulis ulang lagi di formulir baru. Soalnya moto favoritku itu, jika tak berhasil saat mencobanya, ya menyerah saja, makanya aku tak begitu kesal. Mumpung masih membahas itu, kita bisa menambahkan kalimat, menyerah saja kalau situasinya tambah sulit.

Sambil mengangkat bahu, aku pun beranjak pergi — dan begitulah saat hal itu terjadi.

"Ini punyamu?"

Kudengar sebuah suara. Aku mulai mencari-cari sang pemilik suara yang sedikit serak dan agak lemah itu di sekelilingku, namun rupanya tak ada siapa-siapa. Kesendirian adalah hal wajar bagiku, tapi bukan seperti ini juga — aku tak menemukan adanya tanda-tanda penghuni lain di atap ini.

"Kau lihat ke mana?" kudengar suara tawa mengejek dari atasku.

Jika itu memang dari atasku, maka aku yakin dari mana asalnya. Yaitu dari tempat yang posisinya lebih menonjol ke atas lagit, lebih tinggi dari atap itu sendiri — sebuah tangga yang digunakan untuk mencapai tandon penyimpanan air.

Si pemilik suara itu bersandar pada tandon penyimpanan air tersebut sambil menundukkan pandangannya ke arahku. Sembari memainkan pemantik murahan seratus yen itu dengan tangannya, mata kami saling beradu tatap. Lalu dengan sembunyi-sembunyi ia menyelipkan pemantik itu ke saku seragamnya.

Rambut panjangnya yang hitam terjuntai jatuh di sekitar punggungnya; pita seragamnya sudah lepas dari simpulnya, memperlihatkan lekuk payudaranya; bagian tambahan dari manset bajunya sudah ia longgarkan; kakinya yang jenjang dan ramping tampak seolah memang dipergunakan untuk menendang. Namun kesan yang ia perlihatkan padaku adalah tatapan tanpa hasrat yang memandang hampa ke kejauhan. Kantong mata yang terlihat jelas di bawah matanya itu kian mempertegas tampang lelahnya.



"Ini punyamu?" perempuan itu bertanya dengan nada yang sama seperti sebelumnya.

Aku tak tahu berapa umur perempuan itu, jadi daripada buang waktu, aku diam saja dan membalasnya dengan anggukan. Yah, aku harus bersikap sopan kalau-kalau ia ternyata kakak kelasku. Tapi jika ternyata bukan, maka bisa bikin malu sendiri. Kekuatan sejati adalah dengan tidak membuka kartu terlebih dahulu.

"... tunggu sebentar," gumamnya sambil berpegangan pada tangga lalu menuruninya dengan cepat.

... akan tetapi—

Angin berhembus. Itu adalah angin kencang yang menghempaskan ketidaksadaran, angin yang menentukan nasib seseorang. Angin surgawi yang telah mempersilakanku untuk melihat sepotong kain yang berisi mimpi-mimpiku, dan seolah merekam dengan sendirinya ke dalam ingatan yang kekal.

Mungkin penjelasanku tadi terlalu berlebihan, tapi aku memang melihat celana dalamnya tadi. Kerja bagus. Angin memang nomor satu!

Perempuan itu melepaskan pegangannya saat sudah setengah turun, mendaratkan kakinya dengan pelan, lalu menyerahkan lembarannya padaku — tapi ia sempat sekilas melihat lembarannya terlebih dahulu.

"... kau ini bodoh, ya?" tanyanya ketus sambil melemparkan lembaran itu padaku.

Selagi aku cepat-cepat menangkapnya, ia tak membuang waktunya untuk berbalik dan lenyap masuk ke dalam gedung sekolah tanpa sesekali pun menengok. Aku ditinggalkan sendiri tanpa sempat mengucapkan, Terima kasih, atau, Apa maksudmu menyebutku bodoh tadi? ataupun, Maaf sudah melihat celana dalammu.

