Oregairu Bab 5 Bagian 4

On Rabu, 21 Mei 2014 0 komentar

==========================================================
Masuk ke bagian inti komedinya... Mudahan lucunya dapat... Amin...
Kalau ada yang belum tahu apa itu furigana... Silakan buka tautan ini...
Harusnya sih dari kemarin ini selesai, tapi karena manusia tempatnya lupa... Jadi...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 5 - Intinya, Yoshiteru Zaimokuza itu Agak Gila

Bagian 4


Ketika aku membuka pintu ruang klub, yang menyambutku adalah sebuah pemandangan langka dari Yukinoshita yang menundukkan kepala.

"Kerja bagus semalam."

Aku menegurnya tetapi Yukinoshita dengan nyamannya kembali tertidur, bahkan napasnya pun terdengar lembut. Wajahnya yang tampak hampir tersenyum itu sangat jauh berbeda dengan sikap tegas dan tak ramah yang biasanya ia perlihatkan, dan aku merasa jantungku berdetak lebih cepat saat melihat pemandangan tak biasa itu.

Aku hampir merasa bakal terus berdiam di sini dan selamanya menyaksikan ia tertidur. Melihat rambut hitamnya berayun ke sana kemari dengan lembut, melihat kulit putihnya yang halus dan berseri, melihat mata bulatnya yang berkaca-kaca, melihat bibir berwarna merah mudanya yang elok...

Bibirnya sedikit bergerak.

"...aku terkejut. Begitu melihat wajahmu, rasa kantukku langsung hilang."

Wuah... rasanya aku baru saja tersadar. Hampir saja aku lepas kendali setelah terpedaya penampilan cantiknya tadi. Serius, aku lebih senang kalau disuruh membuat gadis ini agar tertidur selamanya.

Yukinoshita menguap seperti anak kucing, lalu merenggangkan kedua tangannya di atas kepala.

"Kelihatannya tadi malam kau juga sudah berjuang keras, ya?"

"Iya, sudah lama aku tak mengerjakan sesuatu sampai semalam suntuk begini. Lagi pula, aku sama sekali tak pernah membaca yang seperti ini... rasanya aku tak terlalu bisa menangani hal yang semacam ini."

"Betul. Aku juga agak kesulitan."

"Kau sama sekali tak membacanya. Jadi baca dulu sana!"

Menanggapi ucapanku, Yuigahama mengerang marah dan dengan ragu-ragu mengeluarkan manuskrip dari dalam tasnya. Tak satu pun bekas lipatan terlihat pada salinan yang dipegangnya; itu masih dalam kondisi bagus. Yuigahama lalu mulai membalik tiap lembar halaman manuskripnya itu dengan begitu cepat.

Ia tampak jenuh sekali sewaktu membacanya... kupandangi Yuigahama dan mulai berbicara.

"Tak semua light novel sama seperti yang dibuat Zaimokuza itu. Ada lumayan banyak yang bagus untuk dibaca."

Aku mengatakannya dengan penuh kesadaran tanpa maksud menolong Zaimokuza. Yukinoshita memiringkan kepalanya dan bertanya padaku.

"Maksudmu, seperti yang belakangan ini sering kaubaca di ruang klub?"

"Betul, salah satunya itu. Coba saja baca Gaga—"

"Lain kali saja kalau ada waktu."

Aku merasa peraturan orang yang takkan mau membacanya benar-benar berlaku di sini. Di saat yang sama, aku mendengar suara ketukan yang keras pada pintu ruang klub.

"Ini orang yang memohon bantuanmu tempo hari..."

Zaimokuza lagi-lagi berbicara dengan gaya zaman kerajaan, lalu ia pun masuk ke dalam ruangan.

"Baiklah, mari dengarkan seperti apa kesan kalian."

Zaimokuza mendudukkan dirinya ke kursi lalu menyilangkan kedua lengannya dengan angkuh. Tampak di wajahnya semacam rasa superior yang entah dari mana asalnya. Sebuah ekspresi yang dipenuhi rasa percaya diri.

Meski duduk berseberangan dengan Zaimokuza, Yukinoshita justru menampakkan ekspresi menyesal yang tak biasanya ia perlihatkan.

"Maaf. Aku tak begitu paham mengenai hal semacam ini, tapi..."

Yukinoshita memulai pembicaraan dengan kalimat itu, namun Zaimokuza menanggapinya dengan kalem.

"Tak masalah. Bahkan orang sepertiku ini terkadang ingin mendengarkan pendapat rakyat jelata. Ungkapkan saja."

"Begitu." Tanggap Yukinoshita singkat. Ia lalu menarik napas dalam-dalam dan bersiap untuk menjelaskan.

"Terasa membosankan. Jujur, membacanya hampir membuatku tersiksa. Ini lebih membosankan dari yang kubayangkan."

"Oofgh!"

Zaimokuza tumbang dalam sekali serang...

Kursinya berderak sewaktu dirinya rebah ke belakang, tapi Zaimokuza berhasil menjaga keseimbangannya dan kembali duduk dengan tegak.

"H-hmm... baiklah, untuk referensiku, bisa kau beri tahu bagian mana yang membosankan?"

"Pertama, tata bahasanya kacau. Kenapa kau sering sekali membolak-balik urutan kalimatnya? Apa kau tak tahu cara menggunakan partikel? Apa gurumu tak mengajari hal tersebut saat kau SD?"

"Heng... kupikir gaya tersebut akan lebih bisa membawa para pembaca masuk ke dalam cerita..."

"Bukankah kau seharusnya memikirkan hal itu setelah mampu menulis dengan standar tata bahasa Jepang yang benar? Lagi pula, kau sering sekali keliru menggunakan furigana. Di sini kau menulis kanji nouryoku (kemampuan) tapi furigana-nya tertulis chikara (kekuatan)... tak seorang pun mengeja seperti itu. Dan juga, di sini kau menulis Genkou Hasen yang harfiahnya berarti Tebasan Hantu Merah Darah, tapi kau justru menulis furigana Penebas Mimpi Buruk Berdarah di atasnya. Dari mana asalnya kata Mimpi Buruk tadi?"

"Ufgh! O-ooo... kau salah paham! Belakangan ini, semua novel aksi supernatural memang sering menggunakan banyak furigana..."

"Kau melakukan ini sesuai dengan seleramu saja. Hal seperti ini takkan mampu membuat siapa pun mengerti. Apa kau benar-benar ingin agar orang lain membaca karyamu ini? Jujur, kalau kau ingin agar orang lain membacanya, kau harus membuat cerita ini supaya sedikit sulit ditebak. Aku bisa memprediksi yang akan terjadi pada cerita khayalan macam ini dan tak ada tanda-tanda ceritanya akan jadi lebih menarik. Dan juga, kenapa tokoh utama perempuannya sampai melepas pakaian di sini? Sama sekali tak ada gunanya."

"Heng...! Ta-tapi novel yang tak memasukkan unsur semacam itu, tak bakal laku... jadi mau tak mau harus... begitu..."

"Ditambah, narasinya juga terlalu panjang, begitu banyak kanji yang berbelit, sehingga sulit sekali untuk dibaca. Dan juga, jangan membuat orang lain membaca cerita yang belum selesai. Sebelum lebih jauh membahas soal gaya penulisan, mungkin kau harus memakai akal sehat terlebih dahulu."

"Pnnghyahhh!!"

Tungkai Zaimokuza pun menegang dan ia sampai membuat suara pekikan. Bahunya mengejang dan matanya kosong menatap ke langit-langit. Reaksi berlebihannya tadi sudah cukup mengganggu, ia harus segera menghentikan tindakannya itu...

"Kita hentikan saja dulu. Bisa gawat kalau kau melakukan semua itu dalam sekali duduk."

"Padahal masih banyak yang ingin kukatakan... tapi, ya sudahlah. Kurasa berikutnya giliran Yuigahama."

"Eh? A-aku?!"

Yuigahama tampak terkejut, dan Zaimokuza menatapnya dengan tampang memelas. Mata anak itu sudah berkaca-kaca. Mungkin Yuigahama sadar dan merasa kasihan dengan lelaki malang ini, jadi ia kelihatan berusaha memikirkan semacam pujian untuk menghiburnya. Ia termenung selagi memandang ke atas lalu memberanikan diri mengucapkan beberapa kata.

"E-eng... ba-banyak juga kata-kata sulitnya, ya..."

"Uwaaagghhhh!!"



"Kau benar-benar menghabisinya..."

Bagi seorang novelis ambisius, komentar tersebut sama saja seperti penolakan. Lagi pula, jika dipikir baik-baik... cuma itu saja satu-satunya hal bagus yang ada di novel Zaimokuza. Itu kalimat yang wajar diucapkan oleh orang-orang yang tak begitu mengenal light novel saat mereka dimintai pendapat oleh sang penulis. Dan itu benar-benar tak ada bedanya dengan berkata bahwa karya tersebut sama sekali tak menarik.

"Ba-baiklah... Hikki, silakan."

Yuigahama terlihat seolah ingin melarikan diri sewaktu ia berdiri dan menawariku untuk duduk di kursinya. Aku pun duduk menghadap Zaimokuza lalu Yuigahama mengambil kursi lain dan duduk di samping belakangku.

Tampaknya ia tak mampu lebih lama lagi menghadapi langsung Zaimokuza yang sudah pucat tak berdaya itu.

"G-gnnghh.. Ha-Hachiman. Kau mengerti diriku, 'kan? Dunia yang kuciptakan, pemandangan amat luas dari keagungan light novel ini... kau mengerti itu, 'kan? Kau mengerti cerita mendalam yang kuputarbalikkan ini agar mereka yang bodoh tak bakal berusaha menghargainya... 'kan?"

Ya... aku mengerti betul dirinya.

Dengan meyakinkan kuanggukkan kepala ini. Zaimokuza lalu menatapku dengan tatapan penuh percaya.

Kurasa sebagai lelaki aku harus menjawabnya dengan jujur. Kutarik napas dalam-dalam dan berkata dengan ramah.

"Jadi... ini kaujiplak dari mana?"

"Hnghh?! B-bngghh... *glup, glup*"

Zaimokuza menggeliat ke sana kemari di lantai, lalu berhenti setelah menabrak tembok. Kemudian ia terbaring di sana, tanpa bergerak sedikit pun. Tatapan kosongnya tertuju ke langit-langit, dan linangan air mata mulai mengalir turun ke pipinya. Itu adalah pemandangan dari seorang pria yang sudah siap untuk mati.

"...kau memang tak kenal ampun. Itu jelas lebih kejam dari pendapatku tadi."

Yukinoshita tampak benar-benar terkejut.

"...hei..."

Yuigahama menyenggolkan sikutnya padaku. Terlihat kalau ia ingin agar aku lanjut berbicara. Tapi apa yang harus kukatakan...? Sewaktu berusaha memikirkannya, kusadari kalau aku telah lupa menyebutkan salah satu dasar terpenting yang berhubungan dengan light novel.

"Yah, yang penting itu ilustrasinya. Tak usah terlalu cemas soal penulisannya."



Read more ...»

Oregairu Bab 5 Bagian 3

On Jumat, 16 Mei 2014 0 komentar

==========================================================
Karena pendek, jadi langsung ane posting saja...
Biar pendek, tapi lumayan menghibur, loh...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 5 - Intinya, Yoshiteru Zaimokuza itu Agak Gila

Bagian 3


Yukinoshita, Yuigahama, serta diriku masing-masing membawa salinan manuskrip yang ditawarkan Zaimokuza pada kami dan memutuskan untuk membacanya semalaman ini.

Kalau aku boleh menebak langsung genre dari light novel karangan Zaimokuza, aku akan bilang kalau itu adalah novel aksi kekuatan super yang berlatar di sekolah.

Ceritanya berlangsung di sebuah kota kecil di Jepang, di sebuah tempat di mana organisasi rahasia kegelapan yang terselubung beserta orang-orang berkekuatan super dengan kenangan masa lalu mereka saling berjuang satu sama lain. Di tengah-tengah hal tersebut, seorang pemuda yang biasa-biasa saja mendadak terbangkitkan kekuatan tersembunyinya dan secara spektakuler mulai menumbangkan satu persatu musuhnya.

Saat aku telah selesai membaca novel karangan Zaimokuza itu, tahu-tahu langit di luar sudah terang benderang.

Alhasil, aku malah jadi sering mengantuk sepanjang jam pelajaran. Terlepas dari itu, setelah berakhirnya jam keenam yang senggang dan sesi bimbingan kelas yang singkat, kuputuskan untuk menuju ke ruang klub.

"Hei! Tunggu, tunggu!"

Sewaktu berjalan menuju ke arah paviliun, kudengar sebuah suara memanggilku dari belakang. Saat aku menoleh, kulihat Yuigahama sedang mengejarku sambil menenteng tas sekolah yang tampak tipis itu di bahunya.

"Hikki, kau kelihatannya kurang sehat. Ada apa, nih?"

"Ah, bagaimana, ya? Namanya juga telalu lama membaca, sudah pasti capek... mengantuk sekali rasanya. Padahal sudah sebanyak itu membaca, tapi kau kok masih kelihatan segar begitu, ya?"

"Eh?"

Yuigahama beberapa kali mengedipkan matanya.

"...ah... be-benar juga. Rasanya mengantuuuuk banget..."

"Kau pasti tak membacanya, 'kan...?"

Yuigahama tak menjawab pertanyaanku, ia malah bersenandung sambil memandang ke luar jendela. Ia berpura-pura polos, tapi aku bisa melihat keringat dingin mulai mengalir dari pipi hingga lehernya... aku jadi penasaran, apa keringat tadi bakal memperlihatkan yang ada di balik blusnya itu, ya...



Read more ...»

Oregairu Bab 5 Bagian 2

On Rabu, 14 Mei 2014 0 komentar

==========================================================
Terlalu banyak hal yang terjadi di RL selama pengerjaan Bagian 2 ini...
Mulai dari kerjaan yang gak habis-habis, kehidupan di masyarakat, sampai kondisi kesehatan yang benar-benar drop...
Jadi tolong maklumi ane, kalau curhat di sini, ya... Hkhkhk...
Kalau belum ada yang tahu siapa itu Kaori... Dia itu perempuan yang pernah ditembak Hachiman sewaktu SMP... Kaori Orimoto sekarang juga lagi jadi bahan perbincangan di forum, loh... Semenjak di Jilid 8, dia jadi tokoh yang punya peran tersendiri sampai di Jilid 9 yang terakhir rilis ini... Mau lebih lengkap infonya, silakan ke forum, atau kalau mau lebih capek, baca lengkap light novelnya di Baka-Tsuki...
Dan seperti yang penah ane bilang, di bab ini mulai bermuculan komedinya...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 5 - Intinya, Yoshiteru Zaimokuza itu Agak Gila

Bagian 2


Keesokan harinya, ketika menuju ke ruang klub, aku terkejut melihat Yukinoshita dan Yuigahama sedang berdiri menghadap ke arah pintu. Aku jadi penasaran apa yang sedang mereka lakukan. Saat aku mengira-ngira alasannya, ternyata pintu itu sedikit terbuka dan mereka sedang mengintip ke dalam.

"Kalian sedang apa?"

"Hyaaah!"

Terdengarlah jeritan menggemaskan itu, dan di saat bersamaan dua perempuan tersebut melompat kaget.

"Hikigaya... kau membuatku kaget..."

"Akulah yang harusnya kaget..."

Reaksi macam apa itu? Itu mengingatkanku tentang hal yang bakal terjadi kalau aku menjumpai kucing peliharaanku di ruang tamu saat tengah malam.

"Bisakah kau agar tidak tiba-tiba memanggil kami seperti itu?"

Tatapan jengkel Yukinoshita yang ditujukan padaku itu pun kian mengingatkanku akan kucing peliharaanku. Kini aku jadi terpikir, kucing tersebut begitu ramah terhadap semua orang di keluargaku terkecuali aku. Itu juga salah satu hal dari diri Yukinoshita yang mengingatkanku pada hewan tersebut.

"Iya, iya, maaf. Jadi, kalian ini sedang apa?"

Yuigahama sekali lagi menggeser pintu ruangan klub dan diam-diam mengintip ke dalam. Ia orang yang menjawabku ketika kusodorkan pertanyaan tadi.

"Di dalam ada orang yang mencurigakan."

"Yang mencurigakan itu malah kalian berdua."

"Cukup sampai di situ. Bisakah kau berbaik hati masuk ke dalam dan menanyakan siapa dirinya?"

Yukinoshita menyuruhku dengan wajah tersinggung.

Kulakukan saja apa yang sudah diminta, berdiri di depan kedua gadis tersebut dan dengan hati-hati membuka pintu. Aku lalu melangkah masuk.

Yang menanti kami adalah hembusan angin.

Sewaktu aku membuka pintu, semilir angin melewati kami. Itu adalah ciri khas angin dari sekolah yang dibangun di daerah sekitar laut, dan angin tersebut membuat pusaran di sekeliling ruang klub, menghamburkan kertas-kertas.

Pemandangan itu mengingatkanku akan sebuah trik sulap di mana merpati-merpati putih keluar dari topi sang pesulap. Dan di tengah-tengah hal tersebut, berdirilah sosok seseorang.

"Ku ku ku, sungguh tak disangka kita akan bertemu di tempat seperti ini. Telah lama aku menantimu, Hachiman Hikigaya."

"Ka-kau ini bicara apa?!"

Ia sudah menantikan diriku, dan ia masih saja tak menyangkanya...? Maksudnya itu apa, sih? Harusnya yang tak menyangka bakal ada kejadian begini itu aku.

Kupaksa berjalan melewati pusaran kertas-kertas agar bisa melihat jelas siapa lawan bicaraku.

Dan pada akhirnya, sosok tersebut ternyata... oh, tidak, lupakan saja. Aku tak punya urusan dengan Yoshiteru Zaimokuza.

Terserah, deh, aku memang tak punya urusan dengan kebanyakan orang di sekolah ini. Tapi di antara mereka, anak ini adalah orang yang benar-benar tak ada urusannya denganku. Maksudku, lihat saja dirinya. Padahal tak sedang di musim panas, tapi ia malah berkeringat karena memakai mantel dan sarung tangan fingerless-nya.

Meski mengenalnya, aku akan berpura-pura saja kalau tidak tahu.

"Hikigaya, sepertinya anak yang di sana itu mengenalmu..."

Yukinoshita sudah bersembunyi di belakangku, dan bolak-balik memandang curiga pada diriku serta anak yang di sana itu. Zaimokuza meringkuk sesaat di hadapan tatapan menyindir perempuan tersebut, tapi ia segera kembali mengarahkan pandangannya padaku, menyilangkan lengannya dan sekali lagi mulai tertawa dengan suara rendah.

Dengan gerakan yang dilebih-lebihkan, ia mulai mengangkat bahu dan perlahan menggelengkan kepalanya.

"Sungguh kejam... kau sampai bisa melupakan rekan lamamu, Hachiman."

"Barusan ia menyebutmu rekan lama..."

Yuigahama menatapku dingin. Tatapannya seakan ingin berkata, Mati saja kau sana, Sampah!

"Itu sudah jelas, Rekan Lama. Kau masih mengingatnya, bukan? Bagaimana saat kita dengan gagah berani menghadapi masa-masa mengerikan itu bersama..."

"Orang-orang membuat kami berpasangan saat pelajaran Olahraga. Itu saja..."

Aku sudah tak tahan lagi hingga melontarkan bantahan tersebut, yang membuat Zaimokuza sampai menyengir.

"Hem... kejamnya sistem pilah-pilih tak lain hanyalah sebuah neraka. Mereka bilang kita boleh berpasangan dengan siapa pun sesuka kita. Ku ku ku, seolah aku punya hasrat untuk menjalani pertemanan dengan raga fana ini! ...seolah aku pernah berniat mengalami perpisahan yang akan menyakiti raga tersebut! Jika itu adalah cinta, maka aku tak membutuhkannya!"

Ia memandang jauh ke arah luar jendela. Pasti ada semacam bayangan seorang tuan putri yang jelita yang melayang-layang di langit kosong di sana. Atau mungkin saja semua orang sudah terlalu menggemari seri Hokuto no Ken.

Yah, karena sudah sejauh ini, kita mungkin bisa bilang kalau anak ini begitu menggebu-gebu. Kita mungkin bisa bilang kalau ia adalah salah satu dari orang-orang itu.

"Kau mau apa, Zaimokuza?"

"Heng... rupanya kau sudah menyebut nama yang terukir di jiwaku ini. Betul sekali, akulah sang jenderal ahli pedang, Yoshiteru Zaimokuza."

Dengan mencolok ia kibarkan mantelnya, sambil memasang ekspresi heroik di wajah tambunnya sewaktu memandang balik ke arah kami. Tampaknya ia sudah terlalu menghayati peran jendral ahli pedang ciptaannya itu.

Hanya dengan melihatnya sudah membuat sakit kepalaku.

Atau bisa kubilang, hatikulah yang sebenarnya terasa sakit. Yang lebih penting lagi, tatapan yang datangnya dari Yukinoshita dan Yuigahama kepadaku ini justru terasa lebih menyakitkan.

"Hei... sebenarnya yang tadi itu maksudnya apa?"

Terlihat jelas kalau Yuigahama sedang merasa terganggu... atau bisa kubilang merasa jengkel... dan ia mengarahkan pandangannya ke arahku. Benar-benar, deh, maksudnya itu apa, sampai ia memandang ke arahku segala?

"Nama anak ini Yoshiteru Zaimokuza... kami dulu pernah jadi rekan saat pelajaran Olahraga."

Sebenarnya, cuma sampai di situ saja, sih. Hubunganku dengan Zaimokuza tak pernah lebih dari itu... meski, tak sepenuhnya salah jika berkata, kalau kami pernah jadi rekan yang sama-sama tak dibolehkan menjalani hidup damai selama masa-masa mengerikan itu.

Rasanya memang seperti di neraka saat disuruh memilih siapa pasangan kita. Serius.

Zaimokuza juga merasakan perih yang sama dan ia pun mengerti betapa mengerikannya masa-masa itu.

Semenjak pertama kali mengikuti pelajaran Olahraga di mana Zaimokuza dan diriku berpasangan dikarenakan hanya kami saja yang tak dipilih, kami selalu bersama-sama. Sejujurnya, aku sangat ingin menjual pengidap chuunibyou tambun ini ke salah satu tim lain, tapi itu tak bisa kulakukan, jadi aku pun menyerah. Aku juga pernah menyatakan diriku ini sebagai agen lepas, namun sayang, jika ada orang yang mau menggunakan jasaku, orang tersebut takkan mampu menyewaku karena mahalnya upahku. Baiklah, kuakui kalau yang tadi itu bohong, alasan sebenarnya hanya karena aku dan Zaimokuza saja yang tak punya teman.