Kupegang dengan sebelah tangan lembaran yang sudah ia pungut untukku tadi sambil menggaruk kepalaku dengan tangan satunya lagi. Di saat bersamaan, bel penanda berakhirnya jam istirahat berbunyi dari pengeras suara yang ada di atap. Dengan suara bel tersebut sebagai penanda, aku pun berbalik dan melangkahkan kaki ke pintu.

"Renda hitam, toh ...." gumamku sambil menghela napas dengan diselingi oleh rasa puas sekaligus rasa cemas yang mendalam.

Aku bertanya-tanya apa angin laut di musim panas ini akan membawa ucapanku tadi ke seluruh penjuru dunia.




Read more ...»

Oregairu Jilid 1 Penutup

On Senin, 29 September 2014 0 komentar

==========================================================
Sekapur Sirih dari Penerjemah

Sebelum ane berkata, "Akhirnya tamat juga...!" Mari runut dulu ke belakang...
Di tahun 2013, tepatnya di bulan-bulan awal tahun (persisnya ane lupa), ane memulai sebuah proyek terjemahan LN yang ane anggap "pelarian" dari fansubbing...
Kala itu ane merasa dunia fansub begitu menekan waktu dan pikiran ane yang sebenarnya ingin santai... Memang ada keinginan untuk berhenti, tapi keinginan berbagi hobi ternyata masih bisa mengalahkan... Akhirnya, bertemulah ane dengan sebuah website penyedia bacaan LN di mana semua user bisa berkontribusi dengan terjemahannya, yaitu Baka-Tsuki, yang kebetulan punya ruang khusus untuk terjemahan Bahasa Indonesia...
Beruntung saat itu ane berkenalan dengan dua user Indonesia yang kebetulan juga supervisor di web tersebut, agan Tony Yon dan agan Arczyx... Dari beberapa percakapan dengan mereka, akhirnya ane diberikan ruang untuk berkontribusi dalam proyek penerjemahan LN dalam Bahasa Indonesia, yang sudah kita semua tahu, itu adalah proyek Oregairu... Yang ane ambil sumber skripnya dari NanoDesu Translations...
Ane pun mencoba menerjemahkan dari prolog... Dan ternyata... Susah... Berbeda dengan subbing, penerjemahan LN gak hanya menitikberatkan pada dialog... Monolog maupun narasi porsinya cukup banyak, dan perannya cukup besar...
Walau terasa lebih berat dari yang pernah ane kerjakan, tapi tetap ane lanjutkan... Karena apa... Alasannya cukup sederhana... Karena gak ada tuntutan waktu untuk harus menyelesaikannya, dan jarang ditemui proyek yang terasa kedaluarsa...
Dari proyek LN inilah, ane akhirnya mendalami seni tulisan, gak hanya tata cara penulisan (EYD) maupun kata-kata tepat (KBBI) saja, tapi penyampaian makna dan konteks cerita, serta penyusunan kalimat yang menarik, tanpa sadar ane pelajari...
Pernah dulu ane bagikan hasil terjemahan awal ane ke sebuah forum (niatnya ingin tahu seperti apa pendapat yang membacanya), ternyata lebih banyak respon negatifnya... Intinya, saat itu ane belum tahu seperti apa cara menulis yang baik dan menarik... Karena itu ane perbanyak waktu untuk mencari referensi dengan banyak membaca berbagai macam buku... Dengan kata lain, tanpa sadar wawasan ane pun ikut bertambah... Ternyata membaca itu begitu banyak manfaatnya...
Dan karena alasan itulah, waktu untuk menerjemahkan juga kian menyusut... Bahkan untuk sampai di Bab 3 bisa memakan waktu hampir tujuh bulan...
Lalu mengenai asal-usul blog ini...
Suatu hari ane mengikuti obrolan di chatango di sebuah fansub, yang salah satu proyeknya juga adalah Oregairu... Ya, itu Aiasubs, berkenalanlah ane dengan penerjemahnya, awalnya ane cuma iseng memberi tahu kalau ane punya proyek terjemahan LN Oregairu yang ane pajang di blog pribadi, yang kala itu, tujuan awal sebenarnya untuk backup terjemahan ane di Baka-Tsuki, akhirnya terceploslah ide untuk promosi di Aia, walau niat itu sebenarnya cuma numpang taruh link di chatango... Eh, ternyata, agan Rize membuatkan posting-an khusus di fansub itu...
Gak hanya itu, bahkan teman ane, agan Kemslei, pun ikut mempromosikan blog ini di Zensub...
Mengejutkan, ternyata waktu itu ane banyak dapat sambutan positif dari berbagai komentator, hingga akhirnya, blog ini pun ane seriusi...
Hari berganti hari, bulan berganti bulan... Dan sekarang, izinkan ane untuk berkata dengan lantang...