Selagi Yukinoshita memerhatikan penjelasanku, ia memandang bolak-balik ke arahku dan ke arah Zaimokuza. Setelahnya, ia pun terlihat puas seraya mengangguk.

"Orang sejenis pasti saling berkumpul, ya 'kan?"

Tentu saja ia langsung memberi kesimpulan yang sangat kejam.

"Dasar bodoh, jangan hubung-hubungkan aku dengannya. Aku tak sampai setersesat itu. Dan yang pasti, kami ini bukan teman, sialan."

"Hmm... aku pun harus bilang setuju. Betul sekali, aku memang tak punya teman... aku memang sendirian. (hik)"

Zaimokuza berbicara dengan nada tersedu yang dibuat-buat. Eh, tapi, ia sudah kembali lagi ke ekspresinya yang biasa.

"Yah, kurasa itu bukan masalah. Lagi pula, kelihatannya ada sesuatu yang temanmu inginkan darimu."

Mendengar Yukinoshita berkata begitu hampir membuatku terharu. Semenjak SMP, tak pernah aku seterharu ini sewaktu mendengar kata teman...

Tak pernah aku seterharu ini semenjak Kaori mengatakannya sewaktu SMP... Aku memang senang denganmu dan kau juga orang yang baik, tapi kalau diajak pacaran, rasanya agak... kita berteman saja, ya? Aku benar-benar tak butuh teman yang seperti itu...

"Muwahaha, aku jadi benar-benar lupa. Omong-omong, Hachiman. Ini Klub Layanan Sosial, bukan?"

Zaimokuza telah kembali ke karakternya, tertawa aneh sambil menatapku.

Untuk apa sebenarnya ia tertawa tadi? Baru pertama kali kudengar hal yang seperti itu.

"Ya, ini memang Klub Layanan Sosial."

Yukinoshita menjawabnya menggantikanku. Ketika ia melakukannya, pandangan Zaimokuza sesaat tertuju ke arahnya kemudian segera kembali ke arahku. Kenapa ia harus melihat ke arahku segala?

"...be-begitukah? Jika saran dari Bu Hiratsuka ternyata benar, maka kau berkewajiban mengabulkan permintaanku, benar bukan? Jika mengingat kembali ratusan tahun yang kauabdikan sebagai pelayanku... pastinya ini perbuatan Sang Bodhisatwa Agung Hachiman."

"Bukan berarti Klub Layanan Sosial bisa mengabulkan permintaanmu... kami hanya membantumu mewujudkannya."

"...he-hem... kalau begitu, Hachiman, ulurkanlah tanganmu. Fu, fu, fu... kini aku merasa kalau kita setara. Kau merasakannya juga, bukan? Setara sama seperti ketika Kehendak Lampau ingin menaklukan segala yang bernaung di bawah langit!"

"Lalu apa yang terjadi pada malaikat pelayan tadi? Lagi pula, kenapa kau cuma melihat ke arahku?"

"Goram, goram! Hal sepele semacam itu tak begitu punya arti di hadapan kita! Aku akan membuat pengecualian untuk kasus ini."

Zaimokuza berdeham dengan cara yang sangat konyol, mungkin ia berusaha menutupi salah bicaranya. Lalu tentu saja, ia kembali menatap ke arahku.

"Aku minta maaf. Jika dibandingkan masa lalu, tampaknya hati para pria telah dikotori di masa kini. Oh, betapa aku merindukan masa-masa suci sewaktu Era Muromachi... tidakkah kau ikut merasakannya, Hachiman?"

"Jelas tidak. Sudahlah, mati saja sana."

"Ku, ku, ku... seolah kematian bisa membuatku takut. Itu hanya memberikanku sebuah dunia baru untuk kutaklukan!"

Zaimokuza mengangkat tangannya ke atas, mantelnya berkibar dihembus angin.

Ia benar-benar menanggapi orang yang menyuruhnya mati...

Aku pun begitu... menurutku ketika kita sudah terbiasa dihina maupun dilecehkan, kita bakal punya sanggahan bagus untuk membalas hal tersebut. Keahlian yang rasanya begitu memilukan... sampai-sampai bisa membuatku menangis.

"Uwaaah..."

Yuigahama tampak benar-benar syok. Bahkan wajahnya agak terlihat pucat saat melihatku.

"Hikigaya, bisa aku bicara denganmu sebentar...?"

Setelah berkata begitu, Yukinoshita lalu menarik lenganku dan berbisik di telingaku.

"Ada apa sebenarnya ini? Ada apa dengan si jenderal ahli pedang atau apalah namanya itu?"

Wajah manis Yukinoshita begitu dekat dengan wajahku dan turut menyibakkan aroma yang mengenakkan, namun suara yang dibisikkannya tak sedikit pun mengandung rayuan.

Menghadapi itu, aku merasa jika satu kalimat saja sudah cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut.

"Itu chuunibyou. Cuma chuunibyou."

"Chuu-ni-byou?"

Yukinoshita memandangku sambil memiringkan kepalanya. Aku jadi memerhatikannya, tapi ketika para perempuan melafalkan kata chuu, bibir mereka terlihat begitu menggemaskan. Hal yang begitu langka dijumpai.

Yuigahama juga ikut mendengarkan perbincangan kami, dan ia pun bergabung di dalamnya.

"Itu semacam penyakit, ya?"

"Sebenarnya itu bukan penyakit sungguhan. Yah, itu semacam pelesetan saja."

Intinya, chuunibyou mengacu pada rangkaian perilaku memalukan yang cenderung terlihat di kalangan anak SMP.

Bahkan di antara kalangan tersebut, Zaimokuza menjadi salah satu kasus chuunibyou yang terparah, hingga ia pantas menyandang gelar Sang Mata Iblis.

Orang-orang semacam ini berpikir bahwa mereka punya kemampuan maupun kekuatan aneh yang sama yang biasanya ada di berbagai manga, anime dan game. Mereka pun bertingkah seakan mereka memang memiliki kemampuan tersebut. Dan pastinya, karena hal yang demikian itu, mereka jadi mengarang bermacam cerita supaya kemampuan tersebut bisa diterima nalar. Itu sebabnya mereka sering berpura-pura menjadi reinkarnasi salah seorang kesatria legendaris, atau manusia pilihan dewa, ataupun agen rahasia. Dan mereka pun bertindak sesuai dengan latar belakang cerita yang diceritakannya tadi.

Kenapa mereka sampai berbuat seperti itu?

Karena hal tersebut tampak keren.

Terserah, deh, kurasa setiap orang yang pernah melalui masa SMP, setidaknya pernah sekali berpikir begitu di dalam hidupnya. Kurasa di satu titik, setiap orang pernah berdiri di hadapan cermin dan mengatakan hal semacam, Selamat malam para pemirsa setia countdown TV. Eng... kali ini kami punya lagu baru yang bercerita tentang cinta, dan saya sendiri yang menulis liriknya...

Dengan kata lain, chuunibyou adalah contoh ekstrim dari hal tersebut.

Lewat ucapanku tadi, aku telah menjelaskan secara singkat apa itu chuunibyou, dan Yukinoshita kelihatan puas atas jawabanku. Sering sekali aku memikirkan hal ini, tapi aku selalu kagum akan betapa cepatnya perempuan ini berubah pikiran. Baru sebentar saja aku menjelaskan sebuah hal dan ia sudah sepuluh langkah di depanku, biarpun begitu, ia tak pernah membutuhkan penjelasan panjang kalau ia belum mengerti betul situasinya.

"Aku enggak mengerti maksudnya..."

Berbeda sekali dengan Yukinoshita, Yuigahama tampak tak begitu senang dan bergumam tak jelas. Kalau boleh jujur, aku juga bakal tak mengerti andai disuruh mendengarkan penjelasanku sendiri. Sebenarnya, Yukinoshita-lah yang aneh karena bisa mengerti hal semacam tadi.

"Hmm... jadi itu seperti menggunakan latar belakang cerita rekaan kemudian bertingkah sesuai dengan hal tersebut, begitu?"

"Yah, semacam itulah. Dalam kasus anak ini, ia menggunakan sosok Yoshiteru Ashikaga, shogun ketiga belas dari ke-shogun-an Muromachi sebagai jati dirinya. Mungkin itu lebih mudah karena mereka punya nama yang sama."

"Lalu kenapa ia menganggapmu sebagai rekannya?"

"Nama Hachiman itu mungkin diambil dari Bodhisatwa Agung Hachiman, di mana Seiwa Genji begitu taat memuja dirinya sebagai dewa perang. Kalian pasti pernah mendengar Kuil Tsurugaoka Hachiman, bukan?"

Setelah aku menanggapinya, Yukinoshita langsung diam membisu. Apa ada yang salah? Aku memasang wajah bertanya-tanya di hadapannya, dan kulihat ia sudah menatap ke arahku dengan mata terbelalak.

"Aku terkejut. Rupanya kau tahu banyak."

"...yah, begitulah."

Kenangan tak menyenangkan mulai mencuat di pikiranku, jadi kupalingkan saja kepala ini. Lalu kuambil kesempatan tersebut untuk mengganti topik pembicaraan.

"Memang menjengkelkan mendengar Zaimokuza mengoceh macam-macam soal sejarah, tapi setidaknya, ia menggunakan karakter yang ada di sejarah kehidupan nyata sebagai jati dirinya."

Mendengar itu, Yukinoshita sekilas menatap Zaimokuza lalu bertanya padaku dengan wajah yang tak mengenakkan.

"...jadi maksudmu, masih ada lagi yang lebih parah dari itu?"

"Benar."

"Hanya ingin tahu saja, contohnya seperti apa?"

"Pada mulanya, di dunia ini berdiamlah tujuh dewa. Di antaranya tiga dewa penciptaan: Garin Sang Kaisar Bijak, Mythica Sang Dewi Pejuang, dan Heartia Sang Pelindung Para Jiwa. Lalu tiga dewa kehancuran: Ortho Sang Raja Para Orang Bodoh, Rogue Sang Kuil Yang Hilang, dan Lailai Sang Dewa Prasangka Palsu. Serta Dewa Ketiadaan Abadi yang tak bernama. Di awal zaman, ketujuh dewa tersebut berulang kali membawa kemakmuran juga kehancuran bagi dunia. Kini dunia telah melalui pengulangan untuk keenam kalinya, dan kali ini pemerintah Jepang berusaha mencegah kehancuran dunia dengan cara menemukan wujud reinkarnasi dari dewa-dewa tersebut. Di antara ketujuh dewa itu, yang paling diistimewakan ialah Dewa Ketiadaan Abadi yang tak bernama, di mana kekuatan dewa tersebut masih belum sepenuhnya dipahami, dan aku, Hiki— wuaaah... kau pandai sekali membuat pertanyaan menjebak! Hahaha, aku benar-benar syok. Kau hampir membuatku membeberkan segalanya tadi!"

"Tapi aku sama sekali tak berniat menjebakmu..."

"Menjijikkan..."

"Yuigahama, hati-hati dengan ucapanmu. Tak menutup kemungkinan suatu hari nanti kau tanpa sengaja membunuh dirimu sendiri."

Yukinoshita berdesah kesal, kemudian kembali bolak-balik menatap ke arahku dan ke arah Zaimokuza sebelum lanjut berbicara.

"Dengan kata lain, Hikigaya ternyata ada di golongan yang sama dengan anak yang di sana itu. Makanya ia tahu banyak ketika menyinggung soal jenderal ahli pedang atau apalah sebutannya tadi."

"Bukan, bukan, bukan, kau ini bicara apa, Yukinoshita? Jelas-jelas itu keliru. Jelas ada alasan tersendiri kenapa aku sampai tahu banyak... itu karena aku mengikuti pelajaran Sejarah Jepang. Itu karena aku memainkan game Nobunaga no Yabou. Begitu."

"E-eh..."

Yukinoshita menatapku penuh keraguan. Tepatnya, aku seperti tetap dijadikan tersangka sampai ada bukti kalau aku tak bersalah.

Yang jelas aku tak berusaha mengelak. Karena aku tak sama dengan Zaimokuza. Kutatap balik Yukinoshita dengan penuh percaya diri. Karena yang dikatakannya itu tidaklah benar.

Sudah pasti aku tak sama dengan Zaimokuza... lagi.

Nama Hachiman memang langka. Karenanya, ada saat di mana sewaktu masa kecilku aku sempat bertanya-tanya, apakah aku ini sebuah keberadaan yang istimewa. Dan sebagai bocah yang juga menggemari anime dan manga, maka wajar kalau aku pernah terjebak dalam khayalan semacam itu.

Sambil berbaring di atas futon, aku bisa membayangkan ada sebuah kekuatan hebat yang bersemayam di dalam diriku, dan suatu hari nanti, kekuatan tersebut tiba-tiba akan bangkit dan aku pun terlibat dalam pertempuran yang mempertaruhkan nasib dunia. Demi mempersiapkan datangnya hari itu, aku bahkan menyimpan sebuah buku harian dunia roh dan tiap tiga bulannya, akan kutulis laporan yang ditujukan untuk pemerintah. Semua orang pernah melakukan itu, 'kan? ...mereka pasti pernah, 'kan...?

"...yah, bagaimana menjelaskannya, ya...? Mungkin di masa lalu kami ini sama, tapi untuk sekarang kami berbeda."

"Hm... begitu, ya..."

Yukinoshita tersenyum mengejek ke arahku kemudian berjalan mendekati Zaimokuza.

Sewaktu kupandangi punggungnya yang kian menjauh itu, sebuah pikiran mendadak terlitas di benakku.

Apa aku yang sekarang sudah benar-benar berbeda dibanding Zaimokuza?

Jawabannya jelas, Iya.

Aku tak lagi mengkhayalkan hal-hal konyol, dan tak lagi menulis buku harian dunia roh maupun laporan pemerintah. Satu-satunya yang belakangan ini masih kutulis dalam ingatanku yakni Daftar Orang-Orang Yang Takkan Kumaafkan. Tentu saja, orang pertama dalam daftar itu ialah Yukinoshita.

Aku tak lagi memainkan model plastik Gundam sambil membuat efek suara dengan mulutku sendiri, dan aku tak lagi bermain-main dengan jepitan baju untuk menciptakan sosok robot terkuat. Aku pun sudah tak lagi menggunakan karet gelang serta kertas alumunium sebagai senjata pertahanan diri. Aku juga sudah berhenti mencoba ber-cosplay dengan mantel ayahku serta syal berbulu milik ibuku.

Aku jelas berbeda dibanding Zaimokuza.

Seiring waktu, akhirnya aku berhasil mengatasi kebimbanganku dan mencapai kesimpulan tersebut, Yukinoshita sendiri telah berdiri tepat di depan Zaimokuza. Yuigahama lalu berbisik dengan keras, "Yukinon, cepat menjauh!" Oh, lelaki yang malang...

"Kurasa aku mengerti. Kau kemari agar kami bisa membantumu menyembuhkan penyakit ini, benar begitu?"

"...Hachiman. Aku bergabung denganmu di tempat ini agar bisa mengetahui apa kau akan patuh pada perjanjian dan tetap mengabulkan keinginan kita. Itu tak lain hanyalah hasrat angkuh semata."

Zaimokuza mengalihkan pandangannya dari Yukinoshita dan menatap ke arahku. Ia benar-benar mengganti kata ganti orang pertama dengan kata kita pada kalimat barusan... memangnya selinglung apa, sih, anak ini?

Kemudian aku pun menyadari sesuatu. Anak ini... setiap kali ia bicara menghadap Yukinoshita, ia pasti segera berbalik menghadap ke arahku.

Yah, bukan berarti kalau aku tak punya simpati. Sebelum aku tahu seperti apa sosok asli Yukinoshita, aku pun sering merasa gugup dan tak bisa menatap langsung wajahnya setiap kali ia bicara padaku.

Namun Yukinoshita tak memiliki kepekaan yang pada umumnya orang awam miliki, dan bukan tipe yang bakal memikirkan tipe orang panik seperti ini.

"Perhatikan aku bicara. Setidaknya, saat ada yang bicara denganmu, kau pun harus memandang langsung lawan bicaramu."

Sambil mengatakannya dengan dingin, Yukinoshita mencengkeram kerah baju Zaimokuza dan memaksa anak itu menghadap ke arahnya.

Tentu saja, meski Yukinoshita sendiri tak bersikap sopan, ia menjadi begitu menjengkelkan jika menyangkut sopan santun orang lain. Bahkan hal tersebut sampai pada tahap di mana aku memberi salam setiap kali bertemu dengannya di ruang klub.

Ketika Yukinoshita melepaskan cengkeramannya, Zaimokuza pun mulai terbatuk-batuk. Bisa ditebak, ini bukan waktu yang tepat baginya untuk tetap menjadi karakter itu.

"...mu-muwahahaha... demi Tuhan..."

"Dan berhentilah bicara seperti itu lagi."

"..."

Sewaktu Zaimokuza dijatuhkan dengan cepatnya oleh Yukinoshita, ia langsung terdiam dan tertunduk.

"Kenapa kau memakai mantel di musim seperti ini?"

"...he-hem... jubah ini melindungiku dari bermacam energi iblis yang ada di dunia ini, dan ini adalah satu dari kedua belas alat surgawi milikku. Namun ketika aku bereinkarnasi ke dunia ini, jubah tersebut memberiku kemampuan untuk mengubah tubuhku ke dalam wujud yang paling cocok. Fuwahahaha!"

"Berhenti bicara seperti itu."

"Ba-baik..."

"Lalu kenapa kau mengenakan sarung tangan fingerless? Apa itu ada kegunaannya? Kau tak bisa melindungi jari-jarimu kalau seperti itu."

"...ah, iya. Eng... ini adalah sesuatu yang kuwarisi dari kehidupanku yang sebelumnya, satu dari kedua belas alat surgawi milikku, zirah istimewa yang bisa menembakkan berlian, jadi agar lebih mudah digunakan saat bertarung, kubiarkan saja jari-jariku tak terlindungi... pastinya begitu! Fuwahahaha!"

"Lagi-lagi berbicara seperti itu."

"Hahaha! Hahaha... hah..."

Mulanya Zaimokuza tertawa kencang, namun lambat laun berubah menjadi desahan menyedihkan. Lalu, ia pun kembali terdiam.

Mungkin saja di titik itu ia merasa tak tega pada Zaimokuza, soalnya Yukinoshita mendadak berubah dan memperlihatkan ekspresi bersahabat.

"Jadi, apa itu bisa kami anggap sebagai pernyataanmu yang menginginkan penyakit ini agar disembuhkan?"

"...ah, itu sesungguhnya bukan benar-benar penyakit..."

Zaimokuza masih tak berani menatap langsung wajah Yukinoshita dan berbicara dengan suara rendah. Hanya sesekali ia melirik ke arahku sambil memperlihatkan ekspresi kesulitan.

Ia benar-benar kembali ke jati dirinya yang asli.

Tampaknya Zaimokuza tak punya lagi daya untuk bertahan lebih lama dalam karakternya sewaktu diserang langsung oleh tatapan berbinar Yukinoshita.

Uh! Aku sungguh tak sanggup lagi menyaksikan hal ini! Zaimokuza sudah begitu menyedihkan. Entah kenapa aku jadi ingin melemparkan rakit penyelamat ke arahnya.

Kuputuskan bahwa yang terbaik saat ini adalah memisahkan Zaimokuza dari Yukinoshita terlebih dahulu, lalu dengan niat tersebut, segera kulangkahkan kakiku. Tapi aku merasa seperti menginjak sesuatu.

Rupanya aku menginjak salah satu kertas yang sempat dihempaskan badai di sekeliling ruangan ini sebelumnya.

Saat kuambil kertas tersebut, kulihat kumpulan aksara sulit kanji yang saling berjejer, dan perhatianku benar-benar tercuri oleh lembaran kertas ini.

"Lo, ini..."

Kutengadahkan pandanganku dari lembaran tersebut dan beralih ke sisi tengah ruangan. Rupanya lembaran kertas ini mempunyai format empat puluh dua huruf per baris serta mencakup tiga puluh empat baris di tiap kolomnya. Kupunguti lembaran yang berserakan itu satu demi satu dan mulai menyusunnya sesuai urutan.

"Hmm... sudah kuduga, tak perlu aku memberitahumu agar kau menyadarinya. Aku yakin, ini bukti bahwa sewaktu kita menghadapi masa-masa mengerikan bersama dulu bukanlah sebuah kesia-siaan."

Zaimokuza berbicara dengan suara yang cukup menggebu-gebu, namun aku tak memedulikannya. Yuigahama lalu memerhatikan kumpulan kertas yang sedang kupegang.

"Itu apa?"

Kusodorkan bundelan kertas itu kepadanya, dan ia pun mulai membalik-balik halamannya, memeriksa apa isinya. Aku hampir melihat gambaran tanda tanya melayang di atas kepalanya sewaktu ia mencoba membaca tiap lembarnya, namun akhirnya ia menghela napas panjang dan menyodorkan kembali kumpulan kertas itu kepadaku.

"Ini apa?"

"Kurasa... rancangan konsep sebuah novel."

Terpancing oleh kata-kataku, Zaimokuza berdeham seolah berusaha mengulang pembicaraan.

"Aku merasa sangat tersanjung oleh wawasan luasmu. Betul, itu adalah manuskrip dari sebuah light novel. Aku berencana ikut serta dalam sebuah kompetisi novel untuk para penulis baru. Karena aku tak punya teman, jadi aku tak punya pendapat lain di luar pendapatku sendiri. Karena itu, mohon dibaca."

"Entah kenapa, aku merasa bahwa di tengah ucapannya tadi, ia sempat berkata hal yang memilukan..."

Bisa dibilang, keinginan untuk menjadi penulis light novel adalah sebuah konsekuensi wajar bagi mereka yang mengidap chuunibyou. Hal tersebut cukup bisa dimengerti bagi mereka yang ingin mewujudkan beberapa khayalannya. Ditambah, bukan hal aneh bagi para pengidap chuunibyou jika mereka berpikir bisa menjadi novelis hebat dikarenakan khayalan berlebihan mereka. Dan tentu saja, sebuah hal menyenangkan bisa memperoleh penghasilan dari sesuatu yang kita sukai.

Jadi, sama sekali bukan hal aneh bagiku jika Zaimokuza berkeinginan menjadi seorang penulis light novel.

Yang lebih aneh adalah ia repot-repot kemari demi memperlihatkan hasil karyanya itu kepada kami.

"Di internet, ada situs tempat kau bisa memajang karyamu sekaligus meminta tanggapan dari para pembaca, jadi kenapa kau tak mencobanya saja dulu?"