*Akhirnya tamat juga...!*

Satu setengah tahun yang cukup berkesan...


Untuk versi PDF, sudah mulai ane susun jadwalnya... Yang pasti, sekarang saatnya penyuntingan menyeluruh dari awal bab... Mungkin bisa makan waktu sampai satu bulan sebelum bisa dinikmati...
Akan ane jadikan PDF dari seri ini layak untuk agan sekalian koleksi...
 

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, ane ucapkan...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Sepatah Kata dari Pengarang


Halo, jumpa lagi. Ini Wataru Watari. Bagi yang belum tahu, salam kenal. Ini Wataru Watari.

Mungkin ini sedikit mendadak, namun anggapan masa remaja yang biasanya dikenal oleh dunia pada umumnya itu sebenarnya salah. Itu sepenuhnya kebohongan. Pergi kencan ke Mal Lalaport dengan perempuan manis dalam keadaan masih berseragam, diajak makan siang oleh teman dari sekolah lain yang ikut membawa teman perempuannya... hal-hal semacam itu tidaklah nyata. Hal-hal tadi hanya ada di dunia fiksi.

Apa kalian pernah membaca kisah komedi romantis remaja dan melihat catatan di bagian akhirnya?

Cerita ini hanyalah fiktif belaka, kesamaan tempat, nama juga isi cerita, murni sebuah kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.

Dengan kata lain, kisah komedi romantis remaja tersebut dipenuhi oleh kebohongan. Semua yang membacanya sudah tertipu.

Masa remaja yang sebenarnya adalah pulang sekolah bersama teman lelaki, berhenti di parkiran Restoran Saizeriya sambil berjongkok hingga malam hari dengan hanya ditemani focaccia plus minumnya. Selama itu yang biasanya dilakukan adalah menjelek-jelekkan teman sekelas dan mengeluh soal sekolah. Itulah gambaran sebenarnya dari masa remaja. Saya bicara dari pengalaman, makanya saya cukup yakin soal itu.

Namun di saat yang sama, saya tak sungguh-sungguh membenci masa remaja yang seperti itu.

Menggebu-gebu sewaktu mencampur soda melon dan jus oranye lalu menamakannya melanye... mengikuti karyawisata dan bermain mahyong bersama tiga orang lainnya di tengah lingkungan yang ganas... bungkam tak bersuara sewaktu melihat perempuan yang disukai sedang bercumbu dengan pacarnya... kini saya jadi memikirkan kembali masa-masa itu dan mengingat-ingat lagi setiap kenangan naif tersebut.

Maaf, yang tadi itu bohong. Saya benci masa remaja macam itu. Saya juga ingin pergi kencan dalam keadaan masih berseragam. Betul, saya masih menginginkannya.

Itulah yang saya rasakan sewaktu menulis buku ini. Saya harap kalian menikmatinya.

Terakhir, saya perlu berterima kasih pada beberapa pihak.

Pertama, manajer saya, Pak Hoshino. Saya bahkan bisa menulis penuh sebuah buku tentang cara beliau membantu orang. Singkat kata, beliau mengawasi segala yang saya lakukan mulai dari tugas yang terkecil hingga yang terbesar. Saya ucapkan terima kasih banyak.