"Percuma. Orang-orang di sana tak punya belas kasihan. Terlalu banyak kritikan, bisa-bisa aku bakal mati."

...dasar lemah.

Tapi memang, orang-orang di internet takkan menunjukkan rasa sungkan dan akan berkata semau mereka saja. Sedangkan bagi teman, mereka akan lebih memikirkan perasaan dan berusaha mengatakan hal-hal yang bisa membuat kita lebih baik.

Pada umumnya, mengingat seperti apa hubungan di antara kami dan Zaimokuza, pasti akan sulit bagi kami untuk bersikap tegas padanya. Pasti sulit melontarkan kritikan-kritikan kalau berhadapan langsung dengan orangnya. Mungkin kami harus melakukannya daripada tak berbuat apa-apa. Namun itu hanyalah sesuatu yang umumnya bakal terjadi...

"Biar begitu..."

Sekilas aku memandang ke samping dan sedikit menghela napas. Yukinoshita menatapku dan kubalas menatapnya dengan ekspresi datar.

"Yukinoshita mungkin lebih kejam daripada orang-orang di internet."



Read more ...»

Oregairu Bab 5 Bagian 1

On Kamis, 24 April 2014 0 komentar

==========================================================
Sampailah pada bagian-bagian komedi dari Jilid ini...
Nah, kalau di bagian ini, jujur ane gak berani pakai pelokalan istilah, karena pertimbangan menghargai pengarang aslinya (walau mungkin sisi komedinya bisa lebih heboh kalau dilokalkan)...
Jadinya ane buat penjelasan aja di sini...
Ultra Quiz Lintas Prefektur Chiba merupakan plesetan dari kuis terkenal yang bertajuk 'America Oudan Ultra Quiz (アメリカ横断ウルトラクイズ)'... Tautan referensi ada di sini...
Dan mengenai soal pemetaan wilayah Chiba, silakan agan lihat sedikit referensinya di tautan ini...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 5 - Intinya, Yoshiteru Zaimokuza itu Agak Gila

Bagian 1


Mungkin agak telat mengatakan hal ini, tapi yang kutahu, Klub Layanan Sosial punya peran untuk mendengarkan masalah para murid dan berusaha membantu mereka.

Kalau aku tak sesekali mengingatkan diriku sendiri mengenai hal tersebut, aku bisa benar-benar lupa klub apa sebenarnya ini. Yang biasanya aku dan Yukinoshita lakukan hanyalah membaca buku saja. Sedangkan Yuigahama, masih saja bermain dengan ponsel-nya.

"Hmm... hei, buat apa kau ke sini lagi?"

Perempuan itu begitu cepat membaur hingga kami tak pernah mempertanyakan keberadaannya, tapi itu tak serta-merta menjadikan Yuigahama sebagai anggota Klub Layanan Sosial. Sebenarnya, aku sendiri tak cukup yakin kalau aku juga anggota klub ini. Apa aku memang bagian dari klub ini, ya? Padahal aku ingin sekali keluar dari sini...

"Eh? Ah, soalnya aku lagi punya banyak waktu senggang 'gitu, lo."

"'gitu, lo? Aku tak paham yang kaukatakan. Lagi pula, apa-apaan itu? Memangnya kau ini orang Hiroshima, apa?"

"Eh? Hiroshima? Aku ini orang Chiba, kok."

Yah, pada kenyataannya, orang-orang yang memakai dialek Hiroshima selalu menambahkan 'gitu, lo di setiap akhir ucapannya, namun ketika hal ini kubahas ke orang lain, mereka justru tampak terkejut. Aku punya gambaran buruk di otakku mengenai cara bicara orang-orang Hiroshima, tapi lain cerita kalau perempuan yang berbicara dengan logat seperti itu, mereka malah terdengar menggemaskan. Faktanya, logat Hiroshima ada di jajaran sepuluh besar logat yang kuanggap paling menggemaskan.

"Huh. Hanya karena kau lahir di Chiba, bukan berarti bisa seenaknya saja mengaku kalau kau orang Chiba."

"Hei, Hikigaya. Aku sungguh tak mengerti apa maksudmu tadi..."

Yukinoshita menatapku dengan begitu sinis. Tapi aku tak menghiraukannya.

"Baiklah, Yuigahama. Pertanyaan pertama. Apa istilah lain dari luka dalam yang diakibatkan oleh hantaman keras pada tubuh?"

"Lebam!"

"Hmm... kau benar. Ternyata kau juga mengerti dialek Chiba... baiklah, lanjut ke pertanyaan kedua. Jika kau boleh memilih makanan lain sebagai pendamping makan siangmu, kau akan memilih apa?"

"Miso kedelai!"

"Hmm... mungkin kau memang benar-benar orang Chiba..."

"Aku sudah bilang dari tadi 'gitu, lo."

Yuigahama meletakkan tangannya di atas paha dan menatapku sambil memiringkan kepalanya, seakan ingin berkata, Anak ini kenapa, ya? Yukinoshita duduk di sebelahnya sambil menyandarkan sikunya sekaligus meletakkan tangannya ke dahi. Ia lalu mengela napas panjang.

"...eng, kenapa tiba-tiba menanyakan itu? Memangnya kalau aku jawab, aku dapat poin, ya?"

Jelas itu tak ada poinnya.

"Anggap saja ini Ultra Quiz Lintas Prefektur Chiba. Yang kumaksud Lintas itu, mulai dari Matsudo hingga ke Choushi."

"Kalau hanya dari situ sampai ke situ saja, bukan Chiba namanya!"

"Kalau begitu, anggap saja dari Sawara ke Tateyama."

"Jadi kini diukurnya dari wilayah utara hingga ke selatan..."

...dua anak ini... padahal awalnya dari nama kota saja, tapi kenapa malah dipersoalkan begini? Apa sebegitu sukanya mereka dengan Kota Chiba?

"Baiklah, pertanyaan ketiga. Jika kau berpergian lewat Jalur Sotoubou menuju Toke, maka, apa nama dari hewan langka yang bisa tiba-tiba menampakkan dirinya di sekitar daerah itu?"

"Ah, Yukinon, bicara soal Matsudou, kudengar banyak kedai ramen di daerah sana, lo. Kapan-kapan ke sana, yuk?"

"Ramen... aku tak begitu sering memakan ramen, jadi aku kurang begitu tahu..."

"Enggak masalah, kok! Aku juga jarang makan ramen!"

"...eh? Lalu kenapa tadi kau menyarankannya? Tolong jelaskan dulu maksudmu itu?"

"Hmm, lagi pula, apa hubungannya dengan Matsudou...? Memang benar, di sana ada kedai bernama Nantoka. Kata orang, ramen yang dijual di sana rasanya enak..."

"Kalian ini dengar yang tadi kutanyakan, tidak, sih?"

"Hmm? Dengar, kok. Ah, tapi di sekitar sini juga ada beberapa kedai yang mantap, lo. Soalnya di sini itu dekat sama rumahku, makanya aku mengerti betul daerah ini. Rumahku jaraknya kira-kira lima menit dari sini. Aku juga sering melihat ada beberapa kedai sewaktu jalan-jalan sama anjingku."

...jawaban yang benar adalah burung unta. Kalau kita berpergian menggunakan kereta dan tiba-tiba melihat ada burung unta di luar jendela, kurasa kita akan lebih merasa terkesan ketimbang terkejut.

Cih.

Kubiarkan saja dua perempuan tersebut larut dalam obrolan ramen yang sudah salah kaprah tadi, dan kembali kubaca bukuku.

Padahal ada tiga orang di ruangan ini, tapi masih saja aku merasa sendiri. Apa-apaan itu?

Biarpun begitu, bagiku menghabiskan waktu seperti ini membuatku merasa seperti anak SMA pada umumnya. Dibandingkan anak-anak SMP, anak-anak SMA lebih punya kebebasan dalam melakukan sesuatu, hingga mereka cenderung tertarik dalam hal gaya maupun kuliner. Jadi obrolan soal ramen ini serasa seperti obrolan anak SMA banget.

...meski kuakui, pada umumnya anak-anak SMA tak melakukan hal semacam Ultra Quiz Lintas Prefektur Chiba.



Read more ...»

Oregairu Jilid 1 Bab 5

On 0 komentar

-Bab 5 - Intinya, Yoshiteru Zaimokuza itu Agak Gila.-


Daftar Isi

Read more ...»

Oregairu Bab 4 Bagian 2

On Kamis, 17 April 2014 0 komentar

==========================================================
Semua penggemar Yui, segera merapat...! (ane ikutan)
Penutup bab memang berkesan kok... Di bagian ini ya dialognya, komedinya, monolognya, terasa pas banget...
Ane pakai tanda baca "[ ]" supaya membedakan suara percakapan yang teredam, sama perlakuannya dengan pembicaraan yang terdengar di telepon...
Dan Ojamajo merujuk pada serial anime mahou-shojo lawas... Ini referensinya...
Efye-i, akun fb ane keblokir, jadi ane gak bisa update lewat fanpage, kalau ada yang bertanya di fanpage soal update, ane minta tolong bantu wakilkan ane jawab ya... Terima kasih sebelumnya...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 4 - Meski Begitu, Kelas Berjalan Seperti Biasanya

Bagian 2


Ketika kutinggalkan ruang kelas, kulihat ada Yukinoshita di luar. Ia telah bersadar di tembok dekat pintu, melipat tangannya, dan memejamkan matanya. Mungkin dikarenakan aura teramat dingin yang dipancarkannya, hingga tak ada seorang pun berada di sekitarnya. Rasanya sunyi sekali.

Karenanya, aku dapat mendengar pembicaraan yang tengah berlangsung di ruang kelas.

[... eng, maaf. Kau tahu, aku jadi gelisah sewaktu enggak bisa akrab dengan orang lain .... Yah, anggap saja kalau aku selalu merasa was-was .... Mungkin kau jadi jengkel karena hal itu.]

[...]

[Eng ..., bagaimana bilangnya, ya? Aku memang selalu begitu. Bahkan dulu sewaktu aku dan teman-temanku bermain pura-pura jadi Ojamajo, aku ingin dapat peran Doremi atau Onpu, tapi anak lain juga menginginkannya, ujung-ujungnya aku malah dapat peran Hazuki .... Mungkin karena aku dibesarkan di komplek apartemen yang dipenuhi banyak penghuni, jadinya kupikir itulah sikap yang paling tepat ....]

[Aku enggak paham kau bicara apa.]

[Ya-yah, begitulah, haha. Aku juga enggak begitu paham sedang bicara apa .... Hanya saja, ketika melihat Hikki dan Yukinon, aku jadi menyadari sesuatu. Enggak ada seorang pun yang dekat dengan mereka, tapi mereka masih bisa bersenang-senang .... Mereka mengutarakan pemikiran masing-masing, dan anehnya, meski sering berselisih paham, mereka tampak cocok.]

Sesekali bisa kudengar suara mirip isakan dari dalam kelas. Setiap kali itu terdengar, bisa kulihat bahu Yukinoshita tersentak. Ia buka sedikit kelopak matanya dan berusaha mengetahui keadaan kelas hanya dengan melihat saja. Sungguh konyol, apanya yang bisa dilihat kalau dari sana? Jika ia memang cemas, ya masuk saja ke dalam. Perempuan ini sungguh tak jujur akan perasaannya sendiri, dasar ....

[Setelah melihat itu, aku mulai berpikir kalau usahaku untuk selalu berusaha akrab dengan semua orang itu ternyata salah .... Maksudku, Hikki tetaplah seorang Hikki. Sewaktu istirahat ia habiskan waktunya untuk membaca sambil terkikih-kikih .... Memang menjijikkan sih, tapi ia terlihat menikmatinya.]

Menjijikkan, katanya .... Dan sewaktu Yukinoshita mendengarnya, ia langsung cekikikan.

"Kupikir hanya di ruang klub saja kau berkelakuan aneh begitu, tapi rupanya di ruang kelasmu pun kau tetap sama. Sungguh perilaku yang menjijikkan, sebaiknya kauhentikan itu."

"Kalau memang merasa, ya bilang-bilang, dong ...."

"Mana mungkin aku mau. Siapa pula yang sudi menegurmu saat bersikap semenjijikkan itu?"

Kucoba untuk lebih berhati-hati mulai dari sekarang. Aku takkan membaca light novel bersama sang dewi iblis lagi di sekolah.

[Jadi kupikir, mungkin aku enggak mesti berusaha terlalu keras dan harusnya lebih santai menyikapi hal itu .... Yah, atau semacamnya, lah. Bukan berarti aku membencimu, Yumiko. Setelah ini ... kita masih bisa ... akrab lagi, 'kan?]

[... hmm. Ya, sudah. Terserah saja. Aku juga enggak masalah.]

Kudengar suara Miura menutup ponsel-nya.

[... sekali lagi maaf. Terima kasih.]

Dengan berakhirnya hal itu, pembicaraan di dalam ruang kelas lalu terhenti, dan kudengar suara ketukan sepatu Yuigahama yang berjalan mendekati kami. Seakan itu sebuah sinyal, Yukinoshita pun berhenti bersandar dan menegakkan badannya.

"... apa kubilang. Kau mampu melakukannya, 'kan?"

Untuk sesaat, aku sempat terkejut oleh sekilas senyuman yang tersungging di wajah Yukinoshita.

Itu memang sebuah senyuman, tulus dan sederhana, tanpa menyiratkan ejekan, sarkasme ataupun penyesalan.

Meski begitu, senyuman itu segera sirna, dan ekspresi Yukinoshita kembali seperti sedia kala, ekspresi yang dingin. Sewaktu kupandangi senyumannya, Yukinoshita pun segera berjalan dan beranjak ke sisi lain ujung lorong, tanpa memerhatikanku sama sekali. Mungkin ia hendak menuju ke tempat yang ia janjikan bersama Yuigahama.

... baiklah, apa yang harus kulakukan di sini? Aku mulai berjalan menjauh, tapi di saat bersamaan, pintu ruang kelas pun terbuka.

"Eh? Ko-kok Hikki bisa ada di sini?"

Tubuhku jadi benar-benar membeku, tapi aku masih bisa mengangkat tangan kananku sambil memberinya salam dengan harapan supaya bisa kabur dari situasi ini. Saat menatap Yuigahama, kulihat semakin lama wajahnya semakin memerah.

"Kau mendengarnya, ya?"

"De-dengar apa, ya ...?"

"Kau tadi mendengarnya, 'kan? Kau tadi menguping, 'kan?! Menjijikkan! Penguntit! Maniak! Eng, eng ..., sangat menjijikkan! Enggak kusangka! Benar-benar menjijikkan. Kau memang ... sangat menjijikkan."

"Tunggu sebentar! Biar kujelaskan!"

Soalnya, aku yang begini pun bisa merasa sedih kalau dihujani cacian sebanyak itu. Dan tak perlu ia tegaskan bagian terakhirnya itu dengan wajah serius. Sial... rasanya kini aku benar-benar terluka.

"Huh ..., sudah telat penjelasannya. Memangnya kaupikir ini salah siapa? Dasar bodoh."

Yuigahama lalu menjulurkan lidahnya yang berwarna sakura itu di depanku, dan ia segera berlari setelah memprovokasiku dengan sikap menggemaskannya itu. Memangnya ia anak SD, apa? Jangan lari-lari di lorong.

"Salah siapa .... Itu salah Yukinoshita, 'kan?"

Aku jadi berbicara sendiri. Aku memang sendirian, jadi itu hal yang wajar.

Saat kuperhatikan jam yang menempel di dinding, kulihat hanya sedikit saja waktu istirahat yang masih tersisa. Jam makan siang yang begitu mendahagakan itu baru saja berakhir. Mungkin aku harus membeli Sportop untuk menghilangkan dahaga ini, baik yang ada di kerongkonganku maupun yang ada di hatiku.

Sewaktu aku menuju ke mesin penjual minuman, tiba-tiba saja sesuatu terlintas di benakku.

Otaku punya komunitasnya sendiri, jadi mereka bukanlah penyendiri.

Dan untuk menjadi seorang riajuu, kita harus selalu peka terhadap jenjang sosial dan pemilahan kekuasaan, karenanya, hal tersebut sangatlah sulit.

Jadi pada akhirnya, akulah satu-satunya yang tetap sendiri. Tak perlulah Bu Hiratsuka mengisolasi diriku, karena sebenarnya, aku pun sudah terisolasi di kelasku sendiri. Maka dari itu, tak ada gunanya pula sampai capek-capek mengisolasiku di Klub Layanan Sosial.

... kesimpulan yang begitu mengecewakan. Kenyataan memang terlalu kejam.

Satu-satunya yang terasa manis dalam hidupku hanyalah rasa dari Sportop ini.


— II —


Read more ...»

Chuunibyou Bab 1 Bagian 2

On Selasa, 15 April 2014 0 komentar

==========================================================
Kronologis cerita dengan anime-nya memang beda sekali, soalnya, yah, namanya juga adaptasi...
Nah, karena itulah, kalau ingin tahu sensasi yang berbeda, baca saja LN-nya...
Biarpun begitu, inti cerita tetap sama kok...
Di samping itu, ini adalah bagian penutup dari sebuah bab, yang seperti biasanya, pasti meninggalkan kesan setelah dibaca... (biasanya lagi, ada kutipan yang bagus di akhir bab...)
Betewe, kalau ada yang suka banget baca novel, khususnya yang bertema seputar keseharian dan kehidupan sekolah, serta ingin bantu menerjemahkan, sampaikan saja di fanspage atau di kolom komentar... (yah, tapi ada tesnya dulu...)
Sebelum tl;dr...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Rikka Takanashi

Bagian 2


Keesokan harinya sekitar sepuluh menit sebelum jam pelajaran pertama, bel telah berbunyi dan tinggal sebentar lagi saja sebelum guru kami datang. Seperti yang bisa ditebak, situasi ruang kelas sudah cukup ramai. Di dalam keramaian itu, ada diriku yang sedang cemas mengenai perbincangan yang kulakukan tempo hari.

Rikka Takanashi. Gadis mirip boneka yang duduk di depanku. Rambutnya hitam kelam dan dipotong pendek. Dilihat dari belakang, rambutnya hampir tampak seperti kaca.

Gadis itu masih mengenakan blazer meskipun cuaca mulai menghangat. Ia lalu melepasnya dan menaruh blazer itu di kursinya, dan memperlihatkan blus yang menonjolkan lengannya. Meski aku bukan ahli soal busana, sabuk berwarna hitamnya tampak semakin menonjolkan rok merah menyala bermotif kotak-kotak yang dikenakannya. Penampilan seperti itu tampak seperti gaya khas gotik, tapi kuingatkan sekali lagi, kalau aku bukanlah ahli soal busana. Siapa pula yang menjual barang semacam itu? Itu terlihat begitu berlebihan! Hanya dengan melihat bermacam aksesoris salib yang dipakainya, kita pasti akan langsung berpikir ke arah gotik. Dan dari kursi di depanku, aku bisa melihat kaos kaki panjang berwarna hitam yang membungkus kaki rampingnya. Yak, itu memang gotik. Aku tak tahu kalau ia sedang terluka, tapi tangannya dibalut perban mulai dari pergelangan kiri hingga sikunya. Di antara balutan perban itu, kita bisa melihat kulit putihnya. Terlihat menggoda.

Namun pandanganku lebih terfokus pada orang-orang genit yang melihatnya. Jika dilihat baik-baik, kita bisa sepintas melihat bra berwarna hitam di balik blusnya. Aku takut kalau hal itu bisa membuat orang-orang tersebut terangsang.

Musim panas memang paling top...

Tapi cukup sampai di situ dulu, kurasa kita semua bisa melihat bahwa penghuni kursi di depanku ini masih belum berubah, ya 'kan?

Dua bulan belakangan ini, aku telah mengamati dirinya dari belakang. Selama kami belajar bersama-sama (hanya sewaktu di kelas!) , tak pernah kulihat ada perubahan di dirinya. Tak ada suara-suara aneh ataupun cara berjalan yang aneh, sama sekali tak ada. Namun aku memang tak pernah sekalipun mencoba bicara dengannya. Mungkin saja ia sebenarnya suka mengobrol, yah, walau aku sendiri meragukannya.

Dan aku pun lanjut meragukan diriku sendiri. Tak akan... terjadi apa-apa andai aku membicarakan hal ini padanya... 'kan? Ya Tuhan, memikirkannya saja mulai membuat kepalaku sakit.

"Aduh!" Seolah Tuhan sediri yang menghukumku akibat semua pikiran mesum tadi, sebuah tas menghantam langsung wajahku.

"Oh, maaf! Kena, ya?"

Kutengadahkan kepalaku pada orang yang berjalan lewat. Rupanya itu ketua kelas kami, Nibutani. Shinka Nibutani. Aku baru mengetahui nama depannya sewaktu perbincangan mengenai kontes popularitas kemarin. Sebuah nama lain yang meninggalkan kesan begitu mendalam.

Secara spontan, kuarahkan pandanganku dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Tinggi sekali! Pasti itu yang jadi ciri khasnya. Bisa dibilang bahwa dirinyalah gadis paling tinggi di kelas, walau hal itu sulit dipastikan bila semua anak di kelas sedang duduk. Tingginya pun sejajar atau mungkin sedikit lebih tinggi dariku. Aku merasa seolah kehilangan sedikit kepercayaan diri.

Tak seperti Takanashi, gadis yang sedang di hadapanku ini mengenakan seragam rapi tanpa satu pun aksesoris. Tak ada yang mencolok, meski roknya terlihat sedikit pendek untuk kakinya yang panjang. Dengan kaos kaki berwarna biru tua, ia adalah gambaran sempurna seorang ketua kelas yang elegan. Meski kaos kakinya tampak tak serasi.

Jika aku boleh berkomentar, ada sedikit yang kurang dari dirinya sebagai gambaran utuh seorang ketua kelas, yaitu kacamata. Kacamata merupakan simbol kecerdasan dari diri seorang ketua kelas, namun yang satu ini tidak memakainya. Untuk tingkat kepandaian... aku tak bisa menilai hanya dari penampilannya saja. Namun tak diragukan lagi; ketua kelas kami sudah memberi gambaran seorang ketua kelas di dirinya.

"Ah, aku tak apa-apa, kok."

"Aku sungguh minta maaf. Aku yang ceroboh sewaktu melepaskan tasku."

"Tidak apa-apa. Aku juga sempat melamun tadi, jadi tidak menyadarinya."

"Begitu, ya?" Lalu senyum pun mengembang di wajahnya. Sebuah senyum sadis. Ia mendadak berubah jadi kejam di hadapanku. Ah, paling-paling itu cuma khayalanku saja. Yah, begitulah.