Kemudian Ponkan(8). Setiap kali saya merasa tak bersemangat, ilustrasi Anda yang begitu menggemaskan telah memberi saya kekuatan. Saya benar-benar beruntung telah meminta Anda untuk membantu saya. Terima kasih banyak.

Meski kami tidak saling mengenal, saya ingin berterima kasih pada Yomi Hirasaka atas komentar beliau yang saya pampang di obi buku ini. Di saat saya hampir menyerah karena cemas dan gelisah, kata-kata beliau mampu meneguhkan hati saya. Terima kasih banyak.

Terima kasih buat teman-teman. Setiap kali saya bertemu dengan kalian, yang kalian bahas selalu saja tentang uang! Saya jadi tertekan! Setidaknya bahaslah tentang hidup yang kalian jalani!

Terima kasih pula buat para pembaca. Tepatnya, berkat kalian semua, Wataru Watari sang novelis bisa eksis. Semua perkataan kalian merupakan sumber semangat yang tak ada habisnya bagi saya. Dari lubuk hati yang terdalam, saya ucapkan terima kasih banyak.

Kemudian yang terakhir, terima kasih pada masa lalu SMA saya. Mungkin masa-masa itu sempat dianggap membosankan dan tak ada gunanya, namun karena anggapan itulah novel ini bisa tercipta. Jadi saya bisa membanggakannya. Mungkin masa remaja saya memang salah kaprah, namun di sisi lain itu juga terasa benar. Terima kasih banyak.

Dan seperti inilah ceritanya. Entah bakal berlajut atau tidak, itu tergantung beberapa hal. Namun saya punya keyakinan kalau kita akan bertemu lagi. Jadi, selagi saya memikirkan jalan cerita untuk ke depannya, izinkan saya meletakkan pena pada jilid ini.


Suatu hari di bulan Februari, di suatu tempat di Prefektur Chiba, sembari bernostalgia mengenang masa lalu sambil menyeruput secangkir kopi manis,


Wataru Watari



Read more ...»

Oregairu Bab 8 Bagian 2

On Sabtu, 27 September 2014 0 komentar

==========================================================
Secara teknis, semua sudah rampung...Tapi secara keseluruhan, masih kurang catatan pengarang...
Segala keluh kesah, suka duka, dan berbagai cerita yang mengiringi proyek penerjemahan ini akan ane tuangkan di postingan berikutnya saja...
Biar begitu, akhirnya ane merasa puas sudah menamatkan Jilid 1 ini...
Seperti yang ane sampaikan di beberapa pojok komentar, Jilid 2 gak akan ane garap... Karena Jilid 2 itu punya akhir yang menggantung... Mau gak mau harus diselesaikan sampai di Jilid 3... Dengan kecepatan terjemahan ane yang amat lambat serta kesibukan di RL, entah bisa selesai sampai kapan...? Jadi tolong dimaklumi...
Dan akhirnya... Di bagian terakhir inilah alasan kenapa LN ini diberi judul Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 8 - Lalu, Hachiman Hikigaya pun Merenung

Bagian 2


Saat kubuka pintu ruang klub, kulihat Yukinoshita sedang membaca buku di tempat biasanya.

Ia tengadahkan kepalanya saat terdengar suara decitan pintu.

"Oh... kupikir hari ini kau takkan datang."

Ia lalu meletakkan pembatas pada halaman bukunya. Dibandingkan hari pertama aku ke sini, ketika ia benar-benar mengabaikanku dan tetap membaca buku, hubungan kami sudah ada sedikit kemajuan.

"Begitulah... aku juga sempat merasa lebih baik tak usah ke sini dulu, tapi rupanya masih ada yang mau kulakukan."

Kutarik kursi yang menyilang di seberang Yukinoshita, kemudian aku duduk. Itu adalah posisi kami yang biasanya. Kuambil buku tulis bergaris dari tasku dan meletakkannya di meja. Yukinoshita yang mengamatiku dari dekat tampak tak senang.

"...kaupikir ruang kelas ini digunakan untuk apa?"

"Kau sendiri? Yang kaulakukan cuma membaca buku saja..."