"Kenapa kau sampai melamun?"

Eh? Kami masih berbicara? Mengejutkan sekali. Kupikir ia akan pergi ke tempat duduknya setelah bilang, Begitu, ya?

"Eh... ah... yah... bukankah jam pelajaran pertama hari ini Matematika? Karena ada pembagian hasil ujian, makanya aku jadi cemas kalau nanti dapat nilai buruk."

"Oh... tapi kau tampak seperti orang yang tak terlalu mencemaskan hal itu, deh. Benar-benar tak kusangka."

"Bukan begitu juga, sih. Yang kucemaskan adalah kalau ini nanti tak ada bedanya dengan yang kualami waktu SMP."

"Jadi kau khawatir kalau tak bisa melakukan yang lebih baik, begitu? Yah, ujiannya memang sedikit lebih sulit dibanding waktu kita SMP. Apa kau sudah sungguh-sungguh belajar hingga kemampuan terbaikmu?"

"Eh? Kemampuan? Meskipun aku ingin memiliki semacam kemampuan mencontek, aku tidak menggunakannya."

Nibutani terdiam sejenak, namun segera tersenyum kembali. "Eh... hahaha. Pasti menyenangkan kalau punya kemampuan semacam itu, ya 'kan? Tak kusangka kalau kau akan berkata begitu. Wah, pelajarannya sudah mau dimulai, nih. Dadah!"

Nibutani pun segera beranjak ke kursinya. Yah... bagaimana menjelaskannya, ya? Meski ini pertama kalinya kami saling berbicara, aku akhirnya paham yang dimaksud Isshiki tentang sosok gadis itu. Komentarnya tentang suasana menenangkan dan senyum sadisnya itu ternyata benar. Ditambah komentarnya tentang diriku yang terlalu cemas itu juga luar biasa. Aku sedniri tidak yakin aku bisa mengangkat topik seperti itu dalam sebuah percakapan.

Hampir tepat setelah selesainya pembicaraan tadi, bel tanda dimulainya pelajaran berbunyi. Di saat bersamaan, guru kami pun masuk dan mulai bicara di depan podium dengan suara keras.

"Oke, oke! Anak-anak, kita mulai hari ini dengan pembagian hasil UTS kalian. Wah, wah! Apa ujian pertama kalian di SMA terlalu sulit? Apa tingkat kesulitan ujian matematika ini melebihi kemampuan kalian?"

Semua anak di kelas mulai gemetar. Padahal ruang kelas ini sebelumnya begitu bersemangat, namun kini, semua anak sudah jatuh dalam keheningan. Sekuat itulah guru kami. Beliau mengucapkan segala hal dengan wajah yang tersenyum senang. Saat aku mengira kalau sekolahku punya keunikan tersendiri sewaktu upacara pembukaan, ternyata sesi perkenalan beliau juga tak kalah uniknya. Beliau berkata dengan lantang, "Moto Ibu adalah membuat seluruh waktu menjadi waktu yang penuh tekanan!" Dan itu memang dilakukannya.

Beliau biasanya mengenakan setelan jas dan postur beliau lebih kecil dibanding murid lelaki. Aku tak bisa menebak siapa yang lebih dewasa andai mereka dipersandingkan bersama. Bu Nanase Tsukumo tak hanya menjabat sebagai wali kelas kami, beliau pun begitu antusias layaknya guru Matematika kami hari ini. Karena terlihat sangat muda dan masih baru, beliau pun menjadi begitu populer. Terkadang, para murid lebih sering memanggil beliau dengan panggilan, "Nana-chan". Mungkin pernah sekali atau dua kali aku juga memanggil beliau dengan sebutan itu.

"Eh! Jangan dong, Nana-chan! Saya tak sanggup melihat hasil buruk ujiannya!"

"Jangan buat kami mengikuti pelajaran tambahan!"

Anak-anak di belakangku sudah mengeluh.

"Iya, iya, tidak perlu berisik seperti ini! Ingat, jika kalian rajin belajar, pasti takkan jadi masalah! Hasil ujian kali ini mungkin memang tak begitu bagus, tapi kalau kalian mengikuti apa yang sudah Ibu ajarkan, semuanya akan baik-baik saja! Tak jadi masalah kalau kalian harus ikut pelajaran tambahan, yang penting berusahalah semampu kalian!"

Langsung membahas intinya tanpa tanggung-tanggung rupanya. Yah, pelajaran Matematika beliau memang lebih sulit dibanding sewaktu SMP dulu, tapi gaya mengajar beliau sangatlah bagus, sebenarnya aku merasa kalau itu cukup mudah dicerna.

Aku memang sempat berkata lain pada Nibutani, namun sebenarnya aku merasa kalau aku akan mendapat nilai bagus di ujian kali ini. Yah, aku cukup tak memberitahukan padanya andaikata nilaiku memang sebagus itu.

"Ibu mulai, ya! Majulah ke depan waktu Ibu panggil nama kalian! Ootsu !"

Dan kami pun bergiliran maju ke podium saat beliau memanggil nama kami. Bermacam reaksi mulai dari sedih hingga senang tampak pada wajah seluruh murid sewaktu mereka kembali ke tempat duduk.

Tentunya giliranku setelah nama Takanashi disebut. Aku berpapasan dengannya saat menuju ke arah Nana-chan, dan rasa tertekan yang kualami kian meningkat. Kehidupan SMA-ku takkan pernah lagi sama setelah aku menerima hasil ujian ini.

"!"

Coba kulihat baik-baik. Serius, nih? Apa aku pernah melihat nilai seperti ini sebelumnya? Sama sekali belum pernah. Biar kuingat dulu, seumur-umur, nilai terbaik yang pernah kudapat adalah 88, itu pun sewaktu aku masih SD. Namun angka yang tertera di sebelah namaku pada lembar ujian ini adalah 95. Nilai yang fantastis! Aku jadi merasa kalau rajin belajar bisa membuatku keren!

Karena lembar ujian ini adalah sebuah barang yang sangat berharga,
jadi sewaktu berjalan kembali ke tempat dudukku, aku merasa ingin menjaganya seolah itu merupakan warisan dari leluhur. Kemudian aku pun berbalik dan...

Berdirilah sebuah penghalang besar di depan tempat dudukku. Apa... apa ini? Ada semacam aura aneh ini yang mencegahku untuk melangkah maju. Ini... ini...

Kucoba untuk melewati penghalang ini dengan memalingkan tubuhku lalu melangkah maju, tapi justru berakhir dengan sebuah kesalahan. Mungkin akibat dari aura ini, hingga aku pun terjatuh dengan wajah terlebih dahulu. Aku bisa mendengar gema yang keras dari seisi ruang kelas.

Aku jadi membuat suara yang sangat gaduh. Sial! Itu bukan kemauanku!

Kudengar suara Nana-chan yang bertanya dengan lembut di belakangku, "Hei! Kau tak apa-apa?" Karena malu yang kurasakan, aku jadi tak bisa menjawab beliau. Tubuhku tak begitu saja bisa langsung berdiri setelah jatuh tadi. Perlu sekuat tenaga hanya untuk menengadahkan kepalaku.

Dan aku pun tak sengaja menjadi orang mesum yang beruntung.

Di hadapanku, tembok besar yang kusebut sebelumnya itu ternyata Takanashi beserta rok pendeknya. Saat kumenengadah, aku sudah berada di lokasi pemandangan perdana dari potongan kain berbentuk segitiga yang menjadi impian seluruh lelaki.


"Ah..."

Sewaktu pandanganku teralihkan tadi, diriku menabrak Takanashi dan jatuh ke lantai. Jadi sudah pasti, celana dalam yang kulihat itu kepunyaan Takanashi. Tunggu, ini gawat!

Dan selagi aku meminta maaf padanya di dalam hati, Takanashi masih tak menunjukkan emosi sembari duduk di kursinya. Hanya sebentar aku menatap ke arah Takanashi tadi. Hmm... kurasa ia benar-benar suka warna hitam, ya 'kan?

Tunggu! Ada yang tak beres di sini. Apa tak ada seorang pun yang merasakan sebuah kejanggalan? Biasanya kalau kejadian ini menimpa seorang gadis, yang ada, mereka akan bilang, Kau... kau melihatnya, ya?! Mati sana! Atau, Jangan harap aku mau memperlihatkan celana dalamku! Atau, Aku tak malu, kok, kalau kau melihat celana dalamku! Ini sebuah penyimpangan besar dari naskah.

Dan Takanashi pun masih belum menunjukkan reaksi apapun. Ia tak menunjukkan emosinya.

Itu sungguh respon yang dewasa dari dirinya. Jika hal ini terjadi saat aku masih SMP, kuyakin aku bakal terheran-heran dan tak bisa berkata apa-apa.

Namun penghalang besar itu; apa mungkin ia mengasingkan dirinya sendiri? Tampaknya ia bisa tiba-tiba menangis sewaktu-waktu. Mungkin ia tak mendapat nilai bagus saat UTS. Meski aku tak bisa menggunakan persahabatan sebagai alasan, tapi ada baiknya jika aku berhenti merayakan nilaiku ini.

Mau tak mau aku jadi begitu mencemaskan hal demikian. Di samping itu, aku juga terasingkan beberapa saat lalu. Siapa tahu, kalau aku mendekatinya dan bertanya, Kau dapat nilai berapa? Kita mungkin bisa berteman. Aku juga harus meminta maaf karena sempat melihat celana dalamnya tadi. Kata orang, adalah hal yang cukup memalukan bagi para gadis ketika ada anak lelaki yang melihat celana dalam mereka. Yah, setidaknya itulah yang ada di dalam game.

Dengan segala hal yang ingin diperbincangkan, aku bisa memilih waktu yang tepat untuk berbicara dengannya. Aku hanya berharap rumor buruk itu tidak semakin tersebar karena kesialanku hari ini.

"Ah... ooh... oh... mataku..."

Dengan tiba-tiba, Takanashi mulai menekan mata kanannya seolah kesakitan. Ia lalu terkapar di mejanya.

"Ah... ooo... ooo... itu... itu..."

Tiba-tiba pikiranku kembali jernih dan tubuhku mulai bergerak dengan sendirinya. Aku bergegas ke arah mejanya dan bertanya, "Kau... baik-baik saja?" Tak ada tanggapan.

Kita pasti mengira seisi kelas akan memperbincangkan tentang yang kini sedang terjadi, nyatanya, kali ini semua orang sudah dalam keadaan terkejut dan tertegun karena kejadian ini. Tak satu pun suara yang bisa terdengar. Khawatirkah mereka akan jatuhnya diriku juga erangan Takanashi tadi? Pedulikah mereka terhadap keadaan gadis itu? Apa keterkejutan itu membuat mereka sampai terdiam? Ataukah mereka itu orang-orang yang kejam? Apa Takanashi memang tak memiliki teman dekat? Aku sama sekali tak tahu.

Namun karena beberapa alasan, tak seorang pun mengucapkan sesuatu pada gadis itu. Bisa kurasakan rasa tak suka yang menyebar di sekelilingku. Bukankah ini aneh? Bukankah seharusnya kita cemas kalau ada teman sekelas yang sedang kesakitan?

Sialan.

"Bu Tsukumo, saya izin mau mengantarkan ia ke ruang UKS!"

Sambil berucap, "Maaf, ya." Aku memapah Takanashi dan merangkulkan tangannya melingkari bahuku.