Yukinoshita memalingkan wajahnya dan terlihat sedikit malu. Tampaknya tak ada yang meminta bantuan dari klub hari ini. Satu-satunya suara yang terdengar di ruang ini hanyalah detak jarum jam. Saat memikirkannya, aku tersadar kalau ruang ini sudah lama tak sesepi ini... mungkin karena sebelumya ada sebuah keberadaan yang heboh di sini.

"Yuigahama ke mana?"

"Sepertinya ia pergi bersama Miura dan kawan-kawannya."

"Oh..."

Mengejutkan... atau mungkin itu hal yang wajar. Mereka memang berteman, dan semenjak pertandingan tenis waktu itu, aku merasa kalau Miura mulai bersikap lebih ramah. Mungkin karena akhirnya Yuigahama bisa mengutarakan dengan jelas maksud pikirannya.

"Sekarang aku balik tanya. Hari ini kau tidak pergi bersama partnermu?"

"Totsuka sedang berlatih. Mungkin karena latihan khusus tempo hari, makanya belakangan ini ia begitu bersemangat kalau soal latihan..."

Yang berarti bahwa aku tak lagi bisa sering-sering bersamanya. Kenyataan itu membuatku sedih.

"Yang kumaksud bukan Totsuka."

"...lalu siapa?"

"Siapa, kaubilang... yah, orang yang selalu membuntuti bayang-bayangmu itu."

"Oi, berhenti bicara yang seram-seram... jangan bilang kalau kau bisa melihat hantu."

"...cih, menggelikan... yang namanya hantu itu tidak ada."

Yukinoshita lalu berdesah dan memandangku seolah berkata, Mungkin kau saja yang kujadikan hantu... ah, sudah lama juga aku tak mengobrol seperti ini dengan Yukinoshita.

"Maksudku anak itu. Za... Za... Zaitsu, ya? Pokoknya itu..."

"Ahh, Zaimokuza? Anak itu bukan partnerku."

Lagi pula aku tak tahu kalau ia bisa dianggap sebagai teman.

"Ia bilang, Saat ini aku sedang ada pergulatan sengit... maaf, tapi aku harus memprioritaskan tenggat waktuku hari ini. Terus ia pulang duluan."

"Cara bicaranya sudah seperti novelis kawakan saja..."

Gumam Yukinoshita dengan ekspresi jijik yang terlihat jelas pada wajahnya.

Paling tidak ia bisa menunjukkan simpatinya padaku — akulah orang yang membaca karyanya. Bahkan ia tak menulis ceritanya. Yang ia beri padaku hanya ilustrasi dan konsep ceritanya saja. Hei, Hachiman! Aku punya konsep yang cukup bagus! Sang tokoh utama wanita bisa membuat tubuhnya menjadi karet dan tokoh pembantu wanitanya punya kemampuan meniadakan kekuatan karetnya! Ini pasti akan tenar! Anak itu memang bodoh. Bagus dari mana? Jelas-jelas itu menjiplak.

Namun komunitas aji mumpung itu hanya akan bertahan sebentar saja, dan pada akhirnya kami semua kembali ke tempat kami berada sebelumnya. Jadi bisa dibilang kelompok tersebut adalah fenomena sekali seumur hidup.

Tapi kalau ditanya apa ruang kelas ini merupakan tempat aku dan Yukinoshita bernaung, maka bisa kubilang kalau itu tidak terlalu benar.

Obrolan kami yang sekenanya itu menyasar ke mana-mana di tengah suasana (sedikit canggung) yang biasanya.

"Ibu masuk, ya?"

Pintu mendadak bergeser.

"...cih."

Yukinoshita berdesah sambil meletakkan satu tangannya ke dahi. Ia terlihat pasrah. Begitulah... saat kita sedang dalam ruang yang cukup tenang lalu pintu tiba-tiba terbuka seperti itu, wajar saja kalau muncul niat ingin mengumpat...

"Bu Hiratsuka... tolong ketuk pintu dulu sebelum masuk."

"Hmm...? Bukankah itu kalimat khasnya Yukinoshita?"

Bu Hiratsuka tampak sedikit heran, namun beliau menarik kursi di sekitar lalu mendudukinya.

"Ibu mau apa?"

Sewaktu Yukinohita menanyakannya, mata Bu Hiratsuka mulai berseri-seri layaknya anak kecil.

"Ibu mau mengumumkan hasil paruh pertandingan!"

"Ahh, iya..."

Aku benar-benar lupa... malahan, aku tak ingat kalau pernah menyelesaikan permasalahan apa pun, jadi wajar saja kalau aku lupa.

"Hasil pertandingan saat ini adalah dua kemenangan di masing-masing kubu, jadi ini dianggap seri. Yang namanya persaingan frontal memang jiwanya sebuah manga pertarungan... padahal Ibu ingin melihat Yukinoshita bangkit setelah merelakan kematian Hikigaya..."

"Saya mati? Kok ceritanya jadi begitu...? Eng... dua kemenangan di masing-masing kubu? Saya tak ingat kalau ada permasalahan yang selesai. Lagi pula, cuma tiga orang saja yang meminta bantuan pada kami."

Apa beliau tidak bisa berhitung?

"Menurut hitungan Ibu sudah ada empat orang. Kalian paham? Segala keputusan yang diambil itu atas dasar pertimbangan Ibu seorang. Sebenarnya ketika kalian bermain dengan aturan yang otoriter itu, rasanya jadi sedikit melegakan..."

Memangnya beliau itu Giant, apa?

"Bu Hiratsuka... bisa dijelaskan dari mana hitungan Ibu barusan? Sependapat dengan protes anak yang di sana itu, kami memang belum menyelesaikan satu pun masalah yang diserahkan pada kami."

"Hmm..."

Bu Hiratsuka terdiam dan sedikit termenung.

"Jadi begini... kalau kau menulis huruf kanji untuk kata masalah (悩), maka seperti menggabungkan aksara kanji hati (心)
di sisi kiri dengan aksara kanji jahat (凶) di sisi kanan ditambah beberapa garis di atasnya."

"Mending Ibu balik ke pelajaran SMP saja, deh."

"Maksud Ibu, masalah kalian yang sebenarnya itu tersimpan di dalam hati kalian sendiri, karena itu, saat orang-orang mendatangi kalian untuk meminta saran, bisa jadi itu bukan permasalahan mereka yang sebenarnya."

"Lalu maksud dari penjelasan yang Ibu katakan sebelumnya itu apa?"

"Usaha Ibu untuk kelihatan pintar tadi tampaknya gagal."

Yukinoshita serta diriku menghabisi beliau tanpa ampun. Bu Hiratsuka jadi tampak sedikit sedih.

"Ya sudah... padahal Ibu sudah capek-capek memikirkan jawaban yang pas..."

Yah, dengan kata lain, penentuan pihak yang menang maupun yang kalah dalam pertandingan ini juga sama otoriternya. Bu Hiratsuka bolak-balik menatap diriku dan Yukinoshita sambil terlihat sedikit merajuk.

"Huh... kalau soal menyerang orang lain, kalian berdua baru bisa akur... seperti kawan lama saja."

"Itu mustahil... saya tak ingat pernah berteman dengan lelaki itu."

Ujar Yukinoshita sambil mengangkat bahunya. Aku yakin kalau ia bakal melirik ke arahku, tapi ternyata itu sama sekali tak dilakukannya.

"Hikigaya, jangan berkecil hati... konon ada juga serangga yang rupanya senang memakan rumput liar. Jadi itu cuma masalah selera."

Bu Hiratsuka berusaha menenangkanku. Siapa juga yang merasa kecil hati...? Dan kenapa kebaikan beliau malah terasa menyakitkan begini...?

"Betul sekali..."

Aku terkejut, Yukinoshita juga sampai mengiyakan... tunggu, justru perempuan itu yang lebih dulu membuatku tertekan.