"Ayo pergi."

"Oooh."

Kembali ia menekan mata kanannya itu dengan tangan kanannya, lalu kami pun beranjak pergi.

"Ah... maaf, ya. Apa kau baik-baik saja? Kau sudah membuat kami semua ketakutan tadi. Baiklah, kami serahkan semuanya padamu, ya, Togashi!" Nana-chan sendiri terdengar sangat terkejut. Beliau mengamati sosok kami berdua yang berjalan keluar. Sedangkan bagi para penghuni kelas lainnya, aku tak tak tahu dan tak mengerti apa yang mereka pikirkan.

Sepuluh menit setelah dimulainya jam pelajaran, Takanashi beserta diriku pergi meninggalkan ruang kelas.

Dalam perjalanan menuju ruang UKS, sewaktu menuruni tangga di antara lantai tiga dan empat, Takanashi tiba-tiba menjerit, "Ahhh... mataku... mataku saling beresonansi...!" Yang kemudian ambruk di bahuku.

Setelah ia jatuh, kuputar tubuhnya dengan tangan kiriku agar bisa menyangganya. Atau lebih tepatnya, tangan kiriku justru menyangga area empuk milik Takanashi. Satu kali saja sudah membuat syok, tapi ini sudah kedua kalinya dalam satu hari. Sebut saja aku beruntung atau egois, namun ia tak bereaksi apa-apa terhadap tangan kiriku ketika kugeser posisi badannya.

Sebenarnya, tidaklah normal jika aku memapah dirinya dalam situasi begini. Apa aku sedang menjalani sebuah situasi layaknya tokoh dalam serial yang ada unsur kacamatanya itu? Tidak, tidak, tidak, itu cuma sekadar khayalan.

"Apa, apa kau tak apa-apa? Bagaimana keadaan penutup matamu?"

"Ooh... kau, apa kau... sesuatu yang sama denganku...?"

Kalau ia berbicara seperti itu, maka aku pasti menyangkalnya. Sepertinya ia termasuk gadis yang dulunya tak sempat diimunisasi dan kini berbicara dalam frasa yang tak beraturan.

"Ah, eh, mungkin saja begitu."

Wah, aku pun kaget dengan tanggapanku sendiri. Aku menjawab setuju, atau bisa dikatakan, kalau aku memang sama dengannya. Entah bagaimana, rasanya Takanashi paham akan jawabanku dan dengan santainya ia memindahkan posisi tanganku.

"Ya... pastinya begitu. Kau... aku sudah dengan sabar menantimu... sudah kuhabiskan bertahun-tahun melakukan pencarian, namun kini aku menemukanmu di sini."

Yang dimaksudnya itu aku?

Eh, apa?

Menanti... menanti. Aku tahu kata itu. Aku tahu benar arti kata itu. Biasanya aku berusaha menggabungkan kalimat ini ke dalam berbagai pembicaraan atau berusaha bertindak layaknya pemimpin dengan bicara seperti ini... tunggu... jangan-jangan...

"Oh, terima kasih sudah menantiku. Omong-omong, matamu baik-baik saja?"

Kucoba mengembalikan arah pembicaraan. Kalau-kalau ia menganggapku orang yang semacam itu...

Sudahlah, jangan berpikir yang bukan-bukan.

"Kau sudah pernah melihatnya?"

Ya ampun. Yang kutanyakan itu keadaan matanya. Bukan itu jawaban yang kuharapkan! Yah, aku memang tak pernah punya kesempatan untuk melihatnya, sih. Memangnya ada yang istimewa mengenai matanya atau ada arti lainnya, ya?

Kecuali jika... memang itu.

Hal itu mulai merasuki pikiranku. Gadis di hadapanku ini hampir pasti seorang pengidap chuunibyou.

Aku memang tak ambil pusing sewaktu mendengar rumornya, tapi kalau melihat orangnya secara langsung... rasanya agak aneh. Sebaiknya apa yang harus dilakukan di situasi begini, ya?

Aku memang tak punya masalah dengan siapa pun yang mengidap penyakit itu, namun harus seperti apa aku bersikap? Rasanya tak masuk akal. Tunggu dulu; seperti inilah yang dirasakan orang-orang di sekitarku sewaktu SMP dulu... ternyata seperti ini rasanya. Yah, bagaimanapun juga, mari kita lihat yang sebaiknya dilakukan pada situasi begini.

"Ah, itu. Memangnya ada apa?"

"Oh."

Dan Takanashi pun membuka penutup matanya, menyingkapkan kulit putih pucat di sekitar matanya. Seberkas cahaya emas, sesuatu yang berbeda dari yang pernah kulihat sebelumnya, mulai bersinar membuatku seakan sedang berada di gerbang sebuah kota emas.

Rupanya itu lensa kontak berwarna. Tunggu sebentar, selagi aku terkejut, itu tampak berbeda sekali dengan pupil hitam yang terlihat di sisi lain wajahnya.

"Luar... biasa."

Apa itu benar-benar lensa kontak? Selagi pikiran tak sopan itu muncul di kepalaku, aku jadi merasa tak pantas jika tiba-tiba bertanya hal demikian. Kurasa seperti inilah pengidap chuunibyou itu, ya 'kan?

"Dengan ini, kontrak kita telah terjalin."

"Apa?!"

"Kini matamu telah bertatapan langsung dengan Mata Kezaliman milikku, syaratnya telah terpenuhi. Kau dan aku kini telah terikat. Maka mulai dari sekarang..."

Ah! Ini mirip seperti saat aku mengidap chuunibyou dulu! Tunggu, Mata Kezaliman?

Aku terkejut soal betapa singkatnya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses kontrak barusan. Dengan kronologis pembicaraan yang kami lakukan tadi, kalimat tersebut cukup membuatku tercengang. Namun bukan itu saja yang hendak ia katakan. Luar biasa. Sepertinya ia bisa menyiapkan latar belakang cerita dalam sekejap. Oh, Takanashi yang hebat, lebih baik kita biarkan saja keadaannya seperti ini dulu.

"Tunggu sebentar..."

Fiuh, kalau saja aku tak segera menarik napas, mungkin aku bakal kambuh lagi. Di kerongkonganku sudah tertahan kalimat, A-apa maksudmu kalau aku sudah terikat kontrak denganmu, berengsek?! Hehe, selama ini makhluk sepertimu sudah sedekat ini denganku. Lalu, apa yang mau kaulakukan? Apa kita perlu menghancurkan dunia? Pastinya itu jadi pilihan yang berbahaya.

Tapi bukan hal baik pula bagiku kalau terus-terusan memikirkan hal itu. Terlepas dari kambuh atau tidaknya diriku, yang pasti kini aku sudah sembuh. Memikirkan kejadian-kejadian itu sudah membuatku merasa ingin mati saja. Aku tak berniat untuk menjalin kontrak itu lagi. Mungkin agak mengecewakan, tapi kupikir ia bisa memperoleh hikmahnya.

"Maaf, tapi aku sudah sembuh dari hal itu."

"Sembuh?"

Aku mulai bisa menguasai diriku kembali. Gas menjijikkan yang ada dalam diriku mulai mengendap.

"Ah, keadaanku dua tahun yang lalu sama persis sepertimu, karena itu aku bisa memahami keadaanmu saat ini. Bisa memiliki orang lain untuk diajak berkumpul bersama dalam situasi rekaanmu memang terdengar menyenangkan. Kakak kelas kita mungkin akan berkata, Hentikan, tapi kurasa itu ada baiknya untukmu."

Kuharap Takanashi mengerti apa yang kubicarakan. Membuat hal rekaan memang menyenangkan. Aku tahu persis bagaimana bahagianya saat menghabiskan waktu untuk merancang dunia baru dan semacamnya, biarpun begitu, aku tak mau lagi jika ada yang jatuh ke jalan yang pernah kulalui dulu.

Hal-hal rekaan itu kian lama menjadi sebuah hal yang mengganggu orang-orang sekitarku. Itulah masalah terbesar dari chuunibyou. Hanya sewaktu aku mampu mengingat kembali berbagai perbuatanku, aku jadi bisa merenungi saat-saat ketika aku akan melakukan hal-hal yang merugikan seperti mengganggu jalannya pelajaran. Sewaktu jam pelajaran berlangsung, aku menjerit, "Jangan masuk! Jangan masuk! Wuaa!" Supaya kami tak jadi mengikuti pelajaran tersebut. Kini aku sudah sadar apa yang telah kulakukan dulu.

Dulu, aku takkan peduli mau orang lain berbuat apa; aku hanya bertindak sesuka hatiku. Dulu aku anak yang cukup bermasalah, 'kan? Aku bisa bilang kalau kita bakal cuek terhadap perasaan semua orang jika dihadapkan pada situasi demikian. Terlepas dari apa yang sudah kuperbuat, aku dulu begitu egois sampai-sampai tak pernah meminta maaf atas segala tindakan yang kulakukan.

Tapi ia punya ciri yang sama denganku. Mata iblis yang sama dengan ciri khas chuunibyou. Ia begitu mirip dengan diriku yang dulu. Tak heran kalau ia bakal memerhatikanku dan berpikir kalau aku sama seperti dirinya. Aku pun sempat berpikir kalau perbannya itu tak terasa asing bagiku.

Entah kenapa aku tak merasa kalau ia adalah tipe yang mengganggu semua orang ketika pelajaran berlangsung. Mungkin suatu hari nanti hal itu bakal terjadi, walau aku sendiri meragukannya. Itu memang hanya sekadar prasangka, tapi aku punya firasat kalau suatu hari nanti Takanashi akan kembali mengingatnya sambil menyesali segala hal yang telah ia lakukan dulu, sama sepertiku. Waktu itu terasa cepat sekali berlalu. Tak perlu ia sia-siakan masa SMA-nya yang berharga dan menjadikannya ingatan yang tak ingin ia kenang.

Sebagai mantan pengidap chuunibyou, aku tak tahu sudah berapa banyak orang yang sudah kubuat terganggu, namun aku menduga kalau ia pun tak tahu banyaknya korban (kecuali aku) yang sudah ia buat kesusahan. Itu sebabnya, aku harus mengatakan ini dalam cara chuunibyou.

"Bagaimana kalau begini, daripada menjalin kontrak denganku, bukankah lebih baik kalau kau mengandalkanku saja?"

Betul, aku tak bisa meninggalkan gadis ini seorang diri. Yah, bukan berarti aku menganggap remeh dirinya atau menjadikan ia layaknya seorang adik kelas. Bagiku, ia lebih mirip saudari se-chuunibyou.

"Tapi proses kontraknya sudah sempurna."

"Jadi, kau benar-benar memaksakannya?"

...ini jadi sedikit menyusahkan. Sampai sejauh mana ia mau memaksakan hal itu?

"Untuk saat ini, ayo ke ruang UKS."

"Aku memang mau membawamu ke sana, tahu!"

Setelah itu, Takanashi pun menegakkan badannya dan mulai menuruni tangga, meninggalkanku di belakang. Yah, bukankah ia begitu sehat?

"Kenapa tak menyusulku? Apa kau sudah kehabisan energi?"

"Yah, begitulah. Kurasa aku akan tidur siang dulu di ruang UKS."

Aku jadi sedikit pusing memikirkannya. Rasanya bagus juga kalau aku tidur siang dulu di sana. Lalu kuikuti bayangan Takanashi dari belakang dan kami pun segera menuju ruang UKS.


— II —


Mundur
Lanjut
Read more ...»