Meski begitu, Yukinoshita hanya mengatakan kebenaran; ia takkan membohongi perasaannya sendiri, jadi ia mungkin memang percaya dengan ucapan Bu Hiratsuka. Ia lalu tersenyum padaku.

"Saya juga yakin kalau suatu saat akan ada serangga yang menyukai diri Hikigaya."

"Sial... paling tidak pilihlah hewan yang menggemaskan!"

Padahal aku sudah cukup rendah hati untuk tidak memintanya memilih manusia saja... namun Yukinoshita yang angkuh itu justru dengan bangga mengepalkan tangannya.

Mungkin ia merasa senang dengan yang diucapkannya tadi, matanya saja sampai berseri-seri; tampaknya ia begitu menikmatinya.

Di sisi lain, aku merasa sangat tidak senang. Maksudku, bukankah obrolan dengan para perempuan harusnya lebih terasa manis? Bukankah yang seperti ini justru aneh?

Kupikir sebaiknya kutulis saja apa yang kurasakan saat ini. Karenanya kuposisikan penaku. Yukinoshita lalu mengamati yang sedang kulakukan.

"Sebenarnya apa yang dari tadi mau kautulis itu?"

"Berisik. Bukan urusanmu."

Setelah itu, kutuliskan kalimat terakhir pada tugas esaiku.



Sudah kuduga, kisah komedi romatis remaja saya memang salah kaprah.


— II —


Read more ...»

Oregairu Bab 8 Bagian 1

On Selasa, 23 September 2014 0 komentar

==========================================================
Pertama, ane memakai pengganti diri "saya" dalam tulisan esai, karena sudah sewajarnya dalam sebuah esai yang konteksnya sebuah tugas dan resmi, sebisa mungkin harus formal...
Kedua, Shouten adalah acara kontes komedi di mana para pesertanya berlomba memelesetkan sebuah kata...
Ketiga, mungkin akhir pekan ini bagian selanjutnya bisa diselesaikan dan di-posting...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 8 - Lalu, Hachiman Hikigaya pun Merenung

Bagian 1


Masa remaja.

Itu hanya sebuah frasa sederhana, meski begitu, frasa tersebut begitu gigih menggerakkan hati manusia. Memberi rasa nostalgia pada kaum dewasa yang mapan, memberi rasa rindu tanpa akhir pada para dara muda, dan memberi rasa iri dan benci yang mendalam pada orang seperti saya.

Kehidupan SMA saya tidaklah bagai Taman Firdaus seperti hal yang saya jelaskan di atas. Melainkan dunia monokrom yang kelabu nan suram. Pada hari pertama saya di SMA, saat saya mengalami kecelakaan itu, kehidupan SMA saya menjadi benar-benar suram. Setelah kejadian itu, kehidupan SMA saya hanya diisi dengan pulang pergi antara rumah dan sekolah saja. Bahkan saat liburan pun saya hanya pergi ke perpustakaan. Yang saya jalani tersebut jauh dari anggapan sebuah kehidupan SMA yang diidamkan orang-orang. Dalam dunia saya, kisah komedi romantis itu sama sekali tidak ada.

Biarpun begitu, tak sedikit pun saya merasa menyesal. Nyatanya, bisa dikatakan kalau saya bangga akan diri sendiri.

Pergi ke perpustakaan dan membaca habis berbagai novel fantasi yang amat panjang... menyalakan radio di malam hari dan terkesima dengan cara bercerita sang penyiar radio... menemukan bagian yang menghangatkan hati di luasnya lautan elektronik yang didominasi oleh tulisan... semua ini bisa benar-benar terjadi karena saya menjalani hidup semacam itu.

Saya bersyukur, pula saya tergerak, akan setiap pengungkapan dan perjumpaan tak terduga itu. Air mata itu tetap ada, namun itu bukanlah air mata duka.

Takkan pernah saya sangkal satu tahun waktu SMA yang sudah saya jalani itu. Sebaliknya, akan saya terima itu dengan segenap hati. Dan keyakinan itu takkan berubah, baik kini ataupun nanti.

Tapi saya ingin meluruskan hal ini. Meskipun seperti itu, saya takkan menyangkal cara hidup yang dijalani oleh orang-orang lainnya. Saya takkan menyangkal cara hidup orang-orang yang mengagungkan masa remaja mereka.

Bagi mereka yang berada di puncak masa remajanya, kegagalan pun bisa diubah menjadi kenangan menakjubkan. Bahkan perselisihan, pertengkaran dan permasalahan bisa menjadi momen lain dari masa remaja mereka.

Dunia jadi berubah ketika dipandang melalui kacamata orang-orang di masa remajanya.

Kalau begitu, mungkin saja masa remaja saya bisa dihiasi oleh warna komedi romantis. Mungkin itu tak sepenuhnya salah.

Dan mungkin saja suatu hari nanti, saya pun akan melihat cahaya terang dari tempat saya kini berada, meski cahaya tersebut saya lihat melalui mata sayu yang persis ikan mati ini. Saya bisa merasakannya, sesuatu yang berkembang dalam diri saya, sesuatu yang setidaknya bisa membuat saya berharap bahwa hal itu kelak 'kan terjadi.

Tentu saja ada satu hal yang telah saya pelajari selama hari-hari saya bersama Klub Layanan Sosial.

Jadi inilah kesimpulan yang saya dapatkan.




Sampai di kalimat tersebut, kuhentikan laju pena pada tanganku.

Aku lalu melakukan perenggangan tubuh. Sepulang sekolah, hanya akulah satu-satunya yang tersisa di ruang kelas ini.

Bukan berarti aku sedang ditindas atau semacamnya... aku hanya sedang menulis ulang esai yang ditugaskan Bu Hiratsuka tempo hari. Aku mencoba bersikap apa adanya. Bukan karena aku sedang ditindas.

Penulisan ulang esaiku berjalan begitu lancar, namun aku terhenti pada bagian kesimpulan. Itu sebabnya sampai memakan waktu sesore ini.

Mungkin sebaiknya kulanjutkan saja di ruang klub...

Sewaktu memikirkannya, segera saja kumasukkan buku tulis bergaris serta alat tulisku ke dalam tas, lalu kutinggalkan ruang kelas yang kosong itu.

Tak seorang pun tampak pada lorong yang mengarah ke paviliun, meski masih bisa kudengar seruan semangat dari klub olahraga yang berlatih di luar.

Mungkin Yukinoshita sedang asyik membaca bukunya di ruang klub... jika begitu, aku bisa lanjut menulis di sana tanpa ada yang mengganggu.

Lagi pula, kami sama sekali tak melakukan kegiatan apa-apa di klub itu.

Benar-benar jarang. Memang ada beberapa orang aneh yang datang pada kami, tapi itu juga jarang. Kebanyakan orang cenderung mendatangi orang yang mereka anggap dekat, orang yang mereka percayai, atau menyimpan masalah mereka dan menghadapinya sendiri.

Mungkin itulah jawaban yang tepat. Sesuatu yang umumnya orang-orang harus tuju. Meski begitu, terkadang ada orang yang tak bisa melakukannya. Contohnya orang sepertiku, atau Yukinoshita, atau Yuigahama, ataupun Zaimokuza.

Bagi sebagian besar orang, hal semacam persahabatan, cinta maupun impian adalah sesuatu yang menakjubkan. Bahkan momen-momen ketika sedang dirundung masalah atau saat tak tahu harus berbuat apa, bisa benar-benar berubah dan dianggap sebagai hal positif.

Sudah tentu itu sesuatu yang kita sebut dengan masa remaja.

Akan tetapi, ada juga orang-orang sinis yang memandang golongan tersebut lalu menyimpulkan bahwa mereka sudah teracuni oleh konsep masa remaja dan berbuat semau mereka. Seperti yang dibilang adikku, Masa remaja? Apa itu? Program pemerintah, ya? Jelas bukan, karena yang dimaksud  adikku itu masa belajar. Sepertinya ia sudah terlalu sering menonton Shouten.




Read more ...